Li Zie seorang dokter dari abad 21 justru mengalami kecelakaan, dan jiwanya justru berteransmigrasi ke tubuh seorang wanita lemah di jaman kuno.
Li Zie pun berniat membalas penderitaan wanita yang namanya juga sama, Li Zie. Ia pun menjadi tabib di sana dan fokusnya hanya mengumpulkan harta, ia juga memiliki ruang dimensi, Li Zie menyembunyikan identitasnya dengan sangat rapi.
Tapi bagai mana jadinya jika ketenangan itu hanya sesaat, karena pria yang berkuasa di dinasti Xuan. Yaitu Kaisar Xuan Long justru mengetahui identitas aslinya.
Seperti apa kelanjutannya? yuk mampir!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Queen Fitria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 15
Sementara itu, di kediaman mewah Selir ibu tiri Li Zie, suasana yang tadinya tenang jadi kacau.
"Selir! Tolong saya, Selir! Nona Besar... dia sudah jadi hantu! Dia menyihir tangan saya!" Cui Ma berlutut sambil menangis, menunjukkan lengannya yang lunglai.
Selir Kedua, yang sedang asyik menyesap teh bunga, mengernyitkan alisnya dengan jijik, dan berkata, "Cui Ma, apa kau sudah gila karena kepanasan? Mana ada hantu di siang bolong?"
"Tapi tangan saya, Selir! Tidak bisa digerakkan setelah dia memegang saya tadi! Dia bilang mau membawa saya ke neraka!"
Selir itu berdiri, memeriksa lengan Cui Ma. Tidak ada bekas luka, tidak ada memar, hanya nampak normal. Selir Hu mencoba mencubit lengan itu dengan keras, tapi Cui Ma tidak berteriak kesakitan karena memang sudah mati rasa.
"Cukup sandiwaranya!" bentak Selir Hu, ia merasa telah di ganggu oleh pelayan-nya, lalu kembali berkata, "Kau pasti hanya malas bekerja dan membuat alasan konyol. Li Zie itu lemah, bodoh, dan hampir mati kelaparan. Bagaimana mungkin dia menyihirmu? Kau pasti jatuh terpeleset karena berat badanmu sendiri!"
"Tapi Selir, saya berani sumpah-"
"Diam! Pergi ke dapur dan cuci piring dengan satu tanganmu itu kalau perlu! Jangan membuatku marah hanya karena imajinasimu yang bodoh!" ujar Selir Hu, ia begitu angkuh saat tidak ada orang lain.
Cui Ma hanya bisa meratapi nasibnya. Ia tahu benar apa yang ia alami, tapi tidak ada yang percaya. Sementara di paviliun reot, si hantu sedang tidur nyenyak di atas tumpukan emas secara mental.
Setelah Cui Ma lari tunggang langgang, suasana paviliun reot itu kembali sunyi. Li Zie menarik selimut butut sampai ke dagu, kembali memejamkan mata dengan tenang.
"Ji Yu, jangan bangunkan aku kecuali langit runtuh atau bau makanan tercium," gumam Li Zie malas. Ia benar-benar memulihkan energinya yang terkuras habis karena Mata Dewa kemarin. Mereka berdua pun terlelap dengan nyenyak, sementara seisi kediaman sibuk menggunjingkan Cui Ma yang dianggap sudah gila karena bicara tentang hantu.
Waktu berlalu cepat hingga sang surya tenggelam, digantikan oleh kegelapan malam yang pekat.
Mata Li Zie terbuka perlahan. Kilatan tajam kembali muncul di matanya, tidak ada lagi jejak putri sekarat yang tadi pagi terlihat. Ia duduk tegak, meregangkan tubuhnya hingga tulang-tulangnya berbunyi.
"Ji Yu, bangun. Waktunya menambang emas," ujar Li Zie sambil menendang pelan kaki kursi yang sudah reot itu, hanya untuk membangunkan pelayannya yang tidur mendengkur di atas kursi reot.
Ji Yu melompat bangun dengan sigap, khas seorang pendekar, lalu berkata dengan semangat, " Siap, Guru! Tapi... hanfu kita yang kemarin sudah bau kuah mie dan keringat. Kita tidak bisa menambang emas dengan bau seperti itu."
Li Zie menyeringai dan berkata licik, "Aku sudah memikirkan itu. Pergilah ke jemuran paviliun depan. Pengawal Menteri Li biasanya sangat ceroboh."
Tanpa perlu perintah dua kali, Ji Yu menghilang ke dalam kegelapan. Di sana Ia berdiri dengan wajah licik di hadapannya banyak jemuran pakaian, Ji Yu mengeluarkan buntalan hanfu kotor yang ia ambil kemarin, Ji Yu menukar pakaian kotor itu dengan pakaian bersih.
Beberapa menit kemudian, Ji Yu kembali dengan wajah berseri-seri. Di tangannya ada dua pasang Hanfu berwarna hitam dan abu-abu gelap yang masih beraroma sabun cuci hasil jarahan dari jemuran pengawal.
"Dapat, Guru! Hanfu ini jauh lebih layak dari pada kain yang kita pakai kemarin," lapor Ji Yu bangga.
Proses transformasi pun dimulai. Li Zie kembali mengeluarkan kotak kosmetik mautnya. Arang hitam dan lem getah pohon. Dengan telaten, ia mencoreng wajah cantiknya, membuat garis-garis keriput buatan, dan menempelkan kembali janggut serta kumis dari ekor kuda itu dengan posisi yang lebih simetris kali ini.
Li Zie mengenakan Hanfu hasil curian Ji Yu yang meski masih kebesaran terlihat jauh lebih gagah dan bersih. Li Zie melilitkan sabuk kainnya dengan kencang, menyembunyikan lekuk tubuh wanitanya dengan sempurna.
"Bagaimana?" tanya Li Zie dengan suara serak-berat khas kakek-kakek saktinya.
Ji Yu, yang kini sudah menyamar jadi pemuda arogan dengan kumis tipis yang lucu, memberikan jempol , dan berkata dengan takjub, "Luar biasa, Guru. Kalau aku tidak tahu, aku pasti sudah bersujud meminta jimat keberuntungan padamu."
Li Zie mengambil tongkat kayu tua sebagai pelengkap aktingnya, lalu melirik ke arah luar melalui celah jendela, dan berkata, "Bagus. Malam ini paviliun pasar gelap itu pasti sudah menungguku dengan tumpukan emas. Aku yakin kemampuan ku sudah tersebar luas."