Zenna Amalia bukanlah perempuan suci. Ia memiliki masa lalu yang kelam, pernah menjadi simpanan pewaris kaya bernama Rendy Wangsa demi membiayai pengobatan ibunya yang sakit kanker.
"Di luar sana, mana ada laki-laki yang sudi bersamamu, apalagi kalau mereka tahu, kamu bukan lagi perempuan yang punya kesucian dan kehormatan?" kata Rendy keji, sebelum mencampakkan Zenna.
Setelah kehilangan segalanya, Zenna berusaha kembali ke jalan yang benar, rela menebus dosa dengan menikahi seorang lelaki arogan bernama Bram Atmaja.
Bram tahu semua masa lalu Zenna, bersedia menikahinya, demi memenuhi wasiat mendiang ayah tirinya, yang juga merupakan ayah kandung Zenna. Meski dari awal, ia juga sudah memperingatkan Zenna bahwa dirinya adalah pria kasar dan arogan, dan barangkali tak akan pernah mencintai Zenna seumur hidupnya.
Pernikahan yang berlangsung dengan itikad penebusan dosa, tanpa cinta pada awalnya, dan dikejar bayang-bayang gelap masa silam, akankah berujung bahagia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon La Rumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Janji Pernikahan Tuan Arogan - Bab 14
"Ya ampuun, Zenna! Apa kabar? Lama nggak ketemu, kamu jadi secantik ini sekarang...!"
Umi Sarah, ibu Kalila, perempuan paruh baya berperawakan tinggi kurus, bertulang pipi tinggi dan hidung mancung, dan sehari-hari mengenakan abaya dan jilbab panjang untuk menutupi kulitnya yang pucat dan halus, dengan antusias menyambut Zenna yang pada suatu Minggu sore bertandang ke rumahnya.
"Baik, Umi," Zenna menyalami Umi Sarah dengan sopan. "Umi sehat? Abah gimana, sehat?"
"Sehat semua. Tapi Abah dan Ridwan lagi nggak di rumah. Biasalah para laki itu harus urus kerjaan di kantor. Minggu pun pantang libur, apalagi udah deket bulan puasa gini, jamaah yang mau umroh membludak... jadi ya mereka harus kerja keras bagai kuda, hahaha."
Umi Sarah dan suaminya, Abah Handoyo, memang sejak dulu membuka jasa travel tour untuk haji, umroh, dan wisata halal. Usaha itu yang membuat hidup mereka sangat mapan bahkan saat masih tinggal di kota kecil yang sama dengan Zenna dulu.
Bisnis keluarga itu kemudian berkembang pesat hingga mereka harus pindah ke ibukota untuk mendirikan kantor yang lebih besar.
"Zennaaa!"
Kalila muncul dan dengan hangat memeluk Zenna.
"Akhirnya kamu datang...! Kukira kamu udah sombong sekarang, mentang-mentang udah jadi wanita karier di perusahaan bergengsi, nggak mau bergaul sama aku lagi...!"
"Enggak lah. Aku sibuk, makanya baru bisa ke sini... maaf ya," gumam Zenna.
"Kalila ini biasa, mulutnya nggak bisa dijaga," tegur Umi Sarah seraya mencubit pelan pinggang putri bungsunya.
"Iiih, Umi! Apaan sih!" protes Kalila. "Kalila begini juga nurun dari Umi, tahu...!"
"Heh!" Umi Sarah makin membeliak.
"Di mana Suri?" Zenna sudah hafal perselisihan ibu dan anak satu ini, dan justru itulah yang menjadi bahasa cinta di antara mereka. Namun ia tetap berusaha menetralkan suasana dengan menanyakan sosok ibu baru yang menjadi tujuan utamanya berkunjung ke kediaman keluarga Mardani.
"Ada di paviliunnya, lagi ngelonin Isa. Yuk kuanter ke sana," kata Kalila penuh semangat.
Rumah keluarga Mardani cukup besar dan luas, dengan bangunan utama di bagian depan, dan pekarangan luas di belakang yang juga dibangun dua paviliun besar, masing-masing menjadi hunian untuk Ridwan dan Kalila, dua penerus keluarga Mardani. Umi Sarah dan Abah Handoyo sengaja membangun seperti itu agar semua anggota keluarga bisa tinggal dalam satu kawasan rumah, tetapi tetap memiliki area privasi masing-masing.
"Hidup ini emang seru dan lucu ya, Na," celoteh Kalila saat mereka berjalan menuju paviliun Ridwan dan Suri. "Dulu kita tuh akrab banget, kayak saudara. Malah aku dulu sempat jodoh-jodohin kamu sama Mas Ridwan, karena aku pengen kita tinggal serumah sebagai keluarga. Kamu ingat, nggak?"
Zenna tertawa kecil. "Iya, aku ingat..."
"Tapi sayangnya keluargaku harus pindah demi mengembangkan bisnis. Terus kita jadi renggang... dan malah Suri yang jadi kakak iparku sekarang," gerutu Kalila sebal.
Zenna ingat dulu Kalila sering bertengkar dengan Suri saat mereka masih lebih muda dan bermain bersama. Hanya pertengkaran kanak-kanak, tentunya. Tetapi rupanya perbedaan karakter itu masih menjadi hal yang menjengkelkan bagi Kalila sampai sekarang.
"Suri memang agak keras, tapi aslinya dia baik dan penyayang, Kal. Mas Ridwan juga sangat mencintainya. Karena itu mereka menikah, kan? Kamu harus bisa menghargai keputusan mereka." Zenna berupaya meredam emosi sahabatnya dengan lembut.
"Hmm," Kalila mengerucutkan bibirnya. "Aku nggak ngerti kenapa kakakku bisa cinta sama Suri... padahal dulu ada kamu yang cinta sama dia. Andai kita nggak berpisah, mungkin kamu yang jadi kakak iparku sekarang..."
Zenna terdiam, organ-organ dalamnya bergolak tak nyaman.
Yang dikatakan Kalila tak sepenuhnya salah. Dulu ia memang sempat menyukai Ridwan. Lelaki tampan berhidung mancung, berambut ikal dengan kulit sawo matang seperti ayahnya, cerdas, dan selalu santun itu adalah cinta pertama Zenna.
Tetapi Zenna tahu diri, ia tak mungkin bisa bersanding dengan Ridwan karena ia hanya anak janda yang tak punya apa-apa, sekalipun saat itu, Kalila yang tahu perasaannya juga sangat mendukungnya.
"Kami memang tidak berjodoh," kata Zenna kalem. "Aku memang pernah mencintai kakakmu, tapi itu dulu. Ridwan juga sudah bahagia dengan pilihannya sekarang. Aku ikut bahagia karenanya, dan kamu pun juga begitu, Kalila..."
"Kamu tak lagi mencintai kakakku, apa karena kamu sudah berpaling dan lebih mencintai Rendy Wangsa?"
Pertanyaan tak terduga itu membuat langkah Zenna terhenti. Jantungnya seolah tiba-tiba berhenti.
"Apa maksudmu, Kal?" Zenna memandang Kalila dengan ekspresi tak mengerti, meski wajahnya mulai pasi.
Kalila menghela napas panjang.
"Semua perubahan yang terjadi padamu sekarang, itu karena Rendy, kan? Juga perawatan kanker Tante Lia dengan fasilitas semewah itu... nggak mungkin bisa kamu dapatkan kalau bukan karena Rendy yang memberikannya. Dan nggak mungkin juga semua itu dia kasih secara cuma-cuma, iya, kan?"
Entah bagaimana, percakapan semacam itu terjadi sekarang. Sesaat Zenna tak tahu harus bereaksi apa, tetapi ia berusaha keras mengendalikan situasi.
"Aku nggak ngerti apa yang kamu bicarakan," gumam Zenna dengan ketenangan yang dipaksakan. "Gajiku sekarang cukup besar dan kamar perawatan itu memang fasilitas dari kantor..."
"Jangan bohong lagi, Zenna. Aku tahu semuanya," sergah Kalila dengan ekspresi seakan tengah menghadiri pemakaman.
"Tahu apa...?" Suara Zenna bergetar sekarang.
"Tahu bahwa kamu menjalin kasih dengan Rendy. Dan kemungkinan besar, sampai sekarang, hubungan itu belum berakhir, meski Rendy sudah menikah dan tak lama lagi akan punya anak. Yang kukatakan itu benar, kan?"
***