Bara, hantu pemula dengan nilai pas-pasan, mendapat tugas akhir: meneror penghuni apartemen dalam 30 hari atau turun derajat jadi hantu kelas teri. Masalahnya, korbannya adalah Dinda, content creator horor yang skeptis dan malah mengkritik teknik menakut-nakuti Bara karena "kurang estetik".
Di tengah tekanan KPI dari supervisor hantu yang toksik dan tuntutan algoritma media sosial, Bara justru terjebak menjadi asisten pribadi Dinda. Akankah Bara berhasil menyelesaikan magangnya, atau malah gagal total karena terlalu asyik berdebat soal lighting dan angle kamera?
Sebuah komedi horor segar tentang hantu yang takut PHK dan manusia yang takut unfollow.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Denny Priyanto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Briefing dari Neraka Birokrasi
Pagi harinya, Bara terbangun—atau lebih tepatnya, materialisasi kembali—di atas lemari es. Ia merasa pegal. Entah bagaimana, tidur di atas kulkas yang bergetar karena kompresor tua itu tidak senyaman kasur awan di Alam Perantara.
Dinda sudah tidak ada di apartemen. Kemungkinan besar ia pergi ke kantor atau syuting di luar. Meja makan dipenuhi sisa bungkus kopi dan tumpukan hard disk eksternal.
Bara menghela napas. Hari kedua magang. Ia harus segera menyusun laporan kemajuan untuk Supervisor-nya. Ia mengeluarkan clipboard transparannya dan mulai menulis dengan pena hantu yang tintanya berwarna ungu neon.
Laporan Harian Hantu Magang – Hari Ke-2
Nama: Bara
Lokasi: Unit 404
Status Penghuni: Dinda (Manusia, Female, 24 tahun)
Indeks Ketakutan (IKP): 0%
Kendala: Penghuni apatis. Lebih peduli pada sinyal WiFi daripada nyawanya sendiri.
Bara menatap angka "0%" itu dengan sedih. Ini bencana. Jika minggu pertama berakhir tanpa peningkatan IKP, ia akan dipanggil ke ruang evaluasi. Dan ruang evaluasi di Kantor Pusat Hantu Jakarta Selatan dikenal sebagai tempat di mana harga diri hantu dihancurkan lebih parah daripada saat mereka masih hidup.
Tiba-tiba, udara di sekitar Bara menjadi dingin. Bukan dingin alami AC, melainkan dingin yang menusuk tulang, disertai aroma kemenyan murah dan kertas terbakar.
Lampu di dapur berkedip tiga kali. Klik. Klik. Klik.
Bara tegang. Ia tahu tanda itu. Itu bukan gangguan listrik. Itu adalah panggilan video konferensi darurat dari atasan.
Di tengah ruangan, asap hitam tipis mulai berkumpul, membentuk sebuah layar hologram berukuran besar. Di dalam layar itu, muncul wajah seorang pria paruh baya dengan kacamata tebal, jas abu-abu yang terlalu ketat, dan... sepasang tanduk kambing kecil yang menyembul dari dahinya.
Itu Pak Broto. Supervisor Area Hantu Sektor Jakarta Selatan.
"Bara!" suara Pak Broto bergema, membuat piring-piring di rak bergetar halus. "Laporanmu masuk sistem. Nol persen? Serius?"
Bara menegakkan punggungnya, mencoba terlihat profesional meski kakinya gemetar. "Selamat pagi, Pak Broto. Iya, Pak. Ada sedikit... hambatan teknis."
"Hambatan teknis?" Pak Broto mengangkat alis, tanduknya bergerak lucu. "Kamu ini hantu atau tukang servis kulkas? Aku lihat log energimu, kamu malah menghabiskan kuota untuk menstabilkan suhu ruangan agar penghuni nyaman tidur! Itu bukan tugas hantu penunggu, Bara! Itu tugas AC!"
"Maaf, Pak," kata Bara cepat. "Tapi kalau penghuninya stres berlebihan, kualitas darahnya jadi buruk. Nanti kalau kita mau menghisap energi vitalnya, rasanya pahit. Saya hanya menjaga kualitas aset..."
"Jangan cari alasan!" potong Pak Broto tajam. "Dengar baik-baik, Anak Muda. Bulan depan ada audit dari Direktorat Utama Gaib. Jika unit-unit di bawah supervisi saya performanya turun, saya yang kena semprot. Dan jika saya kena semprot, kamu akan saya kirim ke Hutan Larangan di Kalimantan. Di sana nggak ada WiFi, nggak ada manusia, cuma nyamuk seukuran burung elang yang haus darah. Mau?"
Bara menelan ludah. "Tidak, Pak."
"Bagus. Maka dari itu, aku beri kamu warning terakhir. Dalam 24 jam, aku ingin melihat IKP minimal naik ke 5%. Lakukan sesuatu yang kreatif. Jangan cuma teriak-teriak kayak hantu norak tahun 90-an. Gunakan psikologi! Manfaatkan ketakutan modern mereka!"
Layar hologram padam. Asap hitam menghilang, meninggalkan bau hangus yang menyengat.
Bara terduduk lemas di lantai. Lima persen. Dalam 24 jam. Itu mustahil. Dinda bahkan tidak takut pada kegelapan. Kemarin malam, saat Bara mencoba mematikan lampu utama, Dinda malah bersorak gembira karena "suasana jadi lebih moody untuk foto OOTD".
"Apa yang harus aku lakukan?" gumam Bara putus asa. "Menghilangkan kunci motornya? Menyembunyikan sepatu kanannya? Mengacak-acak playlist Spotify-nya?"
Ia mencoba membayangkan reaksi Dinda.
Jika ia menyembunyikan kunci motor: Dinda akan marah, lalu memesan ojek online.
Jika ia mengacak playlist: Dinda akan menganggap itu bug aplikasi dan me-restart HP.
Tidak ada yang benar-benar menakutkan. Hanya mengganggu.
Tiba-tiba, pintu apartemen terbuka. Dinda masuk, membawa kantong plastik berisi belanjaan. Wajahnya tampak lebih lelah dari kemarin. Matanya merah, mungkin karena begadang atau menangis.
Bara buru-buru berdiri dan berpose seram di dekat pintu, siap menyambut. "Huuuiii..."
Dinda melewatinya begitu saja, seolah Bara adalah tiang gantungan baju. Ia meletakkan belanjaan di meja, lalu menghempaskan tubuhnya ke sofa.
"Gila," keluh Dinda. "Editor video ku error terus. File proyekku korup. Semua kerjaan seminggu hilang."
Bara menurunkan tangannya. Ia melihat bahu Dinda yang turun lesu. Ada kesedihan nyata di sana. Bukan ketakutan, tapi keputusasaan.
Sebagai hantu, Bara seharusnya senang. Keputusasaan manusia adalah makanan empuk bagi energi negatif. Ia bisa mendekati Dinda, menghirup aura sedihnya, dan melaporkan itu sebagai "peningkatan kecemasan" ke Pak Broto.
Tapi entah mengapa, Bara merasa jijik. Itu curang. Itu seperti mencuri permen dari bayi yang sedang menangis.
"Dinda," panggil Bara pelan.
Dinda menoleh, matanya setengah tertutup. "Apa lagi? Kalau mau minta tolong benerin laptop, aku nggak punya uang buat bayar teknisi."
"Bukan itu," kata Bara. Ia ragu sejenak, lalu memutuskan untuk melanggar aturan utama: Jangan Berinteraksi Secara Personal dengan Korban.
"Aku... aku bisa bantu cek file-nya. Kadang-kadang, korupsi data itu cuma masalah sektor bad di hard disk. Aku bisa merasuki komponennya sebentar buat nyusun ulang datanya. Itu keahlian dasar hantu kelas menengah."
Dinda mendongak, alisnya terangkat. "Kamu bisa ngelakuin itu?"
"Iya. Tapi..." Bara menggigit bibirnya. "Kalau aku bantu, kamu harus janji satu hal."
"Apa?"
"Kamu harus pura-pura takut sama aku. Minimal teriak sekali. Teriak yang agak meyakinkan. Buat laporan aku."
Dinda menatap Bara lama. Lalu, sudut bibirnya terangkat sedikit. Senyum tipis yang aneh.
"Deal," kata Dinda. "Tapi kalau file-ku nggak balik, aku bakal panggil dukun pembersih rumah. Dan aku jamin, dukun itu nggak bakal pakai jasa kamu buat konten."
Bara mengangguk serius. "Siap. Sekarang, tunjukkan laptopnya. Dan siapkan tenggorokanmu untuk berteriak."
Mereka berdua duduk bersisian di sofa. Satu manusia yang lelah dunia, dan satu hantu yang lelah birokrasi. Di layar laptop yang mati suri, refleksi wajah mereka terlihat samar.
Untuk pertama kalinya, Bara merasa bahwa menjadi hantu magang mungkin tidak sepenuhnya buruk. Selama ia tidak ketahuan Pak Broto, tentu saja.
Namun, di sudut langit-langit, sepasang mata merah kecil mengamati mereka. Bukan mata Pak Broto. Mata itu milik tetangga sebelah unit—Mbak Yuli, hantu senior yang terkenal suka gosip dan iri hati.
"Meningkatkan IKP dengan kolaborasi?" bisik Mbak Yuli pada dirinya sendiri, sambil mencatat sesuatu di buku harian hantunya. "Ini menarik. Sangat tidak etis. Aku harus laporkan ini ke grup WhatsApp Hantu Senior Blok Z."
Badai sesungguhnya belum dimulai. Intrik kantor alam gaib baru saja membuka bab pertamanya.