🏆GOLD NOVEL🏆
...
"Dunia menyebutku sampah, tetapi langit mengenalku sebagai Kaisar Agung."
Ingatan pemuda itu kembali terbuka, seluruh memori kuno dan agung dari kehidupan sebelumnya mengalir kembali dan mencerahkan pikirannya. Saat itulah ia tersadar atas identitasnya dan cara kematiannya yang sebenarnya.
Dengan semua memori agungnya, pemuda itu perlahan mulai menumbuhkan kembali taringnya--menjadi jenius sekte, mencari rekan-rekannya yang mungkin masih hidup, dan membalas dendam atas kematiannya sebelumnya! Namun belakangan ini ia pun mendapati sesuatu yang mengejutkan, sesuatu yang tidak diduganya sama sekali.
"Aku adalah..."
GENRE: ACTION, KULTIVASI, REINKARNASI, BALAS DENDAM, XIANXIA, FANTASI TIMUR.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Devourer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 006: Alkemis dan Toko Obat
Setelah meninggalkan mereka, Qin Xiang tidak langsung kembali ke Sekte Pedang Giok. Ia justru sengaja memutar arah, berjalan lebih dalam melewati jalur-jalur sunyi di pinggiran hutan. Entah sejak kapan, tempat seperti ini terasa jauh lebih menenangkan dibanding keramaian manusia. Udara hutan yang dingin, suara dedaunan yang saling bergesekan, hingga aroma tanah basah setelah embun malam... semuanya membuat pikirannya terasa lebih jernih.
Terlebih lagi, kekuatan yang baru saja ia peroleh masih membutuhkan waktu untuk benar-benar stabil.
Selama perjalanan itu, Qin Xiang juga tidak membiarkan waktunya terbuang percuma. Tatapannya yang tajam terus menyapu sekitar jalur setapak, sesekali berhenti untuk memetik beberapa tanaman herbal liar yang tumbuh tersembunyi di sela bebatuan atau bawah akar pohon tua. Bagi orang biasa, tanaman-tanaman itu mungkin hanyalah rumput liar yang tidak berharga. Namun di mata Qin Xiang, setiap batang, daun, bahkan akarnya memiliki nilai tersendiri.
Ada yang bisa digunakan untuk memulihkan energi, ada pula yang cocok menjadi bahan penetral racun.
Tangan Qin Xiang bergerak sangat hati-hati saat memetiknya. Tidak ada akar yang putus. Tidak ada energi spiritual yang bocor sedikit pun. Cara ia memperlakukan tanaman itu bahkan terasa lebih lembut dibanding sebagian orang memperlakukan harta karun mereka sendiri.
Beberapa jam kemudian, rimbunnya pepohonan mulai menipis. Dari kejauhan, tembok besar Kota Giok akhirnya terlihat berdiri megah di bawah cahaya sore.
Qin Xiang mengangkat pandangannya pelan.
Tujuan pertamanya bukanlah sekte.
Melainkan kota.
Ia sadar betul bahwa hidup di dunia kultivasi tidak hanya membutuhkan kekuatan. Uang juga sama pentingnya. Tanpa koin emas atau perak, bahkan makan layak pun bisa menjadi masalah. Dan Qin Xiang sudah cukup muak hidup sebagai murid miskin yang dipandang rendah ke mana-mana.
Karena itu, begitu memasuki pusat kota, langkahnya langsung tertuju pada sebuah bangunan besar di sisi jalan utama.
Paviliun Seratus Herbal.
Sebuah toko obat terkenal yang cukup memiliki nama di Kota Giok.
Spanduk hijau tua yang menggantung di depan pintu berkibar perlahan tertiup angin. Aroma khas rempah-rempah dan obat herbal segera menyambut Qin Xiang sesaat setelah ia melangkah masuk ke dalam.
Kring—
Suara lonceng kecil di atas pintu berdenting ringan.
Di balik meja panjang dari kayu cendana, seorang pemuda tampak tengah sibuk mencatat sesuatu sambil melayani pelanggan lain. Namun saat melihat seragam Sekte Pedang Giok yang dikenakan Qin Xiang, ia segera berdiri dengan senyum profesional di wajahnya.
“Selamat datang. Apa Rekan Sekte datang untuk membeli pil kultivasi?” tanyanya ramah.
Pemuda itu bernama Ru Tian.
Meski penampilannya terlihat seperti penjaga toko biasa, sebenarnya ia adalah seorang kultivator ranah Inti Formasi tahap pertama sekaligus alkemis tingkat tiga. Dengan sekali pandang saja, ia bisa mengetahui bahwa Qin Xiang masih berada di ranah Pemurnian Qi.
Dan biasanya, murid pada tahap seperti itu adalah pelanggan tetap pil peningkat kultivasi.
Namun Qin Xiang hanya melirik deretan botol pil di lemari kaca sekilas sebelum menggeleng pelan.
“Aku tidak datang untuk membeli.”
Tatapannya tenang saat ia melanjutkan,
“Aku ingin menjual beberapa tanaman herbal.”
Senyum di wajah Ru Tian sedikit berubah.
Minatnya yang semula tinggi langsung menurun beberapa tingkat.
Ia terlalu sering menghadapi murid sekte yang datang membawa tanaman rusak hasil cabutan sembarangan dari hutan. Kebanyakan bahkan tidak tahu cara menjaga energi spiritual di dalam herbal tersebut.
“Maaf,” ujar Ru Tian sopan, meski nada suaranya mulai terdengar datar. “Paviliun kami sedang kelebihan stok tanaman herbal akhir-akhir ini.”
Penolakan halus.
Namun Qin Xiang sama sekali tidak tersinggung.
Ia hanya tersenyum tipis, lalu meletakkan tas kulitnya di atas meja dengan gerakan santai sebelum membukanya perlahan.
“Apa kau yakin ingin menolaknya tanpa melihat barangnya terlebih dahulu?”
Ru Tian awalnya tampak tidak terlalu peduli.
Tetapi begitu matanya melihat isi tas itu...
Ekspresinya langsung membeku.
“Apa...?”
Tangannya refleks bergerak mengambil salah satu tanaman herbal tersebut.
Daunnya utuh sempurna.
Akarnya bersih tanpa luka.
Bahkan energi spiritual di dalamnya masih terkunci rapat seolah baru saja dipetik beberapa menit lalu.
Pupil mata Ru Tian sedikit menyusut.
Sebagai seorang alkemis, ia langsung tahu betapa sulitnya menjaga kualitas tanaman herbal sampai tingkat seperti ini.
“I-Ini...” Ru Tian mengangkat kepalanya perlahan. “Kau sendiri yang memetik semua ini?”
Qin Xiang mengangguk santai.
“Teknik pemetikannya biasa saja. Hanya perlu tahu bagian mana yang tidak boleh disentuh.”
Nada suaranya terdengar ringan.
Namun bagi Ru Tian, kalimat itu justru terasa sangat mengejutkan.
Karena kebanyakan alkemis bahkan tidak mampu melakukannya sebersih ini.
Melihat Qin Xiang tampak tidak keberatan berbicara, Ru Tian segera mengambil beberapa tanaman lain dan mulai memeriksanya satu per satu. Semakin lama ia melihat, semakin dalam pula keterkejutannya.
“Batang Rumput Embun Pagi ini dipetik tepat sebelum energi yin-nya menghilang...”
“Dan akar Bunga Seribu Kabut ini bahkan tidak mengalami kerusakan sedikit pun...”
Ia bergumam sendiri seperti orang kerasukan.
Sementara Qin Xiang hanya berdiri tenang dengan tangan di belakang punggung, seolah semua itu adalah hal yang sangat biasa.
“Untuk tanaman jenis itu, jika dipetik terlalu siang, efek obatnya akan turun tiga puluh persen,” ujar Qin Xiang santai. “Sedangkan akar bunga itu tidak boleh terkena tekanan terlalu kuat saat dicabut. Kalau tidak, energi spiritualnya akan bocor dari serat bawah.”
Ru Tian langsung terdiam.
Tatapannya berubah total.
Ia tidak lagi memandang Qin Xiang sebagai murid sekte biasa.
Penjelasan tadi terlalu detail. Terlalu akurat.
Bahkan beberapa poin yang disebutkan Qin Xiang belum tentu diketahui oleh alkemis tingkat rendah.
“Apa kau... seorang alkemis?” tanya Ru Tian perlahan.
Qin Xiang hampir tertawa kecil mendengarnya.
Seorang Kaisar Agung yang pernah menciptakan pil surgawi tingkat dewa kini ditanya apakah dirinya seorang alkemis.
“Aku hanya tahu sedikit.”
Jawabannya terdengar sederhana.
Namun justru karena itu, Ru Tian semakin merasa pemuda di depannya tidak sederhana.
Qin Xiang lalu mulai menutup kembali tas kulitnya.
“Kalau kau tidak tertarik, aku akan menjualnya ke tempat lain.”
“Tidak!”
Ru Tian buru-buru menahan tangannya.
“Tentu saja aku membelinya!”
Nada suaranya bahkan terdengar jauh lebih cepat dibanding sebelumnya.
Mana mungkin ia membiarkan herbal berkualitas seperti ini jatuh ke tangan toko lain?
Ru Tian segera membawa tanaman-tanaman itu ke belakang untuk ditimbang sendiri. Sikapnya kini sangat hati-hati, seolah sedang memegang benda pusaka yang rapuh.
Tak lama kemudian, ia kembali membawa sebuah kantong uang yang cukup berat.
“Seratus koin perak dan lima puluh koin tembaga,” ujarnya serius. “Aku jamin ini harga terbaik yang bisa kau dapatkan di Kota Giok.”
Qin Xiang menerima kantong itu lalu menimbangnya sebentar di telapak tangan.
Gemering kecil koin terdengar samar.
Lumayan.
Setidaknya untuk sementara waktu, ia tidak perlu lagi hidup menyedihkan seperti sebelumnya.
Saat Qin Xiang hendak pergi, Ru Tian tiba-tiba memanggilnya lagi.
“Tunggu.”
Qin Xiang menoleh sedikit.
Ru Tian menarik napas pendek sebelum berkata,
“Bolehkah aku tahu namamu?”
Sejenak suasana menjadi hening.
Lalu Qin Xiang menjawab singkat,
“Qin Xiang.”
Setelah itu, ia menangkupkan tangan sebagai salam formal sebelum berjalan keluar dari Paviliun Seratus Herbal tanpa menoleh lagi.
Ru Tian berdiri diam cukup lama di tempatnya.
Tatapannya terus mengikuti punggung Qin Xiang yang perlahan menghilang di tengah keramaian jalan Kota Giok.
Ada sesuatu yang aneh dari pemuda itu.
Cara bicaranya.
Tatapannya.
Bahkan aura tenang yang ia pancarkan terasa terlalu berbeda dibanding murid seusianya.
“Qin Xiang...” gumam Ru Tian pelan.
Nama itu terasa asing di telinganya.
Namun entah kenapa, ia merasa nama itu akan segera mengguncang Sekte Pedang Giok cepat atau lambat.
“Pergi cari tahu siapa dia sebenarnya,” perintah Ru Tian tiba-tiba pada salah satu pelayannya.
Pelayan itu segera membungkuk.
“Dan cari tahu...” lanjut Ru Tian sambil menyipitkan mata, “siapa guru di belakangnya.”
Karena dalam pandangannya, mustahil seorang murid sekte luar biasa memiliki teknik pemetikan herbal sesempurna itu tanpa seorang master hebat yang membimbingnya diam-diam.
Bersambung!