NovelToon NovelToon
Nikah Kontrak; Istri Cegil Si Direktur Dingin

Nikah Kontrak; Istri Cegil Si Direktur Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Perjodohan / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Aksara Aksarasastra

Premis:
Demi menyelamatkan bisnis keluarganya yang hampir bangkrut, Alya Prameswari terpaksa menerima perjodohan dengan Adrian Wijaya, seorang Direktur muda yang dingin dan terkenal tidak menyukai wanita “cegil”. Namun pernikahan mereka hanyalah kontrak.
Alya yang sebenarnya cukup tenang justru berpura-pura menjadi istri paling menyebalkan agar Adrian segera menceraikannya.
Sayangnya rencananya gagal. Semakin Alya bersikap cegil, Adrian justru semakin sabar dan mulai melindunginya.
Ketika akting Alya berubah menjadi perasaan yang nyata, ia harus memilih: terus berpura-pura… atau mengakui bahwa ia tidak lagi ingin pernikahan kontrak itu berakhir.
Saksikan Terus Cerita ini, update setiap hari 💚

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aksara Aksarasastra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jati Diri Alya

Pagi itu Alya terbangun sedikit lebih cepat dari biasanya. Sinar matahari yang masuk melalui tirai tipis kamarnya membuat ruangan terasa hangat, sementara suara kendaraan dari jalan utama terdengar samar di kejauhan. Ia duduk di tepi tempat tidur sambil menguap kecil, rambutnya masih sedikit berantakan.

Beberapa detik kemudian ia meraih ponselnya di meja samping tempat tidur.

Layar Aurelia Nova X miliknya menyala, menampilkan beberapa notifikasi pesan yang belum dibaca. Namun sebelum Alya sempat membuka apa pun, ponselnya kembali bergetar.

Nama yang muncul di layar membuatnya mengangkat alis.

Adrian.

Alya menggeser layar untuk menerima panggilan.

“Pagi,” katanya dengan suara sedikit serak karena baru bangun.

[“Pagi.”]

Suara Adrian terdengar sama tenangnya seperti biasanya.

[“Kamu sudah bangun?”]

Alya menguap lagi. “Sudah setengah bangun.”

Sunyi sebentar.

Lalu Adrian berkata, [“Hari ini kamu ada rencana?”]

Alya menyipitkan mata sedikit. “Kenapa?”

[“Aku mau ke kantor pusat.”]

Alya langsung teringat percakapan mereka semalam.

“Oh iya, yang itu.”

[“Aku ingin kamu ikut.”]

Alya mengerjap.

“Kenapa Alya ikut?”

[“Karena ada pertemuan kecil dengan beberapa petinggi perusahaan.”]

“Dan Alya harus datang?”

Adrian menjawab dengan nada santai, [“Kalau kamu tidak keberatan.”]

Alya berpikir sebentar.

Di kepalanya muncul berbagai kemungkinan. Ini bisa jadi kesempatan bagus untuk melihat dunia kerja Adrian dari dekat. Namun di sisi lain, ia juga tidak yakin apakah ide itu akan berjalan lancar jika ia memutuskan memakai strategi “cegil” seperti biasanya.

Akhirnya ia berkata pelan, “Baiklah.”

Adrian hanya menjawab singkat, [“Sekarang kamu mandi, Aku jemput satu jam lagi.”]

Setelah panggilan itu berakhir, Alya masih duduk di tempat tidur sambil menatap ponselnya beberapa detik.

Lalu ia bergumam kecil.

“Hmm…”

Hari itu Alya memilih pakaian yang jauh lebih sederhana dari biasanya. Ia mengenakan blazer krem yang rapi dipadukan dengan rok panjang elegan. Rambutnya ditata lembut ke belakang, sementara makeup yang ia gunakan..., tipis sangat natural.

Jika seseorang yang mengenalnya hanya dari tingkah konyol beberapa minggu terakhir melihatnya sekarang, mereka mungkin tidak akan percaya bahwa ini orang yang sama.

Ketika Adrian tiba di rumah Prameswari, bahkan Lestari terlihat sedikit terkejut melihat putrinya.

“Kamu… normal hari ini?”

Alya mengangkat alis.

“Alya memang normal.”

Bima tertawa kecil di belakang mereka. “Ayah baru percaya kalau kamu tidak pakai kostum superhero lagi.”

Alya memutar mata.

Beberapa menit kemudian ia sudah duduk di kursi penumpang mobil Adrian. Perjalanan menuju kantor pusat perusahaan teknologi besar milik keluarga Mahendra berlangsung cukup tenang.

Gedung kantor itu berdiri tinggi di pusat kota. Bangunannya modern dengan kaca besar yang memantulkan cahaya matahari. Logo perusahaan Aurelia Technologies terpampang jelas di bagian atas gedung.

Alya menatap bangunan itu dengan kagum.

“Lumayan juga kantormu.”

Adrian memarkir mobil dengan tenang.

“Lumayan.”

Begitu mereka masuk ke dalam gedung, beberapa karyawan langsung menyapa Adrian dengan sopan.

“Selamat pagi, Pak Adrian.”

“Pagi.”

Alya berjalan di sampingnya dengan langkah tenang. Ia memperhatikan interior kantor yang sangat modern, lantai marmer bersih, layar digital besar di beberapa dinding, dan area kerja terbuka yang terlihat sangat profesional. Alya terkagum-kagum dengan design dan interior bangunan tersebut.

Mereka akhirnya sampai di lantai atas tempat ruang pertemuan utama berada.

Di sana sudah menunggu beberapa pria dan wanita dengan pakaian formal. Dari cara mereka berbicara dan sikap mereka, Alya langsung tahu bahwa orang-orang ini bukan sekadar karyawan biasa.

Ini para petinggi perusahaan.

Adrian membuka pintu ruang rapat lalu berkata dengan nada tenang, “Selamat pagi.”

Semua orang menoleh.

Beberapa dari mereka tersenyum ketika melihat Adrian datang lalu saling berjabat tangan.

Namun perhatian mereka langsung berpindah ketika mereka melihat Alya berdiri di sampingnya.

Adrian berjalan masuk lalu berkata dengan santai,

“Perkenalkan.”

Ia menoleh sedikit ke arah Alya.

“Ini Alya.”

Beberapa orang mengangguk ramah.

Namun Adrian belum selesai.

Ia menambahkan dengan suara yang tetap datar namun jelas,

“Calon istriku.”

Alya yang berdiri di sampingnya langsung membeku setengah detik, jantungnya berdebar lebih kencang daripada biasanya. Ia sempat berpikir akan pura-pura pingsan atau kerasukan saja.

Meskipun mereka memang sudah tahu hal itu, mendengar Adrian mengatakannya secara langsung di depan orang lain terasa… berbeda.

Beberapa orang di ruangan itu langsung tersenyum.

“Wah.”

“Selamat.”

“Senang bertemu denganmu.”

Alya tersenyum sopan lalu sedikit menundukkan kepala. “Senang bertemu juga.”

Pertemuan itu awalnya berjalan seperti diskusi bisnis biasa. Mereka membahas perkembangan teknologi terbaru, rencana ekspansi produk baru, dan perubahan tren pasar global.

Alya hanya duduk di samping Adrian sambil mendengarkan.

Namun salah satu eksekutif senior akhirnya bertanya dengan ramah, “Alya, kamu juga tertarik dengan dunia teknologi?”

Alya tersenyum kecil.

“Sebenarnya cukup, tapi sepertinya saya kurang menguasai.”

“Bagaimana menurutmu perkembangan smartphone sekarang?”

Pertanyaan itu membuat beberapa orang di ruangan itu menoleh penasaran.

Alya berpikir sebentar sebelum menjawab.

“Menurut saya perubahan terbesar bukan hanya di teknologinya.”

Ia berbicara dengan nada santai namun jelas.

“Yang berubah justru cara manusia hidup dengan teknologi.”

Beberapa orang langsung terlihat tertarik dan mengalihkan perhatian pada Alya.

Alya melanjutkan dengan mudah.

“Dulu ponsel hanya alat komunikasi. Sekarang ponsel sudah seperti pusat kehidupan digital. Orang bekerja, belajar, bahkan membangun identitas sosial melalui perangkat kecil di tangan mereka.”

Salah satu direktur mengangguk.

“Menarik.”

Alya tersenyum.

“Jadi menurut saya perusahaan teknologi tidak hanya menciptakan produk.”

Ia menunjuk ponsel Aurelia Nova X di tangannya.

“Mereka sebenarnya membentuk cara manusia menjalani hidup di zaman ini.”

Ruangan menjadi sedikit lebih hidup.

Beberapa orang mulai mengajukan pertanyaan lain. Alya menjawab semuanya dengan santai dan penuh pemikiran. Ia berbicara tentang perubahan generasi digital, tentang bagaimana teknologi memengaruhi kreativitas manusia, bahkan tentang masa depan kecerdasan buatan dalam kehidupan sehari-hari.

Semua orang mendengarkan dengan serius.

Di sudut meja, Adrian memperhatikan Alya dengan tatapan yang sedikit berbeda dari biasanya.

Tidak dingin.

Tidak datar.

Lebih lembut.

Ia melihat bagaimana Alya berbicara dengan percaya diri, bagaimana matanya bersinar ketika menjelaskan sesuatu yang ia pahami dengan baik.

Ini bukan Alya yang berteriak seperti Spiderman di mall.

Ini adalah Alya yang sebenarnya.

Salah satu eksekutif senior akhirnya tertawa kecil.

“Adrian.”

Ia menatap pria itu dengan senyum kagum.

“Kamu pandai mencari calon istri.”

Beberapa orang di ruangan itu ikut tertawa ringan.

Alya yang sedang meminum air tiba-tiba berhenti.

Ia menoleh cepat ke arah Adrian.

“Apa?”

Namun Adrian hanya tersenyum kecil.

Senyum yang sangat tipis.

Dan untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu, Alya melihat sesuatu yang berbeda di wajah pria itu.

Senyum bangga.

1
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!