NovelToon NovelToon
Layu Sebelum Mewangi

Layu Sebelum Mewangi

Status: tamat
Genre:Perjodohan / Single Mom / Dunia Masa Depan / Tamat
Popularitas:7.8k
Nilai: 5
Nama Author: miss tiii

" Dua puluh tahun terkurung. Sebuah pernikahan tanpa suara. Dan seorang pria yang lebih memilih diam dari pada berjuang.

Arumi mengira ia akan mekar setelah menikah. Ternyata , ia hanya berpindah ke sangkar yg lebih dingin. Ketika kehidupan hidup mulai mencekik dan suaminya tetap membatu, Arumi menyadari satu hal : Untuk bisa bernafas lagi, ia harus merelakan segalanya. Termasuk status yg selama ini di anggap suci."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon miss tiii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tamu Tak di Undang di Hari Cerah

Restoran "Wangi Arumi" sore itu kedatangan "badai" kecil bernama Dania. Anak bungsu Baron itu datang tidak dengan pengawal yang kaku, melainkan membawa berkotak-kotak kue premium dan mainan mahal untuk Kinan.

"Mbak Arum! Lihat nih, aku bawain Kinan rumah rumahan yang bisa dirakit!" seru Dania sambil meletakkan kotak besar di atas meja restoran.

Kinan langsung berlari menghampiri, matanya berbinar. "Wah! Kak Dania baik banget! Makasih Kak!"

Arumi tertawa kecil sambil mengelap tangannya yang sedikit basah. "Dania, jangan sering-sering kasih hadiah mahal begini. Nanti Kinan manja."

"Ih, Mbak Arum jangan pelit dong. Ini kan buat keponakan angkatku!" Dania mengedipkan mata, lalu duduk di kursi kayu dengan gaya santai. "Mbak, tahu nggak? Papa semalaman cerita soal Mbak terus. Katanya Mbak itu 'Baja yang Wangi'. Keren banget julukannya!"

"Papa kamu terlalu berlebihan, Dania," bisik Arumi tersipu.

"Ibu! Kak Dania, ayo bantu Kinan rakit ini!" panggil Kinan dari lantai yang sudah digelar karpet bulu.

Dania langsung bergabung, duduk bersila di lantai tanpa peduli gaun mahalnya. "Siap, Tuan Putri Kinan! Kita bikin istana yang lebih kuat dari benteng Papa, oke?"

"Oke!" sahut Kinan semangat.

Saat mereka sedang asyik tertawa, pintu restoran terbuka dengan dentuman kecil. Seorang pria muda dengan gaya dandy, mengenakan kemeja motif bunga yang berani dan kacamata hitam di atas kepala, melangkah masuk dengan penuh percaya diri. Namanya Rendra, seorang kritikus kuliner sekaligus influencer gaya hidup yang sedang naik daun.

"Halo? Apakah ini tempat di mana bumbu rahasia yang menyelamatkan nyawa itu berada?" tanya Rendra dengan suara yang dibuat-buat dramatis.

Arumi berdiri, menyambutnya dengan sopan. "Selamat sore. Benar, Pak. Ada yang bisa saya bantu?"

Rendra melepas kacamatanya, menatap sekeliling restoran dengan pandangan menilai. "Hmm, interiornya... rustic ya? Menarik. Saya Rendra. Saya ingin mencoba menu andalanmu yang katanya bisa bikin mafia bertekuk lutut."

Dania yang masih di lantai mendongak, matanya menyipit tajam. "Heh, Mas Bunga-bunga! Kalau mau makan, duduk saja. Jangan banyak bicara soal Papa saya."

Rendra terkejut melihat Dania. "Lho? Dania Baron? Sedang apa kamu di sini? Bermain rumah-rumahan?"

"Bukan urusanmu, Rendra!" Dania berdiri, membersihkan debu di roknya. "Mbak Arum, ini Rendra. Dia temannya Kak Erick, tapi mulutnya lebih tajam dari pisau dapur. Hati-hati, dia suka kasih rating jelek kalau kopinya kurang manis."

Rendra terkekeh, mendekati meja kasir. "Saya hanya jujur, Dania. Jadi, Mbak Arumi, apa yang akan Anda hidangkan untuk membungkam mulut saya yang tajam ini?"

Arumi tersenyum tenang, sama sekali tidak terintimidasi. "Saya akan buatkan 'Rendang Rempah Kalbu'. Jika Bapak tidak suka, Bapak tidak perlu membayar."

"Menantang ya? Saya suka," sahut Rendra sambil duduk di meja paling pojok.

Kinan menghampiri Rendra, membawa buku gambarnya. "Om, bajunya bagus. Kayak taman bunga Ibu."

Rendra terpaku melihat kepolosan Kinan. "Oh ya? Kamu suka bunga?"

"Suka! Tapi bunga Kinan nggak boleh layu, kata Ibu harus disiram pakai kasih sayang," jawab Kinan dengan cerdas.

Rendra terdiam sejenak, lalu tersenyum tulus—senyum yang jarang ia tunjukkan pada objek ulasannya. "Ibumu guru yang hebat, Nak."

Dania menghampiri Arumi di dapur, berbisik, "Mbak, jangan kasih yang enak banget. Biar dia kapok!"

"Jangan begitu, Dania. Tamu adalah raja," jawab Arumi lembut sambil mulai mengulek bumbu.

Di luar, Adnan baru saja sampai dan melihat mobil sport merah milik Rendra parkir di depan restoran. Ia mengerutkan kening. Restoran Arumi kini benar-benar menjadi magnet bagi orang-orang dari berbagai kalangan—dari bos besar, mafia, hingga kritikus sombong.

Adnan masuk dan melihat Dania yang sedang asyik mengobrol dengan Kinan, sementara Rendra menunggu dengan wajah tidak sabar. Persaingan untuk mendapatkan perhatian Arumi kini bukan lagi soal bisnis, melainkan soal siapa yang paling mampu masuk ke dalam "dunia" baru yang dibangun Arumi.

1
Diana Bellusi
bagus ceritanya q suka💪
miss tiii: halooo kakk, jangan lupa vote yaaa , salam kenalll🙏🤭
total 1 replies
Emily
dah baskara gak usah harap Arumi lagi pigi kerja jadi kuli buat ngisi perutmu
Emily
kerja baskara jangan ngintipin arumi aja
Emily
lha baskara itu pernah berjuang apa
Emily
nah gitu dong Rumi
Emily
ah ngomong aja kau Rumi..makin banyak kau ngomong makin mentiko lakikmu
Emily
si Arumi kan udah pernah ngomong begitu jgn sampe berkali kali ngomong begitu tapi tetap masih mengharap laki mokondo
Emily
lha Arumi di tinggal saja laki begitu..malah balik lagi
Emily
baskara kerja apa kok modelnya begitu.. bpak nya Arumi juga salah kenapa menjodohkan anaknya dgn leleki gak jelas
Emily
semangat
Yuli Yanti
sbetulnya nama anaknya Bayu apa Kinan. bingung aku
miss tiii: Kinan Buu , episode berapa yg masih nama Bayu biar saya ganti , makasihh atas komentarnya 🙏😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!