NovelToon NovelToon
Belenggu Janji Dan Rasa

Belenggu Janji Dan Rasa

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: "Emy"

seorang pria dingin yang terjebak di situasi tak terduga. Pria itu di nikah paksa oleh warga setempat, menikahi gadis sma kelas 3 bernama Rara Sephyra. Dalam hitungan detik statusnya berubah menjadi seorang suami.
Namun di sisi lain dia juga memiliki tunangan seusianya.
Bagaimanakah kisah mereka selanjutnya.
Apakah si pria akan mempertahan pernikahannya?
Atau akan memilih tunangannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon "Emy", isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2

Di belahan kota lain.

Bug!

"Bangsat!"

Auw!

Bug!

"Anjing lo!''

Pukulan mentah kembali mendarat telak di rahang salah satu pria di ruangan remang-remang itu. Ini adalah perkelahian antar sahabat, pecah karena rasa frustrasi yang mendalam setelah rencana besar mereka gagal total malam ini. Pria yang melayangkan pukulan itu bukanlah orang asing; dia adalah sosok egois yang tega menghajar orang-orang yang selama ini selalu setia membantunya di saat susah.

"Sudah! Apa-apaan kau ini, hah?!" Seorang pria lain dari kelompok mereka maju, berusaha menahan lengan sang ketua yang sudah kalap.

"Jangan ikut campur! Athur lolos karena kecerobohan kalian!" bentaknya dengan napas memburu dan mata merah padam penuh amarah.

"Sudah, CUKUP!" bentakan keras dari anggota tertua akhirnya berhasil melerai perkelahian pincang tersebut. Tubuh sang ketua ditarik mundur, menjauh dari sahabatnya yang kini menyeka darah segar di sudut bibir dengan tatapan nanar.

"Brengsek! Ini semua gara-gara kalian!" umpatnya lagi, menendang kursi kayu hingga hancur berkeping-keping.

"Jangan hanya salahkan kami. Kamu juga salah," sahut salah satu dari mereka, mencoba membela diri meski suaranya bergetar. "Coba tadi kau datang tepat waktu ke lokasi penyergapan, pasti semua ini tidak bakal terjadi. Athur tidak akan punya celah untuk kabur dan menghilang!"

"Ah ... sial!" Pria itu menjambak rambutnya sendiri dengan frustrasi.

Anggota yang lain terdiam, dilingkupi rasa takut melihat kemarahan sahabat sekaligus pemimpin mereka. Namun, di dalam hati, mereka tahu ucapan itu benar. Andai saja pria di depan mereka ini datang tepat waktu, rencana menjebak Athur malam ini pasti berhasil, dan Athur tidak akan sempat diselamatkan oleh warga desa.

Pria itu berjalan mendekati jendela, menatap kegelapan malam yang diguyur hujan deras. Napasnya perlahan memelan, namun sorot matanya justru semakin tajam dan dingin. Di balik kaca yang berembun, bayangan masa lalu kembali berputar di kepalanya.

Dendam ini sudah terlalu lama membusuk di dalam dadanya. Selama bertahun-tahun, dia memendam kebencian yang mendalam kepada Athur. Di dalam kepalanya, hanya ada satu keyakinan mutlak: Athur adalah pembunuh kakak kandungnya. Kematian tragis sang kakak yang sampai sekarang menyisakan luka parah, sepenuhnya dia timpakan pada pundak Athur.

Bukan hanya itu. Luka itu semakin bernanah ketika wanita yang sangat dia cintai—satu-satunya wanita yang menghidupkan dunianya—justru direbut dan memilih untuk berlutut di bawah pesona Athur. Dua kehilangan terbesar dalam hidupnya, semuanya bersumber dari satu nama: Athur.

Baginya, persahabatan mereka selama ini hanyalah topeng sempurna untuk mendekati mangsa. Dia sengaja memakai jubah "sahabat setia" demi menunggu waktu yang tepat untuk mengirim Athur ke liang lahat. Dan malam ini, kesempatan emas itu hancur berantakan hanya karena keterlambatan hitungan menit.

Tangan pria itu mengepal kuat hingga buku-buku jarinya memutih, memukul bingkai jendela kaca dengan keras.

"Athur..." bisiknya dengan nada rendah yang dipenuhi racun kedengkian. "Lihat sejauh mana kau akan pergi dan bersembunyi. Ke ujung dunia pun, aku yang akan mencabut nyawamu dengan tanganku sendiri."

Pagi hari

Di kontrakan sempit berdinding tripleks tipis, Rara sudah bergelut dengan aktivitas paginya. Asap tipis mengepul dari kompor satu tungku di sudut ruangan yang merangkap sebagai dapur. Di bantu Nina, adik perempuannya, Rara menyiapkan sarapan. Seperti biasa, menu mereka sangat mewah untuk ukuran dompet yang menipis: nasi putih dengan taburan garam dan sisa sambal korek kemarin.

"Fino! Kamu kalau sengaja telat biar nggak piket, awas ya!" seru Rara. Suaranya pelan karena menjaga perasaan tetangga sebelah yang hanya dibatasi sekat tipis, namun penuh penekanan tegas.

Fino, remaja 15 tahun yang bertubuh kurus tinggi, keluar dari balik kelambu kamarnya sambil nyengir tanpa dosa. "Santai, Bos Rara. Lagian air di bak juga paling masih sedingin es balok," sahutnya tengil, sengaja mengacak-acak rambutnya yang berantakan ke arah Rara.

"Cepat mandi! Kakak hari ini ada piket, harus berangkat pagi!"

"Iya, iya, Kakakku yang paling cantik sedunia setelah seblak pedas level lima," potong Fino cepat. Ia menyambar handuk kusam yang tersampir di pintu, lalu berjalan ke belakang sambil bersiul santai, sama sekali tidak merasa bersalah.

Nina yang sedang menata piring plastik di lantai beralas tikar melirik kakaknya. "Biar nanti berangkat sama aku saja, Kak."

"Loh, kamu juga kenapa belum siap, Nin?"

"Kakak lupa ya? Hari ini kan jadwalnya study tour kelas ku ke Bali." Nina berusaha mengingatkan.

Rara menghentikan gerakannya. Tatapannya meredup melihat adiknya. "Maaf... uang celengan Kakak belum cukup buat bayar sisa transportmu, Nin."

"Nggak apa-apa, Kak! Kakak nggak usah sedih. Nina juga kan gampang mabuk perjalanan. Jadi emang kemauan Nina sendiri yang nggak pengin ikut. Mending uangnya buat bayar tunggakan kontrakan bulan ini," ujar Nina cepat, lalu bergelayut manja di lengan Rara untuk menenangkan kakaknya.

Tanpa mereka sadari, seluruh interaksi di ruang tengah yang merangkap ruang tamu dan ruang makan itu diperhatikan oleh seseorang. Athur berdiri tegak di ambang pintu kamar utama yang sempit. Pria itu sudah terbangun sejak fajar, terusik oleh aroma cabai yang ditumis—menu sederhana yang baunya menusuk hidung karena sirkulasi udara rumah yang buruk.

Saat ingin keluar, perhatian Athur justru tersita oleh sang istri. Rara terlihat begitu lembut menenangkan adiknya, namun di saat bersamaan bisa bersikap tegas menghadapi kedegilan Fino. Wajah datar Athur tetap fokus mengamati kedua wanita yang duduk di lantai itu.

Sret.

"Eh, Bang. Jangan dilihatin terus, Kakakku kalau lagi kunciran emang spek bidadari kontrakan," celetuk Fino yang tiba-tiba sudah muncul di belakang Athur dengan handuk melingkar di leher. Bocah itu sama sekali tidak canggung atau takut pada aura dingin Athur.

Rara tersentak. "Eh, Mas... sudah bangun? Maaf, kami berisik ya?"

Athur tidak menjawab Rara. Tatapan tajamnya beralih pada cowok tengil di sampingnya. Fino justru membalas tatapan itu dengan santai sambil mengeringkan rambutnya yang basah dengan ujung handuk, seolah Athur hanyalah teman tongkrongannya sendiri.

"Sekolah di mana kamu?" Setelah lama mengintimidasi dengan tatapan, akhirnya pertanyaan itu lolos dari bibir Athur.

"Satu sekolah sama kak Rara, Bang. Di SMA Garuda. Kenapa? Mau nambahin uang jajan saya?" Fino menaikkan sebelah alisnya, memamerkan cengiran khasnya yang menyebalkan.

"Fino!" tegur Rara dengan mata membelalak, memberi isyarat agar adiknya sopan.

Fino meringis, memperlihatkan deretan giginya. Tahu kakaknya mulai kesal, ia langsung ngacir masuk ke kamar sambil bergumam, "Lapor, siap lari dari medan perang!"

Athur menghela napas pendek, wajah datarnya kembali menatap Rara. Ia memperhatikan penampilan istrinya dari ujung kepala sampai kaki. Wanita itu sudah rapi mengenakan seragam putih abu-abu yang warnanya sudah agak kusam karena sering dicuci. Merasa diperhatikan sedetail itu di tengah rumahnya yang berantakan, Rara menunduk risih

"Eh Bang, itu perban di perut gimana? Masih sakit pasti ya Bang, lubangnya aja kumayan. Mau gue bantu ganti nggak itu perban? "

"Brisik, Tidak ," jawab Athur singkat, merespons pertanyaan Fino yang sempat menggantung.

"Ya udah lo ngak mau. Kalau ada apa-apa jangan Nangis kaya tetangga sebelah."

"Finoo! " Teriak Rara dan Nina bersamaan.

"Kamar mandi di mana?"

"Eh, iya... ayo kuantar, Mas." Rara yang sempat linglung segera memimpin jalan menuju bagian paling belakang rumah.

"Ini, Mas. Maaf kondisinya begini," tunjuk Rara pada sebuah pintu kayu tripleks yang dipasang engsel seadanya.

Athur hanya mengangguk rata. Namun begitu melangkah masuk ke dalam kamar mandi berlantai semen kasar itu, dahinya langsung mengernyit. Ruangan itu sangat sempit, berbau lembap, dan ember penampung airnya hanya berupa tong cat bekas.

Saat hendak membuka baju, mata tajam Athur menangkap sesuatu pada dinding pembatas kayu di dekat bak air. Ada beberapa lubang kecil bekas lapuk dan rayap. Ketika Athur mendekatkan matanya ke salah satu lubang, rahangnya langsung mengeras. Lubang itu tembus langsung ke arah koridor belakang dan dapur. Siapa pun yang berdiri di luar bisa melihat dengan jelas aktivitas di dalam.

Athur mengepalkan tangannya. Kilatan amarah muncul di matanya yang dingin. “Sialan. Bocah tengil itu sengaja atau gimana? membiarkan lubang ini tidak di tutup. Atau jangan-jangan selama ini warga memanfaatkan lubang ini untuk mengintip Rara?” pikir Athur dengan dada yang mendadak bergemuruh panas.

1
Embhul82
bagus ceritanya q suka
Emy: makasih sudah mau mampir. Jangan lupa kritik dan saran
total 1 replies
Embhul82
up lagi kak 🤭
Brigita
kurang paham di ini sih
Emy: makasih bnyak kak sudah di koreksi. sebagai manusia pasti tetap ada kesalahan. Alhamdulillah kak sudah di perbaiki
total 1 replies
Brigita
lanjutt truss kakk😍👍💪
Emy: terimakasih kak
total 1 replies
Brigita
semangat kakkk💪💪💪👍😍
Emy: Makasih sudah hadia kak. kritik dan sarannya y kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!