Dikhianati saudari angkatnya sendiri, Su Fan — sang jenius fana pemegang rahasia Sembilan Dao Hukum Tertinggi memilih mati daripada menyerah. Namun, maut justru menjadi pintu reinkarnasi. Ia terbangun di tubuh pemuda bernama Li Fan di alam fana yang terpencil.
Ironisnya, Li Fan hanyalah pemuda biasa dengan akar spiritual normal. Bagi orang lain, itu hal biasa. Tapi bagi Su Fan yang dulu terkutuk 10.000 akar spiritual, tubuh ini adalah anugerah termurni untuk mulai berkultivasi. Berbekal wawasan hukum tertinggi dan pengetahuannya yang melimpah, Li Fan memulai pendakian berdarah dari titik nol.
“Surga sebelumnya tidak adil bagiku. Tapi sekarang, Aku sendiri yang mengadili Surga!”
Dari manusia fana yang dianggap sampah hingga menjadi penguasa hukum yang menggetarkan semesta. Inilah kisah perjalanan Su Fan ditubuh Li Fan untuk pendakian menuju puncak agung yang mustahil. Sang jenius yang dulu terbelenggu, kini telah lepas dari rantai takdirnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tarian Pedang Berkarat dan Tinju Besi
Angin yang berhembus dari lembah membawa uap air yang mendinginkan suasana, namun tidak cukup untuk meredam hawa panas yang memancar dari tubuh Lei Bao. Pria besar itu menatap Xiao Chen dengan urat leher yang menegang. Baginya, kemunculan pemuda berbaju linen ini adalah penghinaan berlapis. Bagaimana mungkin seorang bocah yang tampak seperti pengemis berani menghalangi jalannya?
“Kau ingin menjadi pahlawan di depan wanita ini? Baiklah, akan aku patahkan setiap tulang di tubuhmu agar kau tahu bahwa dunia ini tidak butuh pahlawan gembel!” geram Lei Bao.
Tanpa peringatan lebih lanjut, Lei Bao melesat maju. Meskipun ini adalah pertarungan tanpa mantra sihir, gerakannya sangat cepat untuk ukuran tubuh sebesar itu. Ia menggunakan teknik Tinju Penghancur Karang, sebuah seni bela diri fana yang mengandalkan momentum berat badan dan ledakan otot. Kepalan tangannya menyambar udara, menciptakan bunyi siulan tajam yang mengarah tepat ke pelipis Xiao Chen.
Xiao Chen tidak mundur. Matanya yang tajam melacak setiap pergeseran bahu lawannya. Dengan gerakan yang sangat efisien, ia memutar tubuhnya sedikit ke samping, membiarkan tinju Lei Bao meleset hanya beberapa sentimeter dari wajahnya. Di saat yang sama, Xiao Chen mengayunkan pedang tumpulnya yang masih terbungkus kain.
DUAK!
Ujung pedang itu menghantam rusuk Lei Bao. Namun, Lei Bao yang telah membuka tiga nadi spiritual memiliki ketahanan fisik yang luar biasa. Ia hanya mendengus, seolah hantaman itu hanyalah gigitan nyamuk, dan langsung membalas dengan tendangan menyamping yang menyasar pinggang Xiao Chen.
“Luar biasa! Kakak Lei Bao benar-benar monster!” seru salah satu penonton di pinggir sungai. “Lihat bagaimana dia menekan anak baru itu dengan kekuatan murninya. Tiga nadi spiritual memang bukan sekadar pajangan!”
“Anak berbaju linen itu akan segera hancur. Dia hanya menang cepat, tapi begitu Lei Bao berhasil menangkapnya, semuanya berakhir,” timpal penonton lainnya.
Di atas bukit kecil, Li Fan menyesap sisa teh dari botol bambunya sambil mengunyah daging rusa. Matanya sedikit menyipit saat memperhatikan teknik kaki Xiao Chen.
“Menarik. Bocah berbaju linen itu menggunakan Langkah Bayangan Mengalir. Meskipun nadi spiritualnya baru terbuka satu, dia sangat mahir dalam mengalihkan beban serangan lawan ke tanah. Sebaliknya, si pria besar itu hanya mengandalkan tenaga kasar yang tidak terfokus. Dalam pertarungan fana, kekuatan besar tanpa kendali adalah beban,” gumam Li Fan dengan nada bicara yang seolah sedang menilai kualitas barang dagangan di pasar.
Lin Xueyan yang berdiri tak jauh dari pusat pertarungan juga terdiam. Matanya yang dingin tidak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya. “Xiao Chen... sejak kapan kau belajar menggunakan teknik pergerakan sehalus itu?” batinnya.
Di medan laga, pertarungan semakin memanas. Lei Bao yang merasa serangannya tidak membuahkan hasil segera merubah taktik. Ia menarik napas dalam-dalam, membuat otot-otot dadanya mengembang hingga jubah yang tersisa di pinggangnya berderit. Ia menghentakkan kakinya ke tanah, menciptakan getaran yang cukup kuat untuk membuat riak di permukaan air sungai.
“Gempuran Delapan Penjuru!” raung Lei Bao.
Ia melancarkan rangkaian pukulan bertubi-tubi yang menargetkan seluruh area vital Xiao Chen. Pukulan-pukulan itu begitu rapat sehingga sulit untuk menemukan celah di antaranya. Xiao Chen terpaksa mundur beberapa langkah, pedang berkaratnya berputar di depan dadanya menciptakan penghalang mekanis untuk menangkis hantaman tinju Lei Bao.
TANG! TANG! TANG!
Suara logam tumpul beradu dengan buku jari yang keras bagaikan batu bergema di seluruh muara. Setiap kali tinju Lei Bao mendarat di bilah pedang, Xiao Chen merasakan getaran yang sangat kuat menjalar hingga ke bahunya. Meskipun Xiao Chen memiliki teknik yang lebih halus, perbedaan kuantitas Qi di dalam tiga nadi spiritual melawan satu nadi spiritual mulai memperlihatkan jurang pemisah.
Xiao Chen menyadari bahwa jika ia terus bertahan secara pasif, lengannya akan mati rasa dalam hitungan menit. Saat Lei Bao melancarkan pukulan hook kanan yang sangat bertenaga, Xiao Chen tidak menghindar ke belakang. Sebaliknya, ia meluncur ke depan, masuk ke dalam jangkauan serangan terpendek Lei Bao.
Ia menggunakan gagang pedangnya untuk menghantam ulu hati Lei Bao.
Bugh!
Lei Bao terbatuk, napasnya tersedak sesaat. Xiao Chen tidak berhenti di situ. Menggunakan momentum tersebut, ia berputar di udara dan mendaratkan tendangan tumit tepat di dagu pria raksasa itu. Kepala Lei Bao tersentak ke belakang, namun ia segera menstabilkan dirinya.
“Cukup dengan trik kecilmu!” Lei Bao meraih udara kosong dan secara mengejutkan berhasil mencengkeram kain pembungkus pedang Xiao Chen. Dengan tarikan kasar, ia menarik Xiao Chen mendekat dan melancarkan sundulan kepala yang sangat keras.
BRAK!
Xiao Chen terpelanting ke belakang, darah segar mengalir dari hidungnya. Ia berguling di atas bebatuan licin sebelum akhirnya berhasil berdiri kembali dengan susah payah. Matanya kini berkilat dengan intensitas yang berbeda—sebuah kegelapan yang tenang namun mematikan.
Lei Bao tertawa liar, wajahnya penuh dengan keringat dan keangkuhan. “Kau lihat? Hanya segini kemampuanmu? Kau hanya seekor lalat yang beruntung bisa menghindar beberapa kali!”
Xiao Chen tidak menjawab. Ia memegang pedangnya dengan kedua tangan secara vertikal di depan wajahnya. Tiba-tiba, udara di sekitar Xiao Chen terasa lebih dingin. Ini bukanlah sihir, melainkan Niat Pedang yang dipaksakan keluar dari tubuh fana melalui fokus mental yang ekstrem.
“Tujuh Bintang Menusuk Bulan!” desis Xiao Chen.
Tubuh Xiao Chen seolah menghilang sesaat. Yang terlihat hanyalah kilatan abu-abu yang melesat melintasi pelataran. Lei Bao yang merasa terancam segera menggunakan teknik pertahanan terkuatnya, Dinding Besi Karang, menyilangkan lengannya di depan wajah dengan Qi yang terkonsentrasi penuh.
ZLAP! ZLAP! ZLAP!
Xiao Chen bergerak bagaikan bayangan yang menari di sekitar tubuh besar Lei Bao. Pedangnya mematuk tujuh titik berbeda: kedua lutut, kedua siku, pundak kiri, dan terakhir mengarah ke tenggorokan. Setiap serangan mendarat dengan akurasi yang mengerikan. Meskipun Lei Bao memiliki kulit yang keras, serangan beruntun pada titik-titik saraf tersebut membuatnya kehilangan kendali atas otot-ototnya.
Lei Bao meraung kesakitan saat lututnya terpaksa menekuk ke tanah. Ia menatap Xiao Chen dengan ketakutan yang murni. Bagaimana mungkin anak baru ini memiliki teknik pedang yang begitu mematikan?
Xiao Chen melompat tinggi ke udara, memutar tubuhnya untuk memberikan beban gravitasi pada serangan terakhirnya. Pedang berkarat itu kini mengarah lurus ke ubun-ubun Lei Bao yang sudah tidak berdaya. Niat membunuh yang keluar dari mata Xiao Chen begitu pekat sehingga beberapa penonton di dekat sana sampai merinding ketakutan.
“Matilah!” teriak Xiao Chen.
Tepat saat ujung pedang itu tinggal satu inci dari kepala Lei Bao, sebuah bayangan biru melintas dengan kecepatan yang mustahil diikuti oleh mata siapapun di sana.
TAK!
Dua jari yang terlihat sangat ramping namun memiliki kekuatan yang tak tergoyahkan tiba-tiba muncul dan menjepit bilah pedang Xiao Chen tepat di tengah. Seluruh momentum serangan Xiao Chen terhenti seketika, seolah-olah ia baru saja menabrak gunung baja yang tak berujung.
Keheningan total menyelimuti area air terjun. Xiao Chen tertegun di udara sebelum akhirnya kakinya mendarat di tanah, namun tangannya masih memegang gagang pedang yang terjepit itu. Ia mencoba menarik pedangnya, namun benda itu tidak bergerak sedikit pun, seolah-olah sudah menjadi bagian dari tubuh orang yang menjepitnya.
Di hadapan mereka, berdiri seorang pria muda dengan jubah biru muda yang sedikit berantakan. Wajahnya terlihat sangat malas, dengan lingkaran hitam di bawah matanya yang menunjukkan bahwa dia sangat kurang tidur. Pria itu menguap lebar, bahkan tidak repot-repot menatap Xiao Chen secara langsung.
“Aduh, aduh... anak-anak zaman sekarang benar-benar tidak bisa dipercaya,” ucap pria berseragam biru itu dengan suara yang datar dan membosankan. “Aku baru saja bermimpi memakan kaki ayam yang lezat, dan suara dentingan pedang karatanmu ini membangunkanku. Tidakkah kalian punya rasa sopan santun sedikit pun pada senior yang sedang beristirahat?”
Murid dalam itu melepaskan jepitan jarinya, membuat Xiao Chen terhuyung mundur. Ia menatap kedua pemuda itu dengan tatapan yang seolah-olah mereka adalah serangga pengganggu.
Cerdas...
Lucu...