NovelToon NovelToon
JANDA SATU ANAK

JANDA SATU ANAK

Status: sedang berlangsung
Genre:Single Mom / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:955
Nilai: 5
Nama Author: Nana Bear

Rania adalah seorang janda muda dengan satu anak. Meski hidupnya tidak mudah, kecantikannya yang mempesona dan sifatnya yang lembut membuat banyak pria terpikat padanya.
Di tengah usahanya membesarkan anaknya sendirian, dua pria muda tiba-tiba masuk ke dalam hidupnya. Arga, pria brondong yang ceria dan berani, selalu terang-terangan menggoda dan mendekati Rania. Sementara itu ada Damar, pria muda yang dingin, tampan, dan diam-diam selalu memperhatikan Rania dari jauh.
Dua pria.
Satu wanita.
Siapa yang akhirnya akan memenangkan hati janda cantik itu?
Di antara masa lalu yang belum sepenuhnya hilang, tanggung jawab sebagai seorang ibu, dan godaan cinta dari dua pria yang lebih muda…
Akankah Rania membuka kembali pintu hatinya?
Atau justru cinta baru itu akan mengubah hidupnya selamanya? ❤️

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana Bear, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Langkah yang Mulai Mendekat

Pagi hari setelah malam yang panjang di pasar malam terasa berbeda bagi Rania.

Ia terbangun lebih awal dari biasanya.

Sinar matahari masuk perlahan melalui celah tirai jendela, menerangi ruang tamu kecil yang masih sunyi.

Rafa masih tertidur pulas di kamar, memeluk boneka panda besar yang didapatnya semalam.

Rania berdiri di ambang pintu kamar, memperhatikan anaknya dengan senyum lembut.

“Dia benar-benar bahagia…” gumamnya pelan.

Namun perlahan, senyumnya memudar.

Karena kebahagiaan itu bukan hanya datang dari Rafa.

Tapi juga dari dua pria yang kini semakin dekat dengan hidup mereka.

Arga.

Dan Damar.

Rania menutup pintu kamar dengan pelan, lalu berjalan menuju dapur.

Ia mulai menyiapkan sarapan seperti biasa.

Namun pikirannya kembali melayang.

Mengingat semua yang terjadi semalam.

Tawa Rafa.

Perhatian Arga.

Ketulusan Damar.

Semua terasa begitu hangat.

Terlalu hangat hingga membuat hatinya mulai goyah.

“Apa aku… benar-benar siap membuka hati lagi?” gumamnya pelan.

Tidak lama kemudian, Rafa bangun dan langsung berlari keluar kamar sambil membawa boneka pandanya.

“Bunda!”

“Iya, Nak?”

“Semalam seru sekali!”

Rania tertawa kecil.

“Iya, bunda juga senang.”

Rafa duduk di kursi sambil memeluk bonekanya.

“Rafa suka kalau Arga dan Om Damar ada.”

Kalimat polos itu kembali membuat hati Rania bergetar.

“Iya…”

“Kalau mereka selalu ada, boleh ya, Bunda?”

Rania terdiam.

Ia tidak bisa langsung menjawab.

Karena ia sendiri tidak tahu bagaimana masa depan mereka.

Namun ia tetap tersenyum.

“Kita lihat nanti, ya.”

Rafa mengangguk tanpa curiga.

Setelah Rafa berangkat sekolah, Rania kembali ke rumah.

Hari itu terasa lebih sunyi dari biasanya.

Mungkin karena ia terlalu terbiasa dengan kehadiran dua pria itu.

Ia sedang menyapu halaman ketika suara motor terdengar di depan rumah.

Rania menoleh.

Arga.

Namun hari ini ia tidak langsung tersenyum seperti biasa.

Ia terlihat sedikit lebih serius.

“Pagi.”

Rania mengerutkan kening.

“Pagi. Kamu kenapa?”

Arga menggaruk belakang kepalanya.

“Aku… ingin bicara sesuatu.”

Rania sedikit terkejut.

“Bicara?”

Arga mengangguk.

“Boleh?”

Rania ragu sejenak.

Namun akhirnya ia mengangguk.

“Mari masuk.”

Mereka duduk di ruang tamu.

Suasana terasa lebih sunyi dari biasanya.

Arga terlihat berpikir beberapa detik sebelum akhirnya berbicara.

“Mbak Rania.”

“Iya?”

“Aku tidak ingin terus seperti ini.”

Rania mengerutkan kening.

“Seperti ini?”

Arga menatapnya dengan serius.

“Datang setiap hari… tapi tidak tahu posisi aku apa di hidupmu.”

Jantung Rania langsung berdetak lebih cepat.

Ia tidak menyangka Arga akan berbicara sejujur itu.

“Aku tahu kamu belum siap,” lanjut Arga.

“Aku juga tidak ingin memaksamu.”

Ia menunduk sejenak.

“Tapi aku ingin kamu tahu… aku serius.”

Kalimat itu membuat suasana menjadi semakin tegang.

Rania tidak langsung menjawab.

Ia tidak tahu harus berkata apa.

Namun sebelum ia sempat mengatakan sesuatu, suara mobil berhenti di depan rumah.

Arga menghela napas pelan.

“Dan dia datang…”

Damar.

Damar masuk ke dalam rumah seperti biasa.

Namun ketika ia melihat suasana yang berbeda di ruang tamu, ia langsung mengerti.

“Aku mengganggu?”

Arga berdiri dari kursinya.

“Tidak.”

Namun nadanya terdengar berbeda.

Damar menatap Rania.

“Apakah semuanya baik-baik saja?”

Rania mengangguk pelan.

“Iya.”

Namun suasana tetap terasa tegang.

Akhirnya Arga berkata sambil menatap Damar.

“Aku baru saja mengatakan sesuatu yang penting.”

Damar tidak terlihat terkejut.

Ia hanya berkata dengan tenang.

“Kalau begitu, aku juga harus jujur.”

Rania menatap mereka berdua dengan jantung berdebar.

Apa yang sedang terjadi?

Damar melangkah sedikit lebih dekat.

“Mbak Rania.”

“Iya…”

“Aku juga serius.”

Kalimat itu sederhana.

Namun dampaknya terasa sangat besar.

Dua pria itu sekarang berdiri di hadapannya.

Dengan perasaan yang sama.

Dengan tujuan yang sama.

Dan untuk pertama kalinya…

Mereka mengatakannya secara langsung.

Rania menunduk.

Tangannya sedikit gemetar.

“Aku…”

Ia tidak tahu harus mulai dari mana.

“Ini terlalu cepat…”

Arga langsung berkata.

“Kami tidak memintamu menjawab sekarang.”

Damar juga mengangguk.

“Kami hanya ingin kamu tahu.”

Rania mengangkat wajahnya perlahan.

Matanya sedikit berkaca-kaca.

“Aku takut…”

Arga melangkah mendekat.

“Takut apa?”

Rania menarik napas dalam.

“Aku takut kehilangan lagi.”

Ruangan itu langsung menjadi sunyi.

Damar berkata dengan suara lembut.

“Kami tidak akan pergi.”

Arga juga menambahkan.

“Setidaknya… aku tidak akan.”

Kalimat itu membuat air mata Rania hampir jatuh.

Ia benar-benar tidak menyangka akan ada dua orang yang begitu tulus padanya.

Beberapa saat kemudian Arga akhirnya berdiri.

“Aku harus pergi.”

Ia tersenyum tipis.

“Terima kasih sudah mendengarkan.”

Ia berjalan keluar rumah.

Namun sebelum benar-benar pergi, ia menoleh.

“Aku akan menunggumu.”

Setelah itu ia pergi.

Kini hanya tinggal Rania dan Damar di dalam rumah.

Suasana kembali sunyi.

Damar tidak langsung berbicara.

Ia hanya berdiri beberapa langkah dari Rania.

“Aku juga tidak akan memaksamu,” katanya pelan.

Rania menatapnya.

Damar melanjutkan.

“Tapi aku akan tetap di sini.”

Kalimat itu membuat hati Rania terasa hangat.

Namun juga semakin berat.

Karena sekarang…

Ia benar-benar tidak bisa menghindari semuanya lagi.

Malam hari, Rania duduk sendirian di teras rumah.

Angin malam berhembus lembut.

Langit terlihat gelap dengan beberapa bintang yang bersinar.

Hari ini terasa sangat panjang.

Pengakuan Arga.

Kejujuran Damar.

Semuanya terasa begitu nyata.

Rania menutup matanya perlahan.

Hatinya berdebar kencang.

Perasaan yang selama ini ia hindari…

Kini sudah berada tepat di depannya.

Dan untuk pertama kalinya…

Rania sadar satu hal.

Ia tidak bisa terus berdiam diri.

Karena langkah mereka…

Sudah mulai mendekat ke arah hatinya.

Dan mungkin…

Kali ini…

Ia harus berani melangkah juga.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!