seorang pemuda berusia 25 tahun tampak sedang rebahan dengan posisi super tidak estetis di atas bangku kayu panjang.
Dia adalah Kevin Wahyu Wijaya. Lulusan sarjana manajemen dari salah satu universitas swasta di Depok yang gelarnya saat ini hanya berguna sebagai alas tikar saat piknik keluarga.
"Kevin! Lu kagak ada niat nyari kerja apa? Itu si Doni anak RT sebelah udah keterima kerja di SCBD, tiap hari pake kemeja rapi. Lah lu? Dari pagi sampai ketemu pagi lagi kerjaan lu cuma mabar Mobile Legends sambil ngetek di warkop gua!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tri Wahyuni92, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter: 30
Pagi hari di kawasan kampus Universitas Indonesia selalu diawali dengan hiruk-pikuk mahasiswa yang berkejaran dengan waktu masuk kelas.
Namun, di lantai teratas gedung rektorat, atmosfernya jauh lebih tenang, elegan, dan dipenuhi aroma kopi arabika mahal yang menguar dari mesin espresso otomatis.
Di balik meja jati besarnya, Bu Amanda sang Rektor UI sekaligus pemilik tunggal raksasa properti Pratama Group sedang memijat pelipisnya.
Meskipun di luar dia tampak sebagai wanita karier yang kokoh, mandiri, dan berada di puncak strata sosial, di dalam hati terkecilnya, Amanda merasa lelah.
Sejak suaminya meninggal dunia lima tahun lalu, semua beban bisnis, birokrasi kampus, hingga urusan pengelolaan aset Pratama Group harus dia pikul sendirian.
Ditambah lagi, omongan miring dari lingkaran sosial elite Jakarta yang selalu mengincar status jandanya, membuat Amanda menutup rapat-rapat pintu hatinya untuk pria mana pun.
Sampai tiga hari lalu, ketika Kevin Wijaya kembali masuk ke dalam hidupnya sebagai dosen tamu spesial.
Kevin bukan orang asing bagi Amanda.
Pemuda itu adalah mantan mahasiswa bimbingannya yang dulu dikenal sangat cerdas, namun selalu memiliki aura misterius dan dinilai kurang beruntung dalam hal finansial.
Siapa sangka, beberapa tahun berlalu, Kevin kembali dengan transformasi yang sanggup meruntuhkan nalar.
Postur tubuhnya tegap sempurna berkat Tubuh Baja Dewa, tatapan matanya tajam namun menenangkan, dan yang paling membuat Amanda terkesan adalah bagaimana Kevin berkembang menjadi pria yang memiliki pemahaman makro tentang aset yang luar biasa dalam.
Tok! Tok! Tok!
"Masuk,"
ujar Amanda, buru-buru merapikan blazernya yang berwarna merah marun dan memperbaiki letak kacamata bermerek miliknya.
Pintu terbuka, dan sosok Kevin Wijaya melangkah masuk.
Pagi ini, Kevin mengenakan kemeja slim-fit putih bersih dengan jam tangan stainless-steel mewah yang berkilau di pergelangan tangan kirinya.
Efek dari Aura Karisma Alumni Premium yang memancar dari tubuh Kevin langsung membuat sirkulasi darah Amanda berdesir cepat.
Jantung sang Rektor berdegup kencang, sebuah sensasi yang sudah setengah dekade tidak pernah dia rasakan.
"Selamat pagi, Amanda,"
sapa Kevin dengan suara baritonnya yang mantap dan dalam.
Dia sengaja melepaskan embel-embel 'Bu' di luar jam perkuliahan formal, sesuai dengan kesepakatan rahasia mereka malam sebelumnya di hotel Margonda.
"P-Pagi, Kevin,"
Amanda berdeham pelan, mencoba menyembunyikan rasa salah tingkahnya.
"Ada apa? Apakah ada kendala dengan Manajemen Aset untuk minggu depan?"
Kevin tidak langsung menjawab.
Dia berjalan mendekat, lalu meletakkan sebuah map kulit berwarna hitam eksklusif di atas meja kerja Amanda.
Setelah itu, Kevin menarik kursi di hadapan Amanda dan duduk dengan melipat kaki, menampilkan gestur seorang pria penguasa yang sangat percaya diri.
"gak ada masalah. Yang punya masalah itu... kamu, Amanda,"
kata Kevin, menatap lurus ke dalam manik mata sang Rektor.
Amanda mengernyitkan dahi, hatinya bergetar ditatap seintens itu.
"Maksud kamu apa, Kevin?"
"Saya tahu beban yang kamu pikul dengan Pratama Group."
"Saya juga tahu bagaimana lingkaran bisnis luar sana mencoba menekan kamu hanya karena kamu mengelola aset sebesar itu sendirian tanpa ada sosok pria di sampingmu,"
ujar Kevin tenang.
"Kemarin malam di hotel, Tuan Smith hanyalah satu dari sekian banyak buaya yang mengincar kelemahanmu."
"Kamu lelah berjuang sendirian, kan?"
Mendengar kalimat yang begitu menusuk tepat ke lubuk hatinya yang paling rapuh, pertahanan Amanda yang terkenal dingin perlahan runtuh.
Matanya mulai berkaca-kaca. Memang benar, kekayaannya melimpah, jabatannya sebagai Rektor UI sangat dihormati, namun di penghujung hari, dia hanyalah seorang wanita kesepian yang mendambakan perlindungan.
"Kalau kamu sudah tahu... lalu kamu mau apa, Kevin?"
"Mau mengasihani saya?"
bisik Amanda dengan suara yang agak bergetar.
Kevin tersenyum tipis, sebuah senyuman karismatik yang membuat kadar ketertarikan Amanda meroket drastis di dalam kalkulasi Sistem.
"Saya gak datang untuk mengasihani kamu, Amanda."
"Saya datang untuk memberikan solusi mutlak,"
Kevin memajukan tubuhnya, mencondongkan wajahnya ke depan meja kerja Amanda.
"Buka map itu."
Dengan tangan yang sedikit gemetar, Amanda membuka map kulit hitam tersebut.
Begitu matanya membaca lembar demi lembar dokumen di dalamnya, napas Amanda seolah terhenti.
Dokumen itu adalah bukti kepemilikan aset resmi dari Wijaya Group holding company rahasia milik Kevin.
Di sana tercantum kepemilikan 60% saham Rumah Sakit Pusat Medika, puluhan ruko premium di sepanjang jalan utama Margonda, hingga saldo likuid di bank internasional yang jumlah angka nolnya membuat kepala Amanda pening seketika.
Nilai kekayaan pribadi Kevin yang tertera di dokumen itu bahkan melampaui total aset gabungan milik Pratama Group.
Kevin Wijaya, mantan mahasiswanya yang dulu dianggap tidak punya masa depan oleh keluarga besarnya, kini telah menjelma menjadi salah satu taipan terbesar di Kota Depok secara rahasia.
"K-Kevin... ini... dari mana kamu mendapatkan semua kekayaan luar biasa ini?"
tanya Amanda dengan mata membelalak syok, menatap Kevin seolah melihat sosok dewa keuangan yang menyamar.
"Bagaimana saya mendapatkannya itu gak penting, Amanda."
"Yang penting adalah, saya punya kekuatan finansial dan otoritas mutlak untuk mengangkat derajat siapa pun yang berdiri di samping saya,"
kata Kevin, nadanya penuh penekanan yang mendominasi.
"Saya tahu, kamu butuh jaminan stabilitas untuk menyatukan korporasimu agar tidak diganggu oleh kolega-kolegamu yang serakah."
"Dan saya punya semua instrumen untuk mewujudkannya."
Amanda menelan ludah, dadanya naik turun menahan debaran yang kian menggila.
"Lalu... apa syaratnya, Kevin?"
Kevin berdiri dari kursinya, melangkah memutari meja kerja besar itu, lalu berdiri tepat di samping Amanda.
Tanpa ragu, Kevin mengulurkan tangan kanannya yang kokoh, menyentuh lembut dagu Amanda dan memaksanya untuk mendongak menatap matanya yang berkilat penuh keyakinan.
"Syaratnya sangat sederhana, Amanda. Menikahlah dengan saya."
"Jadilah istri kedua saya," tutur Kevin mantap, tanpa ada keraguan sedikit pun.
DEG.
Kata 'istri kedua' berdentang keras di kepala Amanda.
Seorang Rektor Universitas Indonesia, janda terpandang pemilik Pratama Group, diminta menjadi istri kedua oleh mantan mahasiswanya sendiri yang usianya beberapa tahun lebih muda! Secara logika sosial, ini adalah skandal yang gila.
Namun, di bawah pengaruh Aura Karisma Alumni Premium dan fakta bahwa Kevin memiliki kekayaan yang jauh melampaui dirinya, ego dan gengsi Amanda sebagai wanita elite langsung hancur tak bersisa.
Ding!
[Peringatan Sistem: Manuver dominasi mental Pengguna berhasil memicu insting terdalam Target! Gengsi sosial Amanda runtuh 100%. Poin Ketertarikan melonjak: 90%... 95%!!!]
[Evaluasi: Target tidak peduli dengan status istri kedua, karena bagi wanita matang yang realistis, kekuatan finansial, keamanan aset, dan karisma kejantanan Pengguna adalah segalanya.]
Di dalam kepala Kevin, Sistem kembali berteriak usil.
[Ciye, yang lamarannya diterima pakai dokumen saldo bank. Pengguna benar-benar berbakat jadi sugar daddy berondong!]
"Diem lu, Sistem sialan! Gue lagi akting serius ini!"
umpat Kevin dalam hati.
Amanda menatap tangan Kevin yang memegang dokumen kekayaan tersebut.
Segala keraguan, ketakutan akan masa depan perusahaannya, dan rasa kesepian yang dia pendam selama lima tahun ini seolah menguap begitu saja melihat sosok pria mapan, kaya raya, dan kuat yang berdiri di depannya.
Status istri kedua sama sekali bukan masalah, karena Kevin membuktikannya bukan dengan janji manis, melainkan dengan bukti kekayaan mutlak yang sah.
"Kevin..." Amanda berdiri, tubuhnya gemetar bukan karena takut, melainkan karena kebahagiaan dan kelegaan yang luar biasa.
Air mata haru akhirnya menetes melewati pipinya yang mulus.
"Kamu... kamu benar-benar bersedia menjadi sandaran hidupku? Kamu gak peduli dengan omongan orang di luar sana?"
"Di kota ini, sayalah yang menentukan aturan mainnya, Amanda."
"Gak akan ada satu pun orang yang berani menghina istri seorang Kevin Wijaya,"
jawab Kevin dengan nada bariton penuh otoritas, langsung menarik tubuh Amanda ke dalam dekapan dadanya yang bidang.
Amanda membalas pelukan Kevin dengan sangat erat, menangis sejadi-jadinya di dada pria itu, menyerahkan seluruh gengsi, hati, dan aset raksasanya ke dalam kendali sang mantan beban keluarga yang kini telah menjelma menjadi kaisar bayangan.
Ding!
[Selamat! Poin Hubungan bersama Target Amanda mencapai 100% (Cinta Mati Mutlak/Tunduk Finansial).]
[Perintah Sistem Selanjutnya: Jadwalkan pendaftaran pernikahan rahasia ke KUA Kota Depok dalam waktu 48 jam. Misi penguncian gelar ' Ketua Harem Depok' mendekati penyelesaian!]
Kevin tersenyum puas di balik pelukan Amanda, matanya menatap tajam ke depan.
Dengan restu penuh dari Nabila dan tunduknya Amanda di pelukannya, seluruh instrumen kekayaan tertinggi sudah terkunci.
Langkah berikutnya adalah membawa kejayaan ini ke hadapan keluarga besar Wijaya, dan menyaksikan bagaimana muka-muka sombong yang dulu menghinanya akan memucat karena shock!