NovelToon NovelToon
SARUNG TANGAN PENGHANCUR GUNUNG

SARUNG TANGAN PENGHANCUR GUNUNG

Status: tamat
Genre:Mengubah Takdir / Epik Petualangan / Balas Dendam / Tamat
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Danzo28

Dunia Zei tadinya hanya sebatas sawah berlumpur dan beratnya cangkul di pundak. Sampai akhirnya, Turnamen Musim Semi mengubah segalanya. Di atas arena, Zei melihat Qian Yue’er dari Sekte Cendrawasih bertarung. Gerakannya bukan sekadar bela diri, melainkan tarian maut yang terlampau indah untuk disaksikan oleh mata seorang petani miskin.

​Sejak detik itu, Zei menolak takdir lahirnya. Ia tak butuh pedang pusaka; dengan Qi elemen tanah yang brutal dan alat tani yang ia tempa menjadi senjata, Zei menantang dunia persilatan. Ia nekat merangkak naik dari turnamen ke turnamen, menghancurkan cemoohan kaum bangsawan yang menganggapnya tak lebih dari sampah yang bermimpi menyentuh bintang.

​Di saat para pendekar lain bertarung demi kekuasaan dan keabadian, alasan Zei mengayunkan senjatanya sangat sederhana dan naif: ia hanya ingin membuktikan diri pantas berdiri di panggung yang sama, dan melihat sang bulan menari di hadapannya sekali lagi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danzo28, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2

​Mata cangkul yang gompal itu terayun deras, menghantam tanah liat yang mengeras dengan dentum tumpul. Keringat bercucuran dari dahi Zei, membasahi baju raminya yang penuh tambalan. Namun, ritme ayunannya bukan lagi sekadar gerak monoton seorang pesuruh bumi. Ada bobot yang berbeda. Ada niat tajam yang tersembunyi di balik setiap hantaman besi ke atas tanah.

​Sambil mencangkul, Zei memejamkan mata. Ingatannya kembali terseret ke panggung pualam itu. Bayangan Qian Yue’er yang melayang anggun di udara, selendangnya menari mengendarai angin seolah mengejek hukum gravitasi bumi. Keindahan itu terlampau sempurna, mempertegas betapa hina dan kotor realitas tempat Zei berpijak. Bagaimana mungkin seorang petani sepertinya, yang hidup memunguti sisa-sisa kemurahan tanah, berani berharap mendekati sang dewi?

​"Tidak ada yang mustahil di kolong langit," gumam Zei pada dirinya sendiri, meski suaranya nyaris tertelan desir angin ladang.

​Ia kembali mengayunkan cangkulnya. Kali ini, ia berhenti mengandalkan tenaga otot dan mulai memusatkan fokus pada aliran energi di dalam tubuhnya. Qi tanah—energi kasar yang selama ini hanya ia sebarkan untuk menyuburkan benih—kini ia paksa mengalir naik ke lengannya. Segera, ia merasakan denyut kekuatan yang familier, sekaligus mengerikan. Kekuatan yang kaku, pekat, dan seberat batu pegunungan.

​Angin milik Yue'er lincah dan memotong, batin Zei. Tanah tidak bisa terbang. Tetapi tanah bisa berdiri kokoh. Tanah bisa menahan beban. Dan tanah... bisa meremukkan apa saja.

​Zei mulai mengimajinasikan cangkulnya sebagai perpanjangan lengannya. Ayunannya berubah menjadi tebasan mematikan, bukan sekadar instrumen pekerja kasar. Ia mengalirkan Qi-nya ke bumi di bawah telapak kakinya. Tiba-tiba, ia merasakan resonansi yang ganjil; sebuah getaran halus seolah bumi sedang berbisik. Melalui telapak kakinya, Zei bisa membaca kelembapan tanah, retakan batu karang di kedalaman, hingga pergerakan cacing tanah yang buta.

​Sore itu, saat sedang membajak di sudut petak sawah yang paling keras, cangkulnya membentur sesuatu yang tak kasat mata. Tanah di bawahnya memberikan perlawanan yang tak wajar. Zei memompa aliran Qi-nya lebih deras, tetapi lapisan tanah itu menolak hancur. Dipicu oleh rasa frustrasi, Zei melempar cangkulnya dan melayangkan tinju beralaskan Qi buminya langsung ke permukaan tanah.

​BAM!

​Suara benturan keras mengoyak kesunyian ladang. Tinju Zei menghantam bumi, tetapi alih-alih hancur berantakan, lapisan tanah liat itu justru meretak dan menyatu kembali, membentuk sebuah formasi segi enam yang aneh. Pola keras itu berjejer rapi dan saling mengunci, menyerupai pelindung zirah hewan purba... atau lebih tepatnya, sisik naga.

​Zei menarik napas kaget. Ia mencoba menghantam titik lain dengan Qi yang sama. Sekali lagi, dentuman keras bergema, dan pola Sisik Naga itu kembali merayap di atas permukaan lumpur yang dipukulnya, mengeras sekuat baja baja.

​Matanya terbelalak oleh pencerahan. Tanah itu tidak sedang melawannya; bumi sedang menunjukkan esensi sejatinya. Qi buminya yang selama ini liar dan tumpul, kini menemukan bentuk mutlaknya. Pola Sisik Naga ini adalah wujud pertahanan absolut dari elemen tanah.

​Darah Zei mendidih oleh euforia. Ia akhirnya menemukan pijakan pertamanya. Berhari-hari setelahnya, ia berlatih memanipulasi Qi untuk memunculkan pola Sisik Naga di berbagai medium: pada batang pohon yang lapuk, bongkahan batu kali, hingga di atas permukaan air keruh, menguatkan integritas benda-benda tersebut agar mustahil dihancurkan.

​Lebih mengerikan lagi, saat Zei menyelimuti mata cangkulnya dengan Sisik Naga dan memusatkan energi buminya pada satu titik serangan, hantamannya mampu meremukkan batu karang seukuran gajah menjadi debu.

​Namun, anomali ini tak luput dari pandangan sinis warga Desa Danau Keruh. Orang-orang mulai berbisik di belakang punggungnya, melempar tatapan kasihan yang bercampur cemoohan.

​"Kewarasan Zei sudah hilang ditelan lumpur," cibir Kepala Desa saat melihat Zei mengayunkan cangkul ke udara kosong. "Anak bau tanah itu bermimpi menjadi kultivator hanya dengan mengurus sawah."

​"Biar sajalah," timpal istri Kepala Desa sambil meludah ke tanah. "Pikirannya sedang kacau karena terlalu lama di bawah terik matahari."

​Cemoohan tajam itu kerap menusuk dada Zei, menyisakan keraguan yang berbisik di malam hari. Apakah aku hanya orang gila yang bermimpi? Apakah aku sungguh pantas melangkah ke dunia kultivator?

​Tetapi, setiap kali keraguan itu hampir menelannya, Zei kembali memanggil ingatan tentang tarian surgawi itu. Ia ingin berdiri di panggung yang sama. Ia ingin menatap sang rembulan sekali lagi, tanpa harus menundukkan kepala.

​Diabaikannya tatapan sinis desa. Ia menemukan kedamaian yang brutal dalam sabetan cangkulnya, dalam denyut nadi bumi yang semakin jelas selaras dengan detak jantungnya. Manusia mungkin penuh muslihat, tetapi tanah tidak pernah berbohong. Tanah selalu menyediakan tempat berpijak, menopang mereka yang bersedia menguatkan akar.

​Hingga suatu senja, sebuah kabar singgah di kedai arak desa: Turnamen Seleksi Bakat Daun Hijau akan digelar di ibu kota kecamatan dalam waktu tiga bulan purnama. Turnamen ini adalah gerbang berdarah bagi kultivator muda untuk membuktikan kelayakan mereka di mata sekte-sekte besar.

​Darah di nadinya berdesir tajam. Zei sadar, inilah takdir yang memanggilnya. Ia harus memanjat panggung itu, membungkam mulut dunia, dan membuktikan bahwa ia bukan sekadar pion pembajak sawah, melainkan naga bumi yang baru terbangun.

​Waktu terus berdetak. Tiga bulan untuk menajamkan taring Sisik Naga-nya, meremukkan kelemahannya, dan merangkai tangga menuju awan. Langkah sang pemuda di atas tanah kini tidak lagi tertatih. Ia tidak sedang mencangkul sawah; ia sedang memahat takdirnya sendiri.

1
yulius hans
kok ngak tamat sich
Mamat Stone
sehat dan sukses selalu Thor 💪💪💪
Danzo28: aminnn
terimakasih ya
selanjutnya
sehat selalu 🥳🥳
total 1 replies
Mamat Stone
🤔
Mamat Stone
/Determined//Determined//Determined/
Mamat Stone
/Angry//Angry//Angry/
Mamat Stone
/Determined/
Mamat Stone
/Angry/
Mamat Stone
/Casual/
Mamat Stone
/CoolGuy/
Mamat Stone
/Good/
Mamat Stone
/Ok/
Mamat Stone
😈/Determined/😈
Mamat Stone
😈/Angry/😈
Mamat Stone
🤩
Mamat Stone
🥰
Mamat Stone
/Casual/
Mamat Stone
/CoolGuy/
Mamat Stone
buktikan merah Mu Jagoan Neon 😈
Mamat Stone
waktunya Jagoan Neon beraksi 😈
Mamat Stone
/Good/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!