𝐑𝐢𝐳𝐮𝐤𝐢 𝐦𝐞𝐧𝐣𝐚𝐥𝐚𝐧𝐢 𝐡𝐚𝐫𝐢 𝐧𝐲𝐚 𝐝𝐞𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐢𝐝𝐞𝐧𝐭𝐢𝐭𝐚𝐬 𝐠𝐚𝐧𝐝𝐚. 𝐡𝐚𝐫𝐢-𝐡𝐚𝐫𝐢 𝐧𝐲𝐚 𝐛𝐞𝐫𝐣𝐚𝐥𝐚𝐧 𝐭𝐞𝐫𝐚𝐬𝐚 𝐛𝐢𝐚𝐬𝐚. 𝐡𝐢𝐧𝐠𝐠𝐚 𝐝𝐢𝐚 𝐛𝐞𝐫𝐭𝐞𝐦𝐮 𝐝𝐞𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐬𝐞𝐨𝐫𝐚𝐧𝐠 𝐰𝐚𝐧𝐢𝐭𝐚 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐦𝐞𝐧𝐠𝐮𝐛𝐚𝐡 𝐣𝐚𝐥𝐚𝐧 𝐧𝐲𝐚. 𝐝𝐚𝐧 𝐭𝐚𝐤𝐝𝐢𝐫 𝐚𝐤𝐚𝐧 𝐦𝐞𝐧𝐠𝐮𝐧𝐠𝐤𝐚𝐩𝐤𝐚𝐧 𝐬𝐢𝐬𝐢 𝐥𝐚𝐢𝐧𝐧𝐲𝐚.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kazuki Taki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 13 - HARI TANPA PESAN.
Beberapa hari berlalu sejak terakhir rizuki chat dengan vhiena, tidak lagi terdengar suara notifikasi.
Bukan karena saling menjauh namun, Rizuki sedang fokus dengan misi nya. Dia tidak ingin mencampuradukkan, masing-masing dunia nya.
Hari itu, rizuki tidak akan fokus pada ponsel pribadinya.
Tidak ada getaran di ponsel Rizuki. Tidak ada nama yang muncul di layar. Tidak ada satu baris kalimat singkat yang biasanya hadir, meski hanya “aku baik” atau “hari ini panjang”.
Hari ini, Rizuki memilih diam.
Bukan karena lupa.
Bukan karena tidak sempat.
Melainkan karena hari ini adalah hari pertama R Technology diuji sepenuhnya.
Dan dalam hidup Rizuki, ada hari-hari tertentu yang tidak boleh tercampur dengan perasaan apa pun.
RUANG KENDALI – LANTAI EMPAT
Pintu ruangan terbuka dengan verifikasi biometrik.
Lampu menyala satu per satu, bukan terang—melainkan cukup untuk menandai bahwa ruangan itu hidup. Dinding berlapis material kedap suara, lantai bersih tanpa satu kabel pun terlihat.
Rizuki berjalan masuk, jas hitamnya dilepas dan digantung rapi. Ia menggulung lengan kemeja putihnya, duduk di kursi pusat kendali.
Di depannya, layar utama menyala.
Tulisan sederhana muncul:
R TECHNOLOGY – CORE SYSTEM
STATUS: STANDBY
Semua Tahap perakitan dan instalasi alat telah selesai.
Semua bergerak dan bekerja lebih cepat sejak pembangunan dimulai.
Ia menarik napas pelan.
“Mulai pengujian tahap satu,” ucapnya.
Sistem mengenali suaranya.
Voice System: ( suara dari sistem yang menggema di ruangan rizuki)
“Identitas diverifikasi.
Selamat pagi, Rizuki.”
Tidak ada nama lain.
Tidak ada administrator kedua.
Hanya dia.
PENGUJIAN TAHAP AWAL
Data mulai mengalir.
Algoritma yang ia rancang selama berbulan-bulan jauh sebelum pembuatan gedung ini, berjalan tanpa gangguan. Sistem pemrosesan mandiri, pengambilan keputusan adaptif, dan keamanan berlapis diuji secara bersamaan.
Rizuki menatap layar dengan fokus penuh.
“Jalankan simulasi beban maksimum.”
System:
“Simulasi dimulai.”
Grafik melonjak.
Angka-angka bergerak cepat.
Server bekerja di batas atas kapasitas.
Satu menit.
Dua menit.
Lima menit.
Tidak ada peringatan.
“Stabil,” gumam Rizuki.
Ia mengetik cepat, memicu skenario kegagalan buatan. Gangguan jaringan palsu, serangan data simulatif, hingga upaya penetrasi sistem internal.
Semuanya tertahan.
System:
“Ancaman terdeteksi.
Tindakan penanggulangan otomatis aktif.”
Rizuki menyandarkan punggungnya.
Sudut bibirnya naik sedikit—bukan senyum, tapi kepuasan dingin.
“Bagus.”
TIM TERBATAS, TANPA NAMA BESAR
Beberapa teknisi inti masuk bergantian. Mereka adalah orang-orang yang tidak tahu apa pun selain tugas teknis mereka.
Tidak satu pun dari mereka tahu siapa sebenarnya Rizuki.
Bagi mereka, ia hanya Pemilik Proyek R.
“Semua parameter di atas ekspektasi,” ujar salah satu teknisi senior.
“Bahkan lebih stabil dari sistem korporasi besar.”
Rizuki menatap layar tanpa menoleh.
“Catat hasilnya.”
“Dan satu hal lagi,” lanjut teknisi itu ragu-ragu.
“Sistem ini… bisa berdiri sendiri tanpa infrastruktur eksternal mana pun.”
Rizuki akhirnya menoleh.
“Itu memang tujuannya.”
Teknisi itu terdiam, lalu mengangguk hormat.
Tidak ada pertanyaan lanjutan.
DI WAKTU YANG SAMA — TANPA RIZUKI
Di kota asal, Hari - Hari terasa biasa bagi Vhiena.
Saat Ia membuka ponselnya. Tidak ada pesan.
Ia menatap layar sebentar, lalu meletakkannya kembali.
“Dia pasti sibuk,” katanya pada dirinya sendiri.
Di sekolah, ia tertawa bersama teman-temannya.
menjawab pertanyaan guru.
mencatat pelajaran seperti biasa.
Namun setiap kali jeda, tangannya refleks meraih ponsel.
Kosong.
Tidak ada rasa panik.
Tidak ada kecurigaan.
Hanya hening kecil yang aneh.
PENGUJIAN TAHAP LANJUTAN
Kembali ke ruang kendali, Rizuki berdiri di depan layar besar yang kini menampilkan ringkasan hasil.
SYSTEM PERFORMANCE:
Efisiensi: 99,8%
Keamanan: Maksimum
Stabilitas: Sangat Tinggi
“Lakukan pengujian independen,” perintah Rizuki.
“Tanpa campur tangan manual.”
System:
“Mode otonom aktif.”
Ia melangkah mundur.
Untuk pertama kalinya, Rizuki melepaskan kendali langsung.
Lima belas menit berlalu.
Sistem tetap berjalan sempurna.
Seorang teknisi berbisik pelan, hampir tidak percaya.
“Ini… sudah siap dilepas ke dunia.”
Rizuki menatap layar lama.
“Belum,” katanya dingin.
“Dunia belum siap.”
KESUNYIAN YANG DIPILIH
Hari beranjak Siang.
Satu pengujian terakhir dijalankan—yang paling berbahaya. Sistem diberi dilema keputusan etis buatan, skenario abu-abu yang tidak memiliki jawaban benar mutlak.
Rizuki menahan napas.
System:
“Analisis moral selesai.
Keputusan diambil berdasarkan prioritas perlindungan jangka panjang.”
Keputusan itu sama dengan yang akan Rizuki ambil.
Ia menutup mata.
“Cukup.”
Semua layar meredup.
R Technology telah lulus.
DIAM DARI SEMUA ORANG
Malam tiba di Selatan kota Hastina.
Biasanya, di waktu seperti ini, Rizuki akan mengirim satu pesan singkat. Hanya satu. Tidak lebih.
Hari ini tidak.
Di tempat yang jauh, Rizuki duduk sendiri di kursi ruangan lantai empat, memandang Hutan Pinus dari balik jendela kecil yang hampir tidak terlihat dari luar.
Ponselnya ada di meja.
Tidak disentuh.
Bukan karena lupa.
Karena hari ini ia harus memastikan satu hal:
bahwa ia masih bisa berjalan sendirian tanpa bergantung pada siapa pun.
Termasuk Vhiena.
PERSIAPAN PULANG
Keesokan paginya, koper kecil sudah terletak di sudut ruangan.
Rizuki berdiri di depan layar terakhir, mengunci seluruh sistem.
System:
“Mode pengawasan aktif.
Akses dibatasi.”
“Jalankan protokol tidur.”
System:
“R Technology dalam status dorman.
Menunggu perintah berikutnya.”
Lampu mati.
Ruangan kembali sunyi.
Ia mengambil jasnya, memandang sekali lagi ruangan itu—ruangan yang menjadi saksi kelahiran sesuatu yang kelak mengubah banyak hal.
“Waktunya kembali,” gumamnya.
VHIENA — MALAM TANPA PESAN
Malam itu, Vhiena berbaring di tempat tidur.
Ponselnya masih tanpa notifikasi.
Ia menatap langit-langit.
“Aneh,” katanya pelan.
“Biasanya… minimal satu kata.”
Ia tidak mengirim pesan duluan.
Bukan karena gengsi.
Karena ia menghormati jarak yang Rizuki ciptakan.
Dan entah kenapa, ia percaya…
diam hari ini bukan berarti pergi.
DI PESAWAT — MENUJU PULANG
Rizuki duduk di kursi dekat jendela.
Mesin pesawat mulai bergerak.
Ia menatap ke luar, lalu menutup mata.
Untuk pertama kalinya setelah lama, ia mengeluarkan ponsel.
Membuka chat Vhiena.
Mengetik… lalu menghapus.
Mengetik lagi… lalu berhenti.
Belum sekarang.
Pesawat lepas landas.
Negara itu perlahan menghilang di balik awan.
R Technology tertinggal — hidup, diam, dan menunggu.
Dan di dalam dada Rizuki, satu hal mulai tumbuh pelan:
kesadaran bahwa semakin besar dunia yang ia bangun,
semakin sulit baginya menjelaskan siapa dirinya sebenarnya.
Tinggal bilang nunggu si dia apa ssh nya si?/Slight/
SMA kls 3, trnyta CEO😌
cnth
"Tuan Rizuki, maaf mengganggu! Saya lihat lampu masih menyala." kata Mira./Smile/
tapi tergantung masing-masing cerita sih, hehehe
kak skip titiknya /Whimper/
Skip titiknya kak. /Bye-Bye/