Akira Ren hidup dalam dua dunia yang berbeda. Di sekolah, ia adalah siswa kelas 12 yang tampak acuh tak acuh dan sering membolos. Namun di balik pintu dapur restoran bintang lima "Ren’s Cuisine", ia adalah koki jenius yang mewarisi ketajaman rasa ayahnya dan ketangguhan fisik ibunya, seorang mantan atlet bela diri dunia.
Ren hanya ingin menjalani masa mudanya dengan tenang tanpa sorotan. Namun, takdir berkata lain saat satu per satu wanita di hidupnya—mulai dari guru matematika yang kaku hingga teman masa kecil yang kompetitif—mulai melihat celah di balik topengnya. Dengan bantuan "Insting" yang tajam (Sistem), Ren harus menyeimbangkan antara ambisi kuliner, janji masa lalu, dan perasaan tulus yang mulai tumbuh. Ini bukan sekadar cerita tentang memasak; ini adalah tentang bagaimana sebuah rasa bisa menyatukan masa depan yang retak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RavMoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27.Keberangkatan Menuju Ibu Kota
Pagi itu, Stasiun Kota Karasu diselimuti kabut tipis yang membawa aroma garam dari pelabuhan terdekat. Suara peluit kereta api yang melengking panjang memecah kesunyian, menciptakan getaran di peron beton yang mulai dipadati calon penumpang. Di tengah hiruk-pikuk itu, sekelompok kecil orang berdiri mematung di depan gerbong kelas eksekutif.
Ren berdiri tegak, mengenakan jaket hitam panjang yang menutupi ranselnya. Di tangan kanannya, ia menggenggam tas kulit memanjang—tempat penyimpanan Seruni Hitam yang kini tak pernah lepas dari jangkauannya. Wajahnya tetap tenang, namun matanya yang tajam terus menyisir setiap sudut stasiun, mencari bayangan mencurigakan yang mungkin dikirim oleh Asuka Group.
Hana berdiri tepat di sampingnya, mengenakan syal rajut berwarna krem yang menutupi sebagian wajahnya dari udara dingin. Ia tampak gelisah, jemarinya terus memilin ujung lengan jaket Ren.
"Ren, apa kita benar-benar harus pergi sekarang?" bisik Hana. Suaranya sedikit serak, sisa dari perdebatan panjang mereka semalam tentang risiko yang akan mereka hadapi. "Rasanya baru kemarin kita merayakan kemenangan di restoran, dan sekarang kita menuju pusat sarang lebah."
Ren menoleh, menatap Hana. Ia menyadari gurat kecemasan di wajah gadis itu. Perlahan, Ren melepaskan satu tangannya dari tas pisau dan menepuk puncak kepala Hana dengan gerakan yang sangat canggung namun tulus.
"Kota Karasu sudah terlalu kecil untuk apa yang harus kita selesaikan, Hana," ucap Ren pelan. "Kalau kita tetap di sini, mereka yang akan datang kemari dan menghancurkan segalanya. Kita harus menjemput badai itu di tempat asalnya."
Yuki mendekat bersama Bu Keiko. Yuki membawa koper besar berisi peralatan riset dan beberapa bahan kering yang mereka siapkan dari hutan Karasu. "Semua persiapan sudah masuk ke bagasi, Ren. Arata-san sudah menunggu di gerbong depan. Dia bilang keamanan kita adalah prioritas selama perjalanan empat jam ini."
Bu Keiko menatap ketiga muridnya dengan pandangan yang sulit diartikan—campuran antara bangga dan takut yang amat sangat. Ia tahu bahwa membawa remaja-remaja ini ke ibu kota sama saja dengan membawa mereka ke medan perang politik kuliner yang kotor.
"Ingat," Keiko memegang bahu Ren dan Yuki secara bergantian. "Di ibu kota, tidak ada yang namanya 'teman' selain kalian bertiga. Jangan makan atau minum apapun yang diberikan oleh orang asing, bahkan jika mereka mengaku dari panitia nasional."
Kudo berdiri agak menjauh, bersandar di tiang listrik dengan rokok yang tidak ia nyalakan. Matanya yang merah menatap Ren. "Jaga dirimu, Nak. Dan ingat pesan ibumu... pisau itu hanya alat, hatimu yang memasak."
Ren mengangguk mantap. "Aku mengerti, Yah."
Saat mereka melangkah masuk ke dalam gerbong, sebuah kemistri yang kental menyelimuti tim kecil itu. Mereka duduk di kursi yang saling berhadapan. Ren dan Hana duduk bersisian, sementara Yuki di depan mereka bersama tumpukan catatannya.
Kereta mulai bergerak perlahan. Pemandangan bangunan tua Kota Karasu perlahan berganti menjadi hamparan sawah dan perbukitan hijau. Keheningan di dalam gerbong terasa sangat manusiawi; tidak ada lagi siaran televisi yang memuji kehebatan Asuka Jaya, hanya suara gesekan roda kereta dengan rel yang monoton.
Hana, yang mulai merasa tenang karena ayunan kereta, perlahan menyandarkan kepalanya di bahu Ren. "Aku takut, Ren. Tapi aku juga senang karena aku pergi bersamamu."
Ren tidak menarik bahunya. Ia justru membiarkan Hana bersandar lebih nyaman. Di sisi lain, Yuki sedang serius menandai beberapa nama koki muda dari kota-kota besar lain yang akan menjadi lawan mereka.
"Ren, lihat ini," Yuki menyodorkan sebuah tablet digital yang ia bawa. "Ada satu nama yang menarik perhatianku. Kenjiro. Dia dari wilayah utara, dan rumornya dia didukung langsung oleh divisi riset teknologi terbaru milik Asuka Group. Mereka menyebutnya 'Koki Tanpa Cacat'."
Ren melirik data tersebut. "Tanpa cacat hanya berarti dia belum pernah bertemu lawan yang bisa memaksanya melakukan kesalahan. Kita akan menjadi lawan itu, Yuki."
Namun, di tengah pembicaraan serius itu, pintu gerbong penghubung terbuka. Seorang pemuda sebaya mereka masuk dengan santai. Ia mengenakan tudung jaket (hoodie) abu-abu dan memegang sebuah konsol permainan genggam. Ia tidak tampak seperti koki, namun saat ia melewati tempat duduk mereka, ia sengaja menjatuhkan sebuah koin perak tepat di depan kaki Ren.
Koin itu berhenti berputar, memperlihatkan lambang bunga seruni yang dicoret dengan garis merah.
Ren seketika berdiri, tangannya langsung menyambar gagang tas pisaunya. Aura di dalam gerbong berubah drastis dari tenang menjadi mencekam.
"Siapa kamu?" tanya Ren, suaranya dingin seperti es.
Pemuda itu berhenti, perlahan menurunkan tudung jaketnya, memperlihatkan wajah yang penuh bekas luka bakar di sisi kirinya, namun memiliki senyum yang sangat ramah sekaligus menyeramkan.
"Aku hanya pengantar pesan, Akira Ren," ucap pemuda itu tanpa menoleh. "Selamat datang di turnamen nasional. Kami sudah menyiapkan 'kuburan' yang sangat mewah untukmu dan pisau terkutuk itu di ibu kota."
Sebelum Ren sempat mengejarnya, pemuda itu sudah menghilang di balik pintu gerbong menuju kelas ekonomi. Hana mencengkeram lengan Ren, tubuhnya gemetar hebat.
"Ren... jangan kejar dia. Itu jebakan," bisik Hana dengan nada memohon.
Ren menarik napas panjang, mencoba mengendalikan amarah yang mulai membakar dadanya. Ia memungut koin perak itu dan meremasnya hingga telapak tangannya memerah. Logika narasinya mengatakan bahwa ini barulah gertakan pertama. Pihak lawan ingin merusak mental mereka bahkan sebelum mereka menginjakkan kaki di dapur nasional.
"Mereka sudah mulai, Yuki," ucap Ren sambil kembali duduk, namun kali ini ia tidak lagi bersandar. Matanya menatap lurus ke depan dengan fokus yang mematikan. "Beri tahu Arata-san. Musuh sudah ada di dalam kereta ini."
Perjalanan empat jam menuju ibu kota yang tadinya dirasa lambat, kini terasa seperti hitungan mundur menuju sebuah ledakan besar. Di antara deburan jantung Hana yang cepat dan ketajaman analisis Yuki, Ren menyadari bahwa Seruni Hitam di sampingnya seolah ikut bergetar, haus akan pembuktian di bawah lampu panggung yang lebih besar.