Anindira Cewek yang dikenal “bar-bar”. Ceplas-ceplos, berani ribut kalau diremehin, dan gak pernah mau kalah. Di balik kerasnya, Dira cuma capek terus disalahpahami. Ia takut jadi lemah—padahal yang ia butuhin cuma dimengerti. Meskipun bar-bar dia juga memiliki sisi rasa penakut , terlebih pada hal - hal yang berbau horor
Elvan Bagaskara
CEO muda yang dingin di cap ceo dingin , rapi, dan perfeksionis. Hidupnya dikontrol logika. Emosi dianggap gangguan. Terlihat kuat, padahal ia memikul tanggung jawab terlalu berat di usia muda.
Albian Bagaskara
Adik Elvan Satu sekolah dengan Dira . Pendiam dingin, dan tertutup. Tidak suka konflik, tapi selalu ada di saat orang lain diserang. Cara pedulinya sunyi, itu yang membuat tidak terlihat .
Bagaimana jadinya .Dira cewek bar -bar bertemu Ceo dingin dan terjebak dalam kisah yang rumit antara Elvan dan Albian .
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Helena Fox, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 22
Mobil yang dikendarai Elvan melaju di jalan raya kota.
Langit sore mulai gelap. Lampu-lampu jalan sudah menyala satu per satu.
Di dalam mobil suasana masih agak canggung.
Dira duduk menyandar ke jendela dengan wajah merajuk.
Ia masih kesal sejak kejadian di taman.
“Om selalu muncul di waktu yang nggak tepat,” gumamnya pelan.
Elvan melirik sekilas.
“Kamu tidak menjawab pesanku.”
Dira mendengus.
“Kan sudah aku bilang.lagi libur.”
Elvan tidak menjawab lagi.
Namun beberapa detik kemudian matanya menyipit sedikit. Ia lihat Sebuah mobil hitam terlihat mengikuti mereka dari belakang.
Awalnya Elvan tidak terlalu memikirkan.
Namun mobil itu tetap berada di belakang mereka… bahkan saat Elvan berpindah jalur.
Alisnya langsung mengerut.
“Kenapa om ?” tanya Dira.
Elvan menatap kaca spion.
“Pegang sabuk pengamanmu.”
Dira langsung bingung. “Hah?”
Namun saat Dira melihat ke belakang—
Mobil hitam itu tiba-tiba mempercepat kecepatannya .Tambah mendekat.
BRAAAK!
Mobil itu hampir menabrak bagian belakang mobil Elvan.
“WOI!” teriak Dira kaget. Ia panik saat melihat kembali ke belakang ,mobil itu semakin dekat.
Elvan langsung memutar setir menghindar.
Mesin mobil meraung keras saat ia menekan gas.
“Pegangan! Dira!”
Dira langsung memegang kursi dengan panik.“Ada apa ini om ?!”
Elvan menatap jalan dengan serius. “Orang suruhan Bara.”
Jantung Dira langsung berdegup keras.
“Apa?!”
Mobil hitam itu kembali mendekat dengan cepat.
Seolah sengaja menabrak.
BRAK!
Benturan keras dari samping membuat mobil Elvan sedikit oleng.
Dira menjerit.
“Om Elvan!”
Elvan berusaha mengendalikan setir.“Tenang dir!”
Namun mobil lain dari depan tiba-tiba muncul.
Elvan mencoba menghindar—
Namun terlambat.
BRAAAK!
Benturan keras terjadi.
Mobil mereka menabrak pembatas jalan. Suara kaca pecah terdengar di mana-mana. Beberapa detik dunia terasa sunyi. Debu dan asap tipis memenuhi udara.
Di kursi penumpang…
Kepala Dira terjatuh ke samping.
Matanya tertutup.
“Dira…?”
Suara Elvan terdengar pelan.
Namun saat ia menoleh—
Wajahnya langsung berubah panik.
“Dira…?”
Suara Elvan terdengar pelan.
Namun saat ia menoleh—
Wajahnya langsung berubah panik.
“DIRA!”
Dira tidak bergerak.
Ada sedikit darah di pelipisnya.
Elvan langsung melepas sabuk pengaman dengan tangan gemetar.
“Bangun… Dira!”
Ia memegang bahu gadis itu. Ia memegang bahu gadis itu. Namun tidak ada respon.
Jantung Elvan terasa seperti berhenti.
“Tidak… tidak… tidak…pliss bangun dira!”
Ia menepuk pelan pipi Dira berulang kali.
“Dira! Bangun!”
Namun Dira tetap tidak bergerak.
Elvan langsung membuka pintu mobil dengan susah payah.
Beberapa orang mulai berkumpul di sekitar lokasi kecelakaan.
Namun Elvan tidak peduli.
Ia hanya memeluk tubuh Dira dengan panik.
“Dira… tolong bangun…”
Suara yang biasanya dingin itu sekarang penuh ketakutan.
Untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama…
Elvan benar-benar takut.
" Tolong panggilkan ambulans " pinta elvan pada salah satu orang yang berkumpul disana.
Ia terus memanggil nama dira.
" Dira! Pliss wake up"
Tak lama kemudian ambulans datang.
Suara sirine ambulans memecah malam. Lampu merah berpendar di sepanjang jalan saat kendaraan itu melaju cepat menuju rumah sakit.
Di dalam ambulans, tubuh Dira terbaring lemah di atas brankar. Wajahnya pucat, rambutnya sedikit berantakan, dan darah tipis terlihat di pelipisnya.
“Dok… dia pingsan sejak kecelakaan,” suara Elvan terdengar tegang. Tangannya masih menggenggam tangan Dira yang dingin.
Petugas medis memeriksa tekanan darah dan denyut nadi Dira.
“Tenang Pak, nadinya masih stabil. Tapi dia harus segera diperiksa di rumah sakit.”
Namun bagi Elvan, kata tenang terasa mustahil.
Bayangan mobil yang tiba-tiba mengejar mereka masih berputar di kepalanya. Mobil hitam yang berusaha menabrak dari samping. Klakson. Ban yang berdecit. Dan akhirnya mobilnya kehilangan kendali.
Jika dia sedikit terlambat memutar setir… mungkin keadaan Dira sekarang jauh lebih buruk.
Tangannya mengepal.
“Bara…” gumamnya pelan, penuh kemarahan.
Beberapa menit kemudian ambulans berhenti di depan rumah sakit. Para perawat segera membawa Dira masuk ke ruang IGD.
Elvan mencoba ikut masuk, tapi seorang perawat menahannya.
“Pak, mohon tunggu di luar dulu.”
Pintu tertutup.
Elvan berdiri di koridor rumah sakit dengan napas berat. Jasnya masih kotor oleh debu dan sedikit darah dari luka kecil di tangannya.
Beberapa menit kemudian Kenzo datang tergesa-gesa.
" Elvan!”
Elvan menoleh.
Kenzo langsung menghampirinya. “Aku baru dengar dari anak buah kita. Apa yang terjadi?”
Elvan mengusap wajahnya kasar.
“Mobil kita dikejar,” katanya dingin. “Orang suruhan Bara.”
Mata Kenzo langsung menegang. “Bara lagi?”
Elvan mengangguk.
“Dia sudah mulai bergerak terang-terangan.”
Kenzo mengepalkan tangannya. “Kurang ajar…”
" Segera bereskan mereka "
" Baik "
Suasana koridor kembali sunyi.
Beberapa saat kemudian seorang dokter keluar dari ruang IGD.
Elvan langsung berdiri. “Dokter, bagaimana keadaannya?”
Dokter membuka masker sedikit.
“Pasien hanya mengalami benturan di kepala dan kelelahan berat. Tidak ada luka serius, tapi dia masih belum sadar.”
Napas Elvan akhirnya sedikit lega.
“Boleh saya melihatnya?”
Dokter mengangguk.
Elvan masuk ke dalam ruangan.
Di sana, Dira terbaring di tempat tidur rumah sakit. Wajahnya masih pucat, namun napasnya sudah stabil. Tangannya terpasang infus.
Melihat gadis itu tak sadarkan diri membuat dada Elvan terasa berat.
Ia menarik kursi dan duduk di samping tempat tidur.
“Dasar gadis keras kepala…” gumamnya pelan.
Tangannya perlahan merapikan rambut Dira yang menutupi wajahnya.
“Baru sebentar aku tinggalin, udah bikin jantung aku hampir copot.”
Beberapa detik ia hanya menatap wajah gadis itu.
Namun tiba-tiba jari Dira bergerak sedikit. Elvan langsung menegang.
Kelopak mata Dira perlahan terbuka.
Pandangan matanya masih buram.
“Ugh…”
Elvan langsung mendekat.
“Dira? Kamu bisa dengar aku ?”
Beberapa detik Dira hanya menatap kosong. Lalu fokus matanya mulai kembali.
Hal pertama yang ia lihat adalah wajah Elvan yang sangat dekat dengannya.
Alisnya langsung berkerut. Ia masih shock apa yang sudah terjadi padanya tadi. Hampir saja ia kehilangan nyawanya.
“…Kenapa bisa disini?”
Elvan langsung terdiam.
Beberapa detik kemudian Dira mencoba bangun, tapi kepalanya terasa pusing.
“Aduh…”
Elvan menahan bahunya. “Jangan gerak dulu. Kamu baru sadar.”
" Om...hiks takut...." dira langsung merengek
" Syutt... tenang ada aku disini " elvan membawa dira kedalam dekapannya .Ia peluk dira dengan erat seolah tidak ingin melepaskan nya.
" Hiks....kenapa harus aku...." lirih dira
" Tenang lah.. aku janji ini gak akan terjadi lagi" elvan mengecup pucuk kepala dira..
Sedangkan kenzo yang tadinya ingin masuk melihat keadaan dira. Berhenti saat melihat pemandangan di dalam.
" Kamu gadis kuat dek.Maafkan abang belum bisa menjaga kamu dengan baik." batinya
Melihat itu kenzo memutuskan untuk tidak menganggu , Ia memilih keluar kembali.
Bersambung.........