Anya Anandita tidak pernah menyangka hidupnya akan sekacau ini. Di tengah himpitan utang medis mendiang ayahnya dan ancaman kehilangan tempat tinggal, ia justru dipertemukan lewat insiden memalukan dengan Devan Alfarezel CEO muda berhati dingin, arogan, dan perfeksionis yang paling dihindari semua karyawan di perusahaannya. Pertemuan pertama mereka berjalan buruk, menyisakan kekesalan mendalam di hati masing-masing.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Royo Ekek, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Getaran di Ruang Sunyi
Getaran di Ruang Sunyi Ruang makan kediaman utama Alfarezel masih menyisakan hawa dingin yang menusuk setelah konfrontasi hebat yang terjadi beberapa menit lalu.
Kakek Bramanta masih duduk di kepala meja dengan ekspresi yang tak terbaca, sementara Karina dan Dion tampak berusaha menahan amarah yang meluap di balik topeng ketenangan mereka. Kemenangan Anya dan Devan atas intrik meja makan malam ini adalah pukulan telak bagi pihak lawan.
Devan berdiri dari kursinya, tangannya masih menggenggam jari Anya dengan erat, seolah tak berniat melepaskannya meski tantangan sudah selesai. Ia menoleh ke arah Anya, memberikan anggukan kecil sebagai isyarat bahwa mereka harus segera pergi.
"Kakek, jika tidak ada lagi yang ingin dibicarakan, kami mohon pamit. Ada beberapa dokumen perusahaan yang harus saya selesaikan sebelum besok pagi," ucap Devan dengan nada sopan namun tegas.
Kakek Bramanta tersenyum kecil, sorot matanya yang bijak menatap keduanya dengan penuh makna. "Silakan, Devan. Bawa Anya pulang. Malam ini cukup melelahkan bagi kalian, aku tahu. Besok, aku berharap kalian berdua datang lebih awal ke kantor. Ada banyak hal yang perlu kita bahas terkait masa depan perusahaan."
Anya ikut berdiri, menyalami tangan Kakek Bramanta dengan takzim. "Terima kasih atas hidangannya, Kakek. Selamat malam."
Saat mereka berjalan keluar dari ruang makan menuju pintu utama, Anya bisa merasakan tatapan tajam Dion yang seperti belati di punggungnya. Ia merapatkan tubuhnya ke arah Devan, merasa sedikit tidak aman. Devan seakan mengerti, ia merangkul pinggang Anya, menariknya sedikit lebih dekat ke sampingnya hingga bahu mereka bersentuhan. Bagi siapapun yang melihat, itu adalah gestur kemesraan sepasang kekasih, namun bagi Anya, itu adalah perisai pelindung yang paling kuat.
Di teras depan, udara malam beraroma tanah basah menyambut mereka. Mobil Mercedes-Benz hitam sudah menunggu dengan mesin yang menyala halus. Pelayan membukakan pintu, dan mereka berdua masuk ke dalam kabin yang senyap.
Saat pintu mobil tertutup, suasana yang tadinya tegang di dalam rumah mendadak berubah. Anya menghela napas panjang, melepaskan ketegangan yang sedari tadi menumpuk di pundaknya. Ia bersandar ke kursi kulit yang dingin, memejamkan mata sejenak.
Devan tidak segera menjalankan mobil. Ia memperhatikan profil wajah Anya dari samping, di bawah cahaya lampu jalan yang masuk melalui kaca jendela. Gaun hijau zamrud yang dikenakan Anya tampak kontras dengan kulitnya yang putih, dan gelang berlian di tangannya memantulkan cahaya redup, mengingatkan Devan pada sosok wanita di hadapannya yang begitu berbeda dengan ekspektasi awalnya.
"Kau gemetar," bisik Devan. Itu bukan sebuah pertanyaan, melainkan sebuah pernyataan.
Anya membuka mata, menoleh ke arah Devan yang kini tengah menatapnya intens. "Sedikit. Tadi itu... benar-benar menegangkan. Saya hampir tidak percaya bisa bicara seperti itu kepada Tante Karina."
"Kau hebat," sahut Devan pendek. Ia meraih tangan Anya yang terkulai di atas pangkuannya. Jemarinya yang besar dan hangat menyentuh punggung tangan Anya, mengusapnya dengan ritme yang lambat dan menenangkan. "Kau tidak perlu gemetar lagi. Mereka tidak akan berani menyentuhmu setelah apa yang dikatakan Kakek tadi."
Mobil mulai bergerak perlahan keluar dari pekarangan rumah utama. Perjalanan menuju *penthouse* Devan biasanya memakan waktu tiga puluh menit, namun malam itu, jalanan Jakarta yang lengang membuat perjalanan terasa jauh lebih singkat.
Di dalam kabin mobil, hening tercipta, namun bukan keheningan yang canggung. Ada sejenis energi yang berdesir, sebuah ketertarikan yang selama ini tertahan oleh tembok kontrak bisnis yang mereka buat sendiri. Devan sesekali melirik Anya, dan setiap kali mata mereka bertemu, Anya akan dengan cepat membuang muka, wajahnya memanas.
"Tentang apa yang kau katakan di meja makan tadi..." Devan kembali bersuara, suaranya kini sedikit lebih dalam. "Tentang harga diri dan nilai kesetiaan... kau benar-benar memikirkannya?"
Anya menoleh, menatap Devan dengan tatapan jujur. "Ya. Saya tidak suka dianggap sebagai orang yang bisa dibeli dengan uang. Saya tahu posisi saya di sini, Devan. Saya tahu saya hanyalah asisten yang terikat kontrak pernikahan dengan Anda. Tapi itu tidak berarti saya tidak punya pendirian."
Devan diam sejenak. Ia membelokkan mobil ke area basemen *penthouse* yang temaram. Setelah memarkirkan mobil dengan sempurna, Devan tidak mematikan mesin. Ia menarik napas dalam, seolah sedang menimbang-nimbang sesuatu yang besar di dalam kepalanya.
"Aku juga tidak pernah menganggapmu sebagai barang yang bisa dibeli, Anya," ucap Devan akhirnya. Suaranya terdengar sangat tulus, jauh dari nada otoriter yang biasa ia gunakan di kantor. "Sejak awal, mungkin aku terlalu kaku dengan kontrak itu. Aku terlalu terpaku pada aturan."
Devan melepas sabuk pengamannya dan memutar tubuh menghadap Anya. Ruang di dalam mobil mendadak terasa begitu sempit dan intim. "Malam ini... aku melihat sisi lain dari dirimu yang tidak pernah kubayangkan sebelumnya. Sisi yang tidak hanya cerdas dan tangguh, tapi juga seseorang yang memiliki ketulusan yang... mungkin sudah lama tidak aku temukan dalam hidupku yang penuh dengan intrik bisnis."
Anya terdiam, hatinya berdegup kencang. Ia bisa merasakan tatapan Devan yang menelusuri setiap inci wajahnya. Ada sesuatu yang berubah di mata pria itu—kedinginan yang biasa menyelimuti tatapan Devan kini digantikan oleh api yang lembut dan memikat.
"Devan..." Anya berbisik, suaranya hampir tidak terdengar, sarat akan keraguan sekaligus keinginan yang mulai mekar.
Devan mendekat. Jarak di antara mereka kini hanya tersisa beberapa sentimeter. Anya bisa mencium aroma kayu cendana dari tubuh pria itu, aroma yang selalu membuatnya merasa tenang namun di saat yang sama, membuatnya kehilangan akal sehat. Devan mengangkat tangannya, jemarinya yang panjang menyentuh helai rambut Anya, menyelipkannya ke belakang telinga, lalu jemarinya turun menyusuri garis rahang Anya hingga berhenti di dagu.
Sentuhan itu begitu lembut, sebuah kontras yang tajam dengan sosok Devan yang dikenal sebagai pria tak tersentuh di dunia bisnis. "Aku tidak ingin kontrak ini hanya menjadi selembar kertas yang menentukan hubungan kita," bisik Devan.
Dunia di sekitar mereka seolah berhenti berputar. Tatapan mereka terkunci, seolah sedang berkomunikasi tanpa kata-kata. Saat Devan kembali memajukan wajahnya, Anya merasa otaknya kosong. Ia tidak memikirkan lagi Dion, tidak memikirkan Karina, tidak memikirkan risiko atau masa depan. Yang ia rasakan hanyalah kehadiran Devan yang begitu dominan di ruang pribadinya.
Namun, tepat saat jarak bibir mereka hampir bertemu, suasana pecah oleh suara dering ponsel yang memekakkan telinga di ruang sunyi tersebut.
Drrr... Drrr... Drrr...
Ponsel Devan di saku celananya bergetar dengan brutal. Devan sempat mengabaikannya selama beberapa detik, matanya tetap terpaku pada Anya, namun getaran itu tidak berhenti. Dengan napas yang memburu dan kilat kekesalan yang tak tersembunyi di matanya, Devan akhirnya menjauhkan diri dengan gerakan kasar dan mengeluarkan ponselnya.
Nama "Randi" muncul di layar. Itu panggilan yang tidak bisa diabaikan. Devan mengumpat pelan, sebuah kata makian kasar yang jarang sekali keluar dari mulutnya, sebelum akhirnya menggeser layar untuk mengangkat panggilan tersebut.
"Ada apa, Randi?" tanya Devan, suaranya terdengar tidak stabil karena emosi yang baru saja diputus paksa.
Di seberang sana, suara Randi terdengar sangat mendesak dan panik. "Pak Devan! Maaf saya mengganggu waktu istirahat Anda, tapi ini darurat! Akun media sosial internal divisi administrasi telah diretas. Seseorang baru saja mengunggah potongan video CCTV dari lobi siang tadi. Rekamannya diedit sedemikian rupa, memotong bagian di mana saya dan pihak keamanan masuk, hanya menyisakan bagian saat Rendra mencengkeram tangan Anya."
Devan mendengarkan dengan rahang yang mengeras hingga otot-otot di pipinya menonjol.
"Video itu diberi narasi palsu yang menuduh Anya sengaja memancing Rendra untuk mendapatkan perhatian media, dan menyebutkan bahwa Anya menggunakan posisinya sebagai asisten untuk menyebarkan rahasia perusahaan kepada mantan kekasihnya. Berita ini sudah mulai viral, Pak. Beberapa portal gosip bisnis eksternal sudah mulai mengambil isu ini."
Anya, yang duduk tepat di samping Devan, mendengar setiap kata yang diucapkan Randi melalui speaker ponsel yang bocor. Wajahnya seketika kehilangan warna. Dunianya yang baru saja terasa stabil karena dukungan Devan mendadak terancam hancur oleh kebohongan yang direncanakan dengan rapi oleh Dion.
"Siapa yang melakukannya?" tanya Devan dengan nada yang menakutkan, nada seseorang yang siap memulai perang besar.
"Kami sudah melacak alamat IP-nya, Pak. Itu berasal dari server internal perusahaan yang memiliki akses tinggi. Dan hasil penelusuran tim IT menunjukkan adanya aliran dana yang mencurigakan yang masuk ke akun anonim sesaat setelah video itu diunggah. Semua jejak mengarah pada asisten pribadi Dion Alfarezel."
Devan mematikan sambungan telepon itu dengan tangan yang gemetar hebat karena menahan amarah. Ia menoleh ke arah Anya, menatap wanita itu dengan perasaan bersalah yang luar biasa. Ia baru saja menjanjikan perlindungan, namun serangan musuh justru datang tepat setelah mereka merasa aman.
"Mereka tidak membuang waktu," geram Devan. Ia menatap ke depan, ke arah dinding beton basemen, tatapannya kosong namun penuh dengan rencana pembalasan yang mengerikan. "Dion benar-benar sudah melampaui batas. Dia pikir dengan menyerangmu, dia bisa melemahkanku."
Anya menatap Devan, rasa takut akan skandal ini mulai muncul. "Apa yang harus kita lakukan, Devan? Jika berita ini sampai ke publik dan ke telinga media besar, bukan hanya reputasiku yang rusak, tapi nama Alfarezel Group akan ikut terseret."
Devan berbalik menghadap Anya, tatapannya kini sangat serius dan penuh tekad. Ia menggenggam kedua tangan Anya dengan erat, menyalurkan ketenangan yang ia sendiri mungkin sedang berjuang untuk menemukannya.
"Dengarkan aku, Anya," suara Devan kini stabil, penuh otoritas yang tak tergoyahkan. "Video itu hanya akan bertahan selama beberapa jam lagi. Aku akan memastikan portal gosip itu ditutup sebelum matahari terbit, dan aku akan menyeret orang yang bertanggung jawab atas peretasan ini ke kantor polisi besok pagi. Dion mungkin bisa memenangkan babak ini dengan taktik kotornya, tapi dia tidak akan pernah bisa memenangkan perang ini."
Devan menarik napas panjang, menatap Anya dengan intens. "Malam ini, lupakan semua itu. Kita akan naik ke atas, aku akan memastikan kau aman di dalam penthouse. Besok pagi, aku akan menunjukkan pada Dion apa yang terjadi ketika dia berani mengusik milik seorang Alfarezel."
Anya merasakan genggaman tangan Devan yang semakin erat. Meski rasa cemas masih menghantuinya, melihat sosok Devan yang begitu berani melindunginya di tengah badai skandal ini membuat Anya sadar bahwa apa pun yang terjadi besok, ia tidak lagi sendirian.
Mereka melangkah keluar dari mobil, berjalan berdampingan menuju lift menuju penthouse, siap menghadapi hari esok yang akan menjadi titik balik dari segalanya.