"Hubungan yang berawal dari reuni kecil itu tumbuh begitu cepat, seolah waktu ingin mengejar ketertinggalan mereka selama di SMA. Arman adalah sosok kekasih yang penuh perhatian. Dia tahu kapan Kanaya sedang lelah hanya dari nada suaranya, dan dia selalu punya cara untuk membuat Kanaya merasa dihargai.
Bagi Kanaya, Arman adalah pelabuhan yang aman. Begitu pula bagi Arman, ketulusan dan kemandirian Kanaya adalah hal yang tidak bisa ia temukan pada perempuan lain."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dua pasang mata
Setelah puas mengobrol dan mencatat penjelasan awal dari Pak Anwar di dapur produksi, pria paruh baya itu menawarkan diri untuk menunjukkan proses yang paling hulu.
"Kebetulan di kebun belakang rumah Bapak ada pohon aren yang bumbungnya baru mau diganti untuk penampungan sore. Mari, sekalian ikut biar tahu bagaimana air nira itu disadap dari atas pohon," ajak Pak Anwar ramah sembari mengambil beberapa bumbung bambu kosong yang bersih.
Dua belas mahasiswa itu pun berjalan mengekor di belakang Pak Anwar menuju area kebun yang terletak agak masuk ke dalam. Jalanan setapak di kebun itu dipenuhi rimbunnya dedaunan, permukaan tanahnya agak basah dan licin karena tertutup embun serta bayang-bayang pohon yang rapat.
Kanaya berjalan sangat berhati-hati, memegang erat tali tas selempangnya dengan tangan kiri. Pandangannya lurus ke depan, memperhatikan Pak Anwar yang mulai menjelaskan cara mengetuk lengan bunga aren sebelum dipotong dan dipasang bumbung bambu sebagai tempat menampung tetesan air nira.
Di barisan depan, Clarissa masih setia berada di dekat Wisnu. Namun, Wisnu sendiri tampak kurang fokus. Matanya beberapa kali melirik ke arah belakang, memastikan langkah Kanaya aman melewati jalanan kebun yang licin itu. Keacuhan Kanaya saat makan siang tadi benar-benar mengusik pikirannya.
"Jadi, air nira yang menetes dari potongan lengan bunga ini ditampung semalaman di dalam bumbung bambu ini, Dek," jelas Pak Anwar sambil menepuk pohon aren yang cukup tinggi di hadapan mereka. "Satu pohon ini bisa menghasilkan beberapa liter. Kalau terlambat diambil, airnya bisa langsung masam dan tidak bisa dipakai lagi untuk membuat gula aren."
Mely dan Lisa langsung mengangguk-angguk paham, kembali mencatat informasi berharga itu.
Saat kelompok mereka bergerak lebih dekat untuk melihat bumbung bambu yang sedang terpasang di salah satu pohon, jalur setapak yang dilewati semakin menyempit dan agak menurun. Kanaya sempat salah menapakkan kakinya di atas tanah yang gembur dan licin. Tubuhnya agak limbung ke kanan, dan plester di jari manisnya mendadak terasa sedikit berdenyut karena refleks tangannya yang menegang mencari keseimbangan.
Sebelum Kanaya sempat terpekik atau jatuh, sebuah tangan dengan sigap langsung mencengkeram lengan atasnya dengan kokoh dari arah belakang.
"Hati-hati, Nay. Jalannya licin," bisik sebuah suara berat yang sangat familiar di telinganya.
Kanaya menoleh dan mendapati Arman sudah berdiri di sampingnya, menahan tubuhnya agar tidak tergelincir. Sentuhan itu terasa begitu hangat dan protektif, persis seperti cara Arman menjaganya di masa lalu. Kanaya tertegun sejenak, menatap mata Arman yang sarat akan kekhawatiran yang tulus.
"Makasih," ucap Kanaya lirih sembari dengan halus menarik lengannya kembali begitu keseimbangannya sudah pulih. Ia melemparkan senyum tipis yang sarat akan rasa sungkan, lalu segera memalingkan wajah ke arah pohon aren, mencoba menyembunyikan debar jantungnya yang mendadak tidak beraturan.
Arman mengangguk pelan, perlahan menurunkan tangannya kembali ke sisi tubuh. "Iya, jalannya pelan-pelan aja," balasnya dengan suara rendah yang hanya bisa didengar oleh mereka berdua.
Momen singkat yang sarat akan ketegangan batin itu ternyata tidak luput dari pandangan Wisnu.
Sang ketua kelompok, yang sejak tadi berjalan di barisan depan, kebetulan sedang menoleh ke belakang untuk memastikan seluruh anggotanya tidak ada yang tertinggal. Langkah Wisnu mendadak terhenti di tempat. Matanya menyipit, menatap lurus ke arah tangan Arman yang baru saja terlepas dari lengan Kanaya, serta bagaimana cara Arman menatap Kanaya dengan pandangan yang jauh dari kesan sekadar 'teman satu kelompok KKN'.
Ada rasa tidak nyaman yang tiba-tiba mencuat di dada Wisnu. Perubahan sikap Kanaya yang mendadak dingin kepadanya sejak siang tadi, ditambah kedekatan diam-diam antara Kanaya dan Arman, mulai memicu tanda tanya besar di kepalanya.
"Nu, kenapa berhenti? Ayo lanjut ke pohon yang sebelah sana," teguran Clarissa di sampingnya seketika membuyarkan lamunan Wisnu.
Wisnu berdeham kaku, mencoba menguasai kembali ekspresi wajahnya. "Oh, iya, Clar. Yuk," sahutnya pelan, meski pikirannya kini sudah tidak lagi fokus pada penjelasan Pak Anwar tentang air nira, melainkan tertuju sepenuhnya pada teka-teki hubungan antara Kanaya dan Arman.