Bagaimana jika orang yang kamu cintai malah dijodohkan dengan kakakmu sendiri?
Lalu cinta itu tumbuh di tempat yang salah dan harus disembunyikan dari semua orang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lunes_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
7 - Can't Fight This Feeling
Setelah berganti pakaian dan mematikan lampu utama, aku merebahkan diri di tempat tidur.
Namun, mataku justru menoleh ke arah pintu. Di kepalaku hanya ada satu pertanyaan: Apakah Henry bisa nyaman tidur di sofa?
Aku sempat bangkit, berniat keluar kamar untuk memastikan keadaannya. Tapi langkahku tertahan.
Tidak, Lia. Kamu tidak seharusnya seperti ini.
Dengan sedikit memaksa, aku kembali membaringkan tubuh, menatap kosong langit-langit kamar, berusaha memejamkan mata.
Sepuluh menit.
Dua puluh menit.
Tiga puluh menit berlalu.
Aku hanya menutup mata tanpa benar-benar terlelap. Bayangan Henry yang tidur di sofa terus menghantui pikiranku. Rasa khawatir menekan dada, sampai akhirnya aku menyerah pada diriku sendiri.
Aku turun dari tempat tidur, berjalan perlahan ke arah pintu, dan membukanya sedikit. Dari celah itu, kulihat Henry terlelap di sofa, kedua tangannya menyilang di dada, tanpa selimut yang menutupi tubuhnya. Aku merasa iba.
Dengan hati-hati, kubuka pintu lebih lebar dan melangkah mendekat. Aku jongkok di samping sofa, tepat di sisi kepalanya. Tatapanku jatuh pada wajahnya yang sedang tertidur. Entah mengapa, pemandangan itu membuat hatiku terasa damai. Rasanya aku ingin waktu berhenti sejenak, agar aku bisa menikmati momen ini lebih lama.
Namun, kedamaian itu buyar ketika kelopak matanya perlahan terbuka.
“Ah!” aku terkesiap, tubuhku refleks mundur hingga terjatuh duduk ke lantai.
Henry sontak bangun, lalu duduk sambil mengucek mata.
“Lili? Kamu ngapain di sini?” tanyanya dengan suara serak.
“Ehm… itu… aku…” bibirku kaku, tidak tahu harus menjawab apa.
“Kamu kenapa? Apa kamu perlu sesuatu?” ia menatapku penuh selidik.
“Nggak. Aku cuma…”
“Cuma apa?”
Aku menggigit bibir, malu sendiri. “Aku cuma pengen lihat kamu.”
Henry mengerjap. “Apa?”
“Aku cuma pengen lihat kamu… apa kamu nyaman tidur di sofa.” ucapku pelan, hampir seperti bisikan.
Henry tersenyum samar, lalu mengangkat alis. “Kalau aku nggak nyaman, terus kamu mau apa?”
Aku menatapnya, terkejut. Hati kecilku panik, tapi lidahku bergerak lebih cepat daripada otak.
“Ya… nyuruh kamu tidur di kamar.”
Apa kamu gila, Lia? Kenapa bisa ngomong kayak gitu?!
Henry mengulang pelan, seolah memastikan ia tidak salah dengar. “Maksudmu… kita berdua tidur di kamar yang sama? Di ranjang yang sama?”
Dengan wajah panas menahan malu, aku hanya mampu mengangguk.
“Lili, kamu serius? Kita berdua…”
“Cuma tidur, Kak!” potongku cepat. “Nggak ngelakuin yang lain. Jadi jangan mikir yang aneh-aneh.”
Henry menghela napas, seakan berusaha menahan diri. “Gimana aku nggak mikir yang aneh-aneh, soalnya kamu sendiri yang ngajakin.”
“Cuma tidur,” ulangku, nadaku tegas tapi mataku menghindar. “Nggak ada yang lain.”
Ia terdiam beberapa saat. Suasana mendadak canggung. Aku pun berdiri.
“Ya udah… kalau Kakak lebih nyaman di sofa, silakan.” ucapku datar, lalu berbalik menuju kamar.
Belum sempat aku masuk kamar, Henry menyusul. Ia berdiri di sampingku, wajahnya serius.
“Kenapa?” tanyaku sambil menoleh.
“Aku nggak nyaman tidur di sofa.” jawabnya tenang.
Aku menahan senyum yang hampir pecah di bibir. “Terus?”
“Aku akan tidur di kamar. Tapi aku janji, nggak akan ngapa-ngapain.”
“Oke.” aku melangkah masuk lebih dulu sambil menyembunyikan senyumku. Sesaat kemudian terdengar suara pintu tertutup.
Aku naik ke tempat tidur, menarik selimut hingga menutupi tubuh. Dari ujung mata, kulihat Henry ragu-ragu sebelum akhirnya ikut berbaring di sisi lain ranjang.
Kami sama-sama berbaring di tepi ranjang, jarak di antara kami terasa bagai ujung Sabang dan Merauke.
“Lili, kalau orang tua kita tahu… mereka pasti marah.” bisiknya.
“Dan aku yang akan disalahkan,” balasku lirih. “Maka dari itu… jangan sampai mereka tahu.”
“Lili…”
“Jangan bicara lagi, Kak. Aku ngantuk. Aku mau tidur.” ucapku cepat, lalu menarik selimut hingga ke wajah.
Tak ada lagi suara darinya. Hanya hening. Entah kapan, mataku akhirnya terpejam, ditemani debar yang belum juga reda.
Beep… beep…
Bunyi jam digital di nakas membangunkanku perlahan. Aku membuka mata, menatap sekeliling yang masih remang. Jantungku langsung berdegup kencang saat kulihat—kami berdua tertidur dalam pelukan.
“Ah!” aku teriak spontan, lalu duduk mendadak, selimut melorot sedikit. Henry juga terkejut dan segera membuka mata.
“Lili, ada apa?” suaranya masih serak karena baru bangun.
“Kenapa kita saling berpelukan?” tanyaku, napas masih tercekat.
Henry mengerjap, kebingungan. “Hah? Berpelukan? Kapan?”
“Waktu kita tidur. Aku tadi bangun, lihat kita saling berpelukan.”
“Mungkin tanpa sadar tubuh kita bergerak sendiri,” jawabnya buru-buru. “Biasanya memang gitu—posisi tidur berubah, kebalik, atau…”
Aku menatapnya curiga. “Jangan-jangan tadi malam kamu bangun dan narik aku ke pelukanmu. Iya kan?”
“Nggak. Ngapain aku lakukan itu? Kurang kerjaan. Denger—aku memang kemarin udah bilang perasaanku, tapi aku bukan orang brengsek yang memanfaatkan keadaan.” Nada suaranya tegas, hampir memohon.
“Serius?” Suaraku pelan, berharap jawaban itu jujur.
“Iya. Demi Tuhan.” Ia menepuk dadanya seakan mengukuhkan kata-katanya.
Beberapa detik sunyi. Aku menelan, mencoba menenangkan diri. “Ya udah… oke. Aku percaya.” Aku menyeringai canggung, lalu buru-buru menambahkan, “Cepetan mandi, nanti kamu telat ke kantor.”
Henry mendengus, bangkit cepat. “Aku nggak kayak yang kamu tuduhkan tadi, ya! Ingat itu!” Ia berjalan menuju pintu kamar sambil ngomel.
“Eh? Bajumu mana?” aku spontan memanggil lagi. “Kamu nggak bakal keluar kamar mandi cuma pakai handuk, kan?”
“Apa?” Ia berhenti, menoleh setengah kesal. “Kok kamu tahu?”
“Kak Henry! Ada aku lho di sini… dasar!” aku protes, padahal hati terasa hangat. “Cepetan ambil bajunya.”
“Iya… iya…” Henry terlihat setengah kesal, setengah geli. Ia menimpali, “Lili, hari ini kamu bawel banget, kayak seorang istri.”
Aku tercekat. “Nggak mungkin.” jawabku cepat, menutup mulut sendiri setelah kata itu terucap.
“Apa yang nggak mungkin?” ia menuntut, menatapku serius satu detik—lalu cepat berlalu, tersingkap emosi yang tak ingin ia biarkan lama.
“Aku jadi istri kamu. Kak Ana yang akan jadi istri kamu.” ucapku, suaraku mengkerut menahan sedih.
“Lili… aku—” ia mulai, tapi kujeda dia dengan gelengan kepala dan tangan mengibas.
“Jangan bicara lagi. Cepetan mandi, nanti telat ke kantor. Aku juga harus izin ke Pak Arman.” ujarku cepat, menutup percakapan yang bisa mengundang luka.
Henry mengangguk, mengambil bajunya dari lemari, lalu keluar kamar sambil menutup pintu. Di balik pintu itu langkahnya terdengar, lalu sunyi kembali.
Aku menatap pintu yang tertutup, jantung berdebar. Andai ibu kami tak berteman sejak dulu. Andai ibu-ibu kami tak pernah merajut rencana itu. Mungkin sekarang aku akan merancang masa depan bersamanya — bukan merasakan hampa karena hanya bisa berharap dalam diam.
Setelah aku meminta izin kepada Pak Arman, aku juga segera mengabari Caca. Namun, aku berpesan padanya agar tidak datang menjengukku. Bisa gawat kalau Caca muncul di rumahku, sementara aku sudah mengatakan kepada Mama bahwa aku menginap di rumahnya.
Aku keluar dari kamar menuju dapur. Rencanaku sederhana: membuat nasi goreng untuk sarapan — atau setidaknya mengusir mual pagi dengan sesuatu yang hangat dan harum.
Nasi tidak ada, jadi aku menanak beras dulu sambil menyiapkan bumbu — bawang putih, bawang merah, kecap, sedikit saus sambal.
Sambil menunggu nasi matang, aku duduk di sofa sambil menonton film.
Tidak lama kemudian pintu kamar mandi terbuka. Henry keluar, rambutnya masih agak basah, handuk terlipat di bahunya.
“Oh? Kamu di sini?” sapanya polos.
“Iya. Mau bikin nasi goreng, tapi nasinya belum matang, jadinya nonton film dulu.” jawabku sambil tak melepas pandangan dari layar.
“Kamu mau bikin nasi goreng? Buat kita berdua?” ucapnya, nada suaranya seperti menebak harapan.
“Kalau kamu mau. Kalau nggak, ya buat aku aja.” jawabku santai, tapi mataku menoleh sekilas ke arahnya.
“Boleh juga. Aku pengen tahu gimana rasa masakanmu.” Henry berkata, suaranya ringan—seolah pertanyaan sederhana itu bukan soal rasa, tapi alasan untuk duduk dekat.
“Masakanku biasa-biasa aja. Masakannya Kak Ana masih lebih enak.” kataku setengah bercanda, setengah menyembunyikan gugup.
“Aku nggak mau tahu soal masakannya Ana. Aku mau tahu masakanmu.” jawabnya singkat.
Kata-kata itu membuat dadaku hangat. Kenapa setiap kali Henry menatap aku seperti itu, harapanku selalu menyeruak tanpa izin? Aku menarik napas panjang, pura-pura santai. “Dibilang biasa aja.” gumamku.
Henry duduk di sampingku, ikut menonton. Aroma nasi yang mulai matang memenuhi dapur, memberi rasa nyaman. Ketika nasi sudah pulen, aku menumis bumbu dan menambahkan nasi, mengaduk sampai harum. Dua piring kuisi dan kuletakkan di meja depan TV.
“Nih.” kataku, lalu duduk di lantai di sebelahnya. Ia pun ikut menurunkan tubuhnya dan duduk di sampingku. Tanpa banyak bicara, Henry langsung mencicipi nasi goreng buatanku.
“Gimana?” tanyaku penuh harap.
“Ehm… nggak enak.” ucapnya datar.
“Serius?” Aku menatapnya tak percaya.
Aku buru-buru ikut mencicipi masakanku sendiri. Menurutku rasanya lumayan enak. Apa mungkin memang bukan selera Henry?
“Menurutku lumayan enak, kok. Tapi kalau menurutmu nggak enak, ya udah, nggak usah dimakan.” ucapku cemberut, lalu mulai melahap nasi goreng itu sendiri.
“Tapi aku bukan orang yang suka buang-buang makanan. Jadi aku tetap akan memakannya.” jawab Henry tenang.
“Udah, nggak usah dipaksain kalau nggak suka.” sahutku agak kesal.
Tiba-tiba Henry tertawa.
“Kenapa kamu ketawa?” tanyaku bingung.
“Kamu masih aja lucu kalau cemberut.” katanya sambil tersenyum.
“Apa? Hei, aku bukan anak kecil lagi. Lucu dari mananya?” protesku.
“Reaksimu yang kayak gitu… lucu.” balas Henry, menatapku dengan tatapan sulit ditebak.
“Ah, apaan sih? Udah makan aja. Katanya nggak mau buang makanan.” Aku pura-pura cuek.
Henry mendekat sedikit, lalu berbisik di telingaku, “Lili, masakanmu enak.”
Aku spontan menoleh ke arahnya. Wajah kami begitu dekat. Pandanganku tertahan pada matanya, lalu turun ke hidung, hingga akhirnya ke bibirnya.
Jantungku berdetak tak karuan. Aku segera memalingkan wajah dan menggeleng cepat. Apa-apaan ini? Kenapa tiba-tiba aku ingin menciumnya? Ini berbahaya. Aku sudah memikirkan hal yang terlalu jauh.
“Ada apa?” tanya Henry, memperhatikan reaksiku.
“Nggak apa-apa.” jawabku tergesa, lalu melanjutkan makan dengan tangan gemetar.
Di dalam hati aku mengutuk diri sendiri. Bagaimana mungkin aku sampai terpikir untuk menciumnya—calon suami kakakku sendiri? Itu berbahaya. Itu salah. Tapi detik-detik kedekatan itu seperti magnet, menarik seluruh hatiku dan membuat rasaku bergetar tak karuan.