NovelToon NovelToon
Bayang Rembulan

Bayang Rembulan

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi
Popularitas:788
Nilai: 5
Nama Author: Fadhil Asyraf

Di tengah kekacauan lima klan bela diri yang saling berebut pengaruh dan rahasia kuno, lahirlah sebuah organisasi bernama bayangan kegelapan. Mereka adalah sekelompok pembunuh bayaran yang dilatih untuk menjadi mesin kematian tanpa emosi, sering kali ditugaskan untuk menghabisi para petinggi klan yang dianggap mengganggu keseimbangan atau menyimpan kekuatan terlarang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fadhil Asyraf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 21 - REUNI DI TEPI DANAU HENING

Asap hitam masih membumbung dari Benteng Sayap Hitam yang hancur di kejauhan, namun Kaelan sudah berada mil jauhnya. Ia bergerak seperti bayangan yang menyelinap di antara pepohonan, namun langkahnya tak lagi seringan biasanya. Darah perak merembes dari balik jubah hitamnya, membeku menjadi kristal-kristal kecil di atas tanah. Luka dari pedang Tuan Besar dan cakaran mutasi Arkhon mulai menuntut bayarannya.

Di tepi Danau Hening, sebuah pondok kayu tua yang tersembunyi di balik tirai air terjun menjadi tempat perlindungan sementara. Elara berdiri waspada dengan tombaknya, sementara Rian sedang sibuk menumbuk akar obat di atas batu datar.

"Dia datang," bisik Elara, indra tentara bayarannya menangkap hawa dingin yang mendekat.

Kaelan muncul dari balik kabut air. Wajahnya pucat pasi, hampir transparan seperti porselen yang retak. Sebelum Elara sempat menyapa, tubuh Kaelan limbung. Rian berlari secepat kilat, menangkap bahu Kaelan sebelum pemuda itu mencium tanah.

"Kaelan! Astaga, lukamu... ini bukan luka biasa," Rian berteriak panik saat melihat lubang di bahu Kaelan yang dikelilingi oleh urat-urat hitam—sisa racun dari Arkhon.

"Bawa dia ke dalam! Cepat!" perintah Elara.

Di dalam pondok yang remang-remang, Kaelan dibaringkan di atas ranjang jerami. Rian dengan tangan gemetar mulai membuka jubah Kaelan. Ia tertegun melihat tubuh sahabatnya; bukan hanya luka baru, tapi seluruh punggung Kaelan dipenuhi dengan bekas sayatan dan rajah alkimia dari masa-masa di laboratorium.

"Dia memaksakan Qi esnya untuk menahan racun ini," ucap Rian sambil mengusap peluh di dahinya. "Elara, ambilkan Sari Rembulan yang kita dapatkan kemarin. Itu satu-satunya yang bisa menstabilkan energinya."

Elara ragu sejenak. "Tapi itu untuk adikku..."

"Gunakan hanya beberapa tetes untuk membersihkan lukanya! Jika Kaelan mati karena racun ini, kita semua tidak akan selamat dari kejaran Aliansi!" Rian mendesak dengan nada yang jarang ia gunakan.

Elara akhirnya mengangguk. Ia meneteskan cairan biru bening itu ke atas luka Kaelan. Seketika, uap hitam berbau busuk keluar dari kulit Kaelan, dibarengi dengan rintihan tertahan dari bibir sang pembunuh yang biasanya tak bersuara.

Kaelan membuka matanya sedikit. Pupil merahnya tampak meredup. "Rian..."

"Jangan bicara dulu, Kaelan. Kau hampir kehilangan seluruh meridianmu," Rian menempelkan tangannya ke dada Kaelan, mencoba menyalurkan sedikit energi hangat yang ia miliki, meski itu sangat tidak berarti dibandingkan Qi es Kaelan yang masif.

"Arkhon... mati," bisik Kaelan, napasnya tersengal. "Tapi dia bicara tentang... Gerbang Rembulan."

Elara yang sedang mengasah tombaknya di sudut ruangan tiba-tiba terhenti. Wajahnya berubah menjadi sangat serius. "Gerbang Rembulan? Jika Aliansi mencari itu, berarti legenda tentang 'Kultivasi Tanpa Batas' itu benar adanya. Mereka ingin membuka jalur ke dimensi di mana energi Qi tidak pernah habis."

Kaelan menutup matanya kembali, membiarkan obat itu bekerja di dalam darahnya. Sensasi dingin yang menenangkan mulai menyebar, menggantikan rasa terbakar yang menyiksa.

"Rian," Kaelan meraih pergelangan tangan sahabatnya. "Tinggallah bersama Elara. Pergilah ke selatan yang lebih jauh. Aliansi akan mengirim pasukan yang lebih besar kali ini."

"Tidak," jawab Rian tegas, matanya yang sehat menatap Kaelan tanpa ragu. "Aku sudah lari selama tujuh tahun. Kali ini, aku akan tetap di sisimu. Aku mungkin tidak bisa bertarung, tapi aku tahu rahasia anatomi tubuhmu lebih baik dari siapapun. Kau butuh aku untuk tetap hidup, Kaelan."

Kaelan menatap Rian cukup lama. Di dunia yang penuh dengan pengkhianatan dan darah, loyalitas Rian adalah satu-satunya hal yang terasa nyata bagi Kaelan.

"Baiklah," bisik Kaelan. "Tapi jika saatnya tiba... kau harus lari."

Malam itu, di bawah perlindungan air terjun, Sang Bayang Rembulan beristirahat. Untuk pertama kalinya sejak ia keluar dari sel bawah tanah, Kaelan tertidur tanpa memegang belatinya, dijaga oleh seorang budak cacat dan seorang tentara bayaran yang kini menjadi satu-satunya keluarga yang ia miliki.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!