Bagi Zei, dunia hanyalah hamparan lumpur sawah Desa Danau Keruh dan beratnya cangkul di pundak. Namun, segalanya runtuh dan lahir kembali ketika ia menyaksikan Turnamen Musim Semi. Di atas panggung kuarsa, ia melihat Qian Yue’er—sang "Permata" dari Sekte Cendrawasih—bertarung dengan keanggunan yang menyerupai tarian burung surga.
Terpikat oleh keindahan yang mustahil itu, Zei menolak takdirnya sebagai petani. Menggunakan Qi elemen tanah yang kasar dan memodifikasi alat tani menjadi senjata, ia nekat merangkak naik dari turnamen ke turnamen. Di tengah cemoohan kaum bangsawan yang menganggapnya "pungguk merindukan bulan", Zei harus bertarung melawan rasa mindernya sendiri.
Ini bukan tentang menjadi yang terkuat di kolong langit, ini tentang sebuah janji naif seorang anak desa: agar bisa berdiri di panggung yang sama dan melihat sang bulan menari sekali lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danzo28, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TANAH YANG MEMBISIKKAN KEKUATAN
Cangkul itu terayun, membelah tanah liat yang keras dengan suara keras. Keringat bercucuran dari dahi Zei, membasahi bajunya yang sudah penuh tambalan. Namun, ayunan itu bukan lagi sekadar gerak rutin seorang petani. Ada sesuatu yang berbeda. Ada niat yang tersembunyi di balik setiap hantaman besi ke bumi.
Zei memejamkan mata. Ingatannya kembali ke panggung turnamen. Bayangan Qian Yue’er yang melayang dengan anggun di udara, selendangnya menari mengikuti angin, seolah mengejek hukum gravitasi. Keindahan itu begitu memukau, begitu sempurna, hingga membuat Zei merasa hina. Bagaimana mungkin seorang petani sepertinya, yang hidup dari sisa-sisa tanah, bisa berharap mendekati sang dewi?
"Tidak ada yang tidak mungkin," gumam Zei pada diri sendiri, meskipun suaranya terdengar ragu.
Dia kembali mengayunkan cangkulnya. Kali ini, dia fokus pada aliran energinya. Qi tanah, energi yang selama ini dia gunakan untuk menumbuhkan tanaman, kini dia arahkan ke otot-otot lengannya. Dia merasakan denyut kekuatan yang familiar, namun juga asing. Kekuatan yang kaku, berat, seperti batu gunung.
"Tanah tidak bisa terbang," pikirnya, "tetapi tanah bisa berdiri kokoh. Tanah bisa menahan beban. Dan tanah... bisa memukul."
Zei membayangkan cangkulnya sebagai pedang. Ayunannya menjadi tebasan, bukan lagi sekadar alat kerja. Dia menyadari bahwa setiap elemen memiliki karakteristiknya sendiri. Qi angin Yue’er lincah dan cepat, sementara Qi tanahnya lambat tapi bertenaga.
Dia mulai bereksperimen. Dia membiarkan Qi-nya mengalir ke tanah di bawah kakinya. Dia merasakan getaran halus, seolah bumi sedang berbisik kepadanya. Dia bisa merasakan kelembapan tanah, kekerasan batu, bahkan pergerakan serangga kecil di kedalaman.
Suatu hari, ketika dia sedang mencangkul di sawah yang paling keras, dia merasakan sesuatu yang aneh. Tanah di bawah cangkulnya seolah-olah memberikan perlawanan yang lebih besar. Dia meningkatkan aliran Qi-nya, tetapi tanah itu tetap tidak bergeming. Frustrasi, Zei mencoba melepaskan cangkulnya dan memukul tanah itu dengan tinjunya.
Suara keras terdengar. Tinju Zei menghantam tanah, tetapi bukannya hancur, tanah itu justru retak dan membentuk sebuah pola yang aneh. Pola itu terlihat seperti sisik ular, atau mungkin... sisik naga.
Zei menatap pola itu dengan bingung. Dia belum pernah melihat yang seperti ini sebelumnya. Dia mencoba memukul tanah lagi, di tempat yang berbeda. Sekali lagi, suara keras terdengar, dan pola sisik naga kembali terbentuk.
Dia tersadar. Tanah itu tidak sedang melawan, melainkan sedang menunjukkan kekuatannya. Qi tanah yang selama ini dia gunakan secara acak, kini mulai menemukan bentuknya sendiri. Pola sisik naga itu adalah wujud dari kekuatan pertahanan Qi tanah.
Zei merasa bersemangat. Dia akhirnya menemukan sesuatu yang bisa dia asah. Dia mulai berlatih memanipulasi Qi tanahnya untuk membentuk pola sisik naga di berbagai permukaan: batu, kayu, bahkan air. Dia menemukan bahwa pola ini bisa memperkuat pertahanan objek tersebut, membuatnya lebih sulit untuk dihancurkan.
Dia juga mulai berlatih menyerang menggunakan pola sisik naga. Dia menemukan bahwa jika dia memusatkan Qi-nya pada satu titik dan membentuk pola sisik naga pada saat yang sama, serangan itu akan menjadi jauh lebih mematikan. Hantamannya bisa memecahkan batu besar atau merobohkan pohon.
Namun, latihan Zei tidak selalu berjalan mulus. Orang-orang di desanya mulai memperhatikannya dan menganggapnya aneh. Mereka berbisik-bisik di belakang punggungnya, memandangnya dengan tatapan kasihan atau cemoohan.
"Zei sudah gila," kata Pak RT. "Dia pikir dia bisa menjadi kultivator hanya dengan mencangkul sawah."
"Biarkan saja," kata Bu RT. "Mungkin dia hanya sedang stres."
Cemoohan orang-orang di desanya membuat Zei merasa minder. Dia sering bertanya-tanya apakah dia benar-benar melakukan hal yang benar. Apakah dia hanya sedang bermimpi indah, atau apakah dia benar-benar memiliki potensi untuk menjadi seorang kultivator?
Di tengah keraguannya, Zei teringat akan janji yang dia buat pada dirinya sendiri. Dia ingin berdiri di panggung yang sama dengan Qian Yue’er. Dia ingin melihat tarian indahnya sekali lagi. Dan untuk itu, dia harus menjadi lebih kuat.
Dia terus berlatih, mengabaikan cemoohan orang-orang di desanya. Dia menemukan kedamaian dalam latihannya, dalam bisikan tanah yang semakin jelas di telinganya. Tanah tidak pernah berbohong, tidak pernah mengecewakan. Tanah selalu ada untuknya, memberikan kekuatan dan tempat untuk bersandar.
Suatu hari, Zei mendengar kabar tentang Turnamen Seleksi Bakat Daun Hijau yang akan diadakan di kota kecamatan dalam waktu tiga bulan. Turnamen ini adalah kesempatan bagi para kultivator muda untuk menunjukkan kemampuan mereka dan direkrut oleh sekte-sekte besar.
Zei tahu bahwa ini adalah kesempatannya. Dia harus mengikuti turnamen ini. Dia harus membuktikan kepada semua orang, dan terutama kepada dirinya sendiri, bahwa dia bukan hanya seorang petani, melainkan seorang kultivator yang sesungguhnya.
Tenggat waktu sudah ditetapkan. Tiga bulan untuk menguasai jurus-jurus barunya, untuk menjadi lebih kuat, untuk mengejar mimpinya. Langkah sang petani di atas tanah kini semakin mantap, semakin terarah. Dia tidak lagi sekadar mencangkul, melainkan sedang memahat takdirnya sendiri.