Aliya mencintai Ibas dengan tulus, namun Ibas membalasnya dengan luka. Demi kekasihnya, Nadia, Ibas menceraikan Aliya secara rahasia. Ia kemudian membayar Aliya satu miliar rupiah agar tetap tinggal serumah demi menipu keluarga besar mereka.
Namun, sandiwara itu justru membuat Ibas terjebak dalam rasa yang tak semestinya. Saat kebenaran terungkap dan Aliya memilih pergi selamanya, Ibas baru menyadari bahwa ia telah membuang permata demi kerikil.
Kini, Ibas harus berjuang mengejar maaf Aliya. Sialnya, ia bukan lagi satu-satunya pria yang menunggu. Ada Aufar, sepupunya sendiri, yang sudah lama menyiapkan hati untuk melindungi Aliya.
Siapakah yang akan Aliya pilih? Pria yang menghancurkannya, atau pria yang menyembuhkannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Itha Sulfiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Satu miliar
"Bas? Kok, malah diam aja?" tegur sang Ibu.
Ibas menggeleng cepat. Dia hampir tak bisa menyembunyikan ekspresi paniknya. Untungnya, dia sedikit berbakat dalam hal berakting. Dirinya beberapa kali pernah menjadi aktor dalam drama musikal saat masih di kampus dulu.
"Bun..." Ibas menggenggam tangan Ibunya. "... lebih baik kita jangan ganggu Bi Wati ataupun Aliya. Bi Wati pasti capek jagain Aliya. Lagian..." Ia melihat jam tangannya sebentar. "... seharusnya jam segini, Bi Wati lagi sibuk masakin makan siang buat Aliya nanti."
Perkataan Ibas ada benarnya. Saraswati mengangguk, tersenyum kecil meski berbalut sedikit rasa kecewa.
"Bas... Aliya itu menantu kesayangan Bunda. Tolong dijaga baik-baik selagi Bunda di sini, ya!"
Napas Ibas tercekat. Entah kenapa, perkataan sang Ibu membuat dirinya benar-benar merasa bersalah.
Tak hanya gagal menjaga Aliya, Ibas bahkan sudah menceraikan perempuan itu. Dan, kini Aliya sudah pergi. Sendirian. Tanpa siapa-siapa disisinya.
"Ya Allah... Aku benar-benar berdosa," lirih Ibas dalam hati dengan mata berkaca-kaca.
"Bas, kenapa? Kok, matanya merah?" tegur sang Ibu lagi.
Ibas menggeleng lalu mengusap sudut matanya yang sedikit berair. "Aku nggak apa-apa, Bun. Mungkin, karena kurang tidur makanya mata aku jadi merah."
"Kalau gitu, kamu tidur dulu aja! Nanti, kalau udah bangun, langsung pulang, ya! Walaupun ada Bi Wati, tapi Bunda jauh lebih tenang kalau kamu sendiri yang jagain Aliya."
"I-iya, Bun," angguk Ibas patah-patah.
Dia menghela napas panjang lalu menuju ke arah sofa untuk merebahkan tubuh lelahnya. Meski tak yakin akan benar-benar tidur nyenyak, namun Ibas tetap berusaha memejamkan sepasang matanya. Butuh istirahat sebentar agar tidak tumbang.
Walau bagaimanapun, saat kembali ke kota sebelah, Ibas tak boleh diam saja. Dia harus mencari Aliya sampai benar-benar ketemu.
Jika tidak, maka sesuatu yang buruk bisa saja menimpa Ibunya jika tahu bahwa menantu kesayangannya sudah pergi karena diceraikan dirinya.
"Jadi, kapan Bunda boleh keluar dari rumah sakit?" tanya Ibas kepada sang Ayah setelah bersiap-siap untuk pulang.
Kening Ikhsan mengernyit. Ia tak bisa merasa tidak curiga. Ekspresi Ibas saat bertanya terlihat begitu ganjil.
"Kenapa kamu nanya soal itu?" tanya Ikhsan.
"Nggak apa-apa. Pengen tahu aja," jawab Ibas.
"Nanti, Ayah kabarin. Tapi, kata dokter kemungkinan tiga atau empat hari lagi."
"Oke," angguk Ibas. Antara lega sekaligus tertekan, dia berusaha tersenyum.
"Kalau gitu, aku pulang dulu. Assalamualaikum, Yah!" pamit Ibas. Dia mencium tangan Ayahnya lalu bergegas pergi.
Tiba di kota asal, langit sudah mulai berwarna jingga. Begitu keluar dari bandara, Ibas langsung berkeliling untuk mencari Aliya.
Gadis itu harus dia bawa pulang. Jika sampai besok belum ketemu juga, maka Ibas akan ke kantor polisi untuk melapor bahwa istrinya telah hilang.
Ya, hanya itu cara yang saat ini terpikirkan di kepala Ibas.
Nadia:
[Bas... bisa ke rumah aku, nggak?]
Pesan masuk dari Nadia. Ibas yang saat itu sedang menyetir langsung menepikan mobilnya ke bahu jalan kemudian berpikir keras harus menolak dengan kalimat seperti apa.
Ibas:
[Malam ini kayaknya nggak bisa, Nad. Bunda masuk rumah sakit. Aku harus temenin Bunda dulu.]
Ya, untungnya dia punya alasan yang benar-benar jujur. Ibunya memang sakit.
Nadia:
[Yaaaahhh... sayang banget. Padahal, aku pengen ngajakin kamu nonton film horor bareng.]
Ibas:
[Lain kali ya, Nad. Aku janji, setelah Bunda keluar rumah sakit, aku bakal sering temenin kamu.]
Nadia:
[Oke. 🥲]
Ibas menghela napas lega. Untungnya, Nadia tidak merajuk seperti biasanya. Kali ini, gadis itu jadi jauh lebih pengertian.
Setelah memasukkan kembali ponsel ke dalam saku celananya, Ibas melanjutkan operasi pencarian Aliya. Saat putus asa hampir menghampiri, dirinya tak sengaja melihat seorang perempuan yang sedang duduk dengan tatapan kosong di trotoar jalan sambil memegang keranjang berwarna hijau yang berisi aneka kue jajanan pasar.
Itu Aliya.
"Aliya..." seru Ibas dengan senyuman lega. Akhirnya, dia menemukan perempuan itu juga.
"Al!" panggil Ibas.
Aliya reflek menoleh. Netranya membulat saat melihat sosok Ibas yang sedang berlari ke arahnya.
Ia pun berdiri dari duduknya. Bersiap untuk lari namun Ibas ternyata jauh lebih cepat menangkap pergelangan tangannya.
"Al, kamu mau kemana?" tanya Ibas.
"Aku mau pulang. Lepas!" jawab Aliya sambil berusaha memberontak agar Ibas mau melepaskan tangannya.
"Pulang kemana?" Ibas bertanya lagi. "Rumah kamu, rumahku juga. Jadi, ayo pulang sama-sama!"
Bukannya melepaskan tangan Aliya, Ibas justru menarik tangan Aliya sangat kencang untuk mengikutinya. Mau sekeras apapun Aliya berusaha memberontak,tetap saja tenaganya kalah jauh dari Ibas.
"Mas, lepas!" kata Aliya.
Namun, Ibas berpura-pura tuli.
"Mas, tanganku sakit," keluh Aliya sambil meringis tertahan.
Kali ini, Ibas reflek melepaskan cengkeramannya. Dia menoleh lalu memeriksa pergelangan tangan Aliya dengan teliti.
"Maaf, aku nggak sengaja," ujar Ibas penuh rasa bersalah. "Sakit banget, ya?" lanjutnya sambil meniup pergelangan tangan Aliya.
Tuhan...
Bagaimana mungkin Aliya sanggup menghapus rasa cintanya jika Ibas selalu memberi sedikit harapan meski telah menggoreskan luka yang perih di hati Aliya?
Meski, sudah berusaha menghapus rasa cintanya, tetap saja bayangan Ibas yang dulu Aliya kenal, terkadang muncul dalam sosok diri Ibas yang sekarang.
Pria itu memang amnesia. Kepribadiannya juga sudah berubah. Namun, ketulusan hatinya masih ada.
"Al, kenapa nangis? Tangan kamu benar-benar sakit, ya?" tanya Ibas lagi. "Ssstt!! Jangan nangis! Aku benar-benar minta maaf."
Ibas memeluk Aliya. Berusaha menenangkan perempuan itu dalam pelukannya yang hangat.
"Mas..."
Aliya memanggil dengan suara serak. Dada Ibas perlahan dia dorong hingga jarak diantara mereka kembali melebar.
"... kita sudah bercerai. Sebaiknya, kita jaga jarak," lanjut Aliya mengingatkan.
"Kamu kenapa kabur dari rumah sakit?" tanya Ibas tanpa peduli pada perkataan Aliya.
"Aku nggak kabur," jawab Aliya.
"Nggak kabur?"
Ibas tertawa sumbang. "Pergi tanpa bilang-bilang, kalau nggak kabur, terus apa namanya?"
Aliya memalingkan muka. Dia tak suka ditatap dengan ekspresi seperti itu oleh Ibas. Pria itu seolah-olah sedang mengkhawatirkan dirinya. Namun, Aliya tahu jika hal itu tak mungkin terjadi.
"Biaya rumah sakit terlalu mahal buat aku, Mas. Kalau terlalu lama tinggal di sana, nanti aku nggak akan sanggup bayar," jawab Aliya.
"Aku yang tanggung biaya rumah sakit kamu, Al. Jadi, kamu nggak perlu..."
"Kita sudah cerai," potong Aliya cepat. "Aku bukan tanggung jawab Mas Ibas lagi."
Ibas menelan ludahnya dengan susah payah. Secepat ini Aliya mau pergi dari sisinya.
"Tapi, aku belum kasih kamu kompensasi yang layak."
"Aku nggak butuh," tolak Aliya. "Simpan uang Mas Ibas buat kebutuhan Mas Ibas sendiri. Insya Allah, aku bisa menghidupi diriku sendiri meski dengan atau tanpa Mas Ibas."
"Dengan cara jualan kue kayak gini?" tanya Ibas sinis sambil menunjuk keranjang berisi kue-kue basah yang ditenteng oleh Aliya.
"Al, ini udah jam satu malam. Dan, kamu masih berkeliaran di luar buat dagang kue keliling kayak gini. Apa ini yang kamu sebut bisa menghidupi diri kamu sendiri?" lanjut Ibas. "Memangnya, kamu sanggup bertahan sampai kapan, hah? Apalagi, di kota besar ini kamu nggak punya keluarga satu pun, kan? Satu-satunya keluarga yang kamu punya cuma Bapak kamu. Itu pun, beliau sudah meninggal dunia. Dan, satu-satunya cara bertahan hidup ya dengan bergantung sama aku, Al! Cuma aku yang bisa bantu kamu."
"Mas Ibas sendiri yang bilang kalau Mas Ibas benci sama cewek matre, kan? Mas Ibas bahkan tega nuduh kalau aku cuma ngincer harta keluarga Mas Ibas aja."
"Lupain soal itu. Anggap aja kalau aku cuma salah ngomong. Oke?"
Gantian, kini Aliya yang tersenyum sinis. Omongan setajam belati, tak mungkin bisa dilupakan begitu saja.
Walau bagaimanapun, belati yang sudah terlanjur menggores kulit akan meninggalkan bekas. Seharusnya, Ibas mengerti akan konsep itu.
"Jadi, Mas Ibas mau apa sebenarnya?" tanya Aliya.
"Ikut aku pulang!" pinta Ibas to the point.
"Nggak," tolak Aliya sambil menoleh ke arah lain. "Kita sudah cerai. Urusan kita sudah selesai."
Aliya pun berbalik. Dia harus mencari anak kecil pemilik keranjang berisi kue-kue itu.
Ya, tadi keranjang itu hanya dititipkan sebentar kepadanya. Sayangnya, Ibas malah salah paham dan mengira jika Aliya yang berjualan.
Sembari menunggu sang empunya kembali, Aliya memutuskan untuk duduk di trotoar jalan sembari menimbang situasi yang sedang dia alami.
Haruskah kembali ke kampung halaman atau bertahan di kota besar demi mengejar mimpi? Aliya ingin bekerja.
"Al, Bunda masuk rumah sakit. Beliau kena serangan jantung."
Tak!
Langkah Aliya terhenti. Keranjang kue tak sengaja ia jatuhkan ke bawah.
"Bunda... sakit?" lirih Aliya dengan suara yang nyaris tak dapat didengar.
"Iya. Bunda sakit. Kondisinya sempat kritis. Beruntung, dokter cepat memberi penenangan sehingga nyawa Bunda akhirnya bisa diselamatkan."
Aliya pun berbalik dan menghampiri Ibas dengan wajah yang sudah basah oleh air mata.
"Sekarang... kondisi Bunda gimana? Bunda baik-baik aja, kan?" cecar Aliya.
"Sekarang, kondisinya sudah mulai membaik. Tapi, dokter bilang kalau Bunda nggak bisa menerima tekanan emosional dalam bentuk apapun. Jadi, emosinya benar-benar harus dijaga dengan sangat ketat."
Aliya tertegun. Sedikit lega sekaligus merasa sedih. Sekarang, Bunda bukan lagi Ibu mertuanya. Perempuan paruh baya itu sudah kembali menjadi orang lain untuk dirinya.
"Al, kamu pulang sama aku, ya! Kita harus tetap terlihat baik-baik aja didepan Bunda. Soal perceraian kita, lebih baik disembunyikan dulu sampai keadaan Bunda benar-benar membaik."
"Mas Ibas mau bohongin Bunda?"
"Demi kebaikan seharusnya nggak apa-apa, kan?" balas Ibas.
"Aku nggak mau," tolak Aliya. "Aku nggak bisa bohong sama Bunda, Mas."
"Semua demi kebaikan Bunda juga, Al."
"Tapi, kita udah cerai. Nggak sepantasnya, mantan suami-istri malah tinggal seatap."
Ibas mengusap tengkuknya. "Tapi, setahu aku... Perempuan yang baru ditalak suaminya seharusnya menjalani masa Iddah di rumah suaminya."
Aliya diam sesaat. Ucapan Ibas memang benar. Akan tetapi, dia tetap tidak bisa. Dia tak tahan jika harus membohongi Saraswati dan Ikhsan. Ditambah lagi, Aliya akan semakin kesulitan untuk melupakan Ibas jika harus kembali serumah dengan pria itu.
"Al, aku beri satu miliar sebagai bentuk kompensasi perceraian. Tapi, syaratnya... kamu jalani masa Iddah kamu di rumah aku dan bantu aku berakting di depan Bunda. Seenggaknya, sampai Bunda kembali sehat seperti sedia kala. Kamu... mau, kan? Ayolah! Aku tahu kamu lagi butuh uang."
pelacur teriak pelacur
👍
dan bukan grup penggemar kelompok bnyinyir 🥺
coba dari awal Lo sikapnya biasa saja bila ga suka ha usah menghina atau berbuat
jahat ya sekarang Lo bermasud baik tetapi
sahabat lonsudah menghinanya,,,orang kota katanya sopan santun lah ini brandal cewek. sundel bolong lebih kampungan
matre dan . menjijikan Nadia tukang velap celup mirip teh sarinande,,,preeeettt,,🥺