Kegagalan dari Cinta Pertama terkadang membuat kita terpuruk dan sulit untuk memulai cinta yang baru ... Perasaan takut gagal, kecewa dan sedih kembali terus menghantui.
Begitu juga dengan Intan, kegagalan Cinta Pertamanya membuat ia trauma hingga ia menutup rapat hatinya. Ia membangun sebuah pintu besi yang sangat kokoh.
Lantas, adakah sosok yang mampu mendobrak pintu besi dari hati Intan?
Update tiap hari pkl 05.00 dan 17.00 WIB😁✌️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nikma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
"Bisakah besok kita bertemu lagi disini?"
Setelah keluar dari perpustakaan, Intan berhenti sejenak untuk mengatur nafas dan debar jantungnya yang tak beraturan.
"Ah, kenapa aku seperti ini? Kenapa aku harus terkejut, seakan tertangkap basah? Kenapa aku harus gugup dan berbohong untuk menjawab pertanyaannya? Dan kenapa aku harus memperhatikannya?! Kenapa?!" Geritu Intan kesal pada dirinya sendiri.
"Aku sudah gila!" Rutuk Intan pada dirinya sendiri sebelum ia mulai melangkahkan kaki menuju kelasnya.
Sesampainya Intan di kelas, ia segera menuju lokernya dan mengambil paper bag berisikan jaket Setya sebelumnya. Ia menatap paper bag itu sembari menarik nafas dalam.
"Hufffttt......"
"Apa itu?" Tanya Toni yang tiba-tiba ada disebelahnya.
"Mati aku! .... Toni, bisakah kau tak mengejutkanku?!" Teriak Intan kesal pada Toni. Ia sangat terkejut mendengar pertanyaan Toni.
"Aku tak mengejutkanmu. Aku hanya bertanya. Kau yang berlebihan." Seru Toni tak terima disalahkan.
"Terserah deh. Aku pergi dulu." Pamit Intan, namun langkahnya terhenti karna Toni menarik kerah belakang bajunya, seperti menarik anak kucing.
"Ih, apa'an sih Ton. Lepasin, aku buru-buru!" Tegur Intan kesal.
"Mau kemana dengan bingkisan itu?" Tanya Toni lagi.
"Bukan urusanmu. Aku suda ditunggu, jadi lepaskan aku." Seru Intan sembari menarik tangan Toni agar melepaskan kerah bajunya. Kemudian, ia berlalu pergi meninggalkan Toni.
"Kemana dia akan pergi?" Gumam Toni menatap punggung Intan yang semakin menjauh dan hilang setelah keluar dari kelas.
Saat di koridor, Intan berpapasan dengan Dharma yang akan menuju ke kelas.
"Mau kemana Tan?" Tanya Dharma, namun karna Intan setengah berlari, jadi dia sama sekali tak menyadari bahwa Dharma menyapanya.
Melihat Intan yang terlihat terburu-buru, bahkan tak menyadari pertanyaannya membuat Dharma bertanya-tanya, kemana Intan akan pergi. Ia terus menatap Intan sampai dia hilang setelah berbelok di ujung koridor.
Intan terus berjalan dengan cepat sesekali berlari untuk kembali ke perpustakaan. Namun, langkahnya terhenti saat di depan perpustakaan.
"Apa yang harus ku katakan nanti ya?" Gumam Intan bingung. Ia sudah melupakan latihan dan kata-kata yang sudah ia siapkan sebelumnya. Dan sekarang ia merasa sangat gugup.
Dia terus mondar-mandiri di depan perpustakaan dengan tak tenang. Berusaha berlatih mengucapkan kata terima kasih lagi, seperti sebelumnya. Dan setelah ia merasa siap, Intan menarik nafas dalam untuk terakhir kalinya sebelum memasuki perpustakaan.
Intan berjalan perlahan menuju tempat Setya menunggunya tadi. Entah, kenapa ia semakin gugup, jantungnya juga semakin berdebar dengan kencang, bahkan kedua tangannya terasa dingin. Sudah seperti akan presentasi di depan kelas.
Langkahnya terhenti saat melihat Setya tengah fokus mencatat hal-hal yang ia rasa penting kedalam notenya. Dari posisinya sekarang, Intan hanya bisa melihat punggung Setya.
"Bahunya lebar sekali.." Gumam Intan tanpa sadar.
Kemudian, ia menggelengkan kepalanya kuat2 menyadari apa yang baru saja ia pikirkan.
"Dasar gila!" Umpat Intan pada dirinya sendiri.
Tak ingin kembali berpikir macam-macam, Intan kembali melangkahkan kakinya mendekati Setya.
"Hm, anu ..." Ucap Intan, agar Setya mengalihkan perhatia Setya padanya.
"Oh, sudah sampai." Ucap Setya sembari mengalihkan tatapan dari buku ke wajah Intan.
"Ya ... Hm, ini jaket kakak ... Terima kasih banyak untuk waktu itu. Dan aku sudah mencucinya." ucap Intan pelan dengan menunduk dan tak menatap wajah Setya sama sekali sembari mengulurkan paper bag ke arah Setya.
"Wah , terima kasih. Tidak kamu cuci pun juga tak masalah sebenarnya."
"Tidak. Ku rasa itu perlu, karna aku sudah mengenakan jaket kakak sebelumnya."
Tidak kamu cuci sebenarnya tak masalah. Dengan begitu aku bisa mencium aroma tubuhmu yang tertinggal disini dan bisa ku peluk jika aku merindukanmu ...
"Hm, yasudah kak. Aku ingin kembali ke kelas. Sekali lagi terima kasih." Ucap Intan berpamitan, tanpa menunggu jawaban Setya ia berbalik dan hendak melangkah pergi namun tangannya dari belakang ditarik oleh Setya.
"Tunggu ..." Seru Setya.
"A-Ada apa?" Tanya Intan gugup, karna dapat ia rasakan sebuah tangan besar dan hangat tengah menggenggam tangannya.
"Kenapa buru-buru? Tidak ingin melanjutkan membaca bukunya?" Tanya Setya sembari berdiri menatap Intan tanpa melepas tangannya.
"Su-Sudah ... Aku akan meminjamnya dan membawanya pulang saja." Jawab Intan yang mulai tak nyaman dengan pegangan Setya, ia berusaha menarik tangannya pelan dari genggaman Setya.
Walaupun ia merasa hangat namun pikirannya mulai menariknya ke kenangan masa lalunya lagi dan ia tak ingin merasakan rasa sakit itu lagi.
"Oh maaf." Ucap Setya yang juga mulai menyadari ketidak nyamanan Intan.
Intan segera mengambil novelnya diatas meja dan hendak berlalu pergi. Namun, lagi-lagi Setya menahannya walau kali ini hanya dengan perkataan saja, namun hal itu masih bisa menghentikan langkah Intan untuk oergi.
"Bisakah besok kita bertemu lagi disini?" Tanya Setya sembari berharap agar Intan mau dengan ajakannya.
"Aku sudah mengembalikan jaket kakak, jadi sekarang kita sudah tak ada alasan lagi untuk bertemu." Jawab Intan dingin tanpa menoleh pada Setya.
Namun, saat mengatakan itu entah kenapa Intan juga merasa tak nyaman, ia menggenggam erat buku di tangannya seakan menahan emosi dalam dirinya. Tanpa menunggu jawaban dari Setya, Intan segera berlalu pergi, mengurus peminjaman buku kemudian keluar meninggalkan perpustakaan.
Setya hanya bisa menatap kepergian Intan. Karna, ia tahu kalau ia memaksa Intan saat itu yang ada Intan hanya akan semakin menjauh darinya. Dengan lesu ia kembali duduk ditempatnya sembari mengamati paper bag dari Intan.
Ia mengambil jaketnya dari dalam paper bag. Setya cukup terkejut karna ia mencium aroma Intan dari jaketnya. Untuk memastikan itu ia mendekatkan jaketnya agar dapat ia cium aroma itu dengan jelas. Dan sekarang ia yakin bahwa Intan sudah menyemprotkan parfumnya pada jaketnya. Setyapun tersenyum senang.
Saat ia hendak memasukkan kembali jaketnya ke dalam paper bag, ia terkejut ada sebatang coklat didalamnya dengan note ucapan terima kasih dari Intan. Senyumnya tentu semakin mengembang melihat itu.
"Ini lucu, dulu aku yang membuatkan kartu penyemangat dengan coklat untukmu. Sekarang kamu juga memberiku coklat beserta note." Gumam Setya berusaha menahan rasa senangnya. Andai saja sekarang dia di kamarnya mungkin dia sudah berteriak-teriak, saking senangnya.
Ya, coklat gratis dan kartu ucapan yang sering Intan dapatkan dulu saat SMP tidak lain adalah dari Setya. Setya sengaja melakukan itu untuk menyemangati Intan agar ujiannya semakin lancar.
Bagaimana caranya, padahal Setya sudah lulus bukan? Hm, tentu saja ada caranya. Asal itu untuk Intan.😁✌️
"Walaupun kamu menolak untuk bertemu denganku lagi disini besok. Bukan berarti kita memang tak bisa bertemu. Aku masih punya berbagai cara untuk menciptakan kesempatan agar kita bertemu ... Tunggu aku Intan." Gumam Setya sembari menatap note dari Intan.
.
.
.
Bersambung..
krna ak gak suka dgn perselingkuhan
dtunggu updatenya ka
ak pikir kmu gak kan nulis cerita lagi sekian lama menghilang hemm...
ywdh semangat bwt cerita baru yg pastinya seru juga yaaa semangat
aku tunggu ka hehe