Arumi kehilangan segalanya dalam satu malam bayinya yang baru lahir tewas dalam kecelakaan tragis, dan ibunya kini kritis di rumah sakit tanpa biaya. Namun, takdir mempermainkannya; meski bayinya tiada, ASI Arumi tetap mengalir deras—sebuah pengingat menyakitkan akan kehilangan yang ia alami
Di sisi lain, Arlan Arkananta, seorang CEO dingin yang berkuasa, menyimpan rahasia besar. Ia memiliki seorang putra bayi bernama Leon yang keberadaannya disembunyikan dari dunia dan pihak keluarga besar. Leon menolak semua susu formula dan perawat, hingga hanya aroma tubuh Arumi yang mampu menenangkannya.
Terdesak oleh biaya rumah sakit, Arumi terpaksa menandatangani kontrak "Iblis". Ia bersedia menjadi ibu susu rahasia di mansion tersembunyi milik Arlan dengan aturan ketat: Dilarang mengungkap identitas bayi, dilarang keluar tanpa izin, dan yang paling berat—dilarang memiliki keterikatan emosional.
Namun, di balik tembok mansion yang dingin, Arumi menemukan bahwa Leon bukan sekadar bayi biasa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon putri Sefira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21: LABIRIN KHIANAT DAN MALAM YANG PEKAT
Kegelapan di dalam apartemen yayasan terasa seolah-olah memiliki massa, menekan paru-paru Arumi hingga ia sulit bernapas. Suara napas berat pria yang baru saja dilumpuhkan Dante menjadi satu-satunya ritme di ruangan itu, selain detak jantung Arumi yang berdentum keras seperti genderang perang.
"Dante, Raka di mana? Tim keamanan di mana?" bisik Arumi, suaranya bergetar hebat saat ia mendekap Leon yang mulai merengek kecil dalam tidurnya.
"Raka terjebak di ruang kendali bawah. Lift disabotase, frekuensi radio mereka dikunci dengan jammer tingkat militer," Dante menjawab tanpa menoleh. Ia bergerak dengan presisi seorang predator, memeriksa saku pria yang pingsan itu dan mengambil sebuah alat komunikasi kecil. "Siska bukan hanya umpan, Arumi. Dia adalah pemantik. Sinyal dari tubuhnya mengundang mereka masuk ke 'benteng' ini."
Dante menarik tangan Arumi, memaksanya berdiri. "Jangan lewat pintu depan. Sensor panas mereka sudah mengunci lantai ini. Kita lewat jalur pembuangan sampah medis. Itu satu-satunya jalur yang tidak punya sensor biometrik."
Arumi merasa seperti masuk ke dalam mimpi buruk yang paling kelam. Ia mengikuti Dante menuruni tangga darurat yang sempit, melewati aroma bahan kimia yang menyengat. Leon kini sudah bangun sepenuhnya, namun seolah mengerti bahaya yang mengintai, bayi itu hanya terisak pelan tanpa suara keras.
"Arlan... Arlan harus tahu," isak Arumi.
"Arlan sedang bertarung dengan badai di Singapura, Arumi. Semua penerbangan pribadinya dibatalkan karena 'masalah teknis' yang sengaja dibuat. Dia sedang mencoba menyewa kapal cepat untuk menyeberang, tapi itu butuh waktu enam jam," Dante menjelaskan sambil menendang pintu besi di lantai dasar.
Mereka keluar di area bongkar muat yang sepi. Di kejauhan, lampu sorot dari helikopter hitam tanpa tanda pengenal mulai menyapu permukaan gedung.
"Masuk ke mobil itu!" Dante menunjuk sebuah van pengantar logistik yang mesinnya sudah menyala. Di bangku kemudi, duduk seorang pria dengan topi rendah yang ternyata adalah salah satu orang kepercayaan Dante dari masa lalunya di jalanan.
Saat van itu meluncur keluar dari area yayasan, sebuah ledakan kecil menghantam pintu gerbang utama. Arumi menoleh ke belakang, melihat kepulan asap hitam membubung tinggi dari tempat yang seharusnya menjadi simbol harapan dan penyembuhan.
Di dalam van yang berguncang, Arumi melihat Siska duduk di pojok, meringkuk seperti binatang yang terluka. Wajah Siska penuh dengan air mata dan noda darah.
"Kau... kau menjebak kami, Siska!" Arumi berteriak, amarahnya meluap melampaui rasa takutnya. "Aku mencoba menolongmu!"
"Mereka memegang adikku, Arumi!" ratap Siska, menjambak rambutnya sendiri. "Mereka mengirimkan potongan jarinya pagi ini! Aku tidak punya pilihan! Mereka bilang jika aku membawa mereka ke lokasimu, mereka akan melepaskannya!"
"Mereka berbohong padamu, Bodoh!" Dante membentak dari kursi depan. "Sindikat itu tidak pernah meninggalkan saksi hidup. Begitu mereka mendapatkan Arumi dan data itu, kau dan adikmu akan berakhir di dasar laut."
Siska jatuh tersungkur di lantai van, menangis sejadi-jadinya. Arumi menatapnya dengan rasa benci yang perlahan luntur menjadi iba yang perih. Inilah dunia yang ditinggalkan Victoria—dunia di mana manusia hanyalah pion yang bisa dipatahkan kapan saja.
Tiba-tiba, van itu mengerem mendadak. Ban mobil berdecit keras di atas aspal basah.
"Ada blokade di depan!" teriak sopir Dante.
Dua mobil SUV hitam dengan kaca gelap menutup jalan layang yang mereka lewati. Pria-pria bersenjata keluar dari sana, mengarahkan moncong senjata mereka langsung ke arah kaca depan van.
"Arumi, tundukkan kepalamu! Peluk Leon!" perintah Dante.
Dante mencabut dua pistol dari balik jaketnya. Ia tidak menunggu mereka menembak duluan. Dengan ketenangan yang mengerikan, Dante menembak ban mobil musuh dan tangki bensin salah satu SUV.
BOOM!
Ledakan itu menciptakan tirai api yang memberi celah bagi van mereka untuk menerjang pembatas jalan. Mobil mereka melompat turun ke jalur bawah, menghantam aspal dengan guncangan yang membuat Arumi terpelanting.
"Kita harus ganti mobil! Van ini terlalu mencolok!" Dante berteriak.
Mereka melompat keluar di sebuah area parkir pusat perbelanjaan yang sudah tutup. Dante membajak sebuah mobil sedan tua yang terparkir di sana, menghubungkan kabel starternya dalam hitungan detik.
"Dante, kita mau ke mana?" tanya Arumi, terengah-engah.
"Ke satu-satunya tempat yang tidak akan pernah mereka duga. Rumah lama ibumu di desa," jawab Dante. "Mereka mencari kita di bandara, pelabuhan, dan hotel mewah. Mereka tidak akan mencari kita di rumah kayu yang hampir roboh di pinggiran Bogor."
Setelah menempuh perjalanan dua jam melewati jalur tikus dan perkebunan teh yang gelap, mereka sampai di sebuah rumah kecil yang tersembunyi di balik rimbunnya pohon bambu. Ini adalah rumah tempat Arumi tumbuh besar sebelum kecelakaan ibunya terjadi.
Arumi menggendong Leon masuk ke dalam. Aroma kayu tua dan debu menyambutnya. Di dinding, masih ada foto kecil Arumi saat wisuda SMA, tersenyum bangga di samping ibunya.
Dante segera memasang barikade di pintu dan jendela. Ia mengeluarkan laptop satelitnya, mencoba menembus blokade komunikasi yang mengisolasi Arlan.
"Dapatkan!" seru Dante. "Arlan sudah di Batam. Dia sedang menuju Jakarta dengan helikopter militer yang dipinjam dari relasi lamanya. Dia akan sampai di sini dalam tiga jam."
Arumi terduduk di lantai kayu, menyandarkan kepalanya di dinding. Leon akhirnya tertidur lagi karena kelelahan. Di sudut ruangan, Siska duduk diam, menatap kosong ke arah kegelapan luar.
"Kenapa kau membantuku, Dante?" tanya Arumi tiba-tiba. "Kau bisa saja lari ke luar negeri dengan uang yang diberikan Arlan. Kenapa kau mempertaruhkan nyawamu untuk kami?"
Dante terdiam sejenak. Ia memutar pisau kecil di tangannya, matanya menatap api lilin yang temaram. "Karena untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku melihat seseorang yang tidak memandangku sebagai aib atau alat. Saat kau mengobati lukaku malam itu tanpa bertanya siapa aku... kau memperlakukanku seperti manusia, Arumi. Arlan mungkin kakakku secara darah, tapi kau adalah orang pertama yang membuatku merasa punya keluarga."
Arumi tersentuh. Di balik kekejaman Dante, tersimpan luka yang sama dalamnya dengan luka yang ia miliki.
Keheningan malam itu pecah oleh suara dengung drone di atas atap rumah.
"Mereka menemukan kita!" Dante berdiri, senjatanya sudah siap. "Sial, mereka menggunakan pelacak panas dari satelit!"
Siska tiba-tiba berdiri, wajahnya menunjukkan ketetapan hati yang aneh. "Arumi, berikan jaketmu padaku."
"Apa?"
"Aku akan lari ke arah hutan dengan jaketmu. Pelacak panas mereka akan mengikuti pergerakan yang paling cepat. Kalian lari lewat pintu belakang menuju sungai. Ada gubuk nelayan di sana, kalian bisa bersembunyi di bawah perahu," Siska berbicara dengan cepat, tangannya merampas jaket Arumi.
"Siska, itu bunuh diri!" Arumi mencoba menahan.
"Aku sudah mati sejak lama, Arumi," Siska tersenyum pahit, senyum pertama yang tampak tulus di wajahnya. "Biarkan aku melakukan satu hal yang benar sebelum aku pergi. Jaga Leon. Beritahu Arlan... aku minta maaf."
Siska berlari keluar melalui pintu depan, berteriak sekencang mungkin untuk menarik perhatian.
Benar saja, lampu sorot dari drone dan suara langkah kaki pasukan bayaran segera beralih mengejarnya ke arah hutan bambu yang lebat.
TATATATATAT!
Suara rentetan tembakan terdengar dari arah hutan. Arumi menutup mulutnya, menahan jeritan. Dante tidak membuang waktu; ia menarik Arumi menuju pintu belakang.
Mereka merangkak di antara semak-berduri, menuju sungai yang mengalir deras di bawah bukit. Saat mereka sampai di tepi sungai, sebuah helikopter dengan lambang A&A muncul dari balik awan, menyinari area tersebut dengan lampu yang sangat terang.
Pintu helikopter terbuka, dan Arlan melompat turun bahkan sebelum helikopter mendarat sempurna. Ia berlari menerjang semak-semak, wajahnya penuh amarah dan kecemasan yang luar biasa.
"ARUMI!" teriak Arlan.
Arumi berlari ke pelukan Arlan, menangis sejadi-jadinya sementara Leon terbangun dan ikut menangis. Arlan mendekap mereka berdua begitu erat, seolah-olah ia tidak akan pernah membiarkan mereka lepas lagi.
"Aku di sini... aku di sini, Sayang. Maafkan aku... maafkan aku terlambat," bisik Arlan, suaranya parau karena emosi.
Arlan menatap Dante yang berdiri beberapa meter di belakang mereka dengan luka tembak di bahunya. Kedua pria itu bertukar pandang. Tidak ada kata-kata yang terucap, namun ada ikatan persaudaraan yang kini sah terjalin di antara mereka.
"Bawa mereka ke atas, Raka!" perintah Arlan pada asistennya yang muncul dari helikopter. "Dan kirim tim pencari ke hutan. Siska... temukan dia. Hidup atau mati."
helikopter menjauh dari desa tersebut, Arumi melihat ke bawah. Hutan bambu itu tampak sunyi. Ia tahu hidupnya tidak akan pernah sama lagi. Siska mungkin telah membayar kesalahannya dengan nyawanya, dan Dante kini telah menjadi bagian dari keluarganya.
Arlan menggenggam tangan Arumi, menatap mata istrinya yang kini tampak jauh lebih dewasa dan kuat. "Kita akan menghancurkan mereka semua, Arumi. Sindikat itu, laboratorium itu... tidak akan ada yang tersisa besok pagi."
"Ya, Arlan," jawab Arumi tegas. "Tapi setelah itu, aku ingin kita pulang. Benar-benar pulang."