"Aku akan menanggung semua kebencian di dunia ini sendirian."
Kalimat itu lahir saat dadamu ditembus cahaya.
Duniaku runtuh seketika tanpa suara,
Meninggalkan kepal tangan yang mengutuk semesta.
Kau adalah detak jantung dari raga yang pincang,
Satu-satunya alasan bagi sepasang kaki untuk pulang.
Kini, kau terbujur kaku di bawah langit yang menghitam,
Membuat seluruh kenyataan ini tak lagi berarti untuk dipandang.
Dunia yang membiarkanmu mati adalah dunia yang salah,
Maka biarlah sejarah kukoyak hingga menyerah.
Aku akan membangun surga di atas puing yang bersimbah,
Tempat di mana bayangmu tak akan pernah lagi berdarah.
Dunia sihir ini tidak akan bisa dihancurkan hanya dengan kegelapan yang ada di dalamnya. Sebelum mencapai tahap kedua di mana dunia terbebas dari siklus kebencian, seseorang harus menjadi target bagi dunia.
"Seseorang harus memikul semua rasa sakit dan dendam itu sendirian, dan akulah orangnya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ilfar Aksara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 7 - Kembali ke Akademi
Matahari baru saja terbit, namun pelataran Akademi Sihir Flameheart sudah berdengung. Ashura pun memulai kegiatannya di akademi. Di depannya, Kepala Akademi bernama Merlin Migesta sedang mengajarkan cara mengontrol mana dan menguasai sihir tingkat dasar.
"Konsentrasi bukan tentang melepaskan mana dan mengeluarkannya dalam jumlah besar," suara Merlin Migesta saat menjelaskan materi.
"Jika kau memperlakukan mana seperti air dalam bendungan, dia hanya akan menghancurkanmu saat jebol. Jadikan dia aliran sungai dan biarkan mengalir seperti air."
"Kepala Akademi, jika aku dapat mengontrol mana, apa aku bisa berjalan di atas air dan terbang?" Saga bertanya.
"Aku ingin terbang seperti burung di atas sana."
"Kau sangat konyol, Saga. Bukan itu saja jika kita dapat mengontrol mana, maka kita dapat berjalan di atas api dan lava seperti kakekku!" sahut anak yang seumuran dengan Saga.
"Jean, kau akan menjadi ayam panggang jika berjalan di atas lava!! Hahaha!" sahut Saga.
Di belakang mereka berdua terlihat anak yang seumuran dengan mereka dan terlihat menghela nafas.
"Kalian berdua terlalu berisik! Biarkan Kepala Akademi menjelaskan!" ujar anak yang bernama Vulca Flammifer.
"Vulca, seperti biasa kau terlihat tidak bersemangat. Kau menyia-nyiakan energi masa mudamu," ujar anak bernama Jean Fervorock.
"Jam kedua kita akan berlatih di lapangan. Sekarang istirahat dan gunakan waktu kalian dengan baik," ujar Merlin Migesta sebelum tubuhnya yang sedang mengajar menjadi asap dan menghilang.
"Kepala Akademi mengajari kita menggunakan klon!" ujar Saga.
"Wanita itu suka pamer," celetuk Vulca.
Sementara itu Ashura keluar kelas dan langsung menuju lapangan, karena pelajaran kelas yang akan dia pelajari adalah kelemahan terbesarnya saat melawan Kaira.
"Selanjutnya aku akan menang, Kaira!" ujar Ashura.
Saat Ashura menuju halaman belakang akademi, ia melihat seorang gadis yang lebih tua darinya sedang bersama Serlin dan membicarakan sesuatu.
"Kakak Serlin, aku dengar anak itu sekolah di akademi. Aku ingin bertemu dengannya," ujar gadis muda berumur 14 tahun.
"Tenang, tenang, Eleana. Aku rasa Ashura hari ini tidak masuk. Aku berharap dia kembali ke akademi." Serlin terlihat kewalahan karena gadis bernama Eleana terlihat sangat memaksa.
Saat keduanya mengobrol, Ashura lewat di depan mereka dan pura-pura tidak peduli dan itu disadari Serlin yang langsung menarik lengannya.
"Ashura! Ternyata kamu kembali!"
"Oh, jadi dia ya Ashura?" Eleana menatap Ashura dan mengingat dirinya pernah bertemu di akademi saat menabrak anak itu.
Ashura pun mengingat Eleana dan ingin cepat-cepat pergi, tetapi Eleana menantangnya bertarung.
"Ashura, bertarunglah denganku! Aku dengar kau bertarung melawan Yang Mulia Leywin!" ujar Eleana kepada Ashura.
"Eleana, bagaimanapun dia lebih muda darimu dan baru bergabung ke akademi." Serlin hendak mencegah, namun Ashura menerima tantangannya.
"Baiklah, jadi kita akan bertarung dimana?" ujar Ashura yang mengalihkan pandangannya saat melihat wajah Eleana.
"Disini sekarang juga!" tegas Eleana.
"Disini? Kau bicara seenaknya! Nanti aku dimarahi Ibuku tahu!" ujar Serlin mencoba menenangkan Eleana.
"Baiklah."
Ashura menerima tantangan Eleana dan mengingat saran dari Eter dan Vipera, jika dirinya tidak diperbolehkan menggunakan sihir es sampai bisa menguasai mana.
Sekarang Ashura tidak dalam kondisi prima nya, Eter dan Vipera menyegel sebagian mana nya, sehingga Ashura tidak dapat menggunakan sihir es.
Namun Ashura dapat menggunakan mana untuk pertahanan dirinya sendiri.
"Tunjukkan padaku, jika kau layak, Ashura!" ujar Eleana sebelum menciptakan pedang api ditangannya.
Ashura melihat apa yang dilakukan Eleana dan merasa bisa melakukannya, namun ia takut jika kekuatannya lepas kendali sehingga Ashura mengurungkan niatnya.
"Baiklah, pertarungan dimulai!" ujar Serlin dan asap tebal pun mengepul di halaman belakang akademi.
"Siapa yang mengizinkan kalian bertarung di sini?!"
Merlin Migesta muncul dibelakang Serlin dan membuat mereka bertiga terkejut, Merlin langsung meniup tangan kanannya yang mengepal dan melepaskan hantaman tepat di kepala Serlin.
"Aw! Sakit Bu!" rengek Serlin sambil memegang kepalanya dan bergerak menjauh.
"Eleana, Ashura, tidak ada pertarungan di akademi!" Merlin Migesta menatap keduanya tegas.
"Dan, Eleana, bukankah kau sedang ada misi?"
Eleana memucat wajahnya, tak lama lelaki yang seumuran dengan Eleana datang bersama murid-murid akademi yang mengerubungi nya.
"Eleana kita mendapatkan misi! Cepat bergegas! Hawk sedang menunggu!" ujar lelaki itu.
"Vail, apa kau menggoda murid-murid akademi?" ujar Eleana yang terlihat cemburu.
Lelaki bernama Vail mengelak, "Aku tidak melakukan apapun dan mereka sendiri yang mengikutiku."
"Tuan Vail, jika aku menjadi Penyihir Tingkat Sky, aku akan menjadi bawahanmu!"
"Aku juga, Tuan Vail!"
Lelaki bernama Vail cukup populer di Kerajaan Flameheart karena telah menjadi Penyihir Tingkat Emperor di usianya yang begitu muda.
Setelah kepergian Eleana dan Vail, Merlin Migesta memarahi Serlin karena membiarkan Eleana dan Ashura bertarung.
"Ashura, kita lanjutkan pelajaran yang sempat tertunda di lapangan."
Ashura pun kembali mengikuti pelajaran dan siang itu Ashura belajar cara mengontrol mana lebih lanjut.
Berbeda dengan yang diajarkan Serlin, penjelasan dari Merlin lebih mudah dimengerti.
Namun untuk menguasainya, Ashura butuh waktu karena ia takut tidak dapat mengendalikan kekuatannya seperti yang terjadi di Hutan Sihir Emberhold.
Ditengah kegiatan itu, Ashura tersenyum hangat karena mengingat Kakak perempuannya yang telah tiada. Sosok Eleana mengingatkannya pada sosok yang telah tiada, perasaan itu membuat Ashura hanyut dalam kenangan pahit dimasa lalu.
Saat Ashura larut dalam lamunannya, ia melihat Saga yang terlihat dapat mencerna penjelasan Merlin Migesta dalam pelajaran ini.
"Sial, dia berkembang sejauh itu!"
Ashura terkejut saat mendengar Ark mengumpat dan melihat Saga penuh rasa persaingan.
"Bagus, Saga, kau terlihat memahami penjelasanku. Lakukan seperti Saga. Jangan bentuk apinya dengan pikiranmu," ujar Merlin Migesta sambil mengamati aliran mana Saga yang mulai terlihat stabil.
"Rasakan panas di dadamu, biarkan ia mengalir seperti darah, lalu lepaskan tanpa ragu!"
Selesai Merlin Migesta menjelaskan, Saga mendorong telapak tangannya ke depan. Disampingnya terlihat seorang anak perempuan tersenyum dan berteriak keras.
"Ignis Flare!"
Berbeda dengan Saga yang mengeluarkan bola api kecil seperti murid lainnya, anak perempuan itu mengeluarkan melepaskan ledakan api besar yang menghanguskan boneka jerami yang menjadi target.
"Sepertinya ada jenius yang lain disini..." Merlin Migesta tersenyum melihat anak perempuan disamping Saga yang bernama Jennie Fervorock.
"Bagaimana bisa sihirmu lebih besar dariku?!" teriak Saga yang tidak terima.
"Aku sudah sering melatih sihir ini dan mengontrol mana dengan Kakekku! Tentu saja ini hal yang mudah!" ujar anak perempuan bernama Jennie Fervorock yang terlihat menyombongkan kemampuannya dihadapan Saga.
"Baiklah, sepertinya banyak yang berhasil. Kalian bisa pulang, untuk Ark dan Ashura, kalian berdua lanjut berlatih."
"Apa?!"
Ashura dan Ark terkejut, karena mereka berdua yang belum bisa mengontrol mana.
"Kepala Akademi, aku juga akan berlatih! Aku tidak terima diriku ini kalah dengan Ark!" ujar Saga kepada Merlin Migesta.
"Tidak boleh, sebaiknya kau pulang Saga!" ujar Merlin Migesta kepada Saga.
"Tidak, aku tidak ingin pulang. Lagian di rumah tidak ada satupun orang yang menungguku. Lebih baik aku berlatih disini."
Saga duduk disamping Ashura dan Ark menghiraukan teguran Merlin Migesta.
"Baiklah, aku akan mengawasi kalian bertiga!"
Merlin Migesta tersenyum saat melihat sikap Saga karena itu mengingatkannya pada kenalan lamanya yang telah tiada.
Hari itu Ashura, Ark dan Saga kembali berlatih dibawah asuhan Merlin Migesta. Takdir bergerak, baik Ashura, Ark ataupun Saga tidak menyadari jika momen kecil ini tidak akan pernah kembali di masa depan.