Di tengah guyuran hujan Kota Senja, Arya menemukan lebih dari sekadar buku sejarah di perpustakaan tua—ia bertemu dengan Naya, seorang gadis misterius yang secara tak terduga membuat hatinya berdebar. Pertemuan yang terasa seperti kebetulan itu berubah menjadi awal dari sebuah misteri besar, ketika Arya menemukan foto tua tersembunyi yang mengungkapkan hubungan tak terduga: wajah Naya sangat mirip dengan wanita yang terlihat bersama ibunya, yang menghilang secara misterius setahun lalu tanpa meninggalkan jejak.
Dibakar oleh rasa penasaran dan keinginan untuk menemukan kebenaran di balik hilangnya ibunya, Arya mulai menyelidiki masa lalu keluarga-keluarga besar di kota itu. Semakin ia menggali, semakin ia menyadari bahwa pertemuan dengan Naya bukanlah kebetulan belaka. Di balik ketenangan Kota Senja, tersimpan rahasia kelam, persekutuan tersembunyi, dan kekuatan yang selama ini berusaha ditutup-tutupi. Arya harus berhati-hati, karena setiap langkahnya menuntunnya lebih dekat pada bahaya—dan pada kenyataan yang bisa mengubah seluruh hidupnya selamanya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayu gerimis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
Senja ketiga. Langit berubah warna menjadi ungu pekat, mendung, berat, seolah siap menumpahkan air bah kapan saja. Di depan mereka, pepohonan raksasa tiba-tiba berhenti, membuka pandangan ke sebuah lembah luas yang aneh, kosong, dan suram.
Di bawah sana, tersembunyi di dalam cekungan tanah yang dalam, terhampar Kota Tambang Lama.
Bukan kota yang indah. Ini sisa-sisa masa kejayaan kolonial puluhan tahun lalu, sekarang berubah menjadi hantu beton. Bangunan-bangunan batu bata merah yang tinggi, retak, berlubang, dan ditumbuhi tanaman liar berdiri miring, saling menopang seperti mayat yang masih berdiri. Jalanan aspal sudah pecah-pecah, berlumut, dan dipenuhi semak duri. Rel kereta api tua berkarat melintasi kota mati ini, menghilang ke dalam mulut terowongan gelap di sisi tebing. Bau udara di sini berbeda. Bau besi berkarat, kapur, minyak tanah lama, dan sesuatu yang amis samar—bau logam darah yang sudah kering puluhan tahun.
"Ini Kota Van Der Wijck," suara Raga memecah keheningan, rendah dan serak. Matanya menatap reruntuhan itu dengan pandangan jauh, penuh kenangan pahit yang terpendam. "Dibangun kakek buyut kita. Tambang timah terbesar di wilayah ini dulu. Tapi 25 tahun lalu, terjadi kecelakaan besar. Dinding gua runtuh, menimbun 47 penambang hidup-hidup. Sejak saat itu, tempat ini ditinggalkan. Penduduk lokal menyebutnya Kota Mayat. Tempat di mana orang tidak boleh masuk, dan makhluk lain tidak boleh keluar."
Raga melirik sekilas ke arah Arya dan Naya di belakang.
"Ayah sering bawa aku ke sini. Dulu. Waktu aku seumur Sari. Dia bilang tempat ini adalah metafora keluarga kita: Megah, kuat, kaya, tapi dibangun di atas kuburan orang lain, dan pada akhirnya, pasti akan runtuh dan ditinggalkan karena terlalu banyak darah yang ditumpahkan."
Kalimat itu menggantung berat di udara. Metafora yang terlalu nyata, terlalu menyakitkan.
"Malam ini kita istirahat di sini. Struktur bangunan batu tebal, aman dari angin, dan banyak titik sembunyi. Pasukan Andri tidak akan berani masuk sebelum fajar. Mereka takut takhayul, takut tempat ini. Ini satu-satunya keuntungan kita," perintah Raga, matanya kembali tajam, memindai setiap sudut lembah.
Mereka turun ke lembah, melintasi jembatan besi reyot yang berderit mengerikan di atas sungai dangkal yang airnya keruh berwarna cokelat kemerahan. Setiap langkah mereka bergema keras di antara bangunan kosong. Suara langkah kaki mereka sendiri terdengar seperti diikuti, dikalikan, dan dikembalikan oleh ribuan bisikan tak terlihat.
Mereka memilih gedung administrasi utama di tengah kota: Bangunan dua lantai, dinding batu tebal setengah meter, atap masih utuh meski bocor di sana-sini, dan memiliki satu pintu masuk utama serta beberapa jendela tinggi sempit. Benteng alami yang sempurna.
Di dalam, udara pengap, berdebu, dan gelap. Cahaya terakhir senja hanya masuk lewat celah jendela, membentuk jalur-jalur debu emas yang melayang di udara. Lantai batu ditutupi lapisan tebal debu, daun kering, dan pecahan kaca. Di sudut-sudut ruangan, sarang laba-laba raksasa menggantung lemas.
Sari Dewi masuk paling dulu. Gerakannya tenang, terlatih. Ia langsung memeriksa setiap sudut, setiap ruangan, setiap lorong, memastikan kosong, memastikan aman. Ia tidak merinding. Ia tidak takut pada hantu. Hantu tidak bisa membunuhmu. Manusia saja yang bisa. Dan manusia lah yang ia takuti.
Ia berjalan melewati ruangan kantor bekas, meja-meja kayu jati yang lapuk, kursi-kursi yang terbalik, lemari berisi dokumen kuningan yang berserakan di lantai. Matanya menangkap sesuatu di dinding: Sebuah lukisan besar yang kusam, sebagian robek. Itu potret keluarga. Pria tinggi, gagah, bermata tajam, berdiri di tengah, dikelilingi anak-anak kecil.
Hendrawan Wijaya. Muda. Tampan. Berkuasa.
Dan di sisi kirinya... ada bocah laki-laki berusia sekitar 10 tahun. Rambut hitam legam, mata abu-abu yang tajam dan keras, bibir terkatup rapat tanpa senyum. Itu Raga. Kecil. Sama seperti dirinya sekarang: Mata yang terlihat terlalu tua untuk usianya.
Sari Dewi menatap potret itu lama. Ia melihat akar dari semuanya. Ia melihat di mana Raga berasal. Ia mengerti sekarang. Tempat ini bukan sekadar reruntuhan. Ini makam masa kecil pamannya.
"Ruang bawah tanah ada di belakang sana. Pintu besi berat, satu-satunya jalan keluar darurat kalau pintu depan ditembus," suara Raga terdengar di belakangnya.
Sari Dewi menoleh. Raga berdiri di sana, tangannya memegang sebatang kayu panjang, menyapu sarang laba-laba di langit-langit. Ia tidak terlihat malu atau sedih. Wajahnya datar. Batu.
"Kamu sering main di sini waktu kecil, Paman?" tanya Sari Dewi pelan, matanya kembali ke potret lusuh itu.
Raga mengikuti pandangannya. Ia menatap wajah dirinya sendiri di lukisan itu. Bocah yang dulu percaya ayahnya pahlawan. Bocah yang dulu berpikir kalau dia berusaha keras, kalau dia kuat, ayahnya akan sayang padanya.
"Main?" Raga tertawa kering, pahit. "Tidak. Aku dilatih di sini. Ini tempat latihan pertamaku. Ayah bilang, 'Raga, kalau kamu mau jadi pewaris Wijaya, kamu harus belajar bertahan hidup di tempat mati. Di tempat di mana tidak ada aturan, tidak ada hukum, tidak ada Tuhan. Di sini, yang hidup cuma yang paling kuat.'"
Raga melangkah maju, merobek sisa lukisan itu dengan tangan kosong, meremas kanvas itu jadi gumpalan sampah, lalu melemparnya ke sudut gelap.
"Aku habiskan masa kecilku di sini, Sari. Berlari di koridor gelap ini sampai kakiku berdarah. Memanjat dinding licin ini sampai tanganku sobek. Tidur di ruang bawah tanah itu tanpa makanan, tanpa lampu, selama berhari-hari, cuma untuk membuktikan aku berharga. Dan setiap kali aku berhasil, setiap kali aku pulang dengan tubuh penuh luka, Ayah cuma akan lihat aku sebentar, lalu bilang: 'Masih lemah. Belum cukup.'"
Suara Raga bergetar sedikit, amarah lama bangkit kembali, panas dan liar.
"Aku benci tempat ini. Aku benci batu-batu ini. Aku benci setiap inci tanah di sini. Karena di sinilah, di ruangan persis ini, aku sadar satu hal: Tidak peduli seberapa keras aku berusaha, seberapa kuat aku jadi, seberapa banyak darah yang aku tumpahkan... aku tidak akan pernah cukup baik buat dia. Karena aku bukan dia."
Sari Dewi diam. Ia mengerti. Sangat mengerti. Ia merasakan getaran yang sama persis di dadanya. Ia merasakan rasa sakit yang sama: Berusaha mati-matian jadi "anak baik", jadi "anak pintar", jadi "anak sempurna", tapi tetap saja, di mata orang tuanya, ia tidak akan pernah cukup baik karena satu alasan sederhana: Ia bukan anak Arya. Ia anak Andri.
"Tempat ini mengajarkan kita satu hal, Sari," Raga menunduk, menatap mata keponakannya tajam-tajam. "Cinta itu barang mewah. Barang sisa. Kalau kamu mau bertahan hidup di keluarga ini, di dunia ini... kamu harus buang kebutuhan untuk dicintai. Kamu harus puas hanya dengan dihormati, atau ditakuti. Karena dicintai... itu hal yang tidak pernah kita dapatkan, dan tidak akan pernah kita dapatkan."
Kalimat itu menusuk jantung Sari Dewi, tapi anehnya, ia merasa lega. Seolah beban berat di pundaknya—beban untuk disayang, untuk diterima—akhirnya diangkat.
Benar, pikir Sari Dewi dingin. Aku sudah capek minta cinta. Aku sudah capek jadi anak baik. Mulai sekarang, aku mau jadi ditakuti.
Malam turun sepenuhnya. Gelap gulita. Hanya diterangi satu lilin kecil dan remang cahaya bulan yang masuk lewat lubang atap.
Suasana di dalam gedung itu kaku, tegang, dan dingin.
Arya dan Naya duduk di sisi timur, berjauhan. Mereka duduk berdekatan secara fisik, tapi jiwa mereka terpisah ribuan mil. Arya terlihat gelisah, matanya terus melirik ke arah sisi barat, di mana Sari Dewi duduk bersila di lantai batu di sebelah Raga.
Mereka berdua—paman dan keponakan—sedang memeriksa senjata. Raga sedang mengajari Sari cara membongkar, membersihkan, dan memasang kembali pisau lipat dan satu pistol revolver tua yang ia temukan di gudang senjata tersembunyi. Gerakan mereka sinkron, diam, efisien. Bahasa tubuh mereka sama: Tegap, waspada, tertutup.
Arya merasa sakit hati, cemburu, dan takut. Ia melihat anaknya, anak yang ia rawat dari bayi, sekarang lebih nyaman, lebih tenang, lebih percaya pada seorang pembunuh berdarah dingin daripada pada ayah kandung (angkat)nya sendiri. Ia melihat Sari Dewi menyerap setiap kata, setiap gerakan Raga seperti spons. Ia melihat anaknya berubah. Dan ia tahu... dialah penyebabnya.
Naya menyandarkan kepalanya ke bahu suaminya, tapi matanya terbuka lebar, menatap kegelapan. Ia mendengar suara-suara samar dari luar. Suara angin? Atau suara langkah kaki?
"Raga..." bisik Naya gemetar. "Aku dengar sesuatu."
Semua orang langsung diam.
Raga mengangkat tangan, memberi isyarat diam. Gerakan kepalanya sedikit miring, telinganya menangkap frekuensi suara yang hampir tak terdengar.
Krak... krak...
Suara ranting patah. Di luar. Jauh, tapi mendekat. Bukan suara hewan. Hewan di sini sudah lari atau mati. Ini suara berat. Suara sepatu tempur.
"Mereka di sini," bisik Raga. Wajahnya tak berubah, tapi matanya menyala, pupilnya membesar, adrenalin militer lama mengalir deras di pembuluh darahnya. "Mereka lebih cepat dari perkiraanku. Mereka tidak takut lagi. Atau... mereka punya alasan kuat untuk berani."
"Berapa orang?" tanya Arya, tangannya langsung mencengkeram gagang pisau kombatnya, jantungnya berdegup kencang. Insting ayahnya bangkit, rasa bersalahnya tergantikan oleh rasa takut kehilangan.
"Enam... mungkin delapan. Bergerak dalam formasi penyapu. Mereka tahu kita ada di sini. Mereka mengepung gedung ini," jawab Raga cepat. Ia menoleh ke Sari Dewi. "Sari. Ke ruang bawah tanah. Sekarang. Jangan keluar sampai aku panggil."
Untuk pertama kalinya dalam tiga hari ini, Sari Dewi tidak langsung patuh. Ia tidak bergerak. Ia duduk tegak, matanya menatap Raga lurus-lurus, tidak takut, tidak ragu.
"Tidak," jawab Sari singkat, tegas.
Raga mengerutkan kening, terkejut. "Sari, ini bukan main-main. Ini pasukan elit. Mereka membunuh tanpa ampun. Kamu anak kecil, kamu tidak bisa lawan mereka."
Sari Dewi berdiri perlahan. Ia mengambil pisau tulang rusa pemberian Raga dari pinggangnya, membuka bilahnya, lalu mengambil pistol revolver tua itu dari tangan Raga. Ia memeriksa peluru di dalamnya—5 butir. Ia memutar silindernya. Klik... klik... Gerakan yang baru saja ia pelajari 10 menit lalu, tapi dilakukan dengan presisi dan ketenangan yang mengerikan.
"Kamu bilang tadi, kan Paman?" suara Sari Dewi tenang, jernih, terdengar di seluruh ruangan hening itu. "Kamu bilang, di dunia ini, kita tidak bisa bergantung pada orang lain. Kamu bilang aku harus pegang kendali hidupku sendiri. Kamu bilang aku bukan anak kecil lagi. Jadi jangan perlakukan aku seperti anak kecil saat pertempuran dimulai."
Ia menatap Arya dan Naya sekilas. Tatapannya dingin, datar, tanpa emosi.
"Ayah dan Bunda bisa lari ke bawah kalau mau. Aku tidak akan. Aku bukan lagi beban yang harus kalian sembunyikan. Aku bagian dari tim ini. Aku bagian dari pertarungan ini. Kalau mereka mau ambil aku... mereka harus lewat mayatku dulu."
"SARI!!!" Arya meledak, tidak tahan lagi. Ia melompat berdiri, maju mendekati putrinya, wajahnya merah padam campur marah dan panik. "Kamu gila?! Kamu baru 13 tahun! Kamu anak perempuan! Tugasmu itu belajar, main, sekolah, bukan pegang senjata, bukan bunuh orang! Serahkan itu pada kami! Serahkan pada orang dewasa!"
Sari Dewi tidak mundur satu inci pun. Ia tidak terintimidasi oleh kemarahan ayahnya. Ia mengangkat dagunya, menatap Arya setingkat mata, matanya yang cokelat madu kini gelap total, seperti kolam tanpa dasar.
"Dan siapa 'orang dewasa' itu, Ayah?" tanya Sari Dewi, suaranya rendah, tajam, penuh sarkasme dingin yang menusuk tulang. "Kamu? Orang yang kemarin bilang aku benih iblis? Orang yang jijik sama darahku? Orang yang takut sama bayanganku? Kamu mau lindungi aku, Ayah, tapi kamu bahkan tidak sanggup lihat aku di mata tanpa merasa mual. Bagaimana kamu mau lindungi aku dari pembunuh profesional kalau kamu saja takut sama aku?"
Kalimat itu menghantam Arya seperti palu godam di dada. Ia terhenyak mundur, napasnya tercekat, wajahnya pucat. Kata-kata itu benar. Sangat benar. Dan sangat menyakitkan.
"Aku tidak percaya padamu lagi, Ayah," lanjut Sari Dewi tanpa ampun, jujur sampai kejam. "Dulu, aku pikir kamu pahlawan. Aku pikir kamu orang terkuat, terhebat, paling benar di dunia. Ternyata kamu lemah. Kamu lemah karena kamu terlalu banyak perasaan, terlalu banyak aturan, terlalu banyak rasa takut. Dan aku tidak bisa bergantung pada orang lemah. Aku tidak mau mati karena orang yang seharusnya lindungi aku malah ragu, malah takut, malah khawatir soal moral atau perasaan."
Ia berbalik memunggungi Arya, seolah pria itu tidak lagi berharga sedikitpun di matanya. Ia menatap Raga.
"Ajari aku cara bunuh dengan cepat, Paman. Sekarang."
Keheningan mencekam menyelimuti ruangan. Arya berdiri kaku, hancur lebur, dikucilkan, diasingkan oleh anaknya sendiri. Naya menutup mulutnya dengan tangan, menahan isak tangis yang pecah, menyadari bahwa putrinya benar: Mereka sudah kehilangan haknya atas Sari Dewi.
Raga menatap keponakannya lama. Ia melihat tekad baja. Ia melihat kematian kepolosan. Ia melihat kelahiran sesuatu yang baru, tajam, dan berbahaya. Sebagian dirinya sedih—sedih karena gadis kecil manis itu mati. Tapi sebagian besar dirinya bangga. Sangat bangga. Karena ia melihat dirinya. Ia melihat pewaris sejati.
"Baik," gumam Raga pelan. "Dengar baik-baik. Jangan pikir. Jangan merasa. Jangan ragu. Kalau ragu, kau mati. Sasaranmu adalah titik buta: Mata, tenggorokan, jantung, atau selangkangan. Cepat. Hanya satu tembakan. Hemat peluru. Dan ingat: Mereka datang untuk membunuh kami, untuk menyiksa kami, untuk membawamu kembali ke neraka. Mereka bukan manusia baik. Mereka binatang. Dan binatang dibunuh, bukan dikasihani."
Di luar, suara langkah kaki makin dekat. Suara logam beradu. Kling... kling... Mereka sudah di halaman depan.
"Posisi!" perintah Raga.
Raga mengambil posisi di belakang jendela depan, menutupi sebagian besar akses masuk.
Arya, dengan hati berat dan tangan gemetar, terpaksa mengambil posisi di pintu samping, jauh dari Sari.
Naya bersembunyi di balik tumpukan balok kayu di tengah ruangan, tangan gemetar memegang pisau kecil.
Dan Sari Dewi... ia memilih posisi paling berbahaya: Di tangga lantai dua, di atas, di tempat gelap yang sulit terlihat, sudut pandang yang sempurna untuk menembak atau melompat turun. Ia berjongkok di balik pagar besi berkarat, tubuhnya kecil tersembunyi di bayangan, hanya matanya yang bersinar terang, mengawasi pintu depan besar itu.
DUM!!! DUM!!!
Pintu depan besi tua itu ditendang dari luar, terbuka dengan keras, menghantam dinding batu, menimbulkan suara gemuruh yang memekakkan telinga.
Cahaya senter putih menyilaukan langsung menerobos masuk, menyapu ruangan, bergerak liar mencari sasaran.
"MUNDUR! KELUAR! KAMI TAU KALIAN DI SINI!" teriak suara kasar dari luar. Bahasa Indonesia kaku, aksen asing.
Lima orang pria berseragam hitam, bertopeng, bersenjata senapan serbu, masuk satu per satu, bergerak cepat, terlatih, menutupi satu sama lain. Mata mereka tajam, dingin, tanpa belas kasihan. Ini bukan polisi. Ini pembunuh bayaran profesional. Pasukan bayaran yang disewa mahal.
Mereka menyapu lantai dasar, maju perlahan.
Raga menunggu. Ia tidak menembak. Ia tahu aturan perang kota: Biarkan musuh masuk jauh, biarkan mereka menyebar, biarkan mereka lengah.
Salah satu pasukan itu, pria besar berotot dengan bekas luka di pipi kiri, berjalan mendekati tangga. Ia mengangkat senternya ke atas, mengarahkan cahaya ke kegelapan lantai dua.
"Di atas aman!" teriaknya pada rekannya, hendak naik tangga.
Sari Dewi di atas sana menahan napas. Jantungnya berdegup kencang, begitu kencang sampai ia bisa mendengarnya di telinganya sendiri. Telapak tangannya basah keringat dingin. Perutnya mual. Otaknya berteriak: Lari! Sembunyi! Jangan lakukan ini! Ini manusia!
Tapi di sisi lain otaknya, suara Raga, suara Andri, suara Arya, semuanya bercampur jadi satu perintah dingin: HIDUP ATAU MATI.
Ia melihat wajah pria itu. Wajah kasar, kejam, mata jahat. Ia membayangkan wajah Andri di balik topeng itu. Ia membayangkan pria ini akan membunuh Raga. Ia membayangkan pria ini akan membunuh Ayah dan Bundanya. Ia membayangkan pria ini akan menyeretnya kembali ke neraka.
Pria itu naik tangga. Satu langkah. Dua langkah. Tiga langkah. Sekarang jaraknya hanya dua meter dari tempat persembunyian Sari.
Sari Dewi mengangkat pistol revolver itu. Tangan kecilnya gemetar hebat. Lengan bawahnya sakit karena tegang. Ia mengarahkan moncong dingin itu tepat ke dada kiri pria itu, tepat di bawah pelindung dada, celah baju zirah.
Pria itu melihat gerakan samar di kegelapan. Matanya membelalak kaget. Mulutnya terbuka hendak berteriak peringatan.
"ADA—!!!"
DORRRR!!!
Suara ledakan tembakan memecah kesunyian malam, bergema mengerikan di dalam ruangan tertutup itu, telinga berdenging hebat, asap mesiu putih mengepul keluar dari laras pistol tua itu.
Peluru kaliber besar menembus udara, menembus celah baju, menembus daging, tulang, dan jantung.
Pria besar itu tersentak mundur, tubuhnya melengkung ke belakang, matanya melotot tak percaya, mulutnya menyemburkan busa darah merah segar. Ia terhuyung, lalu jatuh terguling menuruni tangga, berguling sampai ke lantai dasar dengan bunyi BRUK! yang berat, berhenti diam, genangan darah mulai melebar di bawah tubuhnya.
Hening.
Total hening.
Sari Dewi masih berjongkok di atas sana, tangan kanannya masih terulur memegang pistol yang masih berasap. Tangannya berhenti gemetar. Tiba-tiba saja, tubuhnya mati rasa. Dingin. Kosong.
Ia melihat mayat pria itu di bawah sana. Ia melihat darah merah cerah mengalir di batu abu-abu. Ia melihat mata pria itu yang terbuka lebar, kosong, menatap langit-langit.
Ia baru saja membunuh.
Ia baru saja mengambil nyawa manusia. Pertama kalinya.
Dan anehnya... rasa mual itu hilang. Rasa bersalah itu tidak datang. Rasa takut itu lenyap.
Yang ia rasakan hanyalah: Kekuasaan.
Rasa kontrol mutlak atas hidup dan mati makhluk lain. Rasa superioritas. Rasa bahwa AKU yang memegang kendali, bukan dia. AKU yang menentukan, bukan dia.
Dan di saat yang sama, rasa sakit di hatinya, rasa sakit karena ditolak orang tuanya, rasa sakit karena masa lalu, rasa sakit karena menjadi anak dosa... semuanya teredam. Teralihkan oleh ledakan adrenalin murni dan rasa puas yang gelap.
"TERSERANG!!!" teriak pasukan lain, kaget, panik, langsung menembak sembarangan ke arah tangga. DOR! DOR! DOR! Peluru menghantam pagar besi, serpihan logam beterbangan, menciptakan percikan api.
"KEKANAN! LINDUNGI SISI KANAN!" teriak Raga, langsung menembak balik dari jendela depan. DOR DOR! Dua pasukan jatuh tersungkur.
Pertempuran meledak total. Suara tembakan, teriakan, pecahan kaca, dan bau mesiu memenuhi udara.
Arya bergerak, bertempur secara refleks, insting tempurnya bangkit, tapi matanya terus melirik ke atas tangga. Ia melihat putrinya. Ia melihat Sari Dewi.
Ia melihat gadis 13 tahun itu tidak bersembunyi. Ia melihat gadis itu tidak menangis. Ia melihat gadis itu, dengan wajah pucat tapi tenang, sangat tenang, memuat kembali peluru ke pistolnya dengan gerakan halus, cepat, dan terlatih, lalu mengintai sasaran berikutnya.
Ia melihat matanya.
Mata itu.
Mata yang dulu manis, polos, dan penuh cinta. Sekarang mata itu hitam legam, tajam, dan kosong. Mata itu bukan mata manusia biasa. Mata itu adalah mata predator. Mata itu adalah mata Andri Andalan.
Dan untuk pertama kalinya, Arya tidak salah. Ia tidak berhalusinasi. Ia melihatnya dengan jelas, nyata, di depannya sendiri
Sari Dewi memiliki sisi gelap itu. Sisi pembunuh. Sisi dingin. Sisi jahat. Gen itu nyata. Dan baru saja, di detik ia menarik pelatuk itu, sisi itu bangun, terbangun, dan mengambil alih.
"Sari!!!" jerit hati Arya, tapi mulutnya terkunci, tercekik rasa ngeri yang paling mendalam.
Di atas sana, Sari Dewi menemukan sasaran baru: Seorang pasukan yang sedang membidik Raga dari belakang. Tanpa ragu, tanpa pikir panjang, jari kecilnya menarik pelatuk lagi.
DOR!
Tepat di leher. Pasukan itu jatuh, darah menyembur deras.
"MATI KAU!!!" raung Sari Dewi pelan, suara rendah, serak, penuh kemarahan yang tertumpah selama bertahun-tahun. "MATI! MATI! MATI SEMUA!!!"
Ia menembak lagi, lagi, dan lagi sampai peluru habis, menembak musuh, menembak bayangan, menembak rasa sakitnya sendiri, menembak kenangan buruknya, menembak cinta yang ditolaknya. Ia melepaskan segalanya lewat ujung logam dingin itu.
Dalam 5 menit, pertempuran berakhir.
Darah membanjiri lantai batu. Bau besi amis dan mesiu menyengat hidung. Dari delapan pasukan elit Andri, tujuh tergeletak diam di lantai, mati. Satu berhasil kabur, terluka parah, berteriak histeris ketakutan, lari keluar ke kegelapan malam, meninggalkan rekannya.
Dia bukan lari dari Raga. Dia bukan lari dari Arya.
Dia lari dari Setan Kecil di Atas Tangga.
Keheningan kembali. Kali ini lebih berat, lebih tebal, lebih gelap dari sebelumnya.
Asap perlahan menghilang.
Sari Dewi turun dari tangga. Langkahnya lambat, berat. Pistol kosong masih tergenggam erat di tangan kanannya, tangan yang kini basah terkena percikan darah musuh. Darah merah, hangat, lengket.
Ia berjalan melewati mayat-mayat itu, melewati genangan darah, menuruni tangga satu per satu. Wajahnya pucat seperti kertas, matanya kosong, tatapannya fokus ke depan, tidak melihat ke kiri atau kanan.
Ia berhenti tepat di depan Arya dan Naya.
Di hadapan mereka berdiri bukan lagi anak kecil. Di hadapan mereka berdiri seorang pejuang. Seorang pembunuh. Seorang makhluk yang terlahir kembali lewat api dan darah.
Naya menatap anaknya, matanya melotot lebar, mulutnya terbuka diam, tubuhnya gemetar hebat, mundur selangkah secara naluriah, ketakutan. Ia takut. Ia takut pada darah dagingnya sendiri.
Arya berdiri beku. Ia melihat darah di tangan putrinya. Ia melihat ekspresi wajah yang sama persis dengan wajah Andri saat ia menikmati rasa sakit orang lain. Ia melihat monster yang ia sendiri yang bantu ciptakan.
"Kau lihat, Ayah?" suara Sari Dewi terdengar parau, serak, asing. Suara gadis itu pecah, tapi bukan karena menangis. Pecah karena keras. Pecah karena tua.
Ia mengangkat tangan kanannya yang berlumuran darah merah cerah, menunjuk ke arah wajah ayahnya.
"Kau benar. Kau benar semua. Aku memang seperti dia. Aku memang darahnya. Aku memang benih iblis. Karena saat aku tarik pelatuk itu... saat aku lihat darah keluar... saat aku lihat nyawa mereka hilang..."
Sari Dewi tersenyum.
Senyum kecil, tipis, miring ke kanan. Senyum yang tidak sampai ke mata. Senyum yang dingin, tajam, dan sedikit gila.
"...aku senang. Aku merasa hidup. Aku merasa kuat. Aku merasa benar-benar jadi diriku sendiri."
Kalimat itu jatuh seperti batu besar ke dalam sumur kosong.
Arya merosot jatuh berlutut di lantai berdarah itu. Ia menangis. Bukan tangisan sedih. Tangisan keputusasaan murni. Ia kalah. Ia kalah telak. Ia kalah dari genetika. Ia kalah dari takdir. Ia kalah dari dirinya sendiri.
Ia baru saja kehilangan putrinya. Dan digantikan oleh makhluk yang ia paling takuti di dunia ini.
Raga berjalan mendekati Sari Dewi. Ia tidak mundur. Ia tidak takut. Ia tidak jijik.
Raga mengangkat tangan kanannya sendiri, tangan besarnya yang juga penuh darah musuh, lalu menempelkan telapak tangannya ke telapak tangan kecil Sari Dewi yang berdarah juga. Darah mereka bercampur jadi satu, merah pekat, menyatu.
"Selamat datang di dunia nyata, Sari," bisik Raga pelan, bangga, penuh hormat. "Selamat datang di sisi gelap. Di sini, tidak ada yang bisa menyakiti kamu lagi. Karena di sini... kamulah yang paling menakutkan."
Sari Dewi menatap pamannya. Untuk pertama kalinya, ia merasa benar-benar, mutlak, 100% pulang.
Di luar gedung, di balik pohon-pohon gelap, Andri Andalan mendengar laporan dari satu-satunya pasukan yang lolos hidup-hidup. Pria itu tergopoh-gopoh, terluka, gemetar ketakutan, menceritakan apa yang ia lihat: Gadis kecil bermata iblis yang menembak dengan presisi dingin, yang tersenyum saat membunuh.
Andri Andalan mendengarkan, lalu perlahan, senyum terindah, paling bahagia, dan paling jahat mekar di wajah penuh parutnya. Air mata bahagia menetes dari matanya yang satu.
"Anakku..." bisik Andri, suara penuh cinta gila. "Dia bangun. Iblis kecilku akhirnya bangun. Terima kasih, Arya. Terima kasih sudah memecah hatinya. Terima kasih sudah mendorongnya. Sekarang... dia milikku sepenuhnya."
Malam itu, di kota mati yang berbau darah besi, lahirlah legenda baru.
Lahirnya SARI DEWI: SANG PEWARIS DARAH MERAH.