Rizky Adhitya adalah seorang penulis novel miskin yang hidupnya penuh kegagalan karena karyanya selalu ditolak. Namun, takdir berubah saat ia terbangun di dalam tubuh seorang Antagonis kaya raya dengan nama yang sama di dunia novel buatannya sendiri. Alih-alih mengikuti alur asli yang menakdirkannya mati mengenaskan di tangan sang protagonis, Rama Wijaya, Rizky memilih untuk menikmati kehidupan mewahnya dengan santai.
Berbekal "System Menghamburkan Uang" dan Kartu Hitam Tanpa Batas, Rizky yang kini berkepribadian periang mulai melakukan aksi gila. Ia membeli perusahaan penerbitan hanya untuk mencetak novel-novel lamanya yang dulu ditolak, hingga menggunakan artefak legendaris seharga triliunan hanya sebagai pengganjal pintu kantor asistennya, Rafa Ariyanto.
Aksi "trolling" finansial ini menghancurkan reputasi Rama, sang hero munafik yang kehilangan semua panggungnya. Sementara itu, tunangannya, Aprillia Rahma, yang semula sangat membencinya, mulai jatuh hati pada sosok Rizky yang baru
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Futami Rizuryu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perang Penawaran di Pelelangan Naga Emas
Gedung Pelelangan Naga Emas malam itu tampak seperti mercusuar kemewahan di tengah kota. Deretan mobil mewah dari berbagai merek dunia terparkir rapi di lobi utama, sementara karpet merah membentang luas menyambut para tamu elit yang hadir dengan busana paling elegan. Di dalam aula besar, lampu kristal raksasa memantulkan cahaya ke dinding-dinding berlapis beludru merah, menciptakan atmosfer yang penuh wibawa dan persaingan terselubung.
Rama Wijaya berdiri di tengah aula dengan segelas sampanye di tangannya. Ia mengenakan setelan jas abu-abu gelap yang tampak sangat pas di tubuhnya—pilihan busana yang memberikan kesan "pahlawan yang rendah hati" namun tetap berkelas. Rama sedang dikelilingi oleh beberapa kolektor barang antik dan investor kelas kakap. Dengan senyum munafik yang dipoles sempurna, ia mulai berbicara dengan nada suara yang tenang dan penuh empati.
"Bagi saya, pelelangan ini bukan sekadar tentang siapa yang paling kaya," ujar Rama sambil menatap sebuah artefak legendaris yang dipajang di atas panggung—sebuah medali kuno berbahan giok naga yang diyakini membawa keberuntungan besar bagi pemiliknya. "Ini adalah tentang menghargai sejarah. Artefak seperti Medali Keberuntungan ini seharusnya dimiliki oleh seseorang yang benar-benar memahami nilai budayanya, bukan sekadar menjadikannya pajangan untuk pamer kekayaan."
Para kolektor di sekitarnya mengangguk setuju, terkesan dengan pidato "mulia" Rama. Rama menyeringai tipis di balik gelasnya. Ia telah mengumpulkan dukungan dari beberapa investor rahasia yang menjanjikan dana besar demi mendapatkan medali tersebut. Baginya, medali ini adalah kunci untuk meningkatkan auranya di hadapan publik dan mendapatkan koneksi bisnis yang lebih luas.
Tiba-tiba, pintu aula terbuka dengan bantingan yang cukup keras, menghentikan seluruh percakapan di dalam ruangan.
"Halo semuanya! Maaf aku terlambat, macetnya luar biasa karena semua orang sepertinya ingin menontonku menghamburkan uang malam ini!"
Sesosok pria melangkah masuk dengan gaya yang sangat menonjol. Itu adalah Rizky Adhitya. Sesuai dengan persiapannya di bab sebelumnya, ia mengenakan setelan jas emas yang ditenun dengan benang berlian mikro. Setiap gerakannya memantulkan cahaya lampu kristal, membuat beberapa tamu harus memicingkan mata karena silau. Di belakangnya, Rafa Ariyanto berjalan dengan wajah yang tampak seperti orang yang ingin menelan pil penenang secepat mungkin.
"Tuan Muda, saya mohon... jangan menatap orang-orang itu seolah Anda ingin membeli ginjal mereka," bisik Rafa dengan nada meratap sambil memegang tablet yang terus bergetar menunjukkan saldo Kartu Hitam.
Rizky tertawa periang dan menepuk bahu Rafa. "Tenanglah, Rafa! Aku hanya ingin memastikan panggung hari ini tetap hidup. Oh, lihat! Ada Rama si pahlawan kita di sana!"
Rizky melambaikan tangan dengan santai ke arah Rama, sementara Rama hanya bisa menelan ludah dengan rahang yang mengeras. Kehadiran Rizky yang mencolok seketika menghancurkan atmosfer elegan yang sudah Rama bangun dengan susah payah.
Acara pelelangan dimulai. Satu per satu barang antik terjual dengan harga miliaran, namun tensi di ruangan memuncak saat juru lelang memperkenalkan barang utama malam itu: Medali Keberuntungan Naga Emas.
"Barang antik legendaris ini memiliki nilai sejarah yang tak ternilai. Penawaran dimulai dari harga 50 Miliar Rupiah!" seru juru lelang.
Rama segera mengangkat papan penawarannya dengan penuh percaya diri. "55 Miliar!"
Beberapa kolektor ikut menawar, menaikkan harga menjadi 60 miliar, lalu 70 miliar. Rama terus mengikuti dengan tenang, merasa yakin karena ia memiliki dukungan investor hingga 100 miliar. Ia menoleh ke arah Rizky yang tampak asyik memakan kacang mete premium yang disediakan penyelenggara, seolah-olah ia tidak peduli pada acara tersebut.
"80 Miliar!" seru Rama, memberikan tatapan menantang pada Rizky.
Rizky mendongak, menyeka tangannya yang berminyak dengan sapu tangan sutra, lalu mengangkat tangannya dengan malas.
"500 Miliar."
Aula tersebut seketika sunyi senyap. Juru lelang bahkan hampir menjatuhkan palunya. Rama membeku di tempatnya. Ia menoleh ke arah Rizky dengan mata membelalak tak percaya.
"Rizky! Kamu gila?! Harga pasarnya bahkan tidak sampai 100 miliar!" teriak Rama, topeng ketenangannya mulai retak.
Rizky tertawa humoris, bersandar dengan santai di kursinya. "Gila? Mungkin. Tapi aku merasa angka 500 terlihat jauh lebih cantik daripada 80. Lagipula, aku baru saja terpikir, medali itu sepertinya cukup bagus untuk dijadikan kancing cadangan jas baruku jika ada yang lepas."
Rama menggertakkan giginya. Ia segera menghubungi investornya melalui pesan singkat, meminta tambahan dana. "510 Miliar!" seru Rama dengan suara bergetar. Ia tidak boleh kalah. Medali ini adalah takdirnya.
"Satu Triliun." Rizky menyahut tanpa jeda, lalu menoleh pada Rafa. "Rafa, nanti malam kita makan apa? Aku sedang ingin sushi, tapi sushi yang ikannya dipancing langsung dari laut dalam Jepang dalam satu jam terakhir. Bisa kau urus?"
Rafa, yang sudah hampir kehilangan kesadaran karena angka satu triliun yang diucapkan bosnya, tetap mencoba profesional. "Tuan Muda... satu triliun untuk barang antik itu... saya bisa membelikan Anda sepuluh restoran sushi terbaik di dunia beserta nelayannya sekaligus..."
"Hahaha! Ide bagus! Masukkan itu ke daftar belanja besok!" Rizky kembali menoleh ke panggung. "Jadi, apakah ada yang menawar lebih dari satu triliun? Rama? Ayolah, jangan pelit pada 'sejarah' yang kamu agungkan itu."
Rama gemetar hebat. Tangannya yang memegang papan penawaran basah oleh keringat dingin. Ia tidak mungkin bisa menandingi angka satu triliun. Investornya sudah memutus sambungan telepon karena menganggap ini sudah di luar nalar bisnis. Rama berdiri di tengah aula, menjadi pusat perhatian, namun bukan sebagai pahlawan, melainkan sebagai pria yang baru saja dipermalukan oleh "bom uang" sang antagonis.
"Satu triliun satu kali... satu triliun dua kali... Sah! Medali Keberuntungan jatuh kepada Tuan Muda Rizky Adhitya!" juru lelang mengetuk palunya dengan tangan gemetar.
[Ding! Sabotase Plot Berhasil!] [Anda telah merebut 'Keberuntungan' Rama Wijaya secara brutal!] [Hadiah: Peningkatan Fisik Level 2 dan Pengetahuan Plot Masa Depan!]
Rizky bangkit dari tempat duduknya, memberikan Kartu Hitam Tanpa Batas-nya kepada panitia lelang dengan gaya yang sangat santai. Ia berjalan melewati Rama yang masih mematung dengan wajah pucat pasi.
"Rama, jangan sedih begitu," Rizky menepuk bahu Rama dengan ramah, sebuah gestur yang sangat menghina di hadapan semua orang. "Mungkin medali ini memang tidak membawaku keberuntungan, tapi setidaknya ia membawa kepuasan melihat wajahmu yang terlihat seperti baru saja menelan jeruk nipis busuk."
Di sudut aula, Aprillia Rahma menyaksikan seluruh adegan itu dengan perasaan bingung dan bimbang. Ia melihat bagaimana Rama yang dulu ia anggap sebagai pria berintegritas kini tampak sangat menyedihkan dan penuh amarah yang tertahan. Sementara Rizky... meskipun ia menghamburkan uang dengan cara yang gila, ia tampak begitu lepas, jujur, dan tidak terbebani oleh apa pun.
"Dia benar-benar tidak mengejarku lagi," bisik April pada dirinya sendiri saat melihat Rizky berjalan keluar tanpa menoleh padanya sama sekali, justru asyik berdebat dengan Rafa soal jenis wasabi yang paling mahal di dunia.
Malam itu, di dalam mobil Rolls-Royce-nya, Rizky membolak-balik medali Giok Naga seharga satu triliun itu di tangannya seperti koin mainan.
"Rafa, letakkan ini di kantor besok," perintah Rizky periang.
"Di lemari besi mana, Tuan Muda?" tanya Rafa pasrah.
"Bukan lemari besi. Gunakan ini sebagai pengganjal pintu kantor pusat. Pintu itu selalu tertutup sendiri kalau tertiup angin, sangat menyebalkan," jawab Rizky sambil tertawa terbahak-bahak.
Rafa hanya bisa menutup matanya, membayangkan reaksi para arkeolog dunia jika tahu benda keramat itu berakhir menjadi pengganjal pintu. Namun bagi Rizky, sang mantan penulis gagal, ini adalah bab terbaik yang pernah ia jalani dalam hidupnya—sebuah cerita di mana ia tidak lagi perlu memohon pada takdir, karena ia telah membelinya dengan tunai.