Rumah tangga Puann hancur seketika saat wanita dari masa lalu suaminya datang membawa kabar kehamilan, ditambah lagi fitnah bertubi-tubi yang membuatnya dikucilkan bahkan oleh keluarganya sendiri.
Di saat kepercayaannya sudah habis dan ia mulai bersandar pada laki-laki lain yang jauh lebih tulus, Bahlil, suaminya berjuang membuktikan bahwa semua itu hanyalah jebakan. Namun, kebenaran tentang masa lalu dan trauma besar yang disembunyikan Bahlil justru membuka luka yang jauh lebih dalam.
Di ambang perceraian dan di tengah pengakuan yang hampir menyatukan mereka kembali, sebuah skandal video pun muncul dan mematikan segala harapan.
Apakah cinta yang penuh kebohongan dan rasa sakit ini layak diperjuangkan, atau lebih baik diakhiri selamanya sebelum hati mereka benar-benar hancur lebur?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hatiku Sudah Terlalu Capek
Puann masih menatap kosong ke arah pintu yang baru saja ditutup Arifatul. Foto yang tadi diserahkan wanita itu masih ada di tangannya.
"Puann, kamu nggak apa apa? Kamu Mau aku kasih dia pelajaran, nggak?" tanya sahabatnya pelan sambil menyentuh bahu Puann dengan hati-hati.
"Biarin aja. Buat apa? Buktinya udah jelas banget di depan mata. Kalau Mas Bahlil emang milih dia, aku nggak punya hak buat ngelarang apa-apa," jawab Puann dengan nada datar dan tanpa perasaan.
Di luar rumah, Bahlil masih berdiri diam. Ia ingin masuk dan berteriak bahwa semua itu bohong, foto itu hasil editan, dan Arifatul adalah pihak yang licik.
Tiba tiba Gibran datang menghampiri dan sekilas menatap Bahlil dengan pandangan prihatin. Ia memahami posisi Bahlil, tetapi ia juga melihat betapa hancurnya keadaan Puann saat ini.
"Kamu mending pulang dulu aja. Puann lagi nggak mau ketemu siapa-siapa, apalagi kamu. Dia butuh waktu sendiri, kayaknya di hatinya dia udah nggak ada tempat buat kamu lagi," ucap Gibran dengan tenang.
"Itu semua salah paham! Arifatul yang atur skenario ini, dia jebak aku, bohong soal hamil, dan foto itu editan! Aku punya buktinya, ada di sini nih!" seru Bahlil hampir histeris sambil menyodorkan dokumen medis itu.
Gibran melirik sekilas kertas itu, lalu menatap kembali ke arah Bahlil dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Bisa jadi kamu bener dan kamu emang jadi korban. Tapi coba lihat dulu keadaan Puann sekarang. Dia udah hancur banget. Terlalu sering sakit hati gara-gara urusan kamu sama masa lalu kamu."
Gibran melanjutkan kalimatnya dengan nada serius. "Kebenaran kamu itu penting, tapi rasa sakit yang udah dia terima nggak bakal bisa hilang cuma gara-gara selembar kertas itu."
Ucapan itu membuat Bahlil tersadar sepenuhnya. Meskipun tidak bersalah, ia tetap menjadi penyebab segala luka ini. Ia yang membiarkan masalah masuk, membuat Puann merasa tidak aman, dan membiarkan kepercayaan itu hancur.
"Terus aku harus gimana dong? Aku beneran nggak mau kehilangan dia," isak Bahlil. Air matanya jatuh kembali, sementara gengsi dan harga dirinya runtuh sepenuhnya.
"Kamu harus mundur dulu. Biarin dia tenang. Kalau emang sayang, kamu harus ngerti kalau dia udah capek banget. Jangan ditambah beban pikiran sama penjelasan yang mungkin cuma kedengeran kayak alasan lagi baginya," jawab Gibran dengan tegas.
Di dalam rumah, Puann mulai merasa lega dapat bercerita kepada Gibran. Ia berpikir bahwa mungkin laki-laki seperti Gibran yang selalu ada, mau mendengarkan, dan bebas dari masalah, adalah sosok yang ia butuhkan selama ini.
Gibran tidak pernah berbohong, tidak memiliki masa lalu kelam, dan selalu mengutamakan dirinya di atas segalanya.
"Mas Gibran, makasih banyak ya. Makasih udah ada pas aku lagi hancur gini. Rasanya cuma sama kamu aku ngerasa dihargai," ucap Puann.
"Aku bakal selalu ada buat kamu. Mau kamu butuh tempat istirahat, nangis, atau ketawa, aku ada di sini," jawab Gibran dengan lembut.
...***...
Berita mengenai kedekatan Puann dan Gibran sampai ke telinga Bahlil, dan hal itu membuatnya semakin tidak dapat mengendalikan emosi. Bahlil menjadi mudah marah, murung, dan berubah sangat berbeda dari dirinya yang dulu.
Ia sadar bahwa setiap detik yang berlalu, posisinya semakin tergantikan dan Puann semakin menjauh ke tempat yang tidak sanggup ia gapai.
Malam itu, Bahlil duduk sendirian di lantai rumah kontrakan yang sepi. Di tangannya terdapat cincin nikah yang dikembalikan Puann, sedangkan di sampingnya berjejer berkas bukti kebohongan Arifatul yang kini terasa tidak berguna.
Untuk pertama kalinya, laki-laki yang biasanya kuat dan penuh percaya diri itu menangis tersedu-sedu seorang diri. Ia menyadari bahwa mungkin ia telah benar-benar kehilangan segalanya akibat kesalahannya sendiri.
"Maafin aku, Puann. Maaf aku kalau kelamaan sadarnya. Maaf aku bikin kamu ngerasa sendirian. Aku beneran nyesel banget..." ratapnya di sela-sela isak tangis.
Beberapa hari berlalu. Hubungan mereka seolah terputus sepenuhnya, tanpa kabar, tanpa pertemuan, dan tanpa penjelasan.
Hingga suatu siang, sebuah amplop surat berwarna krem dikirimkan ke rumah itu. Bahlil membukanya dengan tangan gemetar.
Isinya adalah surat resmi gugatan perceraian. Di atas kertas itu tertulis jelas nama Puann sebagai penggugat. Kalimat-kalimatnya rapi, dingin, dan tegas, yang menyatakan bahwa rumah tangga sudah tidak dapat dipertahankan lagi karena kepercayaan yang hancur dan perbedaan prinsip yang tidak dapat disatukan.
Puann telah mengambil keputusan akhir. Ia tidak mau lagi menunggu, mendengarkan alasan, atau menyakiti hatinya sendiri. Surat itu menjadi bukti bahwa kesabaran Puann telah habis dan pintu hatinya tertutup rapat.
Bahlil memegang surat itu dengan pandangan kosong. Air matanya telah kering, namun rasa sakit di dadanya justru semakin tajam. Waktu yang dimilikinya tersisa sangat sedikit. Sidang pengadilan akan segera dilaksanakan. Sebelum itu terjadi, ia harus bertemu Puann untuk terakhir kalinya.
Bukan lagi untuk memaksa wanita itu kembali, melainkan sekadar menjelaskan kebenaran yang sesungguhnya. Meskipun hal itu mungkin tidak akan mengubah keputusan Puann, setidaknya segala sesuatu harus diungkapkan.
"Aku bakal ketemu kamu sekali lagi. Cuma sekali. Biarpun kamu nolak atau benci aku, aku harus cerita semuanya. Aku harus jelasin alasannya, kenapa aku bohong, dan kenapa cuma kamu wanita satu-satunya buat aku," tekadnya dalam hati.