Ren Damaris, seorang pria tampan dan sukses, memutuskan memilih Edelia Lavendra untuk dinikahi demi menjaga nama baik keluarga dan menutupi rahasia terbesar dalam hidupnya. Edelia terpaksa menerima pernikahan itu untuk membahagiakan kedua orangtuanya.
Tetapi setelah menikah, Edelia menemukan fakta yang mencengangkan di balik pernikahannya. Meski begitu, Edelia tak bisa mengakhiri pernikahan itu begitu saja. Ada sesuatu pada diri Ren yang membuat Edelia merasa harus mempertahankan pernikahan itu.
Apa yang membuat Edelia bertahan? Simak kisah selengkapnya dalam Di Balik Lavender Marriage!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Purnamanisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Semua Wanita ≠ Violetta
"Ehem... Ren cuma melakukan apa yang jadi kebiasaan," kata Ren datar lalu menyeruput Chamomile Tea dengan tenang.
'Eh? Kebiasaan?' batin Lia.
"Mama lega kamu bener-bener cinta sama Lia. Mama kira kamu cuma asal pilih wanita malam itu. Maaf ya, Lia," kata Nyonya Damaris sambil tersenyum lega. Lia tersenyum.
"Saya sendiri mengira Ren asal memilih saya. Tapi ternyata, dia sudah memperhatikan saya sejak saya datang ke pesta itu," kata Lia sambil tersenyum ke arah Ren yang menatapnya dingin.
"Oh ya? Syukurlah," kata Nyonya Damaris.
"Ternyata kamu memang sudah mengincarnya dari awal, Ren," kata Tuan Damaris sambil tersenyum bangga. Ren mengangguk pelan.
Pembicaraan kemudian menjurus pada pengembangan Lavendra Resort di puncak dan rencana kerjasama antara Damaris Digital Group dengan Lavendra Hotel and Resort.
Selama pembicaraan terkait bisnis, Ren tak henti-hentinya dibuat terkesan dengan kemampuan Lia. Ide-idenya cemerlang dan segar —tentang pengembangan aplikasi Lavendra Hotel mobile, check-in dan check-out digital, teknologi smart room, dan masih banyak lagi.
Tuan Damaris terlihat cukup terkesan dengan kemampuan menantunya dalam membicarakan bisnis yang dapat menguntungkan Damaris Digital Group dan Lavendra Hotel and Resort.
"Menyenangkan sekali membahas bisnis dengan menantu," komentar Tuan Damaris bangga. Lia mengangguk sambil tersenyum.
"Suatu kehormatan bagi Lavendra Hotel and Resort dapat menjalin kerjasama jangka panjang dengan Damaris Digital Group," kata Lia sopan.
Tuan dan Nyonya Damaris tersenyum puas. Ren menatap kedua orangtuanya yang sepertinya menyukai Lia sebagai menantu Keluarga Damaris.
'Sepertinya... aku benar-benar beruntung sudah memilihnya,'
***
"Terimakasih," ucap Ren pada Lia saat keduanya dalam perjalanan pulang menuju apartemen.
"Hm?"
"Sepertinya Anda memang ahli berakting," komentar Ren. Lia tersenyum.
"Anda tahu kunci agar dapat berakting dengan baik?" tanya Lia pada Ren. Ren menggelengkan kepalanya sambil menatap jalanan.
"Anda harus menjiwai peran Anda dengan baik. Kalau perlu, Anda bisa benar-benar menjadi orang lain agar lebih meyakinkan," kata Lia percaya diri.
Ren menoleh ke arah Lia sesaat. Ren benar-benar tak bisa mengenali siapa sebenarnya Lia, wanita seperti apa dia, bagaimana masa lalunya, dan bagaimana perasaannya yang sebenarnya.
"Saya sempat menjadi anggota klub teater waktu SMA dan saya sering mendapat peran utama waktu itu," lanjut Lia.
"Waktu di Oxford, saya pernah mengikuti teater kecil untuk menambah pengalaman dan mengisi kebosanan waktu itu. Hasilnya... Anda dapat melihatnya sendiri sekarang," kata Lia sambil tersenyum bangga.
"Mungkin sebaiknya Anda jadi aktris bukan mengelola bisnis keluarga," kata Ren.
Lia tertawa. Ren menoleh ke arah Lia. Sepertinya itu tawa pertama Lia yang Ren lihat.
"Ah! Maaf, Tuan. Bukan maksud saya menertawakan Tuan Muda," kata Lia dengan sisa tawa yang ada. Ren kembali fokus pada jalanan. Lia menghela napas panjang untuk meredakan tawanya.
"Saya hanya tidak mau repot, Tuan," kata Lia.
"Repot?"
"Menjadi aktris sudah pasti akan sulit mendapatkan privasi. Semua akan jadi konsumsi publik. Sebaik apapun kita menyembunyikannya, publik selalu punya cara untuk membongkarnya," jelas Lia. Ren terdiam.
"Sekarang saja, saya bukan artis, tapi berita tentang saya dicium suami saya di tempat kerja sudah tersebar ke seluruh pelosok negeri," kata Lia sambil terkekeh.
Ren berdehem menghilangkan kecanggungannya saat mendengar kata "dicium" dari mulut Lia. Lia menoleh ke arah Ren.
"Saya boleh menanyakan sesuatu?" tanya Lia pada Ren.
"Silakan," jawab Ren sambil fokus mengemudi.
"Yang tadi pagi itu... apa bisa disebut ciuman?" tanya Lia polos, membuat Ren seketika menginjak pedal rem dan membuat mobil mereka berhenti tiba-tiba.
"Eh? Kenapa kita berhenti, Tuan?" tanya Lia sambil menoleh ke belakang mengantisipasi ada kendaraan lain yang mungkin terganggu dengan pemberhentian mendadak mereka. Beruntung jalanan sedang sepi.
"Anda..." suara Ren terdengar serak.
"Ya?" Lia menoleh menatap Ren yang kini menatapnya. Ren menelan ludahnya.
"Anda... belum pernah melakukannya?" tanya Ren ragu-ragu. Lia mengerutkan kedua alisnya, bingung.
"Hm? Melakukan apa, Tuan?"
"Ciuman... atau... hal sejenisnya," jawab Ren sambil menatap jalanan yang sepi. Lia menaikkan kedua alisnya, tak percaya dengan apa yang dia dengar.
"Eh? Tentu saja belum. Hal sejenisnya? Seperti apa?" tanya Lia. Entah mengapa jantungnya berdebar hebat. Ren kembali menatap Lia.
"Having sex... for example," kata Ren sambil menatap tajam Lia. Mata Lia membulat.
"Tuan pikir saya wanita macam apa? Saya dibesarkan oleh keluarga baik-baik. Mana mungkin saya melakukan hal itu sebelum menikah. Terlebih saya tidak pernah paca..."
"Tapi ada yang melakukannya dengan mudah, bahkan bukan dengan kekasihnya," kata Ren sambil tertunduk. Lia menatap wajah Ren yang tertunduk. Ada kekecewaan dan kesedihan di dalamnya.
"Anda tidak bisa menyamaratakan semua orang," kata Lia. Ren menoleh ke arah Lia yang menatapnya dengan tatapan hangat dan teduh.
"Meski saya bilang semua manusia sama, bukan berarti mereka memiliki sifat yang sama. Kita bisa memperlakukan mereka sama, tapi kita tidak bisa memberi mereka penilaian yang sama," lanjut Lia.
"Kita tidak bisa menilai semua pencuri sebagai orang jahat. Kita bisa bersikap baik dengan mereka, tetapi kita tidak bisa menyamakan seseorang yang mencuri karena terdesak kebutuhan dengan seseorang yang mencuri karena keserakahan atau kebiasaan. Bukankah begitu?" kata Lia.
Ren masih menatap Lia. Wanita yang duduk di sampingnya ini tak pernah berhenti membuat Ren terkesan —tentang penerimaannya bahwa Ren memiliki hubungan dengan Arka di masa lalu, tentang keahlian memasak dan berbisnis, dan tentang cara Lia memandang sesuatu.
"Anda mungkin mengenal satu dua wanita yang dengan mudah tidur dengan siapa saja tanpa adanya status atau cinta," kata Lia.
"Tapi, Anda tidak bisa menyamaratakan semua wanita melakukan hal yang sama. Banyak juga wanita diluar sana yang berusaha mempertahankan kesuciannya, bukan hanya untuk suami masa depan mereka, tapi juga untuk harga diri mereka sendiri," tutup Lia. Ren kembali menunduk.
"Harga diri..." gumam Ren. Lia mengangguk perlahan.
Sorot lampu samar-samar dari belakang, menyadarkan Ren untuk segera menjalankan mobilnya kembali menyusuri jalanan. Pikiran Ren melayang seiring laju mobilnya membelah jalanan kota. Kata-kata Lia terus berputar di kepalanya.
Selama ini Ren menganggap semua wanita sama seperti Vio —hanya memanfaatkan kebaikan Ren— tanpa benar-benar memberi kesempatan pada mereka untuk menunjukkan nilai diri mereka yang sebenarnya.
Ren menoleh sesaat ke arah Lia yang menatap lurus ke arah jalanan. Kini Ren menyadarinya. Lia bukanlah Vio. Semua wanita di bumi ini bukanlah Vio. Dan Vio, hanya sepenggal kisah masa lalu yang menyakitkan.
'Kita bisa memperlakukan mereka sama, tapi kita tidak bisa memberi mereka penilaian yang sama,'
***