NovelToon NovelToon
TUNANGAN PALSU

TUNANGAN PALSU

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Nikah Kontrak / CEO
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: AlinaKS

Hanya karena sebuah kecelakaan, Sophia terjebak dengan Damian -- pria kaya, dingin, arogan, dan sangat posesif.

Damian memaksa Sophia menjadi tunangan palsunya demi kepentingan keluarga. Sebagai gantinya, utang besar Sophia akan dianggap lunas.

Awalnya Sophia pikir itu hanya sandiwara sementara.

Sampai Damian mulai ikut campur dalam hidupnya. Mengatur siapa yang boleh dekat dengannya. Dan perlahan memperlakukannya seperti miliknya sendiri.

“Kalau sudah tahu tidak bisa kabur… berhentilah melawan.”

Di saat Sophia mulai kehilangan kendali atas hidupnya, Arkan -- pria yang selama ini selalu ada untuknya, justru menyimpan rahasia yang menghancurkan semuanya.

Kini Sophia terjebak di antara pria yang terlalu ingin memilikinya… dan pria yang tak pernah benar-benar bisa ia miliki.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AlinaKS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

RANCANA YANG MENYESATKAN

____

Begitu Sophia membuka pintu gerbang, langkahnya langsung terhenti. Perkataan Damian benar.

Di luar, kerumunan sudah menunggu.

Sorotan kamera menyilaukan, suara teriakan dan panggilan bercampur menjadi satu, membuat dadanya langsung sesak. Sophia membeku, tidak tahu harus melangkah ke mana.

Tiba-tiba sebuah jas dikibaskan di depan wajahnya, menghalangi seluruh kilatan kamera.

Sebuah tangan menariknya masuk ke dalam pelukan.

Sophia mendongak.

Damian.

Wajah pria itu dingin seperti biasa, tetapi matanya jauh lebih gelap dari sebelumnya, jelas menahan sesuatu yang belum selesai.

“Jangan berpikir macam-macam,” ucapnya rendah sambil tetap melindunginya dari sorotan kamera. “Apalagi mengatakan aku punya kelainan.”

Tatapannya mengunci Sophia.

“Sophia,” lanjutnya pelan, “aku akan menghitung semua ucapanmu satu per satu.”

____

Malam itu terasa mencekam.

Keheningan yang menyelimuti ruangan justru terasa lebih menakutkan daripada teriakan. Jack dan Eva hanya bisa berdiri dengan kepala tertunduk, bahkan tidak berani saling menatap.

Setelah kejadian pagi tadi, sudah bisa dipastikan amarah Damian tidak akan mereda begitu saja.

Bagi pria itu, dianggap memiliki kelainan adalah penghinaan yang tidak bisa ditoleransi. Terlebih lagi jika tuduhan itu datang dari Sophia. Rasanya tidak berbeda dengan seseorang yang sengaja melempar wajahnya dengan kotoran sapi di depan umum.

Damian duduk di hadapan mereka dengan rahang mengeras. Tatapannya tajam dan dingin, membuat suasana di dalam ruangan terasa semakin sesak. Cara pria itu memandang kedua bawahannya seolah-olah ia sedang menimbang apakah akan menelan mereka hidup-hidup atau tidak.

Jack menelan ludah.

Aura mengerikan yang terpancar dari atasannya membuat bulu kuduknya meremang. Eva yang berdiri di sampingnya pun tidak jauh berbeda. Gadis itu hanya bisa menundukkan kepala sambil berusaha mengecilkan keberadaannya.

Jika dipikir-pikir, kesalahan mereka sebenarnya hanya satu.

Mereka terlalu sering mencoba menebak isi kepala Damian.

Jack yang pertama kali memulainya.

Karena melihat Damian selalu memperhatikan Sophia, ia berpikir mungkin pria itu akan merasa lebih tenang jika mencium aroma gadis tersebut. Itulah sebabnya ia diam-diam menyimpan piyama Sophia agar Tuanya bisa tidur nyenyak.

Masalahnya, ia sama sekali tidak menyangka Eva akan melakukan hal yang lebih parah.

Adiknya itu malah mencuri jaket Sophia dan menyerahkannya langsung kepada Damian.

Mengingat kejadian itu saja membuat Jack ingin membenturkan kepalanya ke dinding.

Saat jaket dan pakaian itu diberikan, Damian bahkan tidak membutuhkan waktu satu detik untuk bereaksi. Dengan wajah menghitam karena marah, pria itu langsung melemparkan keduanya tepat ke wajah Jack.

Memang, jika dipikir kembali, tindakan mereka sudah keterlaluan sejak awal.

Karena itu Jack segera menyuruh Eva membuang barang-barang tersebut agar tidak menimbulkan kecurigaan lebih jauh. Sayangnya, Eva tidak membuangnya sendiri. Gadis itu justru menyuruh pelayan lain untuk melakukannya.

Hasilnya?

Jaket Sophia berakhir di salah satu pelayan Damian. Sebuah bukti yang tidak mungkin dibantah.

Jack mengembuskan napas panjang.

Selesai sudah.

Mungkin hari ini adalah hari terakhir mereka bekerja. Mereka akan jadi pengguguran seumur hidup.

Di tengah suasana yang mencekam itu, Damian tiba-tiba berdiri dari kursinya.

Gerakan itu membuat keduanya refleks menegang.

Pria tersebut berjalan ke sudut ruangan, mengambil sebuah stik golf, lalu menyeretnya di lantai hingga menimbulkan suara gesekan yang membuat bulu kuduk berdiri.

Sret ....

Sret ....

Jack dan Eva spontan menahan napas.

Damian berhenti tepat di depan mereka.

Mata pria itu memerah karena menahan amarah.

Dengan ujung stik golf, ia menunjuk ke arah keduanya.

“Kalian berdua…” suara Damian rendah, penuh penekanan. “Adik-kakak tidak berguna.”

Jack dan Eva langsung menundukkan kepala lebih dalam.

“Kalian yang akan menjelaskan semuanya kepada gadis itu.”

Damian menggenggam stik golfnya lebih erat.

“Kalau setelah ini Sophia masih berpikir aku punya kelainan…” nadanya makin dingin, menusuk. “Kalian berdua orang pertama yang akan aku habisi.”

BRAK!

Stik golf itu dibanting keras ke lantai.

Suara benturan yang memekakkan telinga membuat Jack dan Eva tersentak kaget.

Tanpa mengatakan apa pun lagi, Damian berbalik.

Langkah kakinya terdengar berat dan penuh emosi.

Beberapa detik kemudian ....

BRAK!

Pintu ruangan ditutup dengan keras hingga dinding di sekitarnya seakan ikut bergetar. Keheningan kembali menyelimuti ruangan. Namun kali ini suasananya jauh lebih menyesakkan.

Eva menjadi orang pertama yang mengembuskan napas.

"Bang ...."

Jack memijat pelipisnya.

"Terus bagaimana?" tanya Eva dengan wajah panik. "Kalau kita menjelaskan semuanya, kita juga harus mengaku kalau kita yang mengambil barang-barang itu. Bukannya itu sama saja membenarkan ucapan Nona Sophia?"

Jack menatap adiknya seolah baru saja mendengar pertanyaan paling bodoh di dunia.

"Apa yang bisa dijelaskan?" gerutunya frustrasi. "Kau pikir masih ada jalan keluar?"

Eva terdiam.

"Mau kita putar bagaimana pun ceritanya, faktanya jaket itu ditemukan di dasbor mobil Tuan Damian." Jack mengacak rambutnya kasar. "Yang paling tidak masuk akal adalah kau! Bagaimana bisa kau menyerahkan barang itu ke pelayan lain?"

Eva langsung mengerucutkan bibir.

"Aku hanya .... "

"Abang sudah bilang buang sendiri!"

Suara Jack meninggi untuk pertama kalinya malam itu.

Eva langsung menutup mulut.

Wajahnya semakin pucat.

"Lalu sekarang bagaimana?" tanyanya pelan.

Jack mengembuskan napas panjang hingga bahunya turun.

"Pikirkan sendiri."

Setelah mengatakan itu, ia berbalik dan berjalan keluar ruangan.

Eva mematung selama beberapa detik.

Kepalanya terasa penuh.

Di satu sisi, mereka tidak mungkin mengaku.

Namun di sisi lain, jika Sophia tetap salah paham, Damian benar-benar bisa mengusir mereka kapan saja. Membayangkan kemungkinan itu saja sudah membuat perutnya mulas.

"Bang! Tunggu!"

Dengan panik, Eva segera berlari menyusul kakaknya yang sudah lebih dulu keluar.

B e r s a m b u n g .....

Jangan lupa tinggalkan jejak, yah. Makasih (⁠◍⁠•⁠ᴗ⁠•⁠◍⁠)⁠❤

1
falea sezi
anak siapa yg dikandungnya sintia
falea sezi
🤣🤣🤣kapok ketipu jalang makan itu rasa. kasian😒
falea sezi
mending ma Damian 🤣 dripada si goblok arkan kayaknya Sintia licik bgt ini jalang🤣
falea sezi
jangan mau sopii🤣 ada yg singgle. kok milih jd pelakor
Rumia Dell: Sopii food kah😭
total 1 replies
falea sezi
klo ma arkan pasti di nanti sintya ge recokin
falea sezi
ini mah bukan hemat tp medit buat diri sendiri😒
Rumia Dell: Gak boleh gitu, demi rumah impian 🤣
total 1 replies
Juli Rosan
keren
Rumia Dell: Ikutin terus ceritanya yah😍
total 1 replies
Dede Kurniawan
Seru
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!