Kisah ini adalah perjalanan pilu seorang anak yang ditempa oleh kehilangan. Huang adalah perwujudan dari ketabahan dalam kesunyian, dipaksa dewasa oleh kematian tragis orang tuanya. Pohon beringin menjadi saksi bisu atas kesedihan abadi, sementara tidur enam tahun di dasar kolam adalah simbol kematian masa kecilnya dan kelahiran kembali sebagai seseorang yang sama sekali baru. Huang melangkah bukan hanya untuk mencari pembunuh, tetapi juga untuk menemukan arti dari hidup yang tersisa.
Tema pembalasan dendam, kesepian, dan keinginan untuk menjadi kuat demi melindungi yang tersisa... menjadi nyawa dalam cerita.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zerro One, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35: Tingkatan Binatang Roh
Huang dan Luo Mei sampai di depan Aula Kitab. Bangunan itu menjulang tinggi dengan dinding batu abu-abu dan atap melengkung yang dihiasi ukiran awan. Beberapa murid terlihat keluar masuk membawa gulungan kitab di tangan mereka.
Luo Mei berhenti di depan pintu masuk. "Di Aula Kitab, murid biasa yang tidak memiliki poin kontribusi hanya bisa memasuki lantai dasar. Tapi itu cukup bagus untuk pengetahuan umum."
Huang mengangguk, mengingat informasi itu dalam kepalanya.
Luo Mei berbicara lagi. "Meskipun harus membayar dengan poin kontribusi untuk lantai dua dan tiga, itu sangat setimpal dengan pengetahuan yang didapatkan. Terutama teknik-teknik bagus yang bisa dipinjam dengan poin kontribusi."
Huang mengangguk pelan. "Terima kasih, Kakak Senior. Lantai dasar saja sudah cukup untuk saya."
Luo Mei mengangguk. Ia ingin berbalik, namun berhenti sejenak. "Jika ada murid senior yang mengganggumu di dalam, jangan terlalu ditanggapi."
"Saya mengerti." Huang menangkupkan kedua tangannya.
Luo Mei kemudian pergi meninggalkan Aula Kitab.
Huang segera masuk ke dalam. Di samping pintu, seorang tetua duduk di balik meja kayu tua. Matanya terpejam, namun aura spiritualnya terasa jelas.
"Token?" tanyanya singkat.
Huang segera mengeluarkan token murid dalam miliknya dari cincin ruang. Tetua itu membuka mata sebentar, mencatat sesuatu di gulungan, lalu mengembalikan token tersebut.
"Kau hanya boleh di lantai dasar. Jangan melewati batasan."
Huang mengambil tokennya kembali. "Baik, Tetua. Murid mengerti."
Tetua itu mengibaskan lengannya. Huang segera memasuki area rak-rak buku.
Lantai dasar Aula Kitab sangat luas. Puluhan rak kayu tinggi berdiri berjajar, dipenuhi gulungan dan kitab dengan berbagai warna. Murid cukup ramai membaca. Ada yang duduk di lantai sambil menyilangkan kaki, ada yang berdiri bersandar di rak, ada pula yang membuat gerakan ringan, mungkin sedang mempraktikkan teknik yang baru dibaca.
Huang mulai mencari di antara rak-rak buku. Tangannya menyusuri punggung kitab satu per satu, membaca judul-judul yang tertulis di sana. Beberapa kitab tentang sejarah sekte. Beberapa tentang dasar kultivasi. Beberapa tentang pengenalan meridian.
Sepuluh menit kemudian, Huang menemukan apa yang dicarinya.
Huang menarik kitab itu dari rak. Sampulnya terbuat dari kulit tua berwarna coklat dengan tulisan perak yang sudah agak pudar. Ia membuka halaman pertama dan mulai membaca.
Tingkatan Binatang Roh/Spiritual.
Bagian pertama tidak termasuk dalam tingkatan resmi, namun dicatat sebagai pengantar.
Binatang buas fana: harimau biasa, beruang biasa, serigala biasa, dan sejenisnya. Tidak memiliki energi spiritual. Hanya mengandalkan kekuatan fisik alami.
Huang mengangguk pelan. Ia teringat beruang yang dulu mengejarnya di hutan. Beruang itu jelas termasuk dalam kategori ini.
Ia membalik halaman.
Tingkat Satu: Binatang Roh.
Sebutan umum untuk binatang spiritual tingkat 1 hingga 3. Tingkat 1 dan 2 setara dengan Ranah Fana hingga Ranah Inti Emas pada kultivator manusia. Sudah memiliki kecerdasan setara anak manusia. Mampu memahami perintah sederhana dan mengenali bahaya.
Binatang Roh tingkat 3 setara dengan Ranah Inti Emas Tahap Akhir hingga Kesempurnaan Agung. Kecerdasannya setara manusia dewasa. Beberapa bahkan mampu menggunakan teknik spiritual sederhana.
Huang membalik halaman lagi.
Tingkat Dua: Binatang Bumi.
Sebutan untuk binatang spiritual tingkat 4 hingga 6. Makhluk ini bisa berbicara layaknya manusia, dengan kecerdasan tingkat tinggi. Bisa menjelma menjadi manusia, namun tidak sekuat saat dalam wujud asli.
Kekuatannya setara dengan Ranah Inti Emas Kesempurnaan Agung hingga Saint. Namun cukup jarang dan hampir tidak pernah terlihat dalam 1000 tahun terakhir di Benua Zhongtu ini.
Huang berhenti membaca. Matanya menatap kata-kata itu.
Benua Zhongtu.
Jadi ini nama benua tempatnya kini berada. Huang menghela napas lega. Setidaknya makhluk sekuat itu hampir mustahil ditemukan di sini.
Ia membalik halaman terakhir.
Tingkat Tiga: Makhluk Langit.
Merupakan sebutan untuk binatang spiritual tingkat 7 hingga 8. Dihormati dan ditakuti. Mampu menjelma manusia sempurna. Kekuatannya konsisten, tidak terpengaruh oleh transformasi atau tidak.
Tidak ada sama sekali di Benua Zhongtu. Hanya ada dalam catatan sejarah kuno dan legenda yang diturunkan dari generasi ke generasi.
Huang kembali menghela napas. Semakin tinggi tingkatan makhluk-makhluk ini, semakin tidak masuk akal kekuatannya.
Ia membaca bagian terakhir.
Tingkat Keempat: Makhluk Abadi.
Sebutan untuk binatang spiritual tingkat 9. Keberadaannya seperti legenda. Konon hanya segelintir yang pernah mencapai tingkat ini. Tidak ada di Benua Zhongtu menurut catatan sejarah. Bahkan di seluruh daratan yang dikenal, hanya beberapa sosok yang tercatat pernah mencapai tingkatan ini.
Huang menutup kitab itu perlahan. Kepalanya terasa penuh dengan informasi baru. Ia mengembalikan kitab tersebut ke rak dengan hati-hati.
Kemudian ia mulai mencari kitab lainnya.
Beberapa menit kemudian, Huang menemukan apa yang ia butuhkan. Sebuah gulungan besar berjudul Peta Wilayah Benua Zhongtu dan Sejarah Singkat.
Ia membuka gulungan itu di atas meja baca.
Halaman pertama menampilkan peta besar. Lima wilayah tergambar jelas dengan tinta hitam dan warna yang sudah agak pudar dimakan usia.
Lima Provinsi Benua Zhongtu:
Provinsi Weixu - Wilayah Utara Benua.
Provinsi Yizhen - Wilayah Selatan Benua.
Provinsi Dixin - Wilayah Timur Benua.
Provinsi Zuishen - Wilayah Barat Benua.
Provinsi Taisu - Wilayah Pusat, atau Tengah.
Huang membaca setiap nama dengan saksama. Jarinya menyusuri peta, mencari lokasi Sekte Yunwu.
Perlahan, matanya bergerak ke sudut kanan bawah peta. Di sana, di bagian tenggara, tertulis sebuah catatan kecil.
Wilayah Tenggara. Tidak termasuk dalam lima provinsi besar. Disebut sebagai Wilayah Terpencil. Energi spiritual tipis. Sekte dan klan di wilayah ini umumnya lebih lemah dibandingkan sekte di lima provinsi besar.
Dan di sanalah Sekte Yunwu berada.
Huang terdiam. Jadi tempatnya selama ini berada di wilayah dengan energi spiritual paling tipis di seluruh benua. Pantas saja desa kecilnya dulu hampir tidak memiliki kultivator, atau bahkan sekedar lewat.
Ia melanjutkan membaca bagian sejarah. Catatan tentang perang kuno antar provinsi. Tentang kebangkitan dan kejatuhan sekte-sekte besar. Tentang reruntuhan kuno yang tersebar di berbagai wilayah. Huang membaca semuanya dengan tekun, mengingat sebanyak mungkin informasi.
Setelah selesai, ia mengembalikan gulungan itu ke tempatnya.
Kemudian ia mencari kitab lainnya.
Kali ini tentang pemahaman umum manusia.
Huang menemukan sebuah kitab tipis dengan judul Pengetahuan Dasar Tubuh Manusia. Ia membukanya dengan hati-hati.
Kitab itu menjelaskan perbedaan tubuh pria dan wanita secara rinci. Baik dari penjelasan dada, hingga bagian intim manusia. Dan ada larangan-larangan yang harus dipatuhi. Tentang apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan.
Huang membaca semuanya tanpa melewatkan satu halaman pun.
Ayah dan ibunya mati sebelum sempat mengajarkan hal-hal ini padanya. Selama ini ia hanya mengandalkan naluri dan ajaran sopan santun dasar dari orang tuanya. Tapi itu tidak cukup. Terutama setelah kejadian di arena tadi.
Qiao Rin menimpa tubuhnya. Dadanya mengenai dada Huang. Saat itu Huang tidak merasakan apa pun, bukan karena dirinya tidak normal, melainkan karena ia memang belum mengerti. Pikirannya saat itu hanya fokus pada pertarungan. Justru itu membuat Qiou Rin merasa kesal padanya.
Kini setelah membaca kitab ini, Huang sepenuhnya mengerti.
Ia menutup kitab itu. Wajahnya sedikit memerah karena mengingat itu, namun ia menghela napas panjang.
"Aku tidak boleh begitu polos," gumamnya pelan.
Ia mengembalikan kitab itu ke rak, lalu mencari kitab-kitab lainnya. Tentang tanaman spiritual. Tentang racun dan penawarnya. Tentang formasi dasar. Semua informasi itu masuk ke dalam kepalanya, mengisi kekosongan pengetahuan yang selama ini ia miliki.
Waktu berlalu dari pagi hari hingga sore hampir petang.
Huang akhirnya keluar dari Aula Kitab. Ia menatap langit senja yang berwarna jingga keemasan. Kepalanya terasa penuh, namun ia merasa puas. Banyak hal baru yang ia pelajari hari ini. Ini akan sangat membantunya di masa depan, dan membuatnya tidak menjadi bocah polos yang bodoh.
Huang menarik napas panjang. Udara sore terasa segar di paru-parunya. Ia kemudian melangkahkan kakinya menuju paviliun miliknya sendiri di bagian selatan sekte.
...*****...