Davino Narendra seorang polisi yang trauma akan masa lalunya justru terikat dengan sebuah perjanjian perjodohan dimasa yang akan datang. Perjodohan itu mempertemukan Davino Narendra dengan seorang Dokter, yakni Alisa Widanata.
Kehidupan rumah tangga mereka tentu sangat teruji, karena di balik pernikahan tanpa didasari cinta serta dua bangsal yang berbeda harus menyatukan dua insan tersebut.
bagaimana kelanjutannya??? ikuti kisahnya.....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Akmaludd, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25
Perjalanan pulang dari kediaman Papa Hendra dan Mama Sari di Menteng menuju rumah pribadi mereka di Jakarta Selatan terasa jauh lebih tenang. Tidak ada lagi keheningan yang menyesakkan atau ketegangan yang memicu amarah. Alisa menyandarkan kepalanya di bahu Davino, sementara tangan kiri Davino yang tidak memegang kemudi sesekali mengusap jemari Alisa dengan lembut.
Sesampainya di rumah, suasana terasa berbeda. Rumah minimalis yang biasanya terasa dingin dan fungsional itu kini seolah memiliki nyawa. Maura sudah masuk ke kamarnya lebih dulu, meninggalkan kakak dan kakak iparnya di ruang tengah yang hanya diterangi lampu gantung berwarna kekuningan.
Davino tidak langsung menuju kamarnya. Ia menahan tangan Alisa saat wanita itu hendak melangkah menuju dapur untuk minum.
"Alisa, tunggu sebentar. Ada yang ingin aku bicarakan," ucap Davino. Suaranya tidak lagi terdengar seperti seorang perwira yang memberikan instruksi, melainkan suara seorang pria yang sedang mempertaruhkan hatinya.
Alisa berbalik, menatap mata Davino yang tampak sangat serius namun teduh. "Ada apa, Mas? Perutku masih sedikit melilit, aku ingin minum air hangat."
Davino menuntun Alisa untuk duduk di sofa panjang. Ia berlutut di depan Alisa, memegang kedua tangan istrinya itu. "Tentang kejadian semalam... tentang foto Sarah, tentang tangisannmu di taman, dan tentang pengakuan kita di kamar lama itu... aku sudah memikirkannya sepanjang jalan."
Alisa terdiam, jantungnya mulai berpacu.
"Aku tahu kita memulai ini dengan cara yang salah," lanjut Davino. "Kita terjebak dalam wasiat, kita terikat oleh kontrak satu tahun yang konyol itu, dan kita sepakat untuk bersandiwara demi ketenangan semua orang. Aku yang membuat aturan itu, Alisa. Aku yang membangun dinding agar tidak ada lagi orang yang bisa menyakitiku setelah Sarah pergi."
Davino menghela napas panjang, menatap lekat-lekat mata cokelat Alisa. "Tapi aku salah. Ternyata dinding itu justru menyakitimu. Dan melihatmu terluka semalam membuatku sadar bahwa aku sudah gagal melindungi hal yang paling berharga dalam hidupku saat ini."
Alisa merasakan matanya mulai memanas. "Mas..."
"Aku tidak ingin menunggu satu tahun lagi untuk tahu apakah ini nyata atau bukan," Davino merogoh saku kemejanya dan mengeluarkan selembar kertas yang sudah agak terlipat. Itu adalah surat kontrak pernikahan yang mereka tandatangani beberapa bulan lalu.
Di depan mata Alisa, Davino merobek kertas itu menjadi potongan-potongan kecil.
"Kontrak itu sudah tidak ada. Sandiwara ini berakhir malam ini," ucap Davino tegas. "Aku tidak ingin menjadi suamimu karena wasiat Ayahmu. Aku tidak ingin menjagamu karena tugas dari negara. Aku ingin menjadi suamimu karena aku mencintaimu, Alisa Widanata."
Kalimat itu meluncur begitu saja dari bibir Davino. Kata 'cinta' yang selama lima tahun ini dianggapnya sebagai kelemahan, kini ia ucapkan dengan penuh keyakinan.
"Aku ingin kita benar-benar berumah tangga. Tanpa batas waktu, tanpa aturan rahasia, tanpa akting di depan orang tua kita. Aku ingin pulang ke rumah ini karena ada kamu, bukan karena ini tempat berteduhku. Apa kamu bersedia memberikan kesempatan pada robot kaku ini untuk belajar mencintaimu dengan benar setiap harinya?"
Alisa tidak bisa menahan tangisnya lagi. Ia menarik tangannya dari genggaman Davino hanya untuk memeluk leher pria itu dengan erat. Isak tangisnya pecah di bahu Davino, namun kali ini bukan karena sedih atau pengaruh hormon PMS, melainkan karena rasa lega yang luar biasa.
"Mas jahat... kenapa baru bilang sekarang?" bisik Alisa di sela isaknya.
Davino membalas pelukan itu tak kalah erat, membenamkan wajahnya di ceruk leher Alisa. "Maafkan aku. Aku terlalu takut untuk mengakuinya pada diriku sendiri."
"Aku juga mencintaimu, Mas. Aku benci saat kamu pergi tugas, aku benci saat kamu tidak membalas chat-ku, dan aku benci saat aku sadar bahwa aku sudah tidak bisa hidup tanpamu," pengakuan Alisa membuat Davino mempererat pelukannya.
Mereka berdua terlarut dalam momen kejujuran itu selama beberapa menit. Di ruang tengah yang sunyi itu, kontrak satu tahun yang semula menjadi beban, kini telah menjadi abu.
Setelah tangis Alisa mereda, Davino menjauhkan sedikit tubuhnya, menghapus sisa air mata di pipi Alisa dengan ibu jarinya. "Jadi, mulai malam ini, tidak ada lagi rumah yang hanya ditempati hanya untuk singgah, tapi ada orang yang menunggu kita? Tidak ada lagi 'Mas' dan 'Alisa' yang bersandiwara?"
Alisa tersenyum malu-malu, pipinya merona merah. "Memangnya Mas kuat mendengar omelanku setiap pagi soal handuk basah di atas kasur?"
Davino terkekeh—tawa yang renyah dan lepas. "Aku sudah menghadapi teroris bersenjata lengkap, Alisa. Menghadapi omelan dokter cantik sepertimu sepertinya adalah misi yang paling menyenangkan yang pernah aku terima."
Malam itu, mereka menghabiskan waktu dengan mengobrol di ruang tengah hingga larut. Davino menceritakan banyak hal yang tidak pernah ia ceritakan pada siapapun, termasuk ketakutan-ketakutannya sebagai anggota Satgas. Alisa pun bercerita tentang impian-impiannya sebagai dokter spesialis bedah yang ingin ia capai bersamanya.
"Mas benar-benar sudah membuang foto itu?" tanya Alisa pelan saat mereka hendak beranjak ke kamar.
Davino mengangguk pasti. "Tadi pagi, sebelum kita pamit pada Mama Sari, aku sudah memasukkannya ke dalam kotak kenangan yang terkunci di gudang rumah Papa. Bukan untuk dipuja, tapi untuk diletakkan di tempat semestinya: di masa lalu. Sekarang, fokusku adalah masa depan. Dan masa depanku adalah kamu."
Davino kemudian menggendong Alisa ala bridal style, membuat Alisa memekik terkejut namun kemudian tertawa sembari merangkul leher suaminya. Davino membawa Alisa masuk ke kamar utama—bukan lagi kamar yang terpisah, melainkan kamar mereka berdua.
Meskipun Alisa masih dalam kondisi haid dan mereka tidak bisa melakukan hubungan suami istri secara intim malam itu, namun tidur dalam pelukan satu sama lain dengan status yang baru terasa jauh lebih nikmat daripada sebelumnya. Davino mengecup kening Alisa dengan lama, kali ini tanpa perlu ada Maura atau Mama Sari yang melihat.
"Selamat tidur, Istriku," bisik Davino di telinga Alisa.
"Selamat tidur, Mas Suami," jawab Alisa sembari mengeratkan pelukannya di pinggang kokoh Davino.
Malam itu, di bawah atap yang sama, dua hati yang semula retak dan dingin akhirnya menemukan kehangatan yang sesungguhnya. Sandiwara telah berakhir, dan kehidupan berumah tangga yang nyata baru saja dimulai. Di luar sana, Jakarta mungkin masih penuh dengan bahaya dan intrik, namun di dalam kamar itu, hanya ada kedamaian yang selama ini mereka cari.
Keesokan paginya, Maura keluar dari kamarnya dan mendapati pemandangan yang membuatnya hampir menjatuhkan gelas susunya. Ia melihat Davino sedang membantu Alisa menyiapkan sarapan di dapur. Bukan hanya membantu, Davino sesekali mencuri ciuman di pipi Alisa saat wanita itu sedang memotong buah, membuat Alisa tertawa renyah.
Maura berdehem sangat keras. "Ehem! Ini mataku yang masih mengantuk atau memang ada perubahan genre film di rumah ini? Kemarin rasanya masih film action-thriller, kenapa pagi ini jadi drama romantis begini?"
Alisa tersipu malu, sementara Davino menatap adiknya dengan santai. "Ra, mulai sekarang kamu tidak perlu repot-repot jadi penengah lagi. Kontraknya sudah hangus."
Mata Maura membelalak. "Hah? Maksudnya? Kalian sudah... beneran?"
"Iya, Ra. Beneran," jawab Alisa sembari tersenyum lebar.
Maura langsung berlari dan memeluk keduanya. "Akhirnya! Capek tahu lihat kalian berantem terus padahal sudah jelas-jelas saling suka. Bang Vino, jangan bikin Kak Alisa menangis lagi ya, atau aku akan lapor Papa!"
Davino merangkul bahu istrinya. "Tidak akan, Ra. Misi utamaku sekarang adalah menjaga senyuman kakak iparmu ini tetap ada."
Pagi itu, meja makan mereka dipenuhi dengan tawa dan kehangatan yang jujur. Tidak ada lagi beban rahasia, tidak ada lagi akting. Hanya ada keluarga kecil yang sedang memulai langkah pertama mereka di jalan yang benar. Davino tahu tantangan di depannya sebagai polisi masih besar, dan Alisa pun tahu risiko pekerjaannya sebagai dokter tidaklah mudah, namun selama mereka berpegangan tangan, mereka yakin tidak ada badai yang tidak bisa mereka lalui.
Selesai sarapan, Davino mengantar Alisa ke rumah sakit. Di depan lobi, Davino turun dari mobil dan membukakan pintu untuk istrinya. Sebelum Alisa masuk, Davino menariknya pelan dan mencium tangannya di depan banyak orang.
"Aku jemput nanti sore. Jangan lewatkan jam makan siangmu," ucap Davino lembut.
Alisa mengangguk, hatinya berbunga-bunga. "Hati-hati di kantor, Mas. Jangan terlalu lelah."
Saat Alisa berjalan masuk ke rumah sakit, ia merasa langkahnya jauh lebih ringan. Fani yang melihatnya dari kejauhan langsung menghampiri dengan wajah penuh gosip. "Al! Itu tadi Davino? Si robot es itu mencium tanganmu di depan publik? Apa terjadi keajaiban dunia semalam?"
Alisa hanya tersenyum manis, membetulkan jas dokternya. "Iya, Fan. Keajaiban itu namanya kejujuran. Dan aku rasa, aku sedang menjadi wanita paling bahagia di rumah sakit ini hari ini."
Di sisi lain, Davino masuk ke mobilnya dengan senyum yang tidak hilang dari wajahnya. Ia menyalakan radio, dan entah kenapa, lagu-lagu cinta yang biasanya ia benci kini terdengar sangat masuk akal di telinganya. Misi barunya telah dimulai: bukan menangkap penjahat, tapi menjaga hati wanita yang telah menyelamatkannya dari kegelapan masa lalu.
Bersambung