Aurielle Veyra (25 tahun), seorang Make Up Artist kelas dunia, dikenal mampu mengubah wajah biasa menjadi sebuah 'Mahakarya'.
Namun setelah tertidur usai bekerja tanpa henti, dia terbangun … bukan di Apartemen mewahnya.
Melainkan di raga seorang gadis yatim piatu miskin di desa terpencil dalam Kekaisaran Shang Agung, yang bernama Lin Yue. Yang meninggal karena menyerah menjalani kehidupan di dunia itu.
Di dunia tanpa kosmetik modern, Aurielle terikat dengan sebuah ruang dimensi misterius berisi resep kecantikan kuno yang telah lama hilang dari sejarah.
Dari bunga liar, mutiara, hingga ramuan rahasia, dia menciptakan kosmetik yang mampu membuat siapa pun terlihat memukau.
Namun, di balik kecantikan yang dia ciptakan …
tersembunyi rahasia racun halus, dan permainan kekuasaan yang mematikan.
Karena di dalam dunia Kekaisaran~
Sebuah wajah yang sempurna bisa menjadi sebuah 'senjata' yang mematikan!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora79, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 08: Menghadap Kaisar Murahan—Zhang Longhui!
***
Keesokan harinya, langit diatas Paviliun Pelatihan Selir masih diselimuti oleh cahaya lembut, saat tiga orang Kasim Istana berjalan cepat melewati gerbangnya.
Mereka langsung menuju ke arah taman, dimana seluruh calon selir berada di sana untuk menikmati 'teh' pagi.
Jubah mereka yang berwarna biru gelap berkibar tertiup angin, membuat para pelayan Paviliun yang melihat mereka langsung menghentikan pekerjaannya.
"S-Salam kepada para Kasim Istana!"
Salah satu dari mereka langsung mengangkat tangannya.
"Tidak perlu formalitas! Kami membawa perintah dari Yang Mulia Kaisar Agung!" sahut Kasim yang lebih tua.
Lalu dia membuka sebuah gulungan yang terbuat dari sutera emas.
Sret!
Semuanya berkumpul sambil berlutut, menunggu dengan kepala tertunduk.
"Atas perintah Yang Mulia Kaisar Agung, calon selir yang bernama 'Lin Yue dan Mei Fang', diminta untuk menghadap!"
Mereka semua terkejut, dan menoleh ke arah kedua gadis itu dengan wajah terperangah.
Lin Yue yang sudah memperhitungkan semuanya tidak terlalu terkejut, namun tidak dengan Mei Fang, dia hampir mati tersedak salivanya sendiri.
"A-Apaaa?!" seru Mei Fang tanpa sadar.
Dia langsung menoleh ke arah Lin Yue dengan wajah pucat.
"Y-Yue-Yue ... Yang Mulia Kaisar memanggil ... kita?" tanya Mei Fang dengan nada tidak percaya.
"Hm," jawab Lin Yue, singkat.
Tanpa ragu, Lin Yue langsung berdiri dari berlututnya dan langsung menghampiri para Kasim Istana itu.
"Apakah Anda adalah Nona Lin Yue?" tanya salah satu Kasim itu dengan tatapan tajam.
"Benar," jawabnya dengan sikap tenang.
"Dan di sebelah Anda ini adalah Nona Mei Fang?" tanya Kasim itu kembali.
"B-Benar, Tuan Kasim ..." jawab Mei Fang, sedkit gugup.
Ketiga Kasim Istana itu langsung berubah menjadi sangat ramah, saat mereka sudah menemukan yang mereka cari.
"Yang Mulia Kaisar Agung ingin bertemu dengan kalian berdua sekarang. Silahkan ikut kami ..." ujar Kasim tua dengan nada ramah.
"Tuan Kasim, apakah kami telah melakukan kesalahan?" tanya Mei Fang dengan suara bergetar ketakutan.
"Maafkan kami, Nona Mei Fang ... Kami tidak berhak menjawab pertanyaan Anda ..." jawab Kasim tua itu dengan wajah tersenyum.
"Silahkan ikuti kami ..."
Mereka pun berjalan keluar menuju ke Istana Utama, Lin Yue dan Mei Fang mengikuti dari belakang.
"Aku takut, Yue-Yue ..."' ujar Mei Fang dengan suara lirih.
"Tenangkan dirimu, Fang-Fang ... tidak akan terjadi apa-apa dengan kita ..." sahut Lin Yue sambil menepuk pelan bahunya.
"Anggap saja kita pergi untuk menemui 'seseorang' yang menyukai wangi parfum buatanku .." lanjut Lin Yue sambil tersenyum tipis.
"Apa maksudmu?" tanya Mei Fang dengan wajah bingung.
Lin Yue hanya mengedipkan matanya dengan gaya misterius, membuat Mei Fang semakin kesal karena penasaran.
"Hmmp! Sok misterius kamu tuh! Bikin kesal saja ..."
"Hehehehe ..."
--
Tidak lama kemudian, mereka pun tiba di luar Istana Naga Emas.
Bangunan utama itu terlihat sangat megah dan indah, membuat Mei fang dan Lin Yue terpukau.
Lantainya dilapisi oleh marmer putih, membuat pantulan cahaya matahari semakin terlihat mengagumkan.
Patung Naga Emas berdiri gagah di setiap pilarnya, membuat Istana itu semakin tampak mewah.
Gluk!
Mei Fang menelan salivanya dengan berat, dia merasa malah semakin gugup sekarang.
"Aku sepertinya mau pingsan, Yue ..." bisik Mei Fang dengan keringat dingin yang sudah mengucur deras dibalik punggungnya.
"Silahkan saja pingsan, jika ingin mendapatkan hukuman dari Kaisar ..." sahut Lin yue, menakut-nakuti.
"Jangan bercanda seperti itu! Menakutiku saja, hmmp!" ujar Mei Fang sambil memukul pelan lengan Lin Yue.
Seorang Kasim membuka pintu Istana itu dengan pelan, sambil mengumumkan kedatangan mereka.
"Calon Selir Lin Yue dan Calon Selir Mei Fang telah tiba!"
--
Di dalam Istana Naga Emas, Kaisar Longhui duduk tampan di atas singgasananya.
Wajah tegas nan dingin itu menghiasi aula megah di dalam sana, dengan memakai jubah berwarna hitam keemasan.
Sosoknya terlihat menakjubkan, dengan tatapan tajam namun tenang itu.
Kasim Zhang berdiri disampingnya dengan patuh, dan saat melihat kedatangan mereka, dia berkata dengan kencang.
"Berlutut!"
Lin Yue dan Mei Fang langsung berlutut dengan serempak, sambi; memberi salam.
"Salam kepada Yang Mulia Kaisar Agung, semoga Dewa selalu memberkati hidup Anda!"
"Dan semoga Yang Mulia hidup seratus tahun lagi!"
Kaisar Longhui menatap mereka dengan tatapan mata sedikit tercengang.
Apakah mereka adalah gadis desa yang diberkahi oleh para Dewi?
Kulit mereka terawat bersih dengan bentuk tubuh yang sempurna, jika dia tidak melihat dan mendengar sendiri darimana mereka diambil, maka dia tidak percaya, jika mereka berasal dari desa miskin yang terpencil di wilayah Kekaisarannya.
Tidak berapa lama kemudian, tatapan matanya berhenti pada Lin Yue.
"Angkat kepalamu, biarkan Zhen melihat rupamu!" perintahnya kepada Lin Yue.
Lin Yue mengangkat kepalanya perlahan, dan~
Deg!
Tatapan mata bertemu, membuat Kaisar Longhui sedikit terkejut dan bergumam:
"Hm, ... Menarik!"
"Apakah kalian tahu, kenapa Zhen memangil kalian?" tanya Kaisar Longhui dengan nada santai.
"M-Menjawab Yang Mulia, kami t-tidak tahu," jawab Mei Fang cepat, sambil menggelengkan kepalanya.
Namun, Lin Yue menjawab dengan suara sebening lonceng surgawi.
"Izinkan hamba menebaknya, Yang Mulia ... mungkin karena sebuah 'hadiah' kecil yang Anda terima, kan?"
Kaisar Longhui tersenyum, saat mendengar jawaban Lin Yue.
"Oh?"
Dia mengeluarkan botol parfum itu dari dalam saku lengannya.
"Apakah salah satu dari kalian ada yang mengenal botol ini?" tanya Kaisar Longhui.
Mei Fang mengedipkan matanya, lalu dia menoleh kearah Lin Yue.
"Itu ..."
Lin Yue hanya tersenyum saat melihatnya.
"Ya, hamba mengenalnya ..." jawab Lin Yue.
Kaisar Longhui memiringkan kepalanya, lalu tersenyum.
"Apakah kamu yang membuatnya?" tanya Kaisar Longhui kepada Lin Yue.
Lin Yue tidak langsung menjawabnya, namun dia malah bertanya balik kepada Kaisar Longhui.
"Apakah Yang Mulia Kaisar Agung menyukainya?"
Kaisar Longhui tertawa saat mendengar pertanyaan itu.
"Kamu sungguh seorang gadis yang berani! Berani menjawab pertanyaan Zhen dengan pertanyaan ... Hahahaha!"
"Karena, jika Yang Mulia Kaisar tidak menyukainya, maka hamba tidak perlu menjawab pertanyaan itu ..." sahut Lin Yue dengan nada santai.
Kasim Zhang hampir mati tersedak salivanya sendiri, ketika mendengar ucapan gadis itu. Sementara Kaisar Longhui justru tertawa.
"Hahahahaha!"
Dia berdiri dari atas singgasananya, lalu menuruni anak tangga dengan perlahan.
"Menarik sekali! Dan kamu benar ..."
Dia menyemprotkan sedikit parfum itu ke udara.
Sroot!
Aroma maskulin yang segar dan elegan kembali memenuhi Aula Naga Emas.
Dia menghirupnya sambil menutup kedua matanya.
"Haaah! Dan, ya! Zhen sangat-sangat menyukainya."
Lalu dia menatap Lin Yue dengan pandangan yang rumit, gadis ini sangat menarik perhatiannya sejak dia masuk ke dalam Aula.
"Jadi, kamu yang membuat barang ajaib ini, hm?" tanya Kaisar Longhui.
"Benar,Yang Mulia ... Hamba yang membuatnya," jawab Lin Yue sambil menundukkan kepalanya.
Mei Fang langsung membulatkan kedua matanya, saat mendengar jawaban Lin Yue.
"Kamu membuat sesuatu tanpa aku ketahui, lalu mengirimkannya diam-diam?" tanya Mei Fang dengan nada lirih.
"Kan aku sudah bilang tadi di dalam perjalanan? Kamu tidak mendengarnya?" jawab Lin Yue dengan senyuman di wajahnya.
Kaisar Longhui tersenyum saat melihat interaksi mereka di depannya, tanpa ada rasa takut sedikitpun kepadanya.
"Apa kamu tahu, apa artinya ini?" tanya Kaisar Longhui.
"Apakah hamba akan menerima hadiah dari Yang Mulia Kaisar Agung?" sahut Lin Yue dengan wajah polosnya.
"Lebih dari sekedar hadiah ..." jawab Kaisar Longhui dengan nada misterius.
Kaisar Longhui kembali berjalan ke arah singgasananya.
"Kalian akan mengikuti sebuah 'ujian' kecil dari Zhen ..." ujar Kaisar Longhui dengan wajah serius.
Gluk!
Mei Fang menelan salivanya dengan kasar, saat mendengar ucapan pria nomor satu itu.
"U-Ujian?!" beo Mei Fang.
"Zhen berencana ingin mencari seorang 'Selir Samping' ..." ujar Kaisar Longhui dengan nada santai.
Ketiga Kasim yang menjemput mereka saling pandang, saat mendengar rencana Kaisar mereka.
Kasim Zhang langsung mengambil alih suasana canggung itu dengan cepat.
"Ekheem ...!"
"Kalian berdua mungkin belum tahu, apa 'Selir Samping' itu, maka saya akan menjelaskannya."
"Selir Samping adalah sebuah kedudukan tinggi kedua setelah 'Permaisuri'. Dan biasanya posisi ini di isi oleh wanita favorit Kaisar, yang memiliki kemampuan luar biasa," ujar Kasim Zhang menjelaskan.
Mei Fang hampir jatuh pingsan, saat dia mendengar penjelasan Kasim Zhang.
"S-Selir ... S-Samping?!"
Kaisar Longhui menatap mereka dengan wajah serius.
"Untuk melihat kemampuan kalian, maka Zhen akan memberikan ujian kepada kalian berdua ..." ujar Kaisar Longhui.
"Kalau boleh hamba tahu, ujian seperti apakah itu, Yang Mulia Kaisar Agung?" tanya Lin Yue.
Kaisar Longhui hanya tersenyum misterius, saat mendengar pertanyaan Lin Yue.
"Rahasia ..."
--
Sementara itu di dalam Paviliun Naga Perak, terdengar kembali suara jeritan histeris dari Selir Lan.
"AAARRRGGHHH!"
Bisul mengerikan itu tumbuh semakin banyak di wajahnya, dan nanah berbau busuk mulai merembes keluar dari beberapa bisul itu.
Akiew semakin gemetar ketakutan saat melihatnya.
Sungguh sebuah pemandangan yang sangat mengerikan sekali!
"Y-Yang Mulia Selir ... Wajah Anda terlihat semakin parah! Dan baunya sangat menyengat ..." ujar Akiew dengan suara bergetar.
Selir Lan menatap cermin di depannya dengan mata memerah karena emosi.
"W-Wajahku ... Aaaaaah!"
Dia sendiri hampir tidak bisa mengenali wajah di dalam cermin itu, ditambah rasa sakit berdenyut yang dia rasakan setiap malam, membuat dirinya semakin terlihat 'menua' lima tahun setiap harinya.
"PANGGIL TABIB LAGI!" perintahnya dengan nada naik dua oktaf.
"Ampuni hamba, Yang Mulia Selir ... sudah banyak Tabib yang datang, namun mereka menyerah ..." sahut Peiyu dengan suara lirih.
Apa yang dikatakan pelayan itu memang benar, semua Tabib Istana sudah menyerah untuk mengobati Selir Lan.
Mereka bingung dengan jenis racun yang di derita oleh wanita itu, sehingga tidak bisa menentukan pengobatan yang tepat untuk mengatasinya.
Mendengar jawaban Peiyu, Selir Lan semakin murka.
Prang! Prang! Prang!
"BADJINGAN SIA-LAN MANA YANG MERACUNIKU DENGAN RACUN ANEH INI?! JIKA MENEMUKANNYA, AKU AKAN CABIK-CABIK WAJAHNYA MENJADI JUTAAN KEPING!"
"Aaaaaaaaa ....!!!!"
--
Tidak lama kemudian, banyak Tabib pengembara yang datang ke Istana untuk mencoba peruntungan mereka.
Namun, satu persatu dari mereka menyerah, setelah melihat wajah Selir Lan.
Para Tabib itu berkata dengan ucapan yang sama.
"Maafkan hamba."
"Maaf, racun ini sangat langka ... Saya tidak mampu menanganinya."
"Dan saya pun tidak berani mencoba ..."
Mendengar semua ucapan para Tabib itu, Selir Lan semakin murka, lalu dia menendang kursi yang ada di sana dengan kencang.
BRAK!
"DASAR SAMPAH KALIAN SEMUA! KELUAR KALIAN SEMUA SEKARANG!"
"Harap tenangkan diri Anda, Yang Mulia Selir ... Sayembara itu sudah tersebar luas, akan semakin banyak Tabib yang akan datang melihat Anda demi menyembuhkan penyakit Anda ..." ujar Akiew dengan suara lirih.
Selir Lan menggeretakkan giginya, dia merasa seperti 'monster' aneh yang sedang dipertunjukkan kepada semua orang.
"Tidak perduli berapa banyak emas yang harus aku keluarkan, aku harus menemukan penangkalnya!" gumamnya sambil menahan emosi yang meluap di dalam dadanya.
Tidak lama kemudian, seorang pelayan tiba-tiba masuk sambil berlari dengan wajah cemas.
"Yang Mulia Selir ...!"
"Lancang! Masuk ke dalam Paviliunku sambil berlarian begitu, apa etikamu sudah dimakan an-jing, hah?!" bentak Selir Lan dengan mata nyalang.
"A-Ampuni hamba, Yang Mulia Selir ... Hamba membawa kabar penting, jika Yang Mulia Kaisar Agung memanggil dua orang calon selir untuk menghadapnya ke Istana," lapor pelayan itu dengan tubuh gemetar.
"Siapa mereka?" tanya Selir Lan sambil menyipitkan matanya.
"Gadis yang bernama Lin Yue dan Mei Fang," jawab pelayan itu.
Mata Selir Lan langsung nyalang penuh kebencian, saat mendengar nama gadis yang paling dia ingin singkirkan itu.
"Lagi-lagi gadis itu ..." geramnya sambil mengepalkan kepalan tangannya dengan kencang.
Tiba-tiba~
PRANG!
"Aargggh!!!"
"Wajahku hancur dan dia malah dipangil oleh Kaisar?! Badjingan!!!"
--
Di tempat lain, dua orang pemuda tampan berpakaian ala bangsawan berjalan untuk memasuki gerbang Istana.
Para penjaga yang melihatnya langsung membungkukkan badan untuk memberi hormat.
"Selamat datang kembali, Yang Mulia Pangeran pertama dan Pangeran kedua ..."
"Hm," jawab keduanya dengan wajah datar.
Mereka adalah dua orang Pangeran pewaris takhta, namun belum ada yang diberi gelar 'Putra Mahkota' oleh Kaisar Longhui, karena belum ada prestasi yang ditorehkan oleh mereka untuk Kekaisaran.
Pangeran pertama bernama Shang Longjian yang berusia sepuluh tahun, dan Pangeran kedua Shang Longwei yang berusia delapan tahun.
Keduanya tinggal di dalam Akademi Kekaisaran-Shangfeng, demi menjalani pendidikan resmi sebagai calon pewaris takhta, dan pulang karena mendengar kabar tentang penyakit yang di derita ibunya, yaitu Selir Lan.
"Dimana Ibu Selir kami berada?" tanya Pangeran Longwei.
"Menjawab pertanyaan Pangeran kedua, Selir Lan saat ini berada di dalam Paviliun Naga Perak," jawab penjaga itu dengan kepala tertunduk.
"Kami mendengar kabar, jika wajah Ibu Selir kami ada yang meracuni ... apakah itu benar?" tanya Pangeran pertama Longjian dengan wajah datar.
"Benar, Yang Mulia Pangeran pertama ..." jawab penjaga itu.
Shang Longwei s
Langsung mengepalkan tangan kecilnya, wajahnya mengeras karena emosi.
"Manusia mana yang berani menyakiti Ibu Selir kita?" geramnya emosi.
"Kita harus segera melihatnya, adik!" ujar Shang Longjian dengan wajah serius.
"Baik, ayo Kak!"
Mereka berjalan cepat menuju ke arah Paviliun Naga Perak, karena sudah tidak sabar untuk melihat keadaan Ibu mereka.
Namun tidak ada yang mengetahuinya~
Jika kedatangan mereka malah akan membuat konflik yang terjadi di dalam Istana itu menjadi jauh lebih rumit.
⚛⚛**⚛**
Note:
Pembaca setia novel Lin Yue, harap bersabar menunggu updatenya, ya? Author tiba-tiba sibuk membuat pesanan kue lebaran dari minggu kemarin soalnya.
Kadang otak dan badan sudah lelah, jadi tidak bisa menulis.
Author usahakan update, namun tidak setiap hari, karena kesibukan yang ada menjelang lebaran.
Harap maklum, ya ...😁🙏🏻🙏🏻🙏🏻🙏🏻.
Terima kasih,
Salam hangat dari jauh, Aurora79🫰🏻
jadi semangat dalam menjalani niat yang mulia itu, terutama untuk kucing² manis itu..
pokoknya semangat ya 🥰
ditunggu yaa kelanjutannya author🤭
pokoknya semangat ee author
ditunggu yaa kelanjutannya author🥰