NovelToon NovelToon
Jodoh Yang Allah Tuliskan Untukku

Jodoh Yang Allah Tuliskan Untukku

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Perjodohan / Dosen
Popularitas:98
Nilai: 5
Nama Author: Rosy_Lea

Dengan langkah lemah, Farin mencoba pulang dan meninggalkan semua kenangan tentang lelaki yang pernah menyelamatkannya. Namun baru beberapa langkah menjauh dari pematang sawah, tiba-tiba sebuah suara lirih memanggil namanya dari balik hutan.

“Farin…”

Tubuhnya seketika membeku.
Suara itu… suara yang dulu menemaninya di saat gelap, saat luka dan ketakutan hampir merenggut hidupnya. Suara Althaf.

Jantung Farin berdegup tak karuan. Dengan mata berkaca-kaca ia menoleh cepat ke arah hutan lebat di seberang sawah, berharap menemukan sosok yang selama ini terus ia cari dalam doa-doanya.

Tapi tak ada siapa-siapa.
Hanya angin, dedaunan yang bergoyang pelan, dan keheningan yang terasa begitu menyakitkan.

Air mata Farin jatuh tanpa bisa ditahan. Nama itu kembali menggema dalam hatinya, memenuhi dadanya dengan rindu yang selama ini ia kubur sendirian.

Di tengah sesak yang menghancurkan dadanya, tubuh Farin perlahan melemah. Pandangannya kabur, lututnya tak lagi mampu menopang luka dan rindu

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rosy_Lea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Cuma Penasaran

“Iya sih, aku ngerasa gitu...”

“Perasaan kayak gitu itu wajar, Rin. Karena manusia memang diciptakan untuk punya rasa. Tapi yang penting, jatuh cinta itu harus dibarengin sama kesadaran.

Kita harus inget, cinta itu bukan cuma soal rasa, tapi juga tanggung jawab. Apalagi kalau kita belum halal. Jadi, hati-hati sama langkah yang kita ambil.”

“Maksudnya ?”

“Maksudku, jatuh cinta itu indah, tapi jangan sampe bikin kita lupa diri. Jangan sampai kita ngelakuin hal yang malah bisa menimbulkan bahaya untuk diri sendiri atau orang lain.

Cinta itu harus dijaga dengan niat yang baik, supaya nanti kalau waktunya tepat, kita bisa bawa cinta itu ke arah yang benar.”

“Kita bisa curhat, belajar, dan lebih deket sama Allah supaya hati kita tetap kuat. Cinta yang sejati itu bukan cuma soal dunia, tapi juga soal ridha-Nya.

Sabar itu kunci. Jangan lupa berdoa dan jaga hati. Insya Allah, apa pun yang terbaik buat kamu akan datang di waktu yang tepat.”

Farin terdiam sejenak, hatinya berdebar, kata-kata itu menggema dalam benaknya, membuka pintu rasa yang selama ini dia coba sembunyikan.

Naura melanjutkan dengan nada yang lebih lembut, "Rin, jatuh cinta itu nggak apa-apa kok. Itu bagian dari hati yang hidup. Tapi yang penting, kita harus ingat, jangan sampai perasaan itu dilampiaskan pada orang yang belum halal di mata Allah."

"Iya, aku tahu. Aku berusaha menahan diri, tapi kadang hati ini sulit dikendalikan."

Senyum tulus terbit di wajah Naura, "Itulah ujian. Cinta itu indah jika dijaga dengan kesabaran dan batas yang benar. Jatuh cinta itu boleh, tapi jangan sampai kita jadi jatuh karena cinta"

Farin menunduk. Air matanya jatuh, tapi senyumnya mulai merekah. "Ya Allah… jika ini bukan tentang dia, jadikan ini tentang aku dan Engkau saja."

"Kadang, Allah izinkan kita mencintai seseorang… bukan untuk memilikinya, tapi agar lewat cinta itu, kita belajar tentang kehilangan, ketulusan, dan berserah."

Farin akhirnya bisa tersenyum lagi. Ada kelegaan yang menyelinap di hatinya setelah ngobrol panjang bersama Naura.

Seolah beban yang selama ini menyesakkan dadanya perlahan luruh satu per satu. Kehangatan nasihat dan ketulusan sahabatnya menjadi pelipur, menguatkannya untuk lebih menerima dan memahami perasaannya sendiri.

Malam itu, kehangatan api unggun menyatukan mereka dalam tawa dan kebersamaan. Farin duduk di samping Naura, wajahnya lebih tenang, tak lagi diselimuti kerisauan seperti sebelumnya.

Cahaya api yang menari di matanya memantulkan ketentraman yang perlahan tumbuh kembali.

Obrolan mereka ringan, penuh canda, tak lagi berat oleh bayang masa lalu. Bersama teman-teman lainnya, mereka membakar seafood dan jagung bakar yang sudah dibawa sejak dari desa. Aromanya menguar, menambah nikmat suasana malam itu.

Farin tak berhenti bersyukur dalam hati, setidaknya malam ini, dia bisa menikmati momen tanpa air mata, tanpa beban. Bersama Naura dia tahu, pelan-pelan dia akan sampai pada titik pulih.

Ketika api unggun sudah mulai meredup, Farin kembali menatap langit. Bintang-bintang bertebaran, namun hatinya masih sedikit membawa beban. Naura duduk di sebelahnya, tanpa banyak bicara, hanya sesekali memandang wajah Farin yang larut dalam pikiran.

“Nau…” bisik Farin, “besok pagi aku ingin menyusuri jalur di dekat pohon yang roboh itu… sendiri.”

Naura menoleh cepat. “Sendiri?"

Farin mengangguk pelan. “Aku tahu itu terdengar nekat, tapi… ada sesuatu di sana yang memanggil. Bukan hanya ingatan, tapi rasa… seperti Althaf meninggalkan jejak.”

Naura menarik napas panjang, lalu menatap api unggun yang berkerlip. “Aku gak akan membiarkanmu pergi sendiri, Rin. Tapi kalau kau benar-benar yakin... ayo kita coba. Kita buat jalur baru, lebih pagi dari yang lain.”

Farin menoleh penuh haru. “Kamu yakin, Nau?”

Naura tersenyum tipis. “Kamu sedang mencari separuh jiwamu yang pernah tertinggal di hutan ini. Aku akan menemanimu, sampai kamu menemukan atau… ikhlas melepaskan.”

Malam pun terlewati dengan tenang. Setelah tawa, cerita, dan hangatnya api unggun yang memeluk mereka dalam kebersamaan, satu per satu dari mereka mulai masuk ke tenda masing-masing.

Suara dedaunan yang bergesekan pelan ditiup angin menjadi alunan alami yang menenangkan, menggantikan hiruk pikuk kota. Farin menatap langit dari celah tenda, bintang-bintang bersinar temaram, seolah ikut menjaga malam itu tetap damai.

Tak ada mimpi buruk, tak ada kegelisahan. Hanya keheningan, ketenangan, dan rasa syukur yang tumbuh perlahan di dalam hati.

Malam itu, hutan menjadi tempat yang menenteramkan, bukan menakutkan. Tempat untuk menyembuhkan, bukan sekadar menyimpan kenangan.

Fajar menyingsing perlahan, menggantikan gelap dengan semburat cahaya jingga yang hangat. Udara pagi di tengah hutan terasa segar, dengan embun yang masih menempel di dedaunan dan tanah yang lembap.

Satu per satu anggota rombongan mulai terbangun. Suara pelan gemericik air dari aliran kecil di dekat perkemahan menyambut pagi mereka.

Farin dan Naura menjadi yang pertama terbangun. Keduanya berjalan pelan ke dekat kendi besar yang memang telah ada disana untuk berwudhu.

Sesekali mereka saling pandang, seolah berbicara tanpa kata.

Setelah shalat subuh berjamaah dan dzikir singkat, rombongan memulai aktivitas ringan. Beberapa membersihkan area sekitar tenda, sebagian lainnya menyiapkan air panas dan sarapan sederhana dari bekal yang mereka bawa.

Obrolan ringan mulai terdengar, diselingi tawa kecil dan senyum hangat. Ada yang duduk di atas batu besar sambil menyeruput teh hangat, ada yang menikmati roti lapis sambil memandang kabut pagi yang mulai menghilang.

Udara dini hari menusuk lembut ke kulit. Nyala api unggun yang tadi telah meredup, hanya menyisakan bara yang menghangatkan, kini telah menyala kembali. Meski tidak berkobar seperti semalam

Langit perlahan memudar dari hitam ke biru tua. Bintang-bintang mulai meredup.

Farin menarik napas dalam. “Aku tadi mimpi, Nau... Mimpi aku berdiri di depan goa itu. Tapi tidak ada siapa-siapa. Hanya angin dan sepi.”

Naura menatapnya, kali ini tak dengan kalimat penghibur, tapi ketulusan yang tenang. “Kadang… mimpi bukan pesan untuk dicari jawabannya sekarang. Tapi bekal untuk saat yang tepat.”

Farin hatinya belum tenang. Pagi ini dia dan Naura telah bersepakat, setelah semua sarapan dan aktivitas pagi selesai, mereka akan memisahkan diri sejenak.

Arah itu… jalur itu… dan jejak yang belum usai.

Setelah sarapan sederhana yang mereka siapkan bersama, roti lapis, buah segar, dan teh hangat, rombongan bersiap kembali menyusuri jalur kecil menuju pantai.

Udara pagi masih sejuk, embun belum sepenuhnya mengering dari dedaunan. Tawa ringan dan obrolan santai mengiringi langkah mereka, membuat suasana terasa ringan dan akrab, pantai indah di balik tebing watu anyar, tempat matahari pagi akan memantulkan kilau cahaya ke permukaan laut...

Sambil bermain air di tepian pantai dan tertawa ringan bersama yang lain, Naura menyempatkan diri mendekati penunjuk jalan. Pandangannya menyapu tebing-tebing tinggi dan batuan besar yang menjorok ke laut.

“Pak, maaf mau tanya,” ujar Naura pelan, suaranya nyaris tenggelam oleh debur ombak. “Apa di sekitar sini, antara tebing dan batu-batu besar itu… ada goa?”

Penunjuk jalan itu menoleh sejenak, lalu mengamati arah yang ditunjuk Naura. Ia mengerutkan kening, seperti sedang menimbang sesuatu. “Dulu waktu kecil, saya pernah dengar dari orang tua, katanya ada sebuah celah batu yang katanya tembus ke dalam… tapi nggak banyak yang tahu jalurnya. Letaknya tersembunyi, dan nggak semua berani ke sana.”

Naura diam sesaat. “Kalau begitu… mungkin bisa dicari ya, kita bisa kesana kn pak? pingin lihat-lihat”

Pria itu menarik napas. “Mungkin. Tapi harus hati-hati. Tempat seperti itu bukan cuma tersembunyi secara fisik… kadang juga menyimpan sesuatu yang tak bisa dijelaskan dengan logika. Mau masuk kesana? jangan sendirian, serem lho..."

Naura tersenyum santai, mencoba mencairkan suasana. “Hehe, ya kali, Pak… saya mau masuk ke goa purba sendirian. Enggak, kok. Saya cuma penasaran aja.”

Penunjuk jalan itu tertawa kecil, namun masih menatap penuh waspada. “Penasaran itu boleh, Mbak, tapi jangan sampai penasaran membawa pada hal-hal yang nggak diinginkan.”

Naura mengangguk sopan. “Iya, paham, Pak. Saya cuma suka tempat-tempat bersejarah, misterius gitu. Goa-goa alami kayak gini tuh kan unik. Jadi ya pengen tahu aja, siapa tahu bisa jadi bahan cerita buat santri-santri yang lain yang belum sempat ikut kesini.”

“Kalau begitu, nanti saya tunjukan” ujar si penunjuk jalan. “Tapi deket-deket aja, jangan masuk sembarangan, ya.”

“Oke, siap, Pak,” jawab Naura, dia melirik Farin sekilas sambil tersenyum penuh arti. “Denger Rin, Kita liat-liat aja… kan cuma penasaran.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!