NovelToon NovelToon
Pantaskah Aku Mencintai Seorang Polisi?

Pantaskah Aku Mencintai Seorang Polisi?

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Cinta Terlarang / Mengubah Takdir
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: kikyoooo

Menghuni penjara kelas kakap bukanlah hal tersulit bagi Marysa. Yang benar-benar menghancurkannya adalah kenyataan bahwa pria yang memborgol tangannya adalah Herry, cinta masa lalunya yang kini menjabat sebagai kapten polisi dan ironisnya, Herry sama sekali tidak mengingatnya. dan bahkan terdengar jika Herry akan segera menikah.

​Memilih mati daripada terus tersiksa oleh ingatan, sang Ratu Mafia mengatur pelarian besar dari Negara aslinya Korea menuju ke negara tropis, Indonesia. Rambut panjangnya dipangkas pendek, kemewahannya ditanggalkan, dan kini ia menyamar sebagai Tania, seorang tukang sapu jalanan yang tak kasatmata.

​Namun, kedamaian barunya terusik ketika jalanan mempertemukannya dengan Rangga. Pria playboy yang terbiasa berganti-ganti Wanita itu mendadak penasaran setengah mati pada sosok Tania, yang dingin.

Akankah samaran Marysa terbongkar saat seorang playboy itu mulai tulus mencintainya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikyoooo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34 Aku Ini Pria Normal!

...

Langit pagi yang semula bersih mendadak berubah kelabu pekat dalam hitungan menit. Angin kencang berembus membawa aroma tanah kering yang terbakar, disusul oleh gemuruh guntur yang membelah keheningan Jakarta Utara. Padahal, Tania dan Rangga baru saja mengayunkan sapu lidi mereka selama beberapa menit di sekitar trotoar alun-alun kota.

Gebruk!

Hujan deras langsung tumpah dari langit seperti air yang ditumpahkan dari ember raksasa. Air hujan yang lebat seketika mengaburkan pandangan dan mengubah aspal menjadi aliran sungai kecil yang keruh.

Kebetulan, hari ini Bu Yuni sudah meminta izin sejak kemarin sore karena ada keperluan acara keluarga yang mendesak. Alhasil, hanya tinggal Rangga dan Tania yang bertanggung jawab menjaga kebersihan di sektor alun-alun kota pagi ini.

"Neng! Sini, ikuti aku! Jangan di bawah pohon, bahaya!" seru Rangga setengah berteriak, suaranya hampir tenggelam oleh gemuruh suara air yang menghantam bumi.

Sambil memegang pergelangan tangan Tania dengan erat, kaki jangkung Rangga bergerak cepat menembus tirai hujan. Dia membawa wanita itu menuju sebuah bangunan tua kosong yang terbengkalai di sudut barat alun-alun. Gedung bertingkat dua dengan sisa-sisa arsitektur zaman kolonial itu sudah lama ditinggalkan, menyisakan atap beton yang bocor di beberapa bagian, namun masih cukup kokoh untuk dijadikan tempat berlindung.

Mereka berdua melompat masuk melalui ambang pintu besar yang sudah kehilangan daun kayunya. Suasana di dalam gedung itu sunyi, dingin, dan dipenuhi aroma debu lembap serta lumut.

Tania berdiri bersandar pada pilar beton yang berlumut. Beruntung, seragam oranye kebersihan yang dipakainya terbuat dari bahan parasut tebal yang cenderung anti-air, sehingga pakaian bagian dalamnya masih relatif aman. Namun, kepalanya basah kuyup. Rambut cokelat pendek sebahunya menempel erat di pelipis dan tengkuk, mengalirkan tetesan air dingin yang perlahan membuat warna kulit porselen di wajah Tania memucat. Bagi seorang mantan Marysa yang terbiasa bertahan hidup saat kabur kaburan disaat terang maupun hujan serta bersalju. kondisi fisik seperti ini sudah biasa. Dia sama sekali tidak mengeluh.

"Hacih! Uhuk... uhuk!"

Di sebelahnya, Rangga mendadak bersin keras disusul batuk-batuk kecil. Tubuh jangkungnya agak menggigil, dan hidungnya yang bangir mulai memerah. Pria itu mengusap wajahnya yang basah dengan gusar. "Sialan... langsung drop. Aku ini memang payah, Neng. Dari kecil kalau kena air hujan yang langsung deras begini, pasti langsung bersin-bersin begini," gumam Rangga dengan suara medoknya yang kini terdengar agak bindeng.

Tania menoleh, memperhatikan wajah Rangga yang pucat dan bibirnya yang sedikit membiru karena kedinginan. Wanita itu mengembuskan napas panjang lewat hidung, sebuah helaan napas kaku yang mencerminkan pragmatisme keputusannya.

Tanpa sepatah kata pun, Tania mulai membuka ritsleting seragam oranye parasutnya yang basah di bagian luar.

Melihat gerakan itu, Rangga seketika menegang. Matanya yang sipit terbelalak lebar, dan rasa gugup yang luar biasa langsung menyerang seluruh sarafnya. Jantungnya berdegup gila-gilaan, jauh lebih kencang daripada saat dia dikejar preman. "E-Eh, Neng? Kamu mau ngapain?" gagap Rangga, suaranya mendadak naik satu oktav.

Memang, di luar sana Rangga dikenal sebagai pria jalanan yang bajingan, seorang playboy yang terbiasa merayu belasan wanita dan bergonta-ganti teman kencan. Namun, fakta yang tidak diketahui orang adalah Rangga tidak pernah melewati batas norma. Petualangan romantisnya paling jauh hanya sebatas jalan-jalan sore, bergandengan tangan atau paling mentok kecupan ringan di pipi saat berpamitan. Dia menjaga kehormatan wanita dengan caranya sendiri yang kaku. Melihat seorang gadis mulai melucuti pakaian di depannya di dalam gedung kosong yang sunyi membuat seluruh nyali jalang Rangga menciut drastis.

Tania hanya melirik Rangga dengan tatapan matanya yang kelam dan dingin, seolah menganggap kepanikan pria itu sebagai sesuatu yang tidak logis. Setelah seragam parasut oranyenya terlepas dan menyisakan kaos oversize hitam di tubuhnya, Tania tidak berhenti. Jemari rampingnya bergerak ke ujung bawah kaos hitamnya, bersiap mengangkat kain tersebut melewati kepalanya karena kaos itu juga sudah mulai lembap oleh air yang menetes dari rambutnya.

Sret.

Rangga langsung membalikkan badannya dengan kecepatan penuh, menghadap lurus ke arah dinding bata yang berlumut dengan muka yang merah padam hingga ke leher dan ujung telinga. "N-Neng! Tolong dong, aku ini laki-laki normal! Jangan begini di tempat sepi, ntar kalau ada yang liat gimana toh!" seru Rangga panik, meremas rambutnya yang basah sendiri, tidak berani melirik ke belakang bahkan lewat sudut matanya sedikit pun.

Tania mengabaikan seluruh kepanikan bising pria jangkung itu. Dengan gerakan yang sangat efisien dan tenang, dia melepas kaos hitamnya, menyisakan selembar tanktop hitam ketat yang membungkus tubuh kurus namun padatnya. Struktur otot perut dan lengannya yang terlatih tampak samar di bawah temaram cahaya gedung terbengkalai.

Tania menggunakan kaos hitam oversizenya yang bagian dalamnya masih agak kering untuk menepuk-nepuk kepala dan rambut pendeknya dengan ringan, menyerap sisa-sisa air agar tidak terus mengalir ke wajahnya yang memucat. Setelah rambutnya dirasa cukup kering, Tania melangkah satu langkah maju.

"Rangga," panggil Tania kaku.

"I-Iya, Neng? Udah belum? Aku belum boleh balik badan kan?" sahut Rangga ketakutan.

Tanpa menjawab, Tania langsung melemparkan kaos hitamnya yang sudah agak lembap namun hangat itu ke arah pundak Rangga. Rangga yang memiliki refleks yang bagus secara spontan menangkap kain tersebut dengan kedua tangannya, meskipun wajahnya masih tersipu parah dan menolak untuk berbalik.

"Gunakan itu. Keringkan kepalamu sementara agar tidak terus bersin," perintah Tania dingin, nadanya tidak menerima bantahan, mencerminkan sisa-sisa sifat diktatornya sebagai penguasa klan.

Rangga menatap kaos hitam di genggamannya. Meskipun hatinya ketar-ketir dan otaknya berputar liar memikirkan posisi Tania yang kini pasti hanya mengenakan pakaian minim di belakangnya, dia tetap menuruti perintah itu. Rangga menempelkan kain kaos itu ke rambutnya, menggosok kepalanya yang basah perlahan.

Dan pada detik itulah, indra penciuman Rangga menangkap sesuatu yang mematikan kewarasannya. Kain kaos itu memancarkan aroma tubuh Tania sebuah kombinasi wangi manis yang tipis, aroma sabun cuci, dan aroma kulit Tania yang begitu murni. Wangi yang sangat khas dan intim, yang langsung membuat wajah Rangga kembali memerah pekat untuk kesekian kalinya pagi itu. Dia mengulum senyumnya dalam-dalam di balik lipatan kain, merasakan kebahagiaan yang kian merantai hatinya.

...

Sementara itu, ribuan kilometer di belahan bumi bagian utara, langit Seoul sedang dinaungi oleh cuaca musim panas yang sejuk namun kering.

Pesawat VIP yang membawa rombongan kepolisian mendarat beberapa jam yang lalu. Kapten Herry sama sekali tidak mengambil hak libur atau masa istirahat pasca-perjalanan dinas luar negerinya. Pria berwajah tegas itu langsung mengenakan seragam dinas polisi lengkapnya yang berwarna biru tua dengan lencana perak yang mengkilap di dada kiri.

Hari ini, jadwal kerjanya adalah memimpin inspeksi dan mengawasi blok tahanan tingkat tinggi di fasilitas penahanan bawah tanah Seoul tempat di mana sisa-sisa anggota klan Baekje ditahan setelah keruntuhan jaringan Marysa.

Herry melangkah membelah koridor beton yang dingin dan steril, ditemani oleh beberapa sipir bersenjata laras panjang. Langkah sepatunya terdengar tegas, menggema di sepanjang lorong besi. Sifat dingin dan diktatornya kembali menguar kuat, membuat para tahanan di balik jeruji besi menundukkan kepala takut begitu melihat figurnya melintas.

Namun, saat Herry berdiri di depan salah satu sel isolasi berwajah kaca tebal, pandangan matanya kembali melamun selama beberapa detik. Sepasang mata jelaganya menatap kosong ke arah dinding sel yang putih. Di dalam kepalanya, emosionalnya kembali bergejolak tanpa bisa dihentikan. Kota Seoul terasa begitu hampa bagi jiwanya sekarang, setiap sudut markas ini justru mengingatkannya pada kegagalan mutlaknya dalam mengunci Marysa di bawah tangannya. Obsesi gelapnya terus berbisik bahwa perburuannya belum selesai.

...

Thanks you for reading ....😘

Jangan lupa semangatin aku...

like commentnya 😇

1
falea sezi
kenapa alurnya lambat thor
kikyoooo: Alurnya emang sengaja dibikin slow burn, biar pondasi karakter sama dunia-nya mateng dulu. Nanti pas konflik gede masuk, impact-nya baru kerasa. Sabar ya...


tapi kalau memang ganggu next bikin yang penting penting aja....😌😇😇
total 1 replies
falea sezi
🤣🤣 rangga pasti kepikiran anu nya buat gantiin rokok🤣🤣
falea sezi
🤣🤣 tania oh tania 🤣 lu uda gk di harepin ma cowok. matre itu kapten sombong😒 uda lupain. masih aja. lu. penasaran lu itu g di ingat sekali. lagi jasa lu g di ingat amnesia lah konon tp ma cwek kaya dia nikahin kan bangke
falea sezi
🤣🤣 tania lu cocok ma rangga deh dripada kapten g tau diri yg matre itu🤣
falea sezi
kenapa muter doank sih thor
kikyoooo: mutèr gimana kak? maaf
total 1 replies
falea sezi
sebel liat kapten sok ganteng gk tau diri😒
falea sezi
moga aja ma rangga aja
falea sezi
gantengnya mas rangga🤣 ma rangga aja lahh biar miskin bukan tunangan orang yg gk tau Terima kasih😒
falea sezi
lanjut donk bkin si neng di taksir cogan 😒 sebel liat polisi sok cakep uda nikah aja ma anak komandan mu itu🤣 abis itu ingatan balik nyesel lu pria g tau diri🤭
falea sezi
nikah aja sana 😒 biar si neng ma cogan di Indonesia aja🤭
falea sezi
😕 nyesek amat sih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!