NovelToon NovelToon
After Married

After Married

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: zahra

apa yang akan terjadi jika kamu bangun dari tidur mu , tiba tiba sudah memiliki suami yang begitu menolak mu

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zahra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

panggilan sayang

Di balik jendela kaca apartemen yang menjulang tinggi,

semburat senja mulai memudar, digantikan oleh kerlip lampu kota yang mulai terbangun. Cavin menarik napas panjang, menikmati kesunyian yang langka.

absen nya orang tua dari rumah adalah ruang bernapas yang ia manfaatkan untuk kembali ke "benteng" pribadinya yaitu ngumpul ke apartemennya.

Namun, malam ini sunyi itu hanya terbelah oleh kehadiran Ronald.

Teman-temannya yang lain udah pada luruh satu per satu, terjebak dalam urusan domestik yang membosankan.munhkin mereka akan menyusul.

"Ada apa lagi, Vin? Sumpah, tulang-tulangku rasanya mau tanggal kita kumpul mau ngapain

Besok pagi ada meeting penting dan aku butuh memejamkan mata," dengus Ronald, melempar tasnya ke sudut sofa dengan sisa-sisa tenaga yang ada, ia baru tiba tapi sahabatnya itu sudah nangkring terlebih dahulu.ia kira sahabatnya itu belum datang.

Cavin hanya tersenyum tipis, menatap langit malam yang mulai pekat. "Santai sedikit, Ron. Biasanya kau juga tidak langsung tidur kalau jam segini "

"Ya, tapi untuk apa? Hanya kita berdua di sini. Kalau tiba-tiba ibumu melakukan inspeksi mendadak dan melihat kita hanya berdua, bisa-bisa kau dipaksa menikahi denganku juga karena dikira ada yang tidak beres," seloroh Ronald diiringi tawa renyah ia sedikit menyinggung masa itu di mana sahabatnya di gerebek oleh ibunya sendiri dan yang lebih gong nya lagi ibu cavin tidak datang sendiri mereka datang bersama para ibu Arisan sosialita nya.

"Cih, seleraku tidak serendah itu untuk menikah denganmu," balas Cavin sarkastik.

Ronald merebahkan diri, matanya menerawang ke langit-langit plafon yang mewah.

"Lalu? Kau ingin mengajakku menonton film? Tumben sekali. Biasanya kau lebih memilih menyelam ke alam mimpi saat yang lain asyik menonton, atau jangan-jangan... kau ingin kita 'belajar' gaya baru dari film dewasa, eh?" goda Ronald dengan kerlingan nakal.

"Berhenti bicara omong kosong," sela Cavin datar. Ia tidak sedang ingin meladeni humor cabul sahabatnya itu.

Pikirannya sedang melayang ke tempat lain, sebuah ruang kosong yang sulit ia definisikan.

"Jangan berlagak suci, kawan. Aku tahu matamu sering mencuri pandang saat layar menampilkan adegan panas. Kita sudah dewasa, itu naluri yang wajar," Ronald terus memancing, namun Cavin memilih menyerah.

Ia merebahkan tubuhnya di sofa panjang, menutupi wajahnya dengan lengan, membiarkan kegelapan buatan menyelimuti pandangannya.

"Terserahlah. Katakan apa saja semaumu," gumam Cavin lemah sebelum akhirnya hening mengambil alih.

"Luar biasa. Jadi kau memanggilku ke sini hanya untuk menjadi penjaga tidurmu?" gerutu Ronald yang tak lagi mendapat sahutan.

Karena bosan mulai menggerogoti, ia meraih stik konsol. "Lebih baik aku mabar saja daripada jadi patung di sini."

Waktu merayap lambat diiringi suara dentuman dari layar televisi. Ronald sedang asyik dengan permainannya sampai sebuah suara melengking memecah fokusnya. Ponsel Cavin di atas meja terus berdering menampilkan cahaya yang berkedip-kedip di tengah remang ruangan.

"Bro, bangun! Ponselmu berisik sekali!" sungut Ronald.

Tak ada respon. Cavin masih terjebak dalam tidurnya yang dalam.

"Woi, kebo! Bangun! Ada telepon!" teriak Ronald lebih keras.

Cavin melenguh, suaranya parau. "Berisik sekali kau, Ron..."

"Ponselmu yang berisik, bodoh! Lihatlah," balas Ronald tak terima.

"Siapa?" tanya Cavin tanpa mengubah posisinya sedikit pun.

Ronald melirik layar yang masih menyala. "Nomor rumah."

"Tolak saja. Paling itu kerjaan si Tata. Mama sama papa lagi enggak ada di rumah Kalau dia baru belajar hal baru, dia akan terus mengulanginya menceritakan sampai semua orang bosan," ujar Cavin, merujuk pada Thalia dengan nada remeh.

"Tata? Siapa dia? Istrimu?" tanya Ronald penasaran.

"Hm," gumam Cavin singkat, kembali tenggelam dalam kantuknya.

"Wah, sudah punya panggilan sayang rupanya. Tapi tunggu, ini sudah panggilan kesepuluh yang tak terjawab.

Sepertinya penting," ujar Ronald mulai merasa ada yang tidak beres. Namun, Cavin sudah kembali terbuai dalam mimpi..

Geram karena tidur Cavin yang sekeras batu, Ronald memindahkan ponsel itu tepat di samping telinga Cavin, lalu membesarkan volumenya hingga maksimal saat panggilan kembali masuk.

Drrttt... Drrttt...!!!

Cavin tersentak, jantungnya berdegup kencang karena suara yang tiba-tiba itu.

Dengan mata setengah terpejam dan napas memburu, ia menyambar ponselnya. Ia melihat daftar panggilan tak terjawab yang panjang, lalu menghubungi kembali nomor rumahnya.

"Halo, ada apa, Bi?" tanya Cavin, suaranya kini penuh kewaspadaan.

"Halo... Den Cavin? Ini benar Den Cavin?" suara di seberang sana terdengar gemetar dan terengah-engah..

"Iya, Bi, ini saya. Ada apa? Mama dan Papa belum pulang, kan?"

"Tuan dan Nyonya belum pulang, Den... Tapi... tapi Non Thalia di dalam kamar... dia teriak-teriak minta tolong, Den! Suaranya histeris sekali, tapi kamarnya dikunci dari dalam dan kami tidak bisa membukanya!" suara Bi Ranti, sang asisten rumah tangga, pecah oleh tangisan panik.

Darah Cavin seolah membeku seketika. Kantuknya hilang tak berbekas, digantikan oleh adrenalin yang memuncak.

"Cari kunci cadangannya di laci meja kerja Papa, Bi! Cepat! Saya pulang sekarang!"

Klik.

Tanpa menunggu jawaban, Cavin menyambar kunci mobilnya di atas meja. Gerakannya secepat kilat, meninggalkan Ronald yang masih terpaku bingung.

"Eh, mau ke mana?!" seru Ronald..

"Aku pergi! Tutup apartemennya, jangan sampai ada yang hilang!" teriak Cavin dari ambang pintu sebelum bayangannya menghilang di lorong lift, meninggalkan kesunyian yang kini terasa mencekam.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!