Suami Ishani telah pergi, meninggalkan satu janji yang tidak pernah sepenuhnya ia pahami.
Kini Ishani berada di bawah satu atap dengan Langit, pria yang memiliki wajah yang sama seperti mendiang suaminya, tetapi tidak dengan hatinya.
Tatapan Langit selalu dingin.
Sikapnya penuh jarak.
Seolah kehadiran Ishani dan bayi di rahimnya adalah pengingat akan sesuatu yang ingin ia lupakan.
Ishani hanya ingin melahirkan dengan tenang.
Namun semakin lama ia tinggal di rumah itu, semakin ia menyadari bahwa yang sedang ia hadapi bukan sekadar hubungan ipar.
Ada luka lama.
Ada pengorbanan yang tak pernah benar-benar diterima.
Dan ada kecemburuan yang tumbuh diam-diam sejak mereka masih kecil.
Di antara bayi yang tak bersalah dan masa lalu yang belum selesai…
Ishani terjebak di tengah dua saudara yang dipisahkan oleh takdir.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shalema, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17: Kalimat yang Terlalu Jauh
Pagi di kompleks itu masih basah oleh sisa gerimis. Di ruang kerja, Langit sedang menatap layar laptopnya. Ia menoleh ketika melihat Ishani berjalan melewati pintu ruang kerjanya. Perempuan itu bergerak lebih lambat dari biasanya.
“Shani.”
Langkahnya berhenti. “Iya, Kak?”
“Kamu sudah sarapan?”
“Belum.”
“Jangan telat makan.”
Dari dapur terdengar suara piring beradu pelan.
“Ibu, susunya diminum dulu.” Suara Bu Rina terdengar lembut. “Kalau tidak diminum nanti dingin.”
Ishani duduk perlahan. “Iya, Bu.”
Ia mengambil gelas itu dan meneguk sedikit.
Beberapa menit kemudian, bel rumah berbunyi.
Sekali. Lalu dua kali.
Bu Rina keluar dari dapur sambil mengeringkan tangannya. “Saya buka pintunya, Pak.”
Langit tidak terlalu memperhatikan sampai suara percakapan dari depan rumah terdengar.
“Selamat pagi.”
“Pagi.”
Suara perempuan yang tidak dikenalnya. “Pak Langit ada di rumah?”
Bu Rina menjawab, “Ada, Bu. Ada keperluan apa ya?”
“Saya Bu Sari, RT di kompleks ini.”
Langit mengangkat kepala. Ia segera berdiri dan berjalan menuju ruang tamu. Seorang wanita sekitar lima puluhan berdiri di depan pintu. Di tangannya ada map berisi beberapa lembar kertas.
“Pak Langit?”
“Iya.”
“Saya Bu Sari, RT di sini.”
Langit mengangguk.
“Maaf mengganggu. Saya sedang melakukan pendataan warga.”
“Silakan.”
Bu Sari membuka mapnya. “Bapak tinggal sendiri di rumah ini?”
“Iya.”
Ia menulis sesuatu di kertas.
“Namun beberapa warga mengatakan sekarang ada penghuni lain.”
Langit tidak terlihat terganggu. “Ada.”
“Perempuan?”
“Iya.”
“Namanya?”
“Ishani.”
Di dapur, Ishani yang sedang menuang air tanpa sengaja mendengar namanya disebut.
Bu Sari kembali menulis. “Status hubungan dengan Bapak?”
Langit menjawab tanpa ragu.
“Calon istri saya.”
Di dapur, gelas di tangan Ishani hampir terlepas. Ia membeku di tempat.
Sementara Bu Sari terlihat sedikit terkejut. “Calon… istri?”
“Iya.”
Wanita itu menatap formulirnya sebentar, lalu kembali bertanya, “Namun warga juga melihat beliau sedang hamil.”
Langit menjawab dengan nada yang sama tenangnya. “Iya.”
“Anaknya…?”
Kali ini Langit menjawab tanpa jeda. “Anak saya.”
Hening untuk berapa detik. Bu Sari terlihat semakin bingung. “Maaf Pak, saya hanya memastikan data. Karena beberapa warga sempat bertanya-tanya.”
Langit menatapnya lurus. “Saya mengerti.”
“Perempuan hamil tinggal di rumah seorang laki-laki biasanya menimbulkan… salah paham.”
“Tidak ada yang perlu disalahpahami.” Nada suara Langit tetap datar. “Ishani adalah calon istri saya. Bayi itu anak saya. Kami akan segera menikah."
Bu Sari akhirnya menutup mapnya.
“Baiklah.” Ia mengangguk kecil. “Saya hanya mencatat sesuai keterangan Bapak.”
“Silakan.”
Beberapa detik kemudian wanita itu pamit dan meninggalkan rumah.
Langit menutup pintu setelah Bu Sari pergi. Suara langkah wanita itu perlahan menjauh dari halaman rumah, lalu menghilang di ujung jalan kompleks.
Langit berdiri beberapa detik di ruang tamu sebelum akhirnya berbalik menuju dapur. Ia melihat Ishani sudah duduk di kursi meja makan. Gelas susu di depannya belum habis. Tangannya memegang pinggiran meja, sementara tatapannya tertuju pada lantai.
“Kamu belum habis minumnya?” tanya Langit.
Ishani sedikit tersentak. Ia mengangkat wajahnya. “Belum.”
“Diminum.”
“Iya.”
Ia meneguk lagi, meski jelas pikirannya tidak benar-benar ada di situ. Langit menarik kursi dan duduk di seberangnya.
Beberapa detik berlalu tanpa suara. Akhirnya Ishani berkata pelan, “Kak.”
Langit mengangkat pandangannya dari ponselnya. “Iya?”
“Tadi… yang Kak Langit bilang ke Bu Sari.”
Langit sudah tahu pembicaraan itu akan muncul. “Kenapa?”
Ishani tidak langsung menjawab. Ia memutar gelasnya sedikit. “Aku takut nanti orang-orang mulai bicara macam-macam.”
Langit menatapnya lurus. “Maksudmu?”
“Kompleks seperti ini biasanya cepat sekali menyebarkan cerita,” kata Ishani hati-hati. “Kalau Bu Sari tadi sampai datang karena laporan warga… berarti mereka sudah memperhatikan.”
Langit tidak terlihat terkejut dengan kemungkinan itu. “Biarkan saja.”
Ishani menggeleng pelan. “Tidak sesederhana itu, Kak.”
Langit menunggu.
Ishani melanjutkan dengan suara lebih pelan. “Mereka bisa berpikir kita… melakukan sesuatu sebelum menikah.” Tangannya tanpa sadar mengusap perutnya. “Apalagi aku sudah hamil.”
Langit memperhatikan gerakan tangannya.
Beberapa detik ia tidak menjawab. “Aku tidak mau Ka Langit ikut dinilai buruk karena aku,” tambah Ishani.
Langit sedikit mengernyit. “Dinilai buruk?”
Ishani menatapnya. “Iya. Kak Langit punya pekerjaan, punya reputasi. Kalau tetangga mulai bicara macam-macam…”
Langit menyandarkan punggungnya ke kursi. “Shani.”
“Iya?”
“Aku tidak peduli.” Jawabannya datang cepat. Terlalu cepat.
Ishani terdiam.
Langit melanjutkan dengan nada yang tetap tenang. “Aku lebih peduli kalau mereka membuatmu tidak nyaman.”
Ishani menunduk lagi. “Aku hanya takut nanti mereka memperlakukan kita berbeda.”
“Berbeda bagaimana?”
Ishani mengangkat bahunya sedikit. “Tatapan aneh. Bisik-bisik. Hal seperti itu.”
Langit tidak menjawab langsung. Ia hanya menatap Ishani beberapa detik. Lalu berkata pelan, “Makanya aku menjelaskan tadi.”
Ishani menatapnya kembali. “Dengan mengatakan bayi ini anak Kakak?”
“Iya.” Nada suara Langit tidak berubah sedikit pun. “Dan kita memang akan menikah.”
Ishani mengangguk kecil. “Itu benar.”
“Jadi tidak ada yang perlu disembunyikan.”
Ishani terdiam. Logikanya tidak salah.
Hanya saja… tetap terasa canggung mendengarnya diucapkan dengan begitu tegas di depan orang lain.
Tiba-tiba bayi di dalam perutnya bergerak.
Gerakan kecil, tapi cukup membuatnya menarik napas pelan.
Langit langsung menyadarinya. “Dia bergerak?”
“Iya.”
Langit berdiri dan mendekat. Seperti kebiasaannya akhir-akhir ini, tangannya langsung menempel di perut Ishani.
Beberapa detik kemudian gerakan kecil itu terasa lagi. Langit menghela napas pelan. “Sepertinya dia suka mendengar kita bicara.”
Ishani tersenyum tipis. “Sepertinya begitu.”
Beberapa saat mereka hanya berdiri diam.
Lalu Ishani berkata lagi, lebih pelan dari sebelumnya. “Kak.”
“Iya?”
“Kalau nanti benar-benar ada tetangga yang bertanya langsung ke aku… aku harus bilang apa?”
Langit menarik tangannya perlahan dari perut Ishani.
Jawabannya sederhana. “Katakan saja yang sebenarnya.”
Ishani menunggu.
Langit menatapnya dengan tenang. “Kalau kamu adalah calon istriku.” Ia berhenti sebentar sebelum melanjutkan.
“Dan bayi itu memang akan menjadi anakku.”
Namun setelah itu, Langit justru yang lebih dulu mengalihkan pandangan. Ia kembali ke kursinya, seolah percakapan tadi sudah selesai.
Ishani menunduk, kembali meminum susunya yang mulai dingin.
Langit menatap layar ponselnya beberapa detik, tapi tidak benar-benar membaca apa pun di sana. Kata-kata yang tadi keluar dari mulutnya kembali terngiang di kepalanya.
Calon istri saya. Anak saya. Kalimat itu keluar begitu saja. Tanpa dipikir panjang.
Seolah itu memang kenyataan yang sudah pasti.
Langit mengembuskan napas pelan. Padahal jauh di dalam dirinya ada sesuatu yang tidak ingin ia akui. Rasa takut. Bukan takut pada tetangga. Bukan pada gosip orang-orang. Melainkan pada dirinya sendiri.
Ia takut kata-kata itu suatu hari akan berubah menjadi sesuatu yang benar-benar ia inginkan. Padahal sejak awal ia hanya berniat menjaga mereka. Dan bayi yang sedang dikandungnya. Keduanya adalah titipan dari Biru. Amanah yang seharusnya ia jaga, bukan ia miliki.
Namun entah sejak kapan, setiap kali bayi itu bergerak di bawah telapak tangannya… perasaan di dadanya tidak lagi terasa seperti sekadar tanggung jawab. Dan itu justru yang paling membuatnya gelisah.
Di seberang meja, Ishani masih duduk dengan tangan yang sesekali mengusap perutnya.
Langit menatap pemandangan itu beberapa detik lebih lama dari yang seharusnya. Lalu ia berdiri. “Aku kembali kerja dulu.”
Ishani mengangguk. “Iya, Kak.”
Langit berjalan kembali ke ruang kerjanya. Namun bahkan setelah pintu tertutup, satu kalimat masih tertinggal di kepalanya.
Bayi itu anak saya.
Dan untuk pertama kalinya, Langit tidak yakin apakah kalimat itu tadi hanya sekadar penjelasan… atau sesuatu yang diam-diam mulai ia percayai sendiri.
walaupun keras, langit orangnya bertanggung jawab, dan kayaknya dia beneran sayang sama kamu dan baby kamu ishanii /Slight/
Semangat!