Lin Ye terbatuk memuntahkan darah hitam dan terbangun di tanah pemakaman Sekte Pedang Surgawi.
Dantiannya telah hancur lebur, menjadikannya tumpukan sampah yang selalu dihina oleh para kultivator lain.
Angin malam yang dingin berhembus membawa aroma dupa busuk dan aura kematian yang sangat pekat di sekitarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ikyar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Teror di Pelataran Luar
Puncak Awan Emas adalah tempat paling suci dan dipenuhi oleh energi spiritual paling padat di seluruh Sekte Pedang Surgawi.
Di puncak inilah para petinggi sekte dan murid pelataran dalam yang jenius menghabiskan waktu mereka untuk berkultivasi menembus batas fana.
Sebuah istana megah yang terbuat dari batu giok putih berdiri kokoh menembus awan-awan tipis di puncak gunung tersebut.
Di dalam salah satu aula utama istana raksasa itu, aroma dupa spiritual kualitas tertinggi menguar memenuhi seluruh penjuru ruangan.
Seorang pria tua berjubah putih bersih dengan rambut perak yang diikat rapi sedang duduk bersila di atas altar batu giok berukir naga.
Ia adalah Tetua Agung Chu Zhen, sosok nomor dua paling berkuasa di seluruh Sekte Pedang Surgawi yang telah mencapai puncak Alam Inti Emas.
Auranya begitu tenang namun memancarkan tekanan mutlak yang membuat udara di sekitarnya seolah berhenti mengalir.
Tepat di bawah altar tersebut, seorang pemuda tampan berjubah biru muda sedang berlatih jurus pedang dengan gerakan yang sangat elegan namun mematikan.
Pemuda itu memiliki alis setajam pedang, mata yang memancarkan kesombongan tingkat tinggi, dan senyuman merendahkan yang selalu terukir di wajahnya.
Ia adalah Chu Yan, cucu kesayangan dari Tetua Agung dan jenius nomor satu di antara generasi muda pelataran dalam saat ini.
Kultivasinya telah mencapai tahap kesembilan Alam Pengumpulan Qi di usianya yang baru menginjak sembilan belas tahun.
Tiba-tiba, suara kepakan sayap yang tergesa-gesa memecah keheningan sakral di dalam aula utama tersebut.
Seekor merpati spiritual dengan bulu berwarna merah darah terbang masuk melalui jendela yang terbuka dan mendarat tepat di pangkuan Tetua Agung.
Mata Tetua Agung Chu Zhen perlahan terbuka, memancarkan kilatan cahaya keemasan yang sangat menyilaukan dan penuh dengan otoritas.
Ia mengambil gulungan perkamen kecil yang terikat di kaki burung merpati itu dengan gerakan tangan yang sangat pelan.
Chu Yan menghentikan tarian pedangnya dan menatap kakeknya dengan dahi sedikit berkerut, merasa terganggu dengan kedatangan pesan darurat tersebut.
"Kakek, apakah terjadi sesuatu di perbatasan wilayah sekte kita hingga merpati darah harus dikirimkan?" tanya Chu Yan dengan nada santai.
Tetua Agung tidak menjawab dan perlahan membuka gulungan perkamen itu untuk membaca pesan darurat dari pelataran luar.
Seketika itu juga, suhu di dalam aula raksasa itu anjlok secara drastis hingga membuat uap dingin keluar dari mulut Chu Yan.
Tekanan spiritual yang sangat mengerikan dan haus darah meledak dari tubuh Tetua Agung, menghempaskan meja-meja giok di sekitarnya hingga hancur berkeping-keping.
"Kurang ajar! Beraninya seekor serangga dari aliran iblis rendahan menginjak-injak harga diri keluarga Chu di wilayahku sendiri!" raung Tetua Agung dengan suara menggelegar.
Chu Yan membelalakkan matanya karena terkejut melihat kakeknya yang selalu tenang kini memancarkan amarah yang sangat mematikan.
"Ada apa, Kakek? Siapa yang berani mencari mati dengan menantang keluarga Chu kita?" tanya Chu Yan yang kini melangkah maju mendekati altar.
Tetua Agung melemparkan gulungan perkamen itu ke arah cucunya dengan tangan yang sedikit bergetar menahan amarah yang meluap-luap.
Chu Yan menangkap perkamen itu dan segera membaca isinya dengan pandangan mata yang menyapu cepat setiap baris kalimat.
Wajah tampannya seketika berubah menjadi sangat gelap dan urat-urat biru menonjol keluar di pelipisnya.
Pesan itu menceritakan tentang pembantaian brutal di kediaman Zhao Ming dan ancaman berdarah yang ditujukan langsung kepada nama Chu Yan.
"Zhao Ming si anjing tidak berguna itu... dia bahkan tidak bisa menjaga mulutnya sendiri saat disiksa oleh musuh!" kutuk Chu Yan sambil meremas perkamen itu hingga hancur menjadi debu.
"Dia pasti membocorkan rahasiaku kepada pembunuh aliran iblis itu sebelum nyawanya dihabisi dengan kejam!"
Tetua Agung berdiri dari altar batu gioknya, jubah putihnya berkibar liar tanpa tertiup angin.
"Tidak peduli rahasia apa pun yang kau miliki, tidak ada seorang pun yang boleh mengancam nyawa cucuku dan tetap bernapas di dunia ini!"
"Kirimkan perintah kepada Pasukan Eksekutor Pedang Darah dari pelataran dalam sekarang juga!"
"Suruh mereka turun ke pelataran luar dan segel setiap jengkal tanah di sana!"
"Bawa kepala kultivator iblis itu ke hadapanku sebelum matahari terbenam, atau mereka semua harus menebus kegagalan ini dengan nyawa mereka sendiri!" perintah Tetua Agung dengan suara yang memekakkan telinga.
Chu Yan menganggukkan kepalanya dengan senyuman kejam yang kini menghiasi wajah tampannya.
"Biar aku sendiri yang memimpin Pasukan Eksekutor itu, Kakek."
"Aku ingin melihat langsung wajah tikus iblis yang berani menuliskan namaku dengan darah anjing peliharaanku itu," ucap Chu Yan sambil menyarungkan pedangnya dengan kasar.
Tetua Agung menatap cucunya sejenak sebelum akhirnya mengangguk setuju, ia yakin dengan kekuatan cucunya yang didukung oleh pasukan elit sekte.
Di saat yang sama, nun jauh di pelataran luar, suasana kepanikan justru semakin tidak terkendali dan mencekam.
Formasi Pelindung Seribu Pedang telah diaktifkan secara maksimal, menciptakan kubah cahaya keemasan raksasa yang menyelimuti seluruh area pelataran luar.
Kubah raksasa ini dirancang untuk mencegah siapa pun masuk atau keluar tanpa izin tertulis dari Tetua Agung.
Ribuan murid pelataran luar kini dikerahkan untuk berpatroli dalam kelompok besar yang terdiri dari puluhan orang.
Mereka berkeliling dengan pedang terhunus dan tubuh yang gemetar, ketakutan bahwa bayangan kematian akan menjemput mereka dari sudut gelap.
Tetua Liu berdiri di atas atap aula utama pelataran luar dengan wajah tegang, mengawasi pergerakan para muridnya.
Ia terus mengusap keringat dingin yang membasahi dahinya, merasa bahwa nyawanya kini berada di ujung tanduk.
Sementara itu, di sebuah hutan bambu yang rimbun dan gelap di pinggiran pelataran luar, Lin Ye sedang mengamati kepanikan tersebut dengan sangat tenang.
Tubuhnya bersandar santai pada sebuah batang pohon bambu hitam berukuran besar.
Ia telah menggunakan Langkah Hantu Bayangan untuk menyembunyikan hawa keberadaannya dengan sangat sempurna hingga tidak ada satu pun formasi pelacak yang bisa mendeteksinya.
Bahkan Formasi Pelindung Seribu Pedang raksasa di atas langit sama sekali tidak menyadari kehadiran energi Yin murni di dalam hutan ini.
Lin Ye memutar-mutar sebuah daun bambu di tangannya sambil tersenyum sinis melihat kelompok-kelompok patroli yang lewat tidak jauh dari tempatnya bersembunyi.
"Mereka berkumpul seperti sekawanan domba ketakutan yang mencoba melindungi diri dari serigala kelaparan," gumam Lin Ye dengan suara yang sangat pelan.
"Tapi mereka lupa bahwa serigala sejati tidak pernah menyerang dari depan, melainkan menyusup langsung ke dalam pikiran mereka."
Pandangan Lin Ye terkunci pada satu kelompok patroli khusus yang baru saja memasuki area hutan bambu hitam tersebut.
Kelompok patroli ini dipimpin oleh seorang murid bertubuh kekar dengan wajah dipenuhi bekas luka codet yang sangat kasar.
Ia adalah Zhang Wei, salah satu mandor pelataran luar yang terkenal dengan kekejamannya dalam memeras jatah sumber daya murid baru.
Di masa lalu, Zhang Wei sering kali memaksakan tugas-tugas berat yang tidak masuk akal kepada pemilik tubuh asli dan memukulnya jika ia menolak.
Kebencian dari ingatan lama kembali mendidih di dalam dada Lin Ye, namun ia menekannya dengan ketenangan absolut dari energi kematiannya.
Ini adalah mangsa yang sangat sempurna untuk menguji batas kemampuan pasukan bayangannya di bawah sinar matahari secara langsung.
"Jenderal Wu An," panggil Lin Ye melalui ikatan mental di lautan kesadarannya.
"Saya hadir dan menunggu perintah Anda, Tuanku," jawab suara berat sang jenderal kuno dari dalam bayangan Lin Ye.
"Tidak perlu kau turun tangan secara langsung untuk membunuh serangga-serangga kecil ini."
"Lepaskan sepuluh Jiwa Penasaran Tingkat Rendah dari dalam ruang penyimpanan."
"Gunakan energi Yin dari dalam tubuhku untuk menutupi kelemahan mereka terhadap sinar matahari."
"Bermainlah dengan mereka, hancurkan mental mereka hingga ke titik terendah, dan biarkan ketakutan menjadi bumbu pelengkap sebelum aku memanen jiwa mereka," perintah Lin Ye dengan nada yang sangat kejam.
"Sesuai keinginan Anda, Tuanku," balas Jenderal Wu An dengan tawa rendah yang mengerikan di dalam pikiran Lin Ye.
Lin Ye menjentikkan jarinya, dan sepuluh helai kabut hitam pekat melesat keluar dari bayangannya dan menyusup ke dalam bayangan pepohonan bambu.
Di bawah selubung energi kultivasi Lin Ye yang telah mencapai tahap kelima, jiwa-jiwa penasaran ini bisa bergerak bebas meskipun matahari bersinar terik di atas sana.
Zhang Wei yang sedang memimpin dua puluh orang murid di belakangnya tiba-tiba menghentikan langkah kakinya dan mengangkat tangannya tinggi-tinggi.
"Berhenti! Semuanya waspada!" teriak Zhang Wei dengan wajah tegang sambil menghunuskan golok raksasanya.
Kedua puluh murid di belakangnya langsung saling membelakangi dan membentuk formasi lingkaran pertahanan yang rapat.
Pedang mereka bergetar hebat saat mereka mencoba menatap ke sekeliling hutan bambu yang tiba-tiba terasa sangat sunyi.
Bahkan suara kicauan burung dan gesekan daun bambu yang tertiup angin seketika menghilang seolah tertelan oleh ruang hampa udara.
Suhu udara di sekitar mereka mulai merosot turun secara perlahan, membuat embun pagi yang menempel di dedaunan berubah menjadi butiran es batu.
"Kakak Zhang... apakah kau merasakan sesuatu?" tanya seorang murid bertubuh kurus dengan gigi yang mulai bergemeretak menahan dingin.
Zhang Wei tidak menjawab, matanya terus melirik ke kiri dan ke kanan dengan keringat dingin yang mengalir deras menuruni pelipisnya.