Setelah diperkosa secara massal oleh 10 warga desa dan diusir secara hina oleh suaminya sendiri akibat fitnah rekaman video, Ratri menempuh jalan kegelapan. Ia memasang susuk emas "Suanggi" dari seorang dukun di hutan Weling , di organ vitalnya.
Kini, ia kembali bukan untuk cinta, tapi untuk membalas pada kejantanan mereka dan nyawa siapa pun yang pernah menyakitinya.
Namun, kehadiran seorang Ustadz muda bernama Fatih membawa pilihan sulit , terus memupuk dendam yang memakan jiwanya, atau melepaskan iblis itu demi sebuah ampunan yang tak terduga dan hidup dengan nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Me Tha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perjalanan menemui maut
Lampu neon Rumah Sakit Medika Pratama yang berkedip-kedip seolah mengejek kehancuran hidup Eko. Di dalam sana, istrinya terbaring bersimbah air mata dan darah, sementara di ruang isolasi, sebuah makhluk yang ia sebut "anak" sedang menggeram menantang takdir. Eko melangkah keluar dengan napas yang memburu, tangannya mengepal hingga buku-bukunya memutih. Rasa malu, benci, dan penolakan yang ekstrem menggulung logikanya. Ia tidak sanggup menghadapi kenyataan bahwa benih yang ia tanam telah tumbuh menjadi monster.
Ia menaiki motor tuanya, memacunya menjauhi rumah sakit, menjauhi tanggung jawab, dan menjauhi rasa bersalah yang mulai menusuk-nusuk dadanya. Namun, ia tidak pulang ke Desa Karang Jati. Ia butuh sesuatu untuk membakar semua ingatan itu.
Di pinggiran kota yang masih terjaga, ia menemukan sebuah kafe remang-remang yang musiknya berdentum kencang dari balik pintu kayu kusam. Aroma alkohol dan asap rokok murahan menyambutnya saat ia melangkah masuk. Dengan kasar, ia membanting amplop cokelat berisi sisa uang dari Ratri ke atas meja bar.
"Beri aku yang paling keras! Sekarang!" bentak Eko pada pelayan kafe.
Botol demi botol berpindah ke mejanya. Satu, dua, hingga botol ke-10 kosong melompong di hadapannya. Cairan kimia itu membakar tenggorokannya, namun tidak mampu membakar bayangan Ruminten. Di tengah mabuknya yang parah, Eko teringat betapa ia sangat mencintai istrinya itu. Rumi adalah wanita paling sabar yang pernah ia temui. Ia rela merantau ke kota, mengadu nasib sebagai kuli kasar yang punggungnya nyaris patah setiap hari, hanya demi melihat Rumi bisa melahirkan dengan layak. Ia menyayangi Rumi dengan caranya yang kasar, namun tulus.
"Kenapa, Rumi? Kenapa harus lahir setan dari perutmu?" racau Eko sambil menenggak botol terakhir. Suaranya tenggelam dalam kebisingan kafe.
Ia kehilangan akal sehat. Ia merasa dikhianati oleh nasib, tanpa menyadari bahwa ia sendirilah yang membawa "penyakit" itu ke ranjang istrinya. Keinginannya untuk membahagiakan Rumi telah dicemari oleh nafsu dan kesombongannya sendiri saat bertemu Ratri di gubuk kali.
"Hei, Bang! Bangun! Kita mau tutup!"
Seorang penjaga kafe bertubuh besar mengguncang bahu Eko dengan kasar. Eko mengerjap, matanya merah dan sangat berat. Pandangannya kabur, dunia seolah berputar 360 derajat. Dengan langkah sempoyongan yang nyaris membuatnya tersungkur, ia diusir keluar dari kafe.
Udara dini hari yang dingin menusuk tulang, namun tidak mampu menyadarkan Eko yang sudah benar-benar kehilangan kontrol diri. Ia mendekati motornya, berkali-kali mencoba menaiki jok motor namun selalu meleset. Posisi duduknya miring, kakinya gemetar saat mencoba menyalakan mesin. Setelah beberapa kali percobaan yang gagal, mesin motor itu menderu batuk-batuk.
Eko memacu motornya di jalan raya provinsi yang menghubungkan kota dengan desa. Jam-jam menjelang subuh adalah waktu yang paling berbahaya. Truk-truk kontainer raksasa dan bus antar kota melaju dengan kecepatan tinggi, memanfaatkan keheningan malam sebelum dilarang melintas saat matahari terbit.
Pandangan Eko mulai terdistorsi oleh pengaruh alkohol dan sisa energi ghaib Suanggi. Di tengah aspal yang hitam, ia mulai melihat bayangan-bayangan yang tumpang tindih.
Pertama, ia melihat wajah Ruminten saat masih gadis, saat ia pertama kali melamarnya dengan penuh janji manis. Wajah itu tersenyum lembut, namun tiba-tiba kulitnya mengelupas, berubah menjadi wajah Ratri dua tahun lalu—wajah yang penuh air mata dan kehancuran saat mereka beramai-ramai menodainya di ladang jagung.
"Pergi! Pergi kalian!" teriak Eko di atas motornya yang melaju zig-zag.
Bayangan itu berubah lagi. Kini ia melihat wajah Ratri di gubuk kali, sedang mendesah manja sambil mengelus tubuhnya. Lalu sekelebat berubah menjadi wajah Ruminten yang sedang mengejan kesakitan di atas tempat tidur, bersimbah darah hitam.
Dan saat itulah, kesadaran ghaib menghantamnya lebih keras daripada alkohol.
Eko melihat sebuah penglihatan yang sangat nyata: ia melihat dirinya sendiri berdiri di pojok kamar, dan sesosok makhluk hitam berbulu—Suanggi—merayap keluar dari celananya sendiri, lalu masuk ke dalam mulut rahim Ruminten. Wajah Suanggi itu sangat mirip dengan wajah anaknya yang cacat di rumah sakit.
"Gusti Allah..." desis Eko, suaranya tercekat di tenggorokan.
Ia baru menyadari kebenaran kata-kata Mak Itam. Anaknya tidak cacat karena genetik. Anaknya adalah manifestasi dari dosanya sendiri. Ia yang membawa setan itu masuk ke dalam perut istrinya. Ia yang menghancurkan masa depan anak dan istrinya demi sekejap nikmat bersama wanita yang sebenarnya menaruh dendam kesumat padanya.
Ratri... ini semua karena Ratri...
Saat kesadaran itu menghantam jiwanya, sebuah cahaya putih yang sangat menyilaukan tiba-tiba muncul dari arah depan. Eko tidak sempat menghindar. Ia tidak sempat mengerem.
TIIIIIIIIIIITTTTTT!!!
Suara klakson truk tronton memecah kesunyian malam, diikuti suara decitan ban yang bergesekan dengan aspal.
BRAAAAKKKKK!
Hantaman itu terjadi begitu hebat. Bagian depan truk menghantam motor Eko hingga hancur berkeping-keping. Tubuh Eko terpental tinggi sebelum akhirnya jatuh dan terseret masuk ke bawah kolong truk yang masih melaju beberapa meter karena gaya inersia.
Dunia Eko seketika menjadi gelap dan penuh rasa sakit yang meledak-ledak. Ia masih sadar saat roda-roda raksasa itu menggilas bagian bawah tubuhnya. Suara tulang yang remuk terdengar seperti ranting kering yang dipatahkan. Kakinya, dari pangkal paha hingga ujung jari, hancur lebur terlindas beban puluhan ton. Tangannya yang menjuntai ke atas saat ia mencoba menahan beban juga tak luput dari gilasan ban karet yang panas.
Ajaibnya, kepalanya masih utuh karena posisi jatuhnya yang miring ke arah luar kolong.
Truk itu akhirnya berhenti. Sopir truk turun dengan wajah pucat pasi. Eko tergeletak di bawah sana, dalam genangan darahnya sendiri yang kini bercampur dengan bensin motor. Rasa sakit yang sangat luar biasa mulai menjalar dari seluruh syaraf tubuhnya yang tersisa. Ia mencoba berteriak, namun hanya darah kental yang keluar dari mulutnya.
Dalam kondisi antara hidup dan mati itu, pandangan Eko yang mulai meredup menangkap sesosok bayangan berdiri di pinggir jalan, tepat di bawah pohon mahoni yang besar.
Sosok itu adalah Ratri.
Ratri berdiri dengan anggun, mengenakan dress merah marun yang sama seperti saat di rumahnya. Ia menatap Eko dengan pandangan yang dingin, namun sebuah tawa kecil yang merdu keluar dari bibirnya yang merah. Tawa itu terdengar sangat jelas di telinga Eko, melebihi suara bising orang-orang yang mulai berdatangan.
"Bagaimana, Eko?" suara Ratri terdengar seperti bisikan angin yang tajam. "Bagaimana rasanya pembalasanku terhadap pelecehan tempo dulu? Apakah nikmatnya sebanding dengan hancurnya kakimu? Apakah indahnya sebanding dengan monster yang lahir dari istrimu?"
Eko terbelalak. Matanya melotot menatap Ratri. Ia ingin memaki, ia ingin meminta maaf, namun lidahnya sudah kaku. Ia menyadari bahwa setiap kejadian, mulai dari pertemuannya di kebun, uang lima belas juta itu, hingga kecelakaan ini, adalah bagian dari skenario balas dendam yang sangat rapi.
Ratri tidak membunuhnya seketika. Ia menghancurkan hidup Eko secara perlahan; menghancurkan keluarganya, menghancurkan masa depannya, dan kini menghancurkan raganya.
"Ini baru permulaan, Eko. Nikmatilah rasa sakitmu," ucap Ratri sebelum bayangannya perlahan-lahan memudar dan menghilang ditelan kabut pagi.
Syok yang luar biasa menghantam batin Eko. Kombinasi antara rasa sakit fisik yang tak tertahankan dan kenyataan mengerikan tentang pembalasan dendam Ratri membuatnya kehilangan sisa energinya. Pandangannya menggelap, napasnya tersengal satu-satu, hingga akhirnya ia pingsan dalam kondisi yang mengenaskan di bawah roda truk, sementara fajar mulai menyingsing di ufuk timur, membawa kabar duka baru bagi Desa Karang Jati.
kirain istrinya yg di bacok
dan jangan lupa, perdalam literasi, hantu Suanggi itu apa, dan untuk apa.
kalau benar demikian, siap siap aja Pakk RT jadi korban Ratri seperti Pakk Karno