NovelToon NovelToon
Dimanfaatkan Mantan, Dirangkul Bad Boy Tampan

Dimanfaatkan Mantan, Dirangkul Bad Boy Tampan

Status: sedang berlangsung
Genre:Idola sekolah
Popularitas:988
Nilai: 5
Nama Author: Nona Jmn

Rania keras kepala memilih balikan dengan mantannya, Adrian, meskipun sahabat-sahabatnya sudah memperingatkan bahwa pria itu tidak baik. ia terlalu percaya pada perasaannya sendiri, sampai akhirnya menyadari bahwa Adrian hanya memanfaatkannya. Di saat Rania mulai bangkit dari luka itu, seseorang yang tak terduga justru datang mendekat—Revano, pria dingin yang perlahan mengubah hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Jmn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Topeng yang terbuka

"Rania!"

Rania yang baru saja sampai di sekolah hanya mendengus saat mendengar suara Adrian memanggilnya. Tanpa menoleh, ia langsung mempercepat langkahnya.

“Rania, tunggu,” ucap Adrian yang terus mengejarnya. Ia ingin hubungannya dengan Rania kembali membaik. Masih banyak rencana yang belum sempat ia jalankan.

“Rania!”

Rania mendengus kesal. Dengan berat hati ia menghentikan langkahnya, lalu menoleh dan menatap Adrian dengan tajam. “Apa lagi sih?”

“Rania, tolong maafkan aku. Aku akui kesalahanku. Tapi tolong jangan tinggalkan aku, Ran. Aku masih sayang kamu,” ucap Adrian dengan nada memohon.

Rania memutar bola matanya. “Kamu sayang aku atau uangku, hah!?”

“Aku sayang kamu. Maafkan kesalahanku, Ran. Aku khilaf,” ucap Adrian dengan nada meyakinkan.

“Khilaf kamu bilang, hah? Khilaf yang kesekian kali maksud kamu?” Rania menatapnya dengan kesal. “Dengar ya, yang kamu lakukan ke aku itu bukan khilaf, tapi sengaja,” jelasnya dengan nada tegas. “Sudah ya, kita gak ada hubungan lagi. Sekarang kamu pergi dari sini. Jangan pernah menampakkan wajah kamu di depan aku lagi.”

“Dasar egois kamu!” ucap Adrian dengan nada tinggi.

Rania tersenyum sinis, seolah tidak terpengaruh dengan ucapan itu. Ia melipat kedua tangannya di dada.

“Egois?” ulangnya pelan. “Lucu banget kamu ngomong gitu.”

Adrian terdiam sesaat.

Rania menatapnya tajam. “Yang selama ini dimanfaatkan siapa? Yang terus dimaafin siapa? Tapi sekarang aku yang dibilang egois?”

Beberapa siswa yang lewat mulai melirik ke arah mereka.

Adrian terlihat tidak nyaman, namun tetap mencoba menahan Rania. “Ran, jangan gini. Kita bisa bicarakan baik-baik.”

Rania menggeleng pelan. “Gak ada lagi yang perlu dibicarain.”

Ia lalu melangkah mendekati Adrian sedikit, suaranya lebih rendah namun penuh penekanan.

“Mulai sekarang, hidup kamu urusan kamu. Hidup aku urusan aku.”

Setelah mengatakan itu, Rania berbalik pergi meninggalkan Adrian yang masih berdiri di tempatnya dengan wajah kesal.

Namun baru beberapa langkah, ia berhenti. Gadis itu menoleh kembali ke arah Adrian dengan tatapan dingin.

“Ingat ya,” ucap Rania tegas. “Jangan lupa kembalikan uangku. Kalau tidak, aku tidak akan ragu laporin kamu ke polisi dengan kasus penipuan.”

Ancaman itu membuat wajah Adrian menegang. Ia menoleh ke sekeliling dan baru menyadari beberapa murid sedang memperhatikan mereka dari kejauhan.

Adrian mendecak pelan, merasa tidak nyaman dengan situasi itu. Tanpa banyak bicara, ia langsung mengeluarkan ponselnya.

Beberapa detik kemudian, ia mentransfer uang milik Rania.

Rania melirik sekilas notifikasi di ponselnya. Setelah memastikan uangnya sudah kembali, ia tersenyum tipis.

“Gue sudah kembalikan uang lo. Gue pastikan lo nyesal, Rania,” ucap Adrian dengan nada tajam. Dalam pikirannya, Rania masih sama seperti dulu—gampang dibujuk dan luluh oleh kata-katanya. Namun, dugaannya kali ini salah besar.

“Gue nyesal?” ucap Rania sambil menunjuk dirinya sendiri. “Itu gak mungkin. Yang gue sesali adalah balikan sama lo!”

Rania lalu tersenyum sinis. “Akhirnya lo buka topeng juga. Hebat sih lo, bisa menipu gue selama ini dengan topeng lo itu,” ucapnya, kini benar-benar menyadari sifat asli Adrian yang selama ini tersembunyi.

Adrian menatapnya dengan tajam, rahangnya mengeras menahan emosi. “Awas lo, ya,” ucapnya dingin sebelum akhirnya berbalik dan meninggalkan Rania begitu saja.

Rania memperhatikan punggung Adrian yang semakin menjauh. Setelah itu, ia menghela napas lega.

“Huhh… ada-ada aja kelakuannya,” gumamnya sambil menggelengkan kepala pelan. Tanpa memikirkan hal itu lebih lama, ia kembali melanjutkan langkah menuju kelasnya.

Saat sampai di kelas, suasananya masih cukup sepi. Hanya beberapa murid yang sudah datang, termasuk Bintang yang duduk di bangkunya sambil sibuk menulis sesuatu di buku catatan.

Bintang yang menyadari kehadiran Rania langsung menoleh sekilas. “Kenapa tuh muka kusut amat,” ucapnya santai, lalu kembali fokus menulis.

“Gak kenapa-kenapa kok,” balas Rania cepat. Ia kemudian melirik buku yang sedang ditulis Bintang. “Lo catatan apaan?” tanyanya, sengaja mengalihkan pembicaraan.

“Cuma lanjut catatan kemarin aja. Gue gak sempet nyatet kemarin,” jawab Bintang tanpa menoleh dari bukunya.

Rania hanya membalas dengan anggukan kecil, lalu berjalan menuju bangkunya sendiri. Ia duduk perlahan, meletakkan tas di atas meja, sementara pikirannya masih sedikit dipenuhi sisa kejadian tadi pagi.

~~

“Kenapa lo?” ucap Rivan ketika melihat Adrian masuk ke kelas dengan wajah kesal.

“Dia habis berantem sama Rania,” sahut Ivan yang muncul di belakang Adrian. Nada suaranya terdengar santai, seolah hal itu bukan sesuatu yang mengejutkan.

Rivan mengerutkan keningnya. “Kok bisa? Kalian kan baru jadian,” ujar Rivan dengan nada bingung.

“Gue sudah putus lagi,” ucap Adrian dengan nada kesal sambil menjatuhkan tasnya ke kursi.

“Hah? Kok bisa?” ucap Rivan dengan nada terkejut.

“Yah, bisalah. Rencana licik dia terbongkar,” jawab Ivan dengan nada sinis sambil melirik Adrian sekilas.

Adrian langsung menoleh tajam ke arah Ivan, namun Ivan terlihat santai seolah tidak merasa bersalah.

“Kok lo bisa tahu?” tanya Rivan pada Ivan, semakin penasaran.

“Gue gak sengaja dengar aja,” jawab Ivan santai sambil mengangkat bahu.

“Bagus deh kalau lo sudah putus dari Rania,” ucap Rivan tiba-tiba.

Ucapan itu langsung membuat Adrian menatapnya dengan tajam.

“Maksud lo apa, hah!” bentak Adrian dengan emosi yang mulai memuncak.

“Rania tidak pantas buat cowok brengsek kayak lo,” ucap Rivan santai, sama sekali tidak terpengaruh oleh tatapan tajam Adrian. Suasana di antara mereka pun mendadak menegang.

Adrian langsung berdiri dari kursinya, wajahnya memerah menahan emosi.

“Lo bilang apa barusan?” desisnya tajam.

Rivan tetap duduk santai, bahkan menyandarkan punggungnya ke kursi seolah tidak merasa terancam sedikit pun.

“Lo dengar sendiri kan,” jawab Rivan datar. “Rania terlalu baik buat orang kayak lo.”

“Jaga mulut lo, Riv.” Adrian mengepalkan tangannya, menatap tajam Rivan. "Jangan bilang lo suka dengan Rania?"

Rivan menatap Adrian dengan sinis.

“Siapa sih yang gak suka sama Rania? Cantik, baik, setia lagi. Hanya orang goblok yang ninggalin dia dan malah memanfaatkannya,” ucap Rivan dengan nada tajam. Ia lalu melanjutkan, “Asal lo tahu, kalau sampai masalah kalian terdengar oleh keluarganya, gue gak tahu nasib lo bakal bagaimana nanti.”

“Emangnya Rania siapa? Dia bukan siapa-siapa. Lagian masih ada cewek lain yang masih bisa gue dapatkan,” ucap Adrian sambil tersenyum miring, berusaha terlihat tidak peduli.

“Kalau lo tahu siapa keluarganya Rania, gue yakin lo bakal kaget sih,” ucap Rivan dengan nada mengejek Adrian.

“Lo tahu keluarganya Rania, Riv?” tanya Ivan penasaran.

Rivan mengangguk santai. “Ya tahu lah.” Lalu ia menoleh ke arah Ivan. “Van, lo tahu ayah gue kerja di mana?”

“Ayah lo kan kerja di perusahaan Valkon Company, perusahaan besar di negeri Veloria ini,” jawab Ivan.

Sementara itu Adrian hanya menyimak percakapan mereka berdua. Ia juga mulai penasaran siapa sebenarnya keluarga Rania. Selama ini yang ia tahu, Rania hanyalah gadis dari keluarga yang cukup mampu—tidak miskin, tapi juga tidak terlihat seperti orang super kaya.

“Benar,” ucap Rivan singkat.

“Terus apa hubungannya dengan Rania?” tanya Adrian.

“Pemilik perusahaan tempat ayah gue kerja itu adalah daddy Rania. Dan bukan cuma itu, masih banyak usaha keluarga Rania yang tersebar di negeri Veloria ini, bahkan sampai ke luar negeri,” jelas Rivan.

“Hah? Yang benar loh!” ucap Ivan, benar-benar tidak menyangka kalau Rania adalah anak seorang miliarder.

“Gak mungkin. Kalau dia anak orang kaya, mana mungkin dia mau naik motor ke sekolah. Kecuali dia pakai mobil sport, baru gue percaya Rania miliarder,” ucap Adrian yang masih tidak percaya. Selama ini Rania memang terlihat hidup sederhana.

“Itulah hebatnya Rania,” balas Rivan. “Dia gak malu naik motor sederhana ke sekolah, padahal dia bisa aja beli motor yang sama dengan tokonya sekalian. Kalian coba perhatikan barang yang Rania pakai. Walaupun terlihat sederhana, semuanya bermerek dan harganya tidak main-main.”

Penjelasan itu membuat Adrian terdiam. Ia merenungkan ucapan Rivan. Tak pernah sekalipun ia menyangka hal seperti ini.

“Lo tahu nama lengkap Rania?” tanya Rivan tiba-tiba kepada Adrian.

Adrian menggeleng pelan. Sejak dulu, ia memang tidak pernah benar-benar penasaran dengan nama lengkap Rania.

“Cih, pacar macam apa lo,” sindir Rivan.

“Emang nama lengkap Rania siapa, Riv?” tanya Ivan dengan nada penuh rasa ingin tahu.

“Rania Aluna Kim Valkon.”

“Apa? Valkon!”

Rivan mengangguk. “Gue gak perlu jelasin lagi bagaimana keluarga Valkon itu.”

Adrian benar-benar tidak menyangka. Nama keluarga Valkon bukanlah nama sembarangan di negeri Veloria. Ia hanya bisa berharap satu hal—semoga saja Rania tidak memberitahukan masalah mereka kepada keluarganya.

~~

“Freya, temanin gue ke toilet dong,” ucap Bunga pada Freya. Saat itu mereka sedang duduk santai di taman sekolah sambil menunggu jam pelajaran dimulai.

“Ayo, gue juga ingin cuci tangan,” balas Freya sambil berdiri dari tempat duduknya.

“Tungguin kita ya, guys,” ucap Bunga kepada sahabat-sahabatnya.

“Ya elah, tanpa lo bilang kita juga gak bakal ke mana-mana kali,” sahut Balqis dengan nada santai.

“Ya siapa tahu lo ke kelas duluan,” sanggah Bunga.

“Walaupun gue ke kelas, gak pengaruh ke lo. Kita kan beda kelas,” ucap Balqis sambil menatap Bunga dengan malas.

“Oh iya ya, gue lupa,” ucap Bunga sambil menepuk jidatnya sendiri.

“Lo tambah lama tambah OON tau, Bun,” kata Balqis.

“Sudah-sudah, kalian nih ribut mulu. Ayo kita ke toilet,” ucap Freya mencoba melerai mereka berdua, lalu menarik tangan Bunga agar segera pergi.

Bunga hanya mendengus pelan sebelum akhirnya ikut berjalan bersama Freya menuju toilet.

Sementara itu, Lara yang sedari tadi memperhatikan Rania—yang terlihat diam sejak tadi—akhirnya membuka suara.

“Lo kenapa, Ran? Ada masalah?” tanyanya dengan nada hati-hati.

Rania hanya menjawab dengan gelengan kepala.

“Lo jangan ajak bicara Rania dulu, mungkin dia lagi galau,” ucap Balqis pelan, hampir seperti berbisik.

“Galau kenapa?” tanya Lara yang memang belum tahu kalau Rania sudah putus dengan Adrian.

“Dia udah putus sama Adrian. Rania sudah tahu kelakuan aslinya Adrian,” jawab Balqis.

“Hah? Serius lo?” sahut Bintang yang ikut mendengar.

“Serius malahan,” ucap Balqis santai.

“Gue denger ya apa yang kalian bicarakan,” ucap Rania tiba-tiba dengan nada dingin.

Mereka bertiga langsung terdiam dan saling menatap satu sama lain.

“Rania sekarang kalau ngomong bikin gue merinding,” ucap Lara dengan suara pelan.

“Lebih baik Rania datar daripada goblok kayak kemarin,” balas Balqis sambil tertawa kecil.

“Hm.”

Mereka bertiga langsung mengalihkan obrolan, mencoba membicarakan hal lain agar suasana tidak canggung.

“Eh, nanti pulang sekolah jadi ke kantin baru gak?” tanya Bintang tiba-tiba, berusaha mencairkan suasana.

“Yang dekat lapangan itu?” sahut Lara.

“Iya. Katanya makanannya lumayan,” jawab Bintang.

“Kalau gratis gue mau,” sela Balqis santai.

“Dasar,” Lara langsung tertawa kecil.

Namun, di tengah obrolan mereka, Rania sama sekali tidak menggubrisnya. Pandangannya masih lurus ke depan.

Dari kejauhan, ia melihat Adrian yang sedang bercanda dengan teman-temannya. Di sekitar mereka juga ada beberapa perempuan yang tampak ikut tertawa.

Rania hanya menatap pemandangan itu tanpa ekspresi.

“Penyesalan terbesarku adalah memaafkan dan menerima kamu kembali,” gumam Rania pelan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!