Di dunia nyata, Aira adalah gadis pemalu yang sangat menyukai film kultus berjudul "The Velvet Manor". Film tersebut terkenal karena adegan-adegannya yang sensual dan karakter Nyonya Isabella von Raven yang kejam namun memikat, yang dikelilingi oleh empat pelayan pribadi yang setia sekaligus berbahaya.
Suatu malam, sebuah insiden di tangga membuat Aira kehilangan kesadaran. Saat terbangun, ia mendapati dirinya berada di dalam kamar mewah yang persis seperti lokasi syuting "The Velvet Manor". Ia kini menempati tubuh Isabella von Raven, sang nyonya rumah yang dikenal kejam. Di hadapannya, berdiri empat pelayan pribadi yang memiliki reputasi berbahaya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja_Puan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5. Bayang-Bayang di Perpustakaan
Makan malam yang mencekam di ruang makan utama akhirnya berakhir, namun rasa pahit dari anggur merah dan tatapan menguliti dari keempat pria itu masih tertinggal di lidah Aira.
Ia berjalan menyusuri lorong sayap barat mansion, di mana cahaya lampu dinding yang redup menciptakan bayangan-bayangan panjang yang seolah-olah merayap mengikuti langkah kakinya di atas lantai marmer hitam yang dingin.
Gaun sutra hitamnya yang berat menyapu lantai dengan suara srak-srak yang halus, satu-satunya suara yang memecah keheningan malam di The Velvet Menor.
Tujuannya adalah perpustakaan pribadi keluarga von Raven. Dalam film aslinya, perpustakaan ini bukan sekadar tempat menyimpan buku; ini adalah pusat informasi, tempat di mana Isabella asli menyembunyikan kontrak-kontrak gelap dan bukti-bukti pengkhianatan.
Aira perlu tahu lebih banyak tentang botol biru itu, tentang simbol mawar yang tercekik, dan tentang apa sebenarnya yang membuat keempat pelayan ini tetap berada di sisi seorang wanita yang mereka benci namun mereka puja dengan cara yang mengerikan.
Dante tidak lagi mengikutinya secara terang-terangan setelah jamuan makan malam tadi.
Sang kepala pelayan itu hanya memberikan bungkukan dalam yang kaku dan berkata, "Selamat malam, Nyonya. Saya harap Anda menemukan apa yang Anda cari di antara debu dan kertas tua."
Kalimat itu terdengar seperti izin, namun Aira tahu itu adalah peringatan yang tajam. Dante membiarkannya pergi bukan karena ia memberikan kebebasan, melainkan karena Dante ingin melihat apa yang akan dilakukan "Isabella baru" ini saat ia merasa tidak ada mata yang mengawasi.
Pintu perpustakaan yang terbuat dari kayu jati hitam terbuka dengan suara derit yang panjang dan menyayat hati, seolah-olah ruangan itu sendiri sedang memprotes kehadiran jiwa yang memasukinya.
Udara di dalam sana terasa berbeda—lebih dingin, lebih kering, dan dipenuhi oleh aroma kertas tua, tinta yang mengering, serta wangi kayu ek yang sudah berusia ratusan tahun.
"Zane?" panggil Aira pelan.
Suaranya bergema di antara rak-rak buku raksasa yang menjulang tinggi hingga ke langit-langit yang gelap, di mana bayangan menari-nari ditiup angin malam.
Tidak ada jawaban. Hanya kesunyian yang menekan yang menyambutnya.
Aira melangkah lebih dalam ke dalam labirin rak buku. Ia hanya membawa sebuah lampu minyak kecil yang apinya menari-nari ditiup angin sepoi dari jendela tinggi yang sedikit terbuka.
Cahaya lampu itu hanya cukup untuk menerangi dua meter di depannya, membuat rak-rak buku di sekelilingnya tampak seperti raksasa diam yang sedang mengintai setiap napasnya yang tertahan.
Ia mencari rak bagian sejarah keluarga von Raven, berharap menemukan buku catatan tentang alkimia atau simbol mawar tercekik.
Namun, saat ia berbelok di antara lorong rak nomor empat yang sangat sempit dan gelap, cahaya lampunya tiba-tiba padam. Kegelapan total menyelimutinya seketika.
Jantung Aira berhenti berdetak sesaat. Ia mencoba menyalakan kembali lampunya dengan tangan gemetar, namun sebelum ia sempat bergerak, sebuah tangan besar yang hangat tiba-tiba membekap mulutnya dari belakang dengan kekuatan yang tak terbantahkan.
"Sstt... Jangan berteriak, Nyonya. Kecuali jika Anda ingin mengundang Dante ke sini dan menjelaskan kenapa Anda menggeledah arsip terlarang di tengah malam."
Suara itu rendah, serak, dan sangat dekat dengan telinganya hingga hawa napasnya yang hangat menggelitik kulit leher Aira yang sensitif. Punggung Aira ditekan keras ke rak buku yang kasar.
Tubuhnya terkunci sepenuhnya di antara kayu yang dingin dan tubuh pria yang sangat besar, kokoh, dan beraroma seperti hutan setelah hujan bercampur dengan aroma tajam dari kulit senjata.
Itu adalah Zane.
Zane tidak seperti Julian yang menggunakan kata-kata manis untuk menjebak, atau Kael yang menggunakan kemarahan untuk mengintimidasi.
Zane adalah kegelapan itu sendiri—pendiam, efisien, dan mematikan. Dalam film, Zane adalah pengawal pribadi yang paling dekat dengan Isabella, namun ia juga yang paling misterius karena ia jarang menunjukkan emosi sedikit pun, bahkan saat ia sedang membunuh.
Zane melepaskan bengkapan tangannya perlahan, namun ia tidak mundur satu inci pun.
Ia justru meletakkan kedua tangannya di samping kepala Aira, memerangkapnya sepenuhnya di dalam lorong sempit itu.
Di bawah cahaya bulan yang masuk dari sela-sela jendela tinggi di kejauhan, Aira bisa melihat wajah Zane yang sangat maskulin.
Rahangnya sekeras granit, hidungnya mancung sempurna, dan matanya yang gelap tampak begitu intens hingga seolah-olah bisa menembus ke dasar jiwa Aira.
"Kenapa kau mencari botol biru itu, Nyonya?" bisik Zane. Jarak wajah mereka hanya beberapa inci. Aira bisa merasakan panas yang memancar dari tubuh pria itu, sebuah kontras yang tajam dengan udara perpustakaan yang dingin.
"Aku... aku hanya ingin tahu apa isinya," sahut Aira, suaranya hampir tidak terdengar karena napasnya yang tersengal. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga ia merasa Zane bisa merasakannya melalui gaun sutra tipisnya yang bersentuhan dengan dada bidang pria itu.
Zane merendahkan wajahnya. Ujung hidungnya menyentuh pelipis Aira, menghirup aroma mawar hitam yang masih tertinggal di rambutnya.
"Botol itu bukan sekadar obat atau racun. Itu adalah akhir dari sebuah sejarah yang berdarah. Jika kau membukanya tanpa tahu cara mengendalikan kekuatannya, kau bukan hanya akan meracuni Dante... kau akan memicu perang yang akan membakar seluruh mansion ini menjadi abu."
Zane menarik diri sedikit, menatap tepat ke mata hijau zamrud Aira. Tangannya yang besar kini merayap ke arah leher Aira, ibu jarinya mengelus garis nadinya yang berdenyut kacau di bawah kulit porselen yang halus.
"Julian mungkin tertipu oleh sikap barumu," kata Zane dengan nada yang sangat datar namun penuh sindiran tajam.
"Kael mungkin mengira kau hanya sedang kehilangan taringmu sementara. Tapi aku... aku menghabiskan waktu bertahun-tahun di bayang-bayangmu, Isabella. Aku tahu cara kau bernapas saat kau merencanakan sesuatu."
Zane memberikan sedikit tekanan pada leher Aira, bukan untuk mencekik, tapi untuk menunjukkan kendali yang mutlak. Ketegangan yang menyiksa mulai merayap di antara mereka, membuat udara di perpustakaan itu terasa berat.
"Permainan apa yang sedang kau mainkan sekarang? Pura-pura polos? Pura-pura ketakutan saat disentuh? Kau sedang mencoba menguji kesetiaan kami, atau kau sedang merencanakan pengkhianatan yang lebih besar lagi?"
Aira membeku. Ia lega karena Zane tidak tahu kebenaran tentang jiwanya, namun ia ngeri karena Zane menganggap ketakutan nyatanya hanyalah sebuah taktik manipulasi yang jenius.
"Aku tidak sedang bermain peran, Zane," isaknya pelan, mencoba menantang tatapan Zane.
Zane terdiam cukup lama. Ia tidak melepaskan Aira. Ia justru menatap Aira dengan rasa penasaran yang tumbuh perlahan—sebuah hasrat yang tertahan yang jauh lebih berbahaya daripada kebencian biasa.
"Kau sangat mahir," bisik Zane. Ia melepaskan leher Aira, namun tangannya kini berpindah untuk mencengkeram pinggang Aira, menariknya lebih dekat hingga tidak ada lagi udara di antara mereka.
"Bahkan air matamu terasa begitu nyata. Jika ini adalah cara barumu untuk membuat kami bertekuk lutut... aku harus mengakui, ini jauh lebih efektif daripada cambukanmu."
Zane mendekatkan bibirnya ke telinga Aira.
"Tapi berhati-hatilah, Nyonya. Jika kau terus berakting menjadi mangsa yang rapuh, serigala-serigala di rumah ini mungkin akan lupa bahwa kau adalah majikannya. Dan mereka... kami... mungkin akan melakukan hal-hal yang tidak akan kau sukai."
Zane memberikan satu ciuman ringan namun sangat posesif di ceruk leher Aira, membuat Aira tersentak dan mengeluarkan erangan kecil yang tertahan.
Sensasi bibir Zane yang hangat di kulitnya menciptakan getaran yang belum pernah Aira rasakan sebelumnya. Zane kemudian menarik diri, matanya berkilat penuh otoritas di kegelapan perpustakaan.
"Aku akan menyimpan rahasiamu tentang botol biru itu dari Dante. Untuk saat ini," ancam Zane dengan nada yang sangat dingin.
"Tapi anggap ini sebagai peringatan. Aku akan terus mengawasimu di kegelapan. Jika aktingmu ini berubah menjadi ancaman bagi kami... aku sendiri yang akan mengakhiri permainanmu."
Tiba-tiba, suara langkah kaki yang teratur dan berwibawa terdengar dari kejauhan lorong luar perpustakaan. Itu adalah langkah sepatu Dante.
Zane memberikan satu tekanan terakhir yang posesif pada pinggang Aira sebelum menghilang ke dalam bayang-bayang rak buku seolah-olah ia tidak pernah ada di sana.
Aira berdiri sendirian di lorong sempit itu, terengah-engah, dengan aroma hutan dan bahaya yang masih menyelimuti seluruh tubuhnya.
Saat pintu perpustakaan terbuka lebar dan cahaya dari lampu yang dibawa Dante masuk menerangi ruangan yang berdebu itu, Aira hanya bisa berdiri mematung sambil memegangi dadanya yang terasa sangat sesak.
"Nyonya? Apakah Anda baik-baik saja? Kenapa lampu Anda padam?" tanya Dante dengan nada tenang yang selalu terdengar penuh kecurigaan.
Aira menelan ludah yang terasa pahit, mencoba menenangkan badai di dalam dirinya.
"Aku... aku hanya tersandung di kegelapan, Dante. Aku sudah selesai di sini. Mari kita kembali ke kamar."
Saat berjalan melewati Dante, Aira menyadari bahwa permainannya kini jauh lebih mematikan.
Semua orang menganggap perubahannya adalah rencana jahat baru.
Identitas aslinya masih aman, namun nyawanya tetap berada di ujung tanduk. Hasrat yang tertahan antara dirinya dan para pelayan ini baru saja memasuki babak yang paling gelap.
Lanjuutt