Pernikahan yang di dasari oleh paksaan sering kali tidak berjalan harmonis dan ironisnya Nika dan Devan harus terlibat di hubungan yang seperti itu.
Nika yang menyetujui pernikahan itu hanya karena semata mata untuk keselamatan perusahaan keluarga nya yang sudah susah payah di bangun oleh para sesepuh keluarganya.
Sedangkan Devan yang menyusulkan persyaratan pernikahan sebagai jaminan bukan semata mata menginginkan tubuh Nika sebagai hadiah dari kedermawanannya menyelamatkan perusahaan keluarga Nika namun jauh dari itu Devan memiliki alasan tersembunyi yang jauh dari perkiraan Nika.
Dan sepanjang pernikahan yang sudah berjalan Nika yang memang memiliki watak yang keras kepala sering sekali memberikan perilaku dingin dan kata kata menyakitkan pada Devan suaminya hanya untuk membuat pria itu menyerah akan pernikahan mereka.
Dan saat harapan Nika hampir terwujud mengapa bukan senang yang ia rasakan? Novel ini akan menceritakan perjuangan Nika untuk kembali mengambil hati suaminya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rmauli, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4. Rahasia di Balik Cangkir Teh
Kehampaan di rumah mewah itu semakin terasa nyata bagi Nika. Setiap sudut ruangan kini seolah menjadi saksi bisu atas ketidakpeduliannya selama ini. Setelah penolakan halus namun menyakitkan di kantor Devan kemarin, Nika menyadari satu hal yang sangat mendasar: ia sama sekali tidak mengenal suaminya sendiri. Ia tahu Devan suka kopi hitam, tapi ia tidak tahu merek apa yang menjadi favoritnya. Ia tahu Devan bekerja di bidang konstruksi, tapi ia tidak tahu apa mimpinya di balik gedung-gedung tinggi yang ia bangun. Selama enam bulan, Nika hidup bersama seorang pria yang memperlakukannya bak ratu, sementara ia memperlakukan pria itu tak lebih dari sekadar perabot rumah yang kebetulan bisa bicara.
Maka, di sinilah Nika sekarang. Di depan sebuah gerbang kayu jati berukir indah milik kediaman Ibu Sofia, ibu kandung Devan. Dengan tangan yang sedikit gemetar, Nika merapikan dress bunga-bunganya yang sopan. Ia merasa seperti seorang pencuri yang hendak meminta kunci gudang harta karun. Ia gugup, tentu saja, karena selama ini ia jarang mengunjungi ibu mertuanya kecuali dalam acara keluarga besar yang wajib dihadiri, dan itu pun ia selalu datang dengan wajah ditekuk.
"Nika? Masya Allah, sayang, kamu datang?" Suara lembut Ibu Sofia menyambutnya saat pintu terbuka. Wanita paruh baya yang masih tampak sangat anggun itu langsung memeluk Nika dengan tulus. "Tumben sekali tidak mengabari Mama dulu. Devan mana? Dia tidak ikut?"
Nika memaksakan sebuah senyum, meski hatinya mencelos mendengar nama suaminya disebut. "Mas Devan... sedang sangat sibuk di kantor, Ma. Jadi Nika pikir, Nika ingin mampir sebentar untuk menemani Mama minum teh."
Ibu Sofia tampak sangat bahagia, binar di matanya membuat rasa bersalah Nika semakin dalam. Mereka duduk di beranda belakang yang menghadap ke taman kecil penuh anggrek. Aroma tanah basah setelah siraman air pagi tadi membuat suasana terasa tenang, namun bagi Nika, setiap detik adalah ujian kejujuran.
"Mama senang kamu ke sini. Devan selalu bilang kalau kamu itu sibuk sekali dengan butikmu. Dia selalu bangga menceritakan koleksi-koleksi barumu," ujar Ibu Sofia sambil menuangkan teh melati yang harum ke cangkir Nika.
Nika tertegun, tangannya yang hendak meraih cangkir terhenti di udara. "Mas Devan... bercerita soal butik Nika, Ma?"
"Tentu saja! Setiap minggu dia menelepon atau mampir, dia selalu bilang, 'Ma, butik Nika makin ramai. Nika hebat ya, desainnya makin berani dan bagus'. Dia bahkan pernah membelikan Mama satu syal dari butikmu, katanya itu desain terbaikmu, meskipun dia bilang dia membelinya lewat asistenmu agar kamu tidak merasa terganggu olehnya," cerita Ibu Sofia dengan tawa kecil yang renyah.
Mendengar itu, dada Nika terasa seperti dihantam godam besar. Ia ingat syal itu—koleksi terbatas yang terjual pada seorang "pembeli anonim". Ternyata pembeli itu adalah suaminya sendiri. Suami yang selalu ia maki, suami yang selalu ia sebut "penghambat kebebasan", justru adalah pendukung nomor satu yang diam-diam memuja karyanya tanpa ingin mengambil kredit sedikit pun. Nika harus sekuat tenaga menahan air matanya agar tidak jatuh ke dalam cangkir tehnya.
"Ma," suara Nika sedikit serak. "Sebenarnya... Nika ingin tanya sesuatu. Mas Devan itu, apa yang benar-benar dia sukai? Maksud Nika, hal-hal kecil yang mungkin tidak dia katakan pada orang lain."
Ibu Sofia meletakkan cangkirnya, menatap menantunya dengan pandangan yang dalam, seolah bisa membaca badai yang sedang berkecamuk di dalam hati Nika. "Kenapa tiba-tiba tanya begitu, sayang? Ada masalah?"
"Nika... Nika merasa belum menjadi istri yang baik untuknya, Ma. Nika ingin memulai dari awal," bisik Nika jujur, kepalanya tertunduk dalam.
Ibu Sofia menghela napas panjang, lalu meraih tangan Nika dan menggenggamnya erat. "Devan itu anak yang sederhana sejak kecil, Nika. Dia tidak butuh kemewahan. Kamu tahu apa yang paling dia sukai? Dia suka sekali ikan asin goreng dan sambal terasi buatan rumah. Tapi dia tidak pernah berani memintanya padamu karena dia pikir kamu hanya suka makanan barat yang estetik."
Nika hampir saja tertawa di tengah rasa sedihnya. Ikan asin? Devan Adiguna, CEO yang mengelola proyek triliunan rupiah, ternyata merindukan ikan asin? Humor itu terasa getir sekaligus manis.
"Dan satu lagi," lanjut Ibu Sofia. "Dia punya satu kebiasaan aneh. Kalau dia sedang sangat sedih atau tertekan, dia akan pergi ke halaman belakang rumah dan mencoba memperbaiki apa saja yang rusak. Entah itu keran air, pagar, atau kursi kayu. Dia lebih suka memperbaiki barang daripada membicarakan lukanya. Dia pria yang pendiam dalam hal perasaan, Nika. Dia bicara lewat perbuatan."
Nika mencerna setiap kata itu. Ia teringat bulan lalu, saat ayahnya menghardik Devan di depan umum karena masalah bisnis yang sebenarnya bukan kesalahan Devan. Malam harinya, Nika menemukan Devan sedang sibuk mengelas kaki meja taman yang sebenarnya tidak terlalu goyang. Saat itu Nika hanya mencibir, menyebutnya "kurang kerjaan". Ternyata, saat itu suaminya sedang mencoba menjahit hatinya yang robek dengan cara memperbaiki barang mati.
"Tapi Ma," Nika memberanikan diri. "Apakah Mama tahu soal... perjodohan kami? Apa Devan pernah mengeluh?"
Ibu Sofia tersenyum tipis, matanya menerawang. "Nika, kamu mungkin tidak tahu ini. Tapi saat Papa kamu mengusulkan perjodohan itu, Devan sebenarnya punya pilihan untuk menolak. Dia sudah mapan, dia tidak butuh investasi tambahan. Tapi kamu tahu apa yang dia katakan pada Mama?"
Nika menggeleng pelan, jantungnya berpacu.
"Dia bilang, 'Ma, aku sudah lama memperhatikan Nika dari jauh, sejak dia masih kuliah. Dia terlihat sangat keras kepala tapi rapuh. Aku ingin menjadi tempatnya bersandar'. Devan tidak pernah merasa dipaksa, Nika. Dia memilihmu dengan sadar. Dia mencintaimu jauh sebelum kamu tahu namanya."
Kali ini, pertahanan Nika runtuh. Air matanya mengalir deras membasahi pipinya. Ia merasa seperti monster. Selama ini ia merasa paling menderita, paling terbelenggu, padahal ia sedang berada di dalam pelukan seseorang yang telah menjaganya dengan doa dan perhatian rahasia selama bertahun-tahun. Keangkuhan yang selama ini ia agungkan hancur berkeping-keping, menyisakan seorang wanita yang hanya ingin pulang dan bersimpuh di kaki suaminya.
"Pulanglah, sayang," kata Ibu Sofia lembut sambil mengusap air mata Nika. "Masaklah ikan asin yang paling enak untuknya. Jangan terlalu banyak bicara, cukup tunjukkan kalau kamu ada di sana. Hati Devan itu seperti besi, keras di luar tapi jika dipanaskan dengan api cinta yang tulus, dia akan melunak."
Nika pamit dengan hati yang penuh dengan tekad baru. Namun, di tengah jalan menuju supermarket, ia baru menyadari satu masalah teknis yang besar: Ia sama sekali tidak tahu cara memasak ikan asin tanpa membuatnya gosong atau terlalu asin. Ia bahkan tidak tahu bagaimana bentuk terasi yang bagus.
Di supermarket, Nika berdiri bingung di lorong bahan dapur. Ia menatap deretan bungkusan kecil dengan wajah serius, seolah sedang meneliti desain kain sutra terbaru.
"Mbak, ini terasi atau dodol?" tanyanya dengan polos pada seorang ibu-ibu yang lewat.
Si ibu menatap Nika dari ujung rambut hingga ujung kaki—yang memakai sepatu hak tinggi dan tas bermerek—lalu tertawa. "Aduh neng cantik, itu terasi. Baunya memang menyengat, tapi kalau sudah diulek sama cabai, suaminya bisa nambah nasi terus!"
Nika tersipu malu. Dengan penuh semangat, ia memasukkan ikan asin, terasi, cabai, dan berbagai bumbu dapur ke dalam keranjang mahalnya. Ia tidak peduli jika bau terasi itu menempel di tas branded-nya. Yang ia pikirkan hanyalah wajah Devan. Ia membayangkan bagaimana ekspresi suaminya nanti saat melihat istrinya yang biasanya anti bau dapur, kini bergelut dengan sambal terasi.
Namun, saat ia sampai di parkiran, ponselnya bergetar. Sebuah pesan singkat dari Siska, sekretaris Devan: "Bu Nika, Bapak minta saya sampaikan kalau malam ini beliau akan mengambil beberapa pakaian di rumah, tapi beliau mohon agar Ibu tidak perlu menemuinya. Beliau ingin privasi."
Nika meremas ponselnya. Rasa perih kembali datang. Devan tidak hanya menjauh, ia mulai membangun tembok tinggi yang bahkan tidak membiarkan Nika melihat bayangannya. Tapi Nika tersenyum tipis di tengah air matanya yang hampir jatuh lagi.
"Kamu ingin privasi, Mas? Baiklah. Tapi aku akan memastikan privasimu kali ini beraroma ikan asin goreng," bisiknya mantap sambil masuk ke dalam mobil.