NovelToon NovelToon
Gormod

Gormod

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Dark Romance / Cinta Terlarang
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Penyatuan dua dinasti bisnis raksasa melalui pernikahan mendadak Fank Manafe dan Renata Batistuta memaksa Ezzvaro dan Gabriel terjebak dalam satu atap sebagai saudara tiri.
Namun, di balik status formal itu, tersimpan sejarah kelam: mereka adalah mantan kekasih yang berpisah dengan luka menganga akibat pengkhianatan dan kecemburuan fatal tiga tahun lalu.
Ketika gairah terlarang dan dendam masa lalu mulai membakar batasan moral, mereka terseret ke dalam konspirasi bisnis yang berbahaya.
Di tengah desingan peluru dan pengkhianatan keluarga, Ezzvaro harus memilih antara melindungi wanita yang paling ia benci atau membiarkan dunia menghancurkannya.
Di dunia di mana "cinta adalah kelemahan dan kekuasaan adalah segalanya," kelebihan/melampaui batas akan memaksa mereka menghadapi pilihan tersulit: bersatu dalam kehancuran atau saling menghancurkan demi bertahan hidup 🦋

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#17

Malam itu, Mayfair Mansion terasa seperti penjara yang sumpek. Di ruang kerja utama yang berdinding kayu ek tua, suara Fank Manafe menggelegar, beradu dengan nada keras Ezzvaro yang selama ini jarang membangkang.

"Ini bukan permintaan, Ezzvaro! Ini adalah aliansi strategis. Garcia Alton adalah kunci untuk ekspansi kita di sektor properti Eropa Utara!" Fank berdiri di balik meja besarnya, menatap putranya dengan mata yang menyala.

"Aku bukan pion dalam permainan bisnismu, Ayah! Aku menolak perjodohan ini. Garcia... dia bukan wanita yang bisa ku kendalikan, dan aku tidak punya perasaan padanya!" Ezzvaro mengepalkan tangan di sisi tubuhnya. Dadanya naik turun, menahan amarah yang hampir meledak. Ia muak harus berpura-pura menerima kehadiran Garcia sementara setiap sel di tubuhnya hanya menginginkan satu wanita.

"Perasaan? Sejak kapan seorang Manafe bicara soal perasaan di meja perundingan?" Fank mendengus sinis. "Kau akan bertunangan dengannya bulan depan. Titik."

Ezzvaro berbalik tanpa pamit, membanting pintu ruang kerja ayahnya dengan keras. Saat ia melangkah keluar ke lorong yang remang, matanya menangkap sosok Gabriel yang berdiri di ujung tangga. Gabriel mengenakan gaun malam sutra berwarna hijau zamrud yang melekat sempurna di tubuhnya, menonjolkan lekuk yang semalam habis dijelajahi Ezzvaro.

Mata mereka bertemu. Ezzvaro memberikan kode halus melalui tatapannya—sebuah instruksi tanpa suara: Ikuti aku.

Gabriel mengangguk tipis, jantungnya berdebar kencang. Ia melihat Ezzvaro berjalan cepat menuju pintu belakang yang mengarah ke area kolam renang. Dengan langkah anggun namun terburu-buru, Gabriel mengikuti bayangan pria itu, memastikan tidak ada pelayan atau Renata yang melihatnya.

Angin malam London berembus dingin, namun suasana di belakang mansion itu mendadak panas saat Gabriel sampai di sana. Ezzvaro berdiri di dekat deretan pohon cemara hias yang menutupi pandangan dari arah rumah. Begitu Gabriel mendekat, Ezzvaro langsung menarik pergelangan tangannya, memutar tubuh wanita itu hingga punggungnya bersandar pada dinding yang kasar.

"Vavo..." bisik Gabriel, napasnya tertahan.

Tanpa kata, Ezzvaro langsung menyambar bibir Gabriel. Ciuman itu kasar, menuntut, dan penuh dengan frustrasi yang baru saja ia tumpahkan pada ayahnya. Gabriel merasakan kupu-kupu berterbangan di perutnya, rasa sensasi yang selalu muncul setiap kali Ezzvaro menyentuhnya.

"Aku merindukanmu... aku ingin sekali menyentuhmu, Gaby," geram Ezzvaro di sela ciumannya. Tangannya yang besar turun ke pinggang Gabriel, mencengkeramnya erat seolah ingin menyatukan tubuh mereka menjadi satu.

Ezzvaro menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Gabriel, menghirup dalam-dalam aroma parfum mawar yang memabukkan. Gabriel melingkarkan tangannya di belakang leher Ezzvaro, menarik rambut pria itu pelan agar ciuman mereka semakin dalam. Ciuman yang penuh gairah, penuh kehangatan, dan penuh dengan janji-janji terlarang.

"Aku ingin merobek gaun sialan mu ini," bisik Ezzvaro parau. Tangannya mulai bekerja, menggulung ke atas bahan sutra gaun Gabriel yang halus, membiarkan kulit paha Gabriel terpapar udara malam yang dingin.

"Vavo, jangan... di sini?" Gabriel berbisik lemah, meskipun tubuhnya justru semakin mendekat pada Ezzvaro.

"Jangan bersuara, Sayang... Habis dari sini aku masih ingin bercinta denganmu sepanjang malam di kamarku. Tapi sekarang, aku tidak bisa menunggu lagi. Kita akan melakukannya dengan cepat," ucap Ezzvaro sambil menggesekkan tubuhnya yang sudah menegang pada tubuh Gabriel.

Gairah yang meluap-luap membuat akal sehat mereka menguap. Gabriel merasakan jari-jari Ezzvaro yang terampil mulai menjelajahi bagian sensitif di bawah gaunnya. "Cepatlah... aku khawatir pelayan akan melihat kita," ucap Gabriel dengan napas yang memburu.

"Tidak ada pelayan di sini, Sayang. Mereka semua sedang sibuk di dapur menyiapkan makan malam," jawab Ezzvaro yakin.

Gabriel mengangguk, menyerah pada sensasi yang membakar jiwanya. Dengan gerakan cepat dan efisien, Ezzvaro menarik celana dalam Gabriel hingga terlepas, membiarkannya jatuh begitu saja ke atas rumput. Sedetik kemudian, Ezzvaro membuka ritsleting celananya sendiri.

"Ahh... Vavo..." Gabriel mendesah saat merasakan penyatuan yang tiba-tiba namun sangat ia nantikan itu.

"Tahan, Sayang... jangan bersuara," bisik Ezzvaro, membungkam mulut Gabriel dengan ciuman panas lagi.

Ezzvaro bergerak dengan ritme yang cepat dan bertenaga. Setiap dorongan terasa sangat nikmat bagi Gabriel, membuatnya harus mencengkeram bahu jas Ezzvaro untuk tetap tegak. Di bawah naungan pohon dan kegelapan malam, mereka menjadi dua manusia yang paling egois, mengabaikan dunia yang akan mengutuk hubungan ini.

"Mari kita mencapai puncak bersama, Gaby..." bisik Ezzvaro, suaranya terdengar seperti perintah sekaligus permohonan.

Gabriel tidak tahan lagi. Ia mengerang pelan saat sensasi luar biasa itu meledak di dalam dirinya. Ezzvaro segera membungkam suara itu dengan ciuman yang sangat dalam, menyerap setiap desahan Gabriel ke dalam mulutnya sendiri. Tubuh mereka bergetar hebat dalam sinkronisasi yang sempurna.

"Aku mencintaimu, Vavo," bisik Gabriel saat napasnya mulai berangsur normal.

"Aku lebih mencintaimu, Sayang," balas Ezzvaro sambil mengecup dahi Gabriel yang berkeringat. "Maaf, aku menggigit bibirmu dengan keras tadi. Kau baik-baik saja?"

Gabriel menyentuh bibirnya yang terasa sedikit perih namun nikmat. "Tidak apa-apa, Vavo. Tidak terlalu sakit."

Ezzvaro kemudian membalikkan tubuh Gabriel dengan lembut, membantunya memasang kembali pengait bra yang sempat ia buka paksa tadi. Setelah memastikan pakaian Gabriel kembali rapi, ia memberikan satu kecupan terakhir di tengkuk wanita itu.

"Masuklah lebih dulu. Jangan sampai Ayah atau Ibumu curiga," perintah Ezzvaro.

Gabriel mengangguk, merapikan rambutnya sebentar sebelum melangkah cepat kembali ke arah mansion dengan jantung yang masih berdegup kencang.

Ezzvaro berdiri sejenak di kegelapan, mencoba mengatur napasnya dan merapikan pakaiannya sendiri. Ia menarik napas panjang, merasa sedikit lebih tenang setelah melepaskan ketegangannya. Namun, saat ia hendak melangkah pergi, matanya menangkap sesuatu yang kontras di atas rumput hijau yang gelap.

Sebuah kain renda kecil berwarna putih.

Ezzvaro membungkuk dan mengambilnya. Itu adalah celana dalam Gabriel yang tadi ia lepaskan dengan terburu-buru. Ia menatap benda kecil itu dengan senyum miring yang penuh kemenangan sekaligus geli.

"Ceroboh... dia kembali ke rumah tanpa underwear," gumam Ezzvaro pelan.

Ia memasukkan benda tipis itu ke dalam saku nya, merasakan kelembutan kainnya. Pikirannya kembali melayang pada fakta bahwa Gabriel sekarang sedang berjalan di dalam rumah, duduk di antara orang tua mereka, tanpa sehelai benang pun di balik gaun hijaunya. Pikiran itu membuat Ezzvaro merasa sangat posesif.

Ia menyusul masuk ke dalam rumah beberapa menit kemudian. Di ruang tengah, ia melihat Gabriel sedang duduk di samping ibunya, menyesap teh seolah-olah dia baru saja selesai membaca buku di taman. Ezzvaro melewati mereka, memberikan anggukan formal pada Renata, namun matanya memberikan kilatan rahasia pada Gabriel saat wanita itu mendongak.

Gabriel menyadari ada yang berbeda dari senyum Ezzvaro. Saat tangan Ezzvaro seolah secara tidak sengaja menyentuh saku sendiri sambil menatap Gabriel, Gabriel tersentak kecil. Ia baru menyadari bahwa ada sesuatu yang hilang dari tubuhnya.

Wajah Gabriel merah padam seketika. Ia menunduk dalam-dalam, berpura-pura sangat tertarik pada cangkir tehnya. Ezzvaro tertawa dalam hati melihat reaksi itu.

Malam ini baru saja dimulai, dan ia sudah tidak sabar untuk menagih janji Gabriel di kamarnya nanti—kali ini tanpa gangguan dinginnya angin malam atau bayang-bayang pohon cemara.

Di atas sana, di balik pintu kamar yang tertutup, sebuah rahasia besar akan kembali membara, membuktikan bahwa sekeras apa pun Fank Manafe mencoba menjodohkan putranya, hati dan tubuh Ezzvaro sudah terkunci pada satu nama yang tak mungkin ia lepaskan.

🌷🌷🌷

1
winpar
kerennnnn
winpar
pokoknya lnjut thorrrrrt💪💪💪💪
ros 🍂: ma'aciww kak😍
total 1 replies
winpar
hahhahHaa🤣🤣🤣
ros 🍂: Jangan ketawa sendiri kak🙏🤣🤣🤣
total 1 replies
winpar
bener2 seruuuuuuuuuu
ros 🍂: ma'aciww kak🥰
total 1 replies
winpar
yg ditunggu2 akhirny up jg💪
ros 🍂: semoga suka kak🥰🙏
total 1 replies
winpar
lnjut thorrr💪
ros 🍂: siapp kak🥰
total 1 replies
Mifta Nurjanah
cieee junior nya bngun wkwkwk
ros 🍂: Jangan dibongkar disini kak🙏🤣
total 1 replies
Lfa🩵🪽
Semangatt ✨
ros 🍂: Ma'aciww kak🥰
total 1 replies
winpar
thor ceritanya selalu seru🥰😍
ros 🍂: Ma'aciww kak🥰
total 1 replies
@RearthaZ
awal cerita yang bagus thor
ros 🍂: ma'aciww kak🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!