Dua puluh tahun lalu sebuah praktek satanisme gagal. Ijah diringkus lalu dibakar hidup-hidup oleh masa sebab dianggap petaka.
Lima orang dipanggil kembali oleh satu sosok yang datang di dalam cermin. Mereka diberitahu untuk menuju ke salah satu tempat yang sempat mereka tinggali dahulu.
Tempat itu sudah lama ditutup. Huruf arab ditempelkan dibanyak pohon hutan sebelum menuju bangunan itu.
Huruf arab itu konon katanya adalah sebuah ayat sebagai penghalang apa yang ada dibangunan itu supaya tidak keluar dari dalam sana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Stanalise, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 026 : Gerbang Sukmo
Jamuan dari Mbah Wicaksono mulai disuguhkan. Beberapa menit, setelah Mbah Wicaksono memerintahkan Dhani membuat jamuan. Kini yang datang di hadapan mereka, yang disuguhkan adalah, kopi hitam.
Tuan dan Nyonya Antony saling pandang sejenak. Mereka berpikir tadinya, perihal kata jamuan.
Mereka berpikir, Mbah Wicaksono akan menyuguhkan mereka minuman manis. Seperti sirup atau roti. Tapi ini tidak, hanya beberapa gelas kopi hitam yang masih mengepul asapnya.
"Ini kopi hitam!" kata Mbah Wicaksono sembari mengambil salah satu kopi yang ada di atas meja di depannya.
Mbah Wicaksono mengarahkan kopi itu ke arah bibirnya. Kopinya masih sangat panas dan itu baru saja dibikin. Ardin yang khawatir segera berseru sembari menahan pergelangan tangan Mbah Wicaksono untuk tidak meminum kopi itu sekarang.
"Mbah!" serunya, Mbah Wicaksono menghentikan keinginannya untuk meminum kopi hitam miliknya.
"Ada apa nak?" tanya Mbah Wicaksono kepada Ardin.
"Kopi itu, masih sangat panas, Mbah!" tutur Ardin lembut pada orang tua itu. Dhani tersenyum miring. Sambil membawa nampan yang kini dipeluknya. Dia bersandar di sudut ruangan sambil memperhatikan Ardin dan berkata,
"Ini ritualnya, Ardin! Mbah, sudah tahu semuanya!" kata Dhani di sudut ruangan ini. Fokus Ardin tertuju pada Dhani pada saat itu juga.
"Ritual?" tanya Ardin tak mengerti.
Dhani menganggukkan kepalanya. Dia kemudian memberi isyarat pada Ardin untuk mempercayai Mbah Wicaksono. Maka, Ardin pun terpaksa menaruh keyakinan pada Mbah Wicaksono dan Dhani.
Ardin mulai menjauh dari Mbah Wicaksono. Dia mundur sejenak. Pada saat itu, ketika Mbah Wicaksono tidak lagi merasakan sentuhan tangan Ardin padanya.
Maka, pada saat itu juga. Secangkir kopi panas yang masih mengepul asapnya mulai dia teguk. Dan betapa sangat terkejutnya Tuan serta Nyonya Antony termasuk Ardin yang melihat kejadian itu.
Bahkan, ketika cairan panas itu masuk ke bibir Mbah Wicaksono. Pria tua itu tidak berteriak.
Dia tetap meneguk, setetes demi setetes cairan hitam pekat yang masih sangat panas itu hingga turun ke kerongkongan dan habis sudah satu gelasnya.
"Apa yang tidak kebakar itu kerongkongannya?" lirih Tuan Antony berujar. Dia membulatkan kedua matanya tak percaya bahwa seorang manusia bisa meneguk air sepanas itu.
"Tunggu saja!" kata Dhani lagi yang bersandar di sudut ruangan menimpali apa yang dipertanyakan oleh Tuan Antony. Memang orang awam akan sangat kaget melihat ini. Tapi, inilah caranya.
Kopi hitam, bisa menjadi mediasi. Juga, Mbah Wicaksono bukanlah orang biasa. Selang beberapa detik setelah meminum habis kopi pahit itu.
Mbah Wicaksono memejamkan kedua matanya. Wajahnya menghadap tepat ke arah Ardin meskipun kedua matanya masih terpejam.
Dia diam, hening, sunyi, tak ada pergerakan selama beberapa waktu. Hingga tak lama, Mbah Wicaksono meniup ke arah depan.
"Fuhhhhh...." suara tiupannya berkumandang.
Lagi-lagi, itu menciptakan banyak pertanyaan bertengger tepat di kepala Ardin, Tuan Antony serta Nyonya Antony.
Tetapi, setelah melakukan itu. Mbah Wicaksono kembali membuka kedua matanya. Kedua bola mata yang memutih itu mulai nampak.
Tatapannya datar tak berekspresi. Dia yang sekarang adalah salah satu dari penghuni belantara. Entah, sosok apa yang kini masuk ke dalam tubuhnya?
Dhani, yang melihat serta merasakan apa yang terjadi di dalam ruangan ini pun, sangat peka. Dia tahu, dia harus apa. Segera, dia mendekati Mbah Wicaksono.
Berdiri tepat di belakangnya Mbah Wicaksono. Dia mengumandangkan beberapa kalimat Jawa.
Serta beberapa kalimat-kalimat aneh yang bahasanya tidak satupun Ardin mengerti apalagi kedua orang tua Farah. Tetapi di akhir kalimat itu.
Membuat Dhani meletakkan kedua telapak tangannya tepat ke arah punggung Mbah Wicaksono.
Hingga pada saat kedua tangannya tertempel tepat di punggung Mbah Wicaksono. Pada saat itulah, suara Mbah Wicaksono berubah.
"Sugeng rawuh!" kata Dhani, dia menyambut sosok yang baru saja bersemayam di dalam tubuhnya Mbah Wicaksono.
(Selamat datang)
Sosok di dalam tubuh Mbah Wicaksono masih belum menjawab apapun. Dhani memperhatikan itu. Dia kembali membaca beberapa mantra-mantra Jawa serta beberapa bahasa asing dari ajaran ilmu putih.
"Kanggo, sopo wae sing teka teng mriki. Kulo badhe nyuwun tulong! Tak ucapne, Sugeng rawuh teng jenengan. Saget mboten, jenengan wangsuli, sinten Niki? Jenengan, Asmane sinten?" tambah Dhani lagi, dia kembali menanyakan identitas sosok ini.
(Untuk, siapa saja yang datang ke sini. Saya mau meminta tolong! Saya sambut, selamat datang pada anda. Bisakah, anda mengatakan, perihal siapakah anda? Siapakah nama Anda?)
Krama Alus yang cukup mengelus hati itu diutarakan oleh Dhani. Sepuluh detik kesunyian berlangsung. Hingga pada akhirnya sosok itu pun mulai berekasi.
"Hiiiiiii.... Hiiiii...." suara tangisannya menggema.
Sosok ini perempuan. Suara Mbah Wicaksono berubah drastis. Di sini, Tuan Antony percaya sekarang bahwa hal ghaib memang ada. Dia sudah melihatnya secara langsung selama mencari Farah.
"Sinten niki?" tanya Dhani kepada sosok itu.
(Siapa ini?)
"Tulong, lare Kulo enem Mas! Tulongg, mboten saget Kulo Niki datang teng mriki suwi-suwi. Teka o, teka o! Gerbang Sukmo! Teka o, masih cuma sak tiang sing Moro! Tulong teka o, tariken tangan e anak-anak Kulo, Mas!" katanya, meminta tolong kemudian diam lagi.
(Tolong, anak saya enam Mas! Tolong, tidak bisa saya datang ke mari lama-lama. Datanglah, datanglah! Gerbang Sukma! Datanglah, meskipun hanya satu orang yang datang! Tolong datanglah, tariklah tangan anak-anak saya, Mas!)
Ucapan itu membuat Dhani berpikir. Dia tidak menemukan jawaban apapun. Setidaknya, dia harus tahu nama dari sosok ini. Dhani kembali membaca mantra-mantra jawanya. Dia menggerakkan tangan kanannya. Memutarnya di udara bersama dengan kalimat-kalimat mantra yang dia katakan. Setelah itu, tangan kanannya itu, telapaknya menyentuh tepat keningnya Mbah Wicaksono. Dalam posisi itu, dia kembali menanyakan.
"Wara o, sopo Asmane jenengan Ki? Pie kene bakalan nulong, nek ora semerap sampean sinten?" kata Dhani lagi. Dia mencoba memancing sosok ini untuk mengatakan namanya.
(Bilang lah, siapa nama anda ini? Bagaimana mau menolong, jika tidak tahu nama Anda?)
Pertanyaan itu, membuat sosok itu tersenyum miring. Dia lalu berkata,
"Kulo Ijah!" katanya, nama itu seketika memiliki energi yang cukup besar dari Dhani. Sehingga membuatnya tersentak mundur ketika nama itu diserukan.
Bersamaan dengan hal itu, maka sosok Ijah yang tadi bersemayam di dalam tubu Mbah Wicaksono, kini pergi. Mbah Wicaksono kembali sadar. Juga Dhani di belakangnya yang masih terkejut.
Mbah Wicaksono membiarkan dirinya sebagai mediasi memang. Pada saat itu, tak perlu bagi mereka bercerita. Setelah Mbah Wicaksono terdiam beberapa menit di antara keterkejutan Ardin, Nyonya Antony dan Tuan Antony. Di situ Mbah Wicaksono berbicara,
"Harus ada yang pergi menjemput mereka! Salah satu yang direstui oleh, Gerbang Sukma, pasti bisa menyebrang!" jelas Mbah Wicaksono.
Gerbang Sukma adalah ritual di mana, yang hidup bisa masuk ke alam sebelah. Alamnya para arwah.
Alamnya para jiwa-jiwa penasaran. Alamnya para dedemit yang bersemayam. Bukan dunia bagi orang hidup untuk datang. Tetapi terkadang, yang hidup datang menginginkan sesuatu.