Bagi Azzalia Caesarea, mencintai Regas Adhitama adalah sebuah keberanian sekaligus kesalahan. Regas adalah sang "Pangeran Teknik" yang sempurna, sementara Lia hanyalah mahasiswi Sastra pemegang beasiswa yang hidup sebatang kara.
Saat restu orang tua Regas menjadi dinding tinggi yang tak mungkin dipanjat, Lia memilih mundur. Ia meletakkan tanda titik pada kisah mereka, menolak lamaran Regas, dan pergi mengejar mimpinya ke luar negeri demi harga diri yang sempat diinjak-injak.
Tahun-tahun berlalu, Lia kembali sebagai sosok wanita yang baru dan sukses. Namun, semesta memang senang bercanda. Di sekolah internasional tempatnya mengajar, ia kembali dipertemukan dengan mata tegas itu. Regas berdiri di sana, tetap mempesona, namun dengan satu kejutan yang menyesakkan napas: seorang putri kecil yang memanggilnya "Papa".
Siapkah Lia membuka kembali buku lama yang sudah ia tutup rapat?Dan rahasia apa yang sebenarnya disimpan Regas selama bertahun-tahun kepergian Lia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
Suara dentuman musik bass di bar eksklusif pusat kota itu seolah berusaha meredam gemuruh di dada Regas. Ia melonggarkan simpul dasinya kasar, membiarkan kancing teratas kemejanya terbuka. Di depannya, tiga gelas whiskey kosong sudah berjejer, namun rasa sesak itu tak kunjung hilang.
Regas meraih ponselnya, mencari satu nama yang selalu bisa ia andalkan dalam situasi paling kacau sekalipun.
"Bi, ke The Vault sekarang. Jangan banyak tanya," ucap Regas singkat begitu sambungan telepon terhubung.
Setengah jam kemudian, Abimana—pria berkacamata dengan raut tenang yang telah menjadi asisten sekaligus sahabat Regas sejak masa kuliah—muncul. Ia menarik kursi di samping Regas, menatap gelas-gelas kosong itu dengan dahi berkerut.
"Minum sebanyak ini tidak akan membuat struktur perusahaanmu jadi lebih kokoh, Gas. Ada apa?" tanya Abi tenang, memberi isyarat pada barista untuk memberikan segelas air putih pada bosnya.
Regas tertawa getir, matanya merah karena alkohol dan kurang tidur. "Struktur perusahaan? Persetan dengan itu, Bi. Struktur hidupku yang sedang hancur. Dia kembali."
Abimana terdiam sejenak. Ia tahu persis siapa 'dia' yang dimaksud. "Azzalia?"
Regas mengangguk lemah, kepalanya tertunduk menatap meja kayu bar yang mengilat. "Dia guru sastra Ghea. Dia melihatku bersama Elena tadi pagi. Dia menatapku seolah aku adalah sampah paling menjijikkan yang pernah ia temui."
"Gas, kamu tahu sendiri konsekuensi pernikahanmu dengan Elena lima tahun lalu," ujar Abi sambil menepuk bahu sahabatnya. "Orang tuamu tidak akan membiarkanmu bernapas kalau saat itu kamu tidak setuju. Kamu melakukan itu untuk menyelamatkan ribuan karyawan Adhitama Group."
"Tapi bagi Lia, aku hanya laki-laki yang berkhianat dalam empat bulan!" bentak Regas, suaranya naik satu oktav hingga beberapa pengunjung menoleh. "Dia tidak tahu kalau aku terpaksa. Dia tidak tahu kalau selama lima tahun ini aku hanya menjadi mayat hidup yang menjalankan peran sebagai suami dan CEO idaman!"
Regas meneguk gelas keempatnya sekali tenggak. "Elena marah besar tadi. Dia mengancam akan menghancurkan karier Lia di sekolah itu. Bi, aku tidak bisa membiarkan itu terjadi lagi. Cukup lima tahun lalu aku membiarkannya pergi sendirian ke London. Kali ini tidak akan."
Abimana menghela napas panjang. Ia melihat kerapuhan yang luar biasa dari sosok pria yang biasanya begitu tegas dan dingin ini. "Lalu apa rencanamu? Kamu tahu posisi Elena sedang kuat karena dia sedang mengandung."
Regas terdiam. Ia menatap pantulan dirinya di gelas kaca yang retak kecil di pinggirnya—sama seperti hidupnya. "Cari tahu siapa pemilik yayasan sekolah itu, Bi. Pastikan posisi Azzalia aman dari campur tangan keluarga Adhitama atau keluarga Elena. Dan satu lagi..."
Regas menjeda kalimatnya, matanya menatap tajam ke arah Abimana. "Siapkan dokumen apartemen di samping unit Lia. Aku butuh tempat untuk bernapas, meskipun itu berarti aku harus bersembunyi di balik dinding yang sama dengannya."
Sedangkan di bawah langit jakarta yang lain.
Di unit apartemennya yang sunyi, Azzalia duduk di ambang jendela besar yang menghadap langsung ke kerlap-kerlip lampu Jakarta yang tak pernah tidur. Di pangkuannya terdapat sebuah buku catatan bersampul kulit kusam—satu-satunya saksi bisu perjalanannya dari gang sempit fakultas sastra hingga ke gedung-gedung tinggi London.
Suasana hening malam itu hanya dipecah oleh goresan pena di atas kertas. Lia mencoba mengalirkan seluruh sesak di dadanya ke dalam kata-kata, karena hanya sastra yang tak pernah mengkhianatinya saat manusia melakukannya.
Judul: Sajak Sang Insinyur
Kau mahir menghitung beban,
Membangun fondasi di atas janji yang rawan.
Namun kau lupa satu rumus dasar dalam tiap strukturnya;
Bahwa hati bukan semen yang mengeras saat terpapar udara.
Empat bulan adalah waktu untuk musim berganti,
Namun bagimu, itu waktu yang cukup untuk mengganti hati.
Kau membangun istana megah di atas puing-puingku,
Lalu memintaku kembali menjadi pembaca dalam bab yang bukan milikku.
Lia berhenti sejenak. Matanya memanas saat ia menatap kata "Milikku". Ia teringat Regas yang dulu selalu bilang bahwa ia adalah "rumah" tempat laki-laki itu pulang. Sekarang, rumah itu telah beralih kepemilikan. Ada Elena, ada bayi yang sedang dikandungnya, dan ada kehidupan mewah yang sangat jauh dari jangkauan puisi-puisinya yang sederhana.
Ia menutup buku itu dengan kasar. Lia tidak ingin menjadi wanita yang meratapi nasib di balik jendela. Ia berdiri, berjalan menuju cermin, dan menatap pantulan dirinya dengan sisa-sisa ketegasan yang masih ia miliki.
"Cukup, Azzalia. Jangan biarkan dia menjadi tokoh utama dalam tulisanmu lagi," bisiknya pada bayangan di cermin.
Lia tidak tahu, bahwa di saat yang bersamaan, di balik dinding apartemen yang tepat berada di samping unitnya, Regas baru saja menginjakkan kaki dengan kunci duplikat yang diberikan Abimana. Regas bersandar di dinding pemisah mereka, memejamkan mata, seolah-olah ia bisa merasakan kehadiran Lia hanya dengan menempelkan telinganya di sana.
Hanya ada satu tembok beton tipis yang memisahkan mereka malam itu. Namun bagi Lia, tembok itu lebih tebal dari jarak Jakarta dan London, karena di sisi sebelah sana, Regas sudah bukan lagi miliknya.