NovelToon NovelToon
The Future With My Grumpy Neighbor

The Future With My Grumpy Neighbor

Status: sedang berlangsung
Genre:Sci-Fi / Time Travel / Menikah dengan Musuhku / Enemy to Lovers / Slice of Life
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Ariska Kamisa

"Jangan dekat-dekat cowok lain, Cebol. Kau itu tanggung jawabku!"
Bagi Anvaya Dinakara, Narev Elvaro adalah tetangga raksasa setinggi 192 cm yang paling menyebalkan. Narev selalu mengawasi Vaya, melarangnya berteman dengan pria lain dengan alasan "menjaga titipan orang tua".
Namun, satu insiden di malam kelulusan melempar mereka sepuluh tahun ke masa depan. Vaya terbangun bukan di kamarnya, melainkan di pelukan Narev dewasa yang sangat memujanya. Lebih gila lagi, ada seorang bayi cantik bernama Miciella Aracelli yang memanggil mereka "Mama" dan "Papa".
Terjebak dalam pernikahan masa depan yang manis, mampukah mereka kembali ke masa lalu saat status mereka masih "musuh bebuyutan"? Atau justru Narev akan melakukan segala cara agar masa depan itu menjadi nyata?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6: Antara Benci dan Kagum

[POV: Vaya]

"Narev! Tolong! Ini darurat!" aku berteriak sekuat tenaga, berdiri mematung di tengah kamar bayi yang luas ini.

Miciella, yang tingginya baru sepinggangku, sedang menarik-narik ujung celana piyamaku dengan tangan mungilnya. Wajah cantiknya ditekuk, matanya berkaca-kaca, dan dia mulai mengoceh dengan suara serak yang membuat jantungku mau copot.

"Ma... Ma... Pup! Pup! Mama... pup!" rengek Mici sambil menunjuk-nunjuk bagian belakang popok celananya yang tampak sedikit menggelembung.

Detik berikutnya, sebuah aroma "ajaib" yang sangat menyengat menusuk hidungku. Mataku terbelalak, perutku mual seketika. Aku menempelkan punggung ke tembok, mencoba menjauh dari anak kecil yang secara teknis adalah anakku itu.

"Hiiiii! Bau banget! Mici, jangan dekat-dekat dulu!" teriakku histeris. Aku panik setengah mati. Jangankan menceboki balita, mengurus diriku sendiri saat sedang diare saja aku masih suka mengeluh pada Ibu. Bagaimana bisa aku membersihkan "bom" dari manusia kecil ini?

Melihatku berteriak dan menjauh, bibir Mici mulai melengkung ke bawah. Dia ketakutan melihat reaksiku. "Huaaaaa! Mama! Mama mama! Huaaaa!"

Mici menangis kencang, suaranya menggelegar di seluruh ruangan. Dia mulai berlari mengejarku dengan langkahnya yang masih sedikit oleng, membuatku berputar-putar di sekitar boks bayi untuk menghindar. "Mici, jangan kejar Mama! Bau, Nak! Nanti kena celana Mama!"

"Pelan-pelan, Vaya. Kamu bisa bikin dia makin trauma kalau teriak-teriak begitu."

Narev masuk dengan santai, masih mengenakan kaos rumahan hitam yang memperlihatkan otot lengannya yang kokoh. Dia menghela napas panjang, menatapku yang sudah nyaris menangis karena stres dan mual, lalu beralih menatap Mici yang sedang menangis tersedu-sedu di tengah karpet.

"Narev! Cepat lakukan sesuatu! Dia... dia 'pup' di sana! Baunya parah banget, aku nggak kuat!" seruku sambil menutup hidung dengan kerah baju.

Narev tidak marah. Dia justru berlutut di depan Mici, membiarkan tangan mungil bayi itu memukul-mukul bahunya karena kesal. "Ssttt... Mici sayang, jangan nangis. Mama cuma kaget, mmm? Sini sama Papa."

Narev menggendong Mici dengan sangat tenang. Dia membawanya ke meja ganti, mengambil popok celana yang baru, dan beberapa lembar tisu basah khusus bayi. Tangannya yang besar bergerak dengan sangat lihai—tangan yang sama yang biasanya kaku dan dingin di sekolah, kini terlihat sangat terampil.

Dia merobek bagian samping popok celana Mici yang kotor dengan satu tarikan ahli, membersihkannya dengan sangat telaten tanpa ada ekspresi jijik sedikit pun di wajahnya.

"Selesai. Lihat? Tidak sesulit itu kalau kamu tenang, Vaya," ucap Narev tanpa menoleh padaku. Dia lalu memakaikan popok celana baru, menariknya ke atas seperti memakai celana biasa.

Mici seketika diam. Dia mengucek matanya yang basah, lalu merentangkan tangan minta dipeluk lagi. Narev mencium keningnya, lalu menoleh menatapku yang masih berdiri di pojokan.

"Anak ini butuh ibunya, bukan orang yang teriak-teriak ketakutan saat dia merasa tidak nyaman," ucap Narev, suaranya rendah dan terdengar seperti teguran namun lembut.

Aku tertunduk lesu. Ada rasa malu yang menjalar di hatiku, bercampur dengan rasa kagum yang tidak bisa kubendung. Narev... raksasa yang paling kubenci karena sifatnya yang otoriter, ternyata adalah seorang ayah yang luar biasa sabar. Dia bahkan tidak mengeluh saat tangannya mungkin saja terkena kotoran anaknya.

"Maaf... aku benar-benar nggak tahu harus gimana," gumamku lirih.

Narev berjalan mendekat sambil tetap menggendong Mici. Dia berdiri tepat di depanku, membuatku harus mendongak untuk menatap wajah dewasanya yang sangat tampan.

"Sejak kapan kamu jago begini?" tanyaku lirih,

"Mungkin karena di masa depan ini, aku sudah melakukannya selama dua tahun, Vaya. Aku tidak mungkin membiarkan istriku kelelahan mengurus anak sendirian, kan?"

"Berhenti bicara seolah ini beneran, Narev," aku memalingkan muka, mencoba menepis rasa kagum yang mulai muncul. "Kita harus balik. Aku mau sekolah, aku mau kuliah, aku nggak mau terjebak di sini jadi ibu rumah tangga yang nggak tahu apa-apa!"

Narev berjalan mendekat, lalu duduk di sampingku sambil tetap mendekap Mici yang tertidur. Jarak kami begitu dekat hingga bahu kami bersentuhan.

"Memangnya apa yang salah dengan di sini?" tanya Narev pelan. "Kamu punya aku yang bisa mengurus semuanya. Kamu punya Mici yang mencintaimu. Apa kehidupan SMA-mu yang penuh tugas Biologi itu lebih berharga daripada ini?"

"Iya! Karena itu kehidupanku yang asli! Di sini... aku merasa seperti pencuri yang mengambil kebahagiaan Vaya versi dewasa!"

Narev terkekeh sinis. Dia memindahkan Mici ke dalam boks bayinya dengan sangat hati-hati, lalu kembali fokus padaku. Tanpa aba-aba, dia meraih jemariku dan menggenggamnya erat.

"Dengar, Cebol," ucapnya, menggunakan panggilan lama itu namun dengan nada yang jauh lebih dalam. "Vaya dewasa itu adalah kamu. Tidak ada orang lain. Kamu hanya melompati waktunya saja. Dan soal sandiwara... kurasa aku sudah bosan berpura-pura."

"Maksudmu?"

Narev maju, mengikis jarak di antara kami. Dia menangkup pipiku dengan satu tangan, jempolnya mengusap bibir bawahku dengan gerakan yang sangat frontal dan berani.

"Tadi pagi mungkin aku bilang ini sandiwara di depan Mama. Tapi sekarang, saat hanya ada kita berdua... aku ingin melakukannya karena aku memang ingin," bisik Narev. Dia menatap mataku dengan intensitas yang membuatku lupa cara bernapas. "Aku suami kamu, Vaya. Di masa lalu, di masa depan, atau di dimensi mana pun, aku akan tetap mengklaim kamu sebagai milikku."

"N-narev... kamu terlalu dekat..." aku mencoba mundur, tapi tangannya di tengkukku menahanku.

"Kamu bilang aku jago ngatur dan jago marah? Kamu benar. Tapi aku juga jago menjaga apa yang jadi milikku," Narev mendekatkan wajahnya, hidung kami bersentuhan. "Jadi jangan pernah berpikir untuk lari. Karena bahkan jika kamu menemukan cara untuk balik ke masa lalu, aku akan pastikan di masa lalu itu pun kamu tidak akan pernah bisa lepas dariku."

Dia mencium keningku lama, sebuah kecupan yang terasa sangat posesif sekaligus melindungi. Aku terpaku. Sisi papable-nya yang telaten mengurus Mici membuatku kagum, tapi sisi frontalnya sebagai suami membuatku ketakutan sekaligus... berdebar.

"Sekarang, Mama sebaiknya istirahat," ucap Narev sambil berdiri, lalu menarikku ikut berdiri. Dia merangkul pinggangku dengan posesif saat kami berjalan keluar dari kamar bayi. "Besok kita ada acara makan malam dengan kolega bisnisku. Kamu harus tampil cantik sebagai istri seorang Narev Elvaro."

Aku hanya bisa terdiam, mengikuti langkah kakinya yang panjang. Aku sadar, Narev tidak hanya jago mengurus anak, dia juga sangat jago menjerat hatiku hingga aku mulai lupa bahwa aku seharusnya mencari jalan pulang.

1
Lis Lis
labil ......
G konsisten sma omongannya si vaya
Ariska Kamisa: 🤭🤭🤭🤭 mungkin vaya galau kak...
total 1 replies
Lis Lis
AQ jga G tau spa yg harus aku prcya vaya😭😭😭
Ariska Kamisa: terimakasih banyak kak sudah mampir 🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
Sulas Lis
huaaaaa huaaa 😭😭😭
ko pendek kali babnya panjangin dikit dong kaaaa
Ariska Kamisa: terimakasih kak udah mampir... 🙏🙏🙏 terimakasih atas sarannya... 🙏🙏🙏
total 1 replies
Ridwani
👍👍👍👍
awesome moment
bingung mo.kasih comment. tll sedikit dan...agak lama. smp hmp lupa. maapkeun
awesome moment
vaya sgt memuakkan. oon g abis2. wanita tu mending dicintai. aman. ogeb dipiara. ragu digedhein. vaya EGOIS!!!
Ariska Kamisa: sabar kak... kita doakan naren bisa meluluhkan Vaya yaa
total 1 replies
awesome moment
vaya n g slese2 ragunya. jd pengin getok palanya
Nadira ST
Kamu seharusnya bersyukur dicintai naren secara ugal2an diluaran Sana banyak istri tidak seberuntung dirimu vaya,ak aja sebagai perempuan sampai iri ,cinta naren kepadamu
Ariska Kamisa: semoga vaya segera dapat hidayah yaa 🤭
terimakasih sudah mampir kK🙏
total 1 replies
awesome moment
di cerita kakak tu, woman leadnya dicintai ugal2an sm man leadnya. 😉👍
Ariska Kamisa: karena itu adalah impian semua wanita ga sih...🤭
total 1 replies
awesome moment
malah terhura dgn cibat narev yg sedunia raya buat vaya. pegang kuat cinta narev, vaya..jgn smp lepas. tar nyesel smp pindah alam lho
Ariska Kamisa: terimakasih kakak🙏🙏
total 1 replies
awesome moment
vaya, syukuri dan terima..dicintai dijadikan pusat dunia tu aman lho.
awesome moment
smg vaya membalas cinta nares dgn sm besar
Ariska Kamisa: Terimakasih kak 🙏
total 1 replies
Nadira ST
lanjut thor💪💪💪💪💪💪
Ariska Kamisa: Terimakasih kak 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!