NovelToon NovelToon
Kalian Hidup Enak Atas Tanganku

Kalian Hidup Enak Atas Tanganku

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / CEO / Mengubah Takdir
Popularitas:9.2k
Nilai: 5
Nama Author: lisxone

Hana Untari seorang wanita yang baik dan cantik, diamenikah dengan laki‑laki bernama Dimas Prayoga. Hana tinggal dengan suami beserta keluarga suaminya. Namun, Dimas selama 3 tahun menjadi suami Hana tidak menafkahinya dengan layak, dia beralasan jika Hana juga mempunyai penghasilan yang cukup. Dimas menghabiskan uangnya untuk kebutuhannya sendiri, sedangkan untuk kebutuhan ibu dan kakak serta adiknya semua uang dari Hana. Perselingkuhan Dimas dengan orang terdekat Hana, membuat Hana tidak bisa memaafkan suaminya. Mampukah Hana menjalani biduk rumah tangga dengan Dimas?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lisxone, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tidak ada harta Bersama

" Apa? Pengangguran?"

Ibu Sundari syok saat tahu jika pria yang menghamili Lastri hanya seorang pengangguran. Dan lebih parahnya pria itu adalah pria yang sering mengantar dan menjemput Lastri, yang Lastri bilang seorang tukang ojek pangkalan.

Mimpi apa ibu Sundari sampai anak yang selama ini dia manjakan dihamili oleh pria pengangguran seperti itu. Hancur sudah harapan ibu Sundari untuk memiliki menantu pria yang kaya raya.

" Bobi tidak sepenuhnya menganggur bu, terkadang dia juga ngojek. Bener dia juga mengojek."Ucap Lastri membela sang kekasih hati.

" Diam kamu, Lastri !! Aku sedang bicara dengan pria miskin ini."Seru ibu Sundari dengan lantang.

" Sadar bu, kita ini juga orang miskin bu. Bahkan dari dulu kita ini sudah miskin, hanya karena mbak Hana saja dulu kita terlihat kaya. Sekarang ? Kita miskin bu."Seru Lastri membantah ucapan ibunya.

Bobi diam terpaku menyaksikan perdebatan antara Lastri dan ibunya. Sementara Sintia sibuk dengan ponselnya, sama sekali tidak perduli dengan masalah yang ada.

" Bu, saya akan menikahi Lastri."Ucap Bobi akhirnya membuka suara juga.

Hhhaahhh

Ibu Sundari membuang nafas dengan kasar. Mau bagaimana lagi, mau tidak mau dia harus menikahkan Lastri dan Bobi sebelum perut Lastri kelihatan besar. Ibu Sundari tidak serta merta menerima pernikahan Bobi dan Lastri, agar dia tidak semakin malu, ibu Sundari akan meminta Bobi dan Lastri tidak tinggal dengan mereka.

Bagaimana dia tidak malu, kedua anak laki‑lakinya yang rumah tangganya berantakan karena kasus perselingkuhan. Ditambah sekarang Lastri hamil di luar nikah.

" Kalian boleh menikah tapi setelah menikah kalian pergi menjauh dari ku. Aku tidak mau malu karena kelakuan kalian berdua, terserah kalian mau tinggal di mana dan hidup di mana. Dan kamu Lastri, jangan pernah datang menemuiiku !! Aku malu punya anak seperti kamu !!."Seru ibu Sundari terdengar sungguh kejam.

Ddeegghhh

Lastri tidak percaya jika ibunya akan setega itu dengannya. Dia memang salah, tapi bukan berarti ibunya memperlakukannya seperti itu.

" Dimas setuju dengan ibu."Ucap Dimas yang baru masuk rumah.

" Mas Dimas sayang sudah pulang."Seru Sintia bangkit dan menyambut mesra Dimas yang baru saja pulang kerja.

Dimas mencium kening Sintia dengan lembut lalu mengajak Sintia kembali duduk di kursi ruang tamu. Dimas memandang tajam ke arah Bobi, pemuda itu hanya bisa menundukkan kepalanya.

" Setelah menikah kalian urus hidup kalian sendiri dan kalian menjauh dari kami. Perbuatan kalian itu MEMALUKAN !!."Ucap Dimas tanpa berkaca dengan dirinya sendiri.

Dia bisa memarahi Lastri dan Bobi, mengatakan perbuatan mereka memalukan. Lantas bagaimana dengan skandal perselingkuhannya dengan Sintia? Sampai video mereka viral seperti selebritis di luaran sana. Mereka memang berwajah tembok yang tebal, sama sekali tidak malu dan tidak perduli dengan kesalahan mereka sendiri. Tanpa mereka sadari, Lastri seperti itu juga karena kurangnya perhatian dari mereka.

" Baik, setelah menikah aku dan Bobi akan menjauh dari kalian. Dan anggap saja kita bukan lagi keluarga. Nikahkan aku dan bobi secepatnya, setelah itu kami akan pergi."Seru Lastri dengan mata yang berkaca‑kaca.

" Ok tidak masalah. Besok lusa aku lagi mau sidang perceraian dengan Hana, jadi belum bisa menikahkanmu. Tiga hari lagi kalian menikah, dan kamu Bobi !! Beritahu orang tua kamu, dan jangan lupa siapkan mahar yang pantas untuk Lastri."Ucap Dimas dengan memandang sinis Bobi.

Bocah remaja baru kemarin sore sudah menghamili anak gadis orang. Mau dikasih makan apa anak orang?

" Iya mas."Jawab Bobi mengangguk patuh.

" Makanya jaga tuh nafsu, jangan asal coblos saja. Hamil kan? Kalau sudah tidak tahan lagi, bisa kan pakai pengaman. Hahaha."Seru Sintia mencibir Lastri dan Bobi lalu menertawakannya.

" Menertawakan dirinya sendiri, kamu sama aku itu tidak jauh beda, Mbak. Justru lebih murahan kamu mbak."Ucap Lastri dengan berani.

" Kamu....!!."

" Stopp !!."Ibu Sundari menghentikan perdebatan Lastri san Sintia.

Kepala ibu Sundari terasa sakit, masalah demi masalah sudah menyita fikirannya. Dengan Sintia dan Lastri berdebat, akan semakin membuat kepalanya berdenyut dan semakin sakit.

Tiba saatnya sidang perceraian Hana dan Dimas. Dengan bangganya Dimas datang dengan ditemani keluarganya dan juga pengacaranya.

Mereka sampai lebih dulu dan saat ini sedang menunggu di depan ruangan sidang. Persidangan mereka akan di mulai jam 9 pagi dan sekarang baru jam setengah 9 pagi. Hana ditemani Farhan dan pengacaranya juga baru sampai di pengadilan.

" Hai Hana, sudah siap kalah ?."Tanya Dimas dengan sangat percaya diri.

" Kalah ? Kalah kenapa? Bukannya kamu yang akan kalah dan malu ? Aku pastikan kamu kali ini akan gigit jari dan malu, Dimas."Jawab Hana terlihat santai.

Sintia memperhatikan penampilan Hana, Hana kali ini semakin cantik dan wajahnya pun semakin bersih dan bersinar. Penampilannya semakin berkelas dengan barang‑barang branded menempel ditubuhnya. Sintia iri melihat perubahan penampilan Hana, Hana sudah cantik dari dulu tapi kali ini dia lebih cantik dan berkelas.

Sialan !! Kenapa Hana justru semakin cantik dan berkelas seperti ini ? Sama sekali tidak sedih dengan perceraiannya, ini tidak bisa dibiarkan. Jangan sampai mas Dimas tergoda dengan Hana.*Gumam Sintia terus memandangi Hana dari atas sampai bawah.

Hana bukan tidak tahu jika dari tadi Sintia memandanginya. Hana membiarkannya, yang pasti Sintia iri dengan penampilan Hana yang cantik dan lebih berkelas.

" Kenapa, Sintia? Ada yang salah dengan penampilanku? Aku semakin cantikkan? Itu sudah pasti, karena sekarang aku punya banyak waktu untuk merawat diri. Tidak berkutat dengan dapur, cucian, kain pel dan setrikaan."Ucap Hana membuat Sintia salah tingkah.

Meskipun dari dulu Hana banyak uang, dia jarang sekali merawat diri ataupun pergi ke salon. Waktunya tidak cukup, harus beres‑beres rumah dan harus bekerja. Belum lagi menghadapi ibu mertua dan dua iparnya yang tidak tahu diri.

" Apa kabar pak Lukas?."Seru pak Heru mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan sesama teman seprofesinya.

" Pak Heru? Emm... kabar baik."Jawab pak Lukas sedikit terbata‑bata.

Pak Lukas dan pak Heru saling mengenal, meskipun Heru lebih muda darinya soal kemampuan sudah tidak bisa diragukan lagi. Beberapa kali Heru dan pak Lukas menjadi rival dalam dunia kerjanya, tetap Heru sebagai pemanang nya. Pak Lukas tidak menyangka jika yang menjadi pengacara Hana adalah, Heru. Seorang pengacara muda yang cukup di segani oleh orang‑orang seprofesinya.

" Bu Hana, mari kita masuk ke ruangan sidang. 10 menit lagi sidang akan di mulai."Ucap Heru mengajak Hana masuk ke ruangan sidang.

" Iya pak."Jawab Hana sambil mengangguk.

Hana, Farhan dan pengacaranya masuk ke ruangan sidang. Sementara itu Dimas dan yang lainnya masih berdiri di depan ruangan sidang. Pak Lukas nampak diam, seperti sedang memikirkan sesuatu.

" Pak Lukas, anda melamun?."Tanya Dimas sambil menepuk punggung pak Lukas.

" Ehh tidak pak Dimas. Ya sudah kita juga masuk, persidangan sudah mau dimulai."Ucap pak Lukas sedikit cemas.

Setelah hakim dan para anggotanya masuk ke ruangan sidang, sidangpun dimulai. Dan pihak Dimas mulai membacakan tuntutan harta yang harus di bagi dua atau dijadikan goni gini. Pihak Hana tidak setuju dengan pengajuan soal gono gini oleh Dimas, sebab semua yang dimiliki Hana murni milik Hana dan tidak ada harta bersama selama mereka menikah.

" Selama 3 tahun menikah, klien saya tidak diberikan nafkah. Justru klien saya yang menafkahi suaminya dan keluarga yang terdiri dari ibu mertua, adik ipar dan istri dari kakak iparnya.

Selama 3 tahun ini tidak ada harta bersama, rumah yang di tempati tidak bisa dijadikan harta gono gini sebab rumah dan tanah pemberian dari kakak klien saya dan masih atas nama bapak Farhan selaku kakak kandung dari klien saya."Ucap pak Heru membeberkan bukti‑bukti yang ada Dimas dan keluarganya nampak ketar ketir, Dimas sendiri baru tahu jika rumah itu masih atas nama Farhan. Pupus sudah harapan Dimas untuk mendapatkan bagian dari rumah dan tanah yang dia taksir harganya sampai 500 juta.

" Bagaimana pihak pak Dimas? Apa ada pembelaan?."Tanya Hakim.

" Terima kasih yang mulia. Jika rumah itu memang bukan harta bersama, mobil yang dipakai ibu Hana itu bisa dijadikan harta bersama. Sebab mobil itu di beli saat ibu Hana masih menjadi istri sah pak Dimas."Ucap pak Lukas melakukan pembelaan.

Dimas sedikit menyungingkan senyumannya, setidaknya masih ada harta Hana yang bisa dia dapatkan.

" Keberatan yang mulia. Mobil itu klien saya beli saat pak Dimas sudah berselingkuh dengan wanita yang saat ini menjadi istrinya. Dan bukti‑bukti perselingkuhan mereka juga sudah kami lampirkan dalam gugatan. Kembali lagi dengan masalah mobil, mobil itu di beli memakai uang klien saya, murni uang klien saya."Ucap pak Heru melakukan pembelaan.

Pak Heru menjabarkan semua bukti‑bukti yang ada termasuk bukti perselingkuhan Dimas dan Sintia lengkap dengan tanggal, bulan tahun dan tempat kejadian.

Setelah melihat semua bukti‑bukti yang ada, pak Hakim pun memutuskan menolak gugatan pembagian harta gono gini yang diajukan oleh Dimas.

" Serakah kamu, Hana !!."Teriak ibu Sundari dengan lantang.

Dimas menunduk lemas tidak berdaya. Uang tabungan habis, harta gono gini pun tidak dia dapatkan. Habis sudah uang dan harapan, sekarang dia harus memikirkan kehidupannya kedepan bagaimana.

Kini tiba saatnya Dimas mengucapkan kata talak untuk Hana. Dimas berjalan mendekati Hana, kini mereka sudah berdiri dan saling berhadapan.

" Hana Untari binti Hamdan, hari ini aku talak satu kamu. Mulai hari ini kita bukan suami istri lagi."Ucap Dimas sangat jelas di telinga Hana.

Perceraian ini memang Hana yang memintanya, namun tidak dapat di pungkiri jika dia juga bersedih. Saat Dimas mengucapkan kata talak, hati Hana seakan sakit dan sesak. Namun ini yang terbaik, dan ini sudah menjadi pilihannya.

" Terima kasih, Mas."Ucap Hana dengan suara bergetar.

Sebisa mungkin Hana menahan air matanya, dia sudah berjanji dengan dirinya sendiri jika tidak akan ada air mata saat Dimas mengucapkan talak untuknya.

1
Heni Setiyaningsih
haaddeeuuh...alamat ini mah modelan suami mokondo/Left Bah!//Left Bah!//Left Bah!/
Anonim
hah dimas?? enggak ngerti nih cerita nya
Anonim
woy BISA NULIS GA SIH
Ma Em
Heran ya sama Bu Sundari dan menantu sintingnya si Sintia ga punya otak masa arisan dirumah orang , Hana buat mereka semua kapok agar TDK berani ganggu kamu lagi Hana bila perlu laporkan saja ke polisi agar tdk ganggu Hana lagi .
Anonim
BUNUH SAJA SEKALIAN SEMUANYA BUNUH
Anonim
BUNUH SEMUA NYA
Anonim
KAU YANG HARUS MATI ANJING
Ma Em
Akhirnya Hana berpisah juga dgn Dimas tanpa uang sepeserpun uang yg Dimas terima untuk permintaan Dimas yg katanya harta gono gini , benalu minta bagian harta sedangkan Dimas dan keluarganya Hana yg tanggung biaya hdp nya bahkan Domas tdk pernah memberikan nafkah untuk Hana , dasar Dimas muka tembok tdk punya malu Dimas cuma modal mokondo .
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!