NovelToon NovelToon
Mrs. Only His

Mrs. Only His

Status: sedang berlangsung
Genre:One Night Stand / Cinta Terlarang / Saling selingkuh
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Di bawah gemerlap penthouse mewah Chicago, Suzanne Klatten terjebak dalam neraka pernikahan tanpa cinta.

Enam bulan menyandang status istri sah Willem Daendels, dia hanya menerima penolakan, dihina, dan dikhianati demi wanita simpanan.

Namun, sebuah pelarian di koridor privat mengubah segalanya.

Dalam rapuhnya batin yang hancur, Suzanne menyerahkan kesuciannya kepada Aiden Luther Stone—bocah SMA berusia 18 tahun yang kehilangan kendali akibat pengaruh obat perangsang.

Saat fajar menyingsing, kepolosan runtuh dan takdir baru terajut.

Aiden yang didera rasa bersalah bersumpah akan bertanggung jawab dan menikahinya, tanpa tahu wanita misterius itu seorang istri Tetangga Apartemennya.

Di balik balutan hoodie kebesaran dan cincin pernikahan yang disembunyikan, Suzanne melangkah kembali ke neraka rumah tangganya dengan rahasia paling berdosa.

Sebuah romansa terlarang yang penuh manipulasi, dan ego yang siap membakar batas moralitas.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#9

Aiden masih menggenggam kemudi mobil dengan erat, matanya tidak lepas dari pintu kaca lobi apartemen tempat sosok Anne baru saja menghilang.

Nama itu, usia dua puluh empat tahun, dan status pernikahan yang terus wanita itu tekankan bergulung menjadi satu badai besar di dalam kepala mudanya.

Aiden menghela napas panjang, meraup wajahnya dengan satu tangan yang gemetar. Untuk pertama kali dalam hidupnya, remaja delapan belas tahun itu merasakan dadanya sesak oleh sesuatu yang tidak bisa ia kendalikan.

Sementara itu, di balik pintu kaca lobi yang megah, Suzanne melangkah dengan ritme yang lebih santai.

Sisa-sisa ketegangan dari interaksinya bersama Aiden di dalam mobil perlahan mencair.

Di sepanjang koridor berlapis karpet beludru tebal menuju lift privat, sudut bibir Suzanne berkedut, membentuk seulas senyum konyol yang tidak bisa ia tahan.

Aiden yang cerewet.

Remaja itu benar-benar mengira dirinya masih seorang mahasiswi berusia dua puluh atau dua puluh dua tahun.

Ekspresi syok di wajah tampan Aiden saat ia menyebutkan angka dua puluh empat tahun, hingga refleks menginjak rem mendadak, adalah pemandangan paling menghibur yang Suzanne dapatkan dalam beberapa bulan terakhir di tengah neraka hidupnya.

Ada kepolosan yang jujur dari cara Aiden menatapnya—sesuatu yang sangat kontras dengan dunia penuh topeng yang selama ini melingkupi Suzanne semenjak keluarga Klatten dinyatakan bangkrut.

Suzanne menggelengkan kepala perlahan, mencoba mengusir bayangan remaja jangkung itu dari benaknya.

"Dia hanya anak High School," bisik Suzanne pada dirinya sendiri saat pintu lift berdenting, terbuka tepat di lantai penthouse miliknya.

Suzanne melangkah keluar, menelusuri lorong sunyi menuju unit nomor 202.

Ia menempelkan kartu akses digitalnya pada panel sensor.

Bunyi klik halus terdengar, dan Suzanne mendorong pintu kayu ek tebal itu dengan gerakan sepelan mungkin.

Begitu kakinya melangkah melewati pembatas pintu, Suzanne mendapati ruangan apartemennya gelap gulita.

Lampu gantung kristal di ruang tamu sama sekali belum dinyalakan, meninggalkan ruangan luas itu hanya diterangi oleh bias cahaya lampu kota dari dinding kaca besar di ujung sana.

Melihat kegelapan itu, Suzanne mengembuskan napas lega yang luar biasa.

Sebuah letupan rasa senang yang tak terbendung membuncah di dalam dadanya.

Pikirannya langsung menyimpulkan satu hal: suaminya Willem Daendels, kemungkinan besar tidak akan pulang malam ini.

Setelah konfrontasi sengit mereka tadi pagi mengenai 'uang 500 juta', Suzanne yakin Willem memilih untuk menghabiskan malamnya di apartemen mewah milik Lydia Gonne untuk memulihkan egonya yang terluka.

Baginya, ketidakhadiran Willem adalah berkah terbaik.

Itu artinya dia bisa tidur dengan tenang tanpa perlu mendengar makian, hinaan, atau tatapan jijik yang selalu dilemparkan pria itu padanya.

Suzanne melepaskan flat shoes-nya, berniat melangkah santai menuju kamarnya sendiri yang terletak di sayap kiri apartemen—sebuah kamar tamu kecil yang memang ia tempati sejak Willem menolak menyentuhnya sebulan lalu.

Untuk menuju ke sana, Suzanne harus berjalan melewati koridor dalam yang melintasi depan pintu kamar utama milik sang suami.

Namun, baru tiga langkah Suzanne memasuki koridor dalam yang remang, langkah kakinya mendadak terkunci di atas lantai marmer yang dingin.

Jantungnya serasa melompat jatuh ke lambung, menyisakan kekosongan yang membekukan seluruh sistem sarafnya.

Pintu kamar utama Willem tidak ditutup dengan sempurna.

Celah selebar beberapa inci membiarkan seberkas cahaya remang dari lampu tidur di dalam kamar tersebut memotong kegelapan koridor luar.

Dan dari celah sempit itulah, suara-suara yang menghancurkan akal sehat mulai merayap keluar, mengotori keheningan apartemen.

Kamar remang itu penuh dengan suara desahan yang luar biasa pekat, berat, dan sarat akan gairah primitif yang menjijikkan.

“Ahh... lebih Cepat, Willem... lebih dalam...”

Sebuah teriakan melengking yang menggema samar dari dalam kamar itu laksana belati berkarat yang dihujamkan berulang kali ke dalam dada Suzanne.

Suara wanita itu... Suzanne tidak perlu melihat wajahnya untuk tahu siapa pemilik suara manja yang kini terdengar begitu liar.

Lydia Gonne.

Si brengsek Willem Daendels ternyata telah membawa kekasih gelapnya masuk ke dalam apartemen yang secara hukum merupakan wilayah pernikahan sahnya bersama Suzanne, melakukan tindakan paling intim tepat di atas ranjang pernikahan yang seharusnya menjadi tempat suci mereka.

Suzanne mematung di tempatnya berdiri, seluruh tubuhnya menegang hebat hingga kedua kakinya bergetar hebat.

Dorongan dari rasa syok yang teramat besar membuat persendiannya terasa lemas, seolah lantai yang ia pijak bisa runtuh kapan saja.

Penghianatan ini... dilakukan tepat di depan matanya, hanya berjarak beberapa meter dari tempatnya berdiri, tanpa ada rasa hormat atau rasa bersalah sedikit pun dari pria yang berstatus sebagai suaminya.

Suara decitan ranjang dan napas memburu dari dalam kamar itu semakin menjadi-jadi, laksana sebuah pertunjukan teatrikal yang sengaja dirancang untuk menginjak-injak harga diri Suzanne Klatten hingga menjadi debu.

Willem benar-benar telah menghancurkan martabatnya sebagai seorang istri sah dengan cara yang paling hina dan kejam yang bisa dipikirkan oleh seorang pria.

Rasa muak yang luar biasa mendadak naik ke tenggorokan Suzanne.

Tanpa membuang waktu lagi untuk mendengarkan sisa suara menjijikkan itu, Suzanne membalikkan tubuhnya dengan sentakan cepat.

Ia berlari.

Langkah kakinya yang tanpa alas kaki berderap cepat di atas marmer, tergesa-gesa menuju kamarnya sendiri di ujung sayap kiri.

Begitu sampai di dalam kamarnya, Suzanne langsung menutup pintu kayu itu dengan bantingan pelan namun tegas, lalu memutar kunci ganda dari dalam dengan tangan yang bergetar hebat.

Ia menyandarkan punggungnya pada daun pintu yang tertutup, mengatur napasnya yang memburu tak beraturan karena luapan emosi yang campur aduk di dalam dadanya.

Suzanne memejamkan matanya rapat-rapat, mencengkeram dadanya sendiri yang berdegup kencang.

Ia menunggu air mata yang biasanya keluar setiap kali Willem merendahkannya.

Ia menunggu rasa sesak yang biasa menghimpit dadanya akibat penolakan demi penolakan yang ia terima selama enam bulan terakhir.

Namun, satu menit berlalu, keajaiban aneh terjadi.

Air mata itu tidak kunjung turun.

Bukannya menangis sesenggukan atau merasa kecewa seperti wanita-wanita tertindas pada umumnya setelah berulang kali ditolak dan dikhianati secara brutal, Suzanne perlahan membuka kedua kelopak matanya.

Perlahan, gurat ketakutan dan syok di wajahnya memudar, digantikan oleh kekosongan emosi yang dingin, yang kemudian bertransformasi menjadi sesuatu yang jauh lebih berbahaya.

Sudut bibir Suzanne perlahan terangkat.

Sebuah senyuman dingin, tajam, dan penuh dengan kepuasan yang aneh merekah di wajahnya yang jelita di bawah temaramnya lampu kamar.

Dia tertawa pelan, sebuah kekehan hambar yang menggema di dalam kamarnya yang sunyi.

Rasa sakit yang semalam ia rasakan di bawah kungkungan Aiden, dipadukan dengan penghinaan Willem di depan matanya malam ini, entah bagaimana telah memutus rantai moralitas terakhir yang mengikat kakinya selama ini.

Rasa bersalah karena telah mengkhianati pernikahan bersama bocah SMA semalam seketika menguap tanpa sisa, digantikan oleh rasa pembebasan mutlak yang membakar jiwanya.

"Kau membawa jalangmu ke rumah ini, Willem..." bisik Suzanne, suaranya terdengar begitu tenang namun sarat akan racun yang mematikan.

Ia berjalan mendekati ranjang kecilnya, melemparkan tas bahunya ke atas kasur dengan gerakan anggun.

"Dan aku pun bisa melakukan hal yang sama. Bahkan... dengan seseorang yang jauh lebih muda, jauh lebih bertenaga, dan jauh lebih mendambakanku daripada kau yang harus membagi fokusmu dengan ketakutan akan kehilangan warisan."

Suzanne berjalan mendekati cermin meja riasnya.

Ia menatap pantulan dirinya sendiri, meraba lehernya yang tertutup riasan tebal—tempat di mana jejak kepemilikan Aiden tersembunyi dengan rapat.

Memori tentang bagaimana remaja delapan belas tahun itu memujanya semalam, bagaimana Aiden memohon maaf di sela-sela pergulatan gairah mereka karena takut menyakitinya, dan bagaimana bersungguh-sungguhnya Aiden ingin bertanggung jawab pagi tadi, mendadak terasa seperti sebuah senjata tajam yang kini berada di dalam genggaman tangannya.

Willem menganggapnya sebagai parasit yang menjijikkan, namun di ranjang sebelah, pria muda begitu mengemis untuk bisa memilikinya.

Perbandingan itu membuat ego Suzanne yang sempat mati kini bangkit kembali dengan kekuatan penuh.

Suzanne duduk di kursi meja rias, mengambil selembar tisu untuk membersihkan sisa riasan di wajahnya dengan gerakan yang sangat teratur.

Matanya yang jernih kini memancarkan kilat balas dendam yang dingin dan penuh perhitungan.

"Mari kita lihat seberapa hebat permainanmu bersama kekasih tercintamu itu di rumah ini, Suamiku," gumam Suzanne dengan senyum yang semakin melebar di wajahnya.

"Mari kita lihat, siapa yang akan hancur lebih dulu saat seluruh dinding kebohongan dan keangkuhan Daendels Group ini runtuh karena rahasia di lantai yang sama."

Malam itu, di bawah atap penthouse mewah yang dipenuhi oleh suara dosa suaminya, Suzanne Klatten tidur dengan senyuman yang paling tenang seumur hidupnya, menyambut babak baru permainan takdir yang akan ia mainkan bersama seorang bernama Aiden.

1
nayla tsaqif
"duaarrr!!! Nya knp pke tanda baca sih thor,, berasa di kagetin sama bang eiden
😌
Rosdianah: huhuhu Maafkan typo author 🫶🙏🏻
total 1 replies
Ainun Mahya
lanjutkan karyamu kakak author💪💪💪
Rosdianah: Ma'aciww kak reader 🫶🥰
total 1 replies
Shankara Senja
Kadang suka kasihan sama anak yg menikah karena perjodohan atau hutang budi..dan lebih kasihan lg bertahan dng menyakiti hatinya demi ortu yg kek gini ini ..
Rosdianah: huhuhu iya banget kak🥲
total 1 replies
Mia Camelia
yah nora jadi jahat gitu ya, kasian anne terpojok terus🤣🤣🤣
Rosdianah: wkwkwk😅🤭
total 1 replies
Mia Camelia
ulat bulu licik udah mulai keluar nih, aduh semoga aiden gk kena jebakan lgi😔🤔
Rosdianah: huhuhu🤭
total 1 replies
Mia Camelia
ayo ngaku aja sih aiden klo cewe itu anne 🤣🤣🤣
Rosdianah: Dicoret dari KK kaaa🤣 bini orang soalnya 🤣🤣🤣
total 1 replies
Debu Nakal
thor... tlng kasih tahu suzzy, suruh nongol tuh anak. ni ku dh nungguin ampe berjamur tp dianya ka gak nongol2 😅🤣
Rosdianah: huhuhu seminggu ini author sibuk Di dunia nyata🙏🏻
total 1 replies
nayla tsaqif
Gk bpk gk anak,, sikapnya dewsa sebelum waktunya,,, 😌😌😌 good boy!
Rosdianah: kesayangan author dan kak reader 🥰🤭
total 1 replies
Mia Camelia
ayo thor bikin wiliiam cemburu🤔
Rosdianah: siap kak🤭
total 1 replies
Mia Camelia
ih gemes deh aiden so sweet banget🥰😄
Rosdianah: hihi biar jadi kesayangan kak reader 😅
total 1 replies
Mia Camelia
waduh siapa lagi nih🤔
Rosdianah: Paparazi kak🤭😅
total 1 replies
Mia Camelia
ngebayangiin nih kalo mereka beneran udh jadian, pasti romantic banget🤔😂
Rosdianah: author juga suka ngebayangin kak🤭🤣
total 1 replies
Mia Camelia
😄😄😄
Rosdianah: ma'aciww sekali Komentar nya adalah semangat author 🤭😅🥰
total 1 replies
Mia Camelia
omg 🥰🥰🥰 aiden gentlemen bangat sih😄😄😄
sukaaak thor sama tokoh pria yg begini👍
Rosdianah: brondongnya kak Reader 🤭
total 1 replies
Mia Camelia
ayo aiden lindungiin anne, 🥰😄
Rosdianah: Author Jabanin 🤭
total 1 replies
Mia Camelia
ayoooo berontak anne, kejar tuh berondong👍🤣
Mia Camelia
wah aiden udh mulai panas nih sisi obsesif nya, pingin liat klo brondong ngejar2🥰🥰🥰
Rosdianah: hahah author Jabanin kak🥰🤭
total 1 replies
Mia Camelia
wiliam kaya nya udh mulai kepoo sm suzanne🤔🤔
nayla tsaqif
Ceritanya brondong terus, thorr,?? , ada cerita sugar duda gk...?? 🤭
Rosdianah: Nanti Author buatkan kak reader 🤭🥰
total 1 replies
nayla tsaqif
Vexana istri bang landon,, 😌
Rosdianah: sorry typo ya Kak Reader 🙏🏻 syukur diingatin 🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!