NovelToon NovelToon
Maaf Itu Mati Bersama Kepergiannya

Maaf Itu Mati Bersama Kepergiannya

Status: sedang berlangsung
Genre:Selingkuh / Balas Dendam
Popularitas:319
Nilai: 5
Nama Author: KEONG_BALAP

sepuluh tahun lalu,Aldric veynheart kehilangan segalanya
ia kehilangan ayahnya di singgasana dengan pedang patah ditangan.
Ia kehilangan ibunya yang ditikam dari belakang saat berlindung.ia kehilangan adiknya - Liana enam tahun yang dilempar dari menara tertinggi.
dan dimalam yang sana,dibalik tirai,ia melihat Elera ,istri yang dinikahinya sebulan lalu,bersandar mesra di dada Darius veynheart ,Kaka tirinya.
senyum Elera,saat menatap Darius adalah paku terakhir di peti mati hati Aldric sebelum ia sempat berteriak,sebelum tendangan menghantam punggungnya.
Tubuhnya meluncur ke jurang maut - jurang tak berdasar di bawah istana ,tempat ribuan monster dan roh penasaran bercokol. Tempat tak seorangpun kembali tapi Aldric bisa kembali

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KEONG_BALAP, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 2: ANGIN BERBISIK KHIANAT

Tengah malam.

Jam istana berdentang dua belas kali, suaranya bergema di seluruh koridor batu. Di kamar pengantin baru, Aldric terbangun dengan jantung berdebar kencang. Keringat dingin membasahi dahinya. Ia baru saja bermimpi—mimpi buruk tentang ibunya yang tenggelam dalam lautan api, tentang Liana yang menangis memanggil namanya dari balik jendela yang terkunci.

Napasnya tersengal.

Di sampingnya, Elara masih tidur dengan posisi sama—membelakangi dia, bahunya naik turun perlahan. Atau pura-pura tidur. Aldric tidak tahu lagi.

Ia menatap langit-langit kamar, mencoba menenangkan diri. Mimpi itu terasa begitu nyata. Terlalu nyata.

Hanya mimpi, pikirnya. Hanya mimpi.

Lalu ia mendengarnya.

Jeritan.

Jauh di kejauhan, samar-samar, tapi jelas—jeritan manusia. Bukan satu, tapi banyak. Dan diikuti suara benturan logam, suara pintu didobrak, suara api yang mulai berkobar.

Aldric duduk tegak di tempat tidur. Jantungnya berhenti sedetik, lalu berdetak seratus kali lebih kencang.

"Aldric?" Suara Elara dari samping. Ia juga terbangun. "Suara apa itu?"

Sebelum Aldric sempat menjawab, pintu kamar mereka terbuka membentur dinding.

Lyanna berdiri di ambang pintu. Wajahnya pucat pasi, matanya membelalak ketakutan. Di tangannya masih tergenggam pedang kayu—satu-satunya senjata yang bisa ia raih.

"Kak! Kak!" teriaknya, suaranya pecah. "Ada orang! Banyak orang! Mereka bawa pedang! Mereka—"

Whoosh!

Sebuah anak panah melesat dari balik Lyanna, menembus bahu gadis itu. Lyanna menjerit, tersungkur ke depan.

"LYANNA!" Elara berteriak, melompat dari tempat tidur.

Aldric bergerak lebih cepat. Ia sudah di samping Lyanna dalam tiga langkah, menarik gadis itu ke dalam kamar dan membanting pintu. Kayu pintu bergetar hebat saat sesuatu menghantamnya dari luar—mungkin kapak, mungkin tubuh.

"Lyanna!" Elara berlutut di samping adiknya. Panah masih menancap di bahu kanan, darah merah segar membasahi baju tidur Lyanna. "Tidak, tidak, tidak..."

Lyanna merintih, wajahnya pucat. "Maaf... Kak... aku... aku cuma mau... kasih tahu..."

"Diam, jangan banyak bicara." Aldric merobek seprai, membalut luka Lyanna sebisanya. Tangannya gemetar, tapi ia paksakan tenang. "Kau akan baik-baik saja."

Dari luar, suara gemuruh semakin dekat. Teriakan, jeritan, benturan senjata. Dan di atas semua itu, suara yang paling membuat jantung Aldric hancur—suara tangis anak kecil.

Liana.

"Liana," bisik Aldric, wajahnya pucat. "Ibu... Ayah..."

"Aldric, jangan!" Elara meraih tangannya. "Kau tidak tahu apa yang ada di luar!"

"Aku tidak peduli!" Aldric melepaskan tangannya. "Itu adikku! Ibuku! Ayahku!"

Ia melompat berdiri, meraih pedang panjang yang tergantung di dinding—hadiah pernikahan dari ayahnya. Besi dingin itu terasa hangat di tangannya, seolah tahu bahwa malam ini ia akan menumpahkan darah untuk pertama kalinya.

"Aldric!" Elara berteriak sekali lagi.

Aldric menoleh. Menatap istrinya untuk terakhir kalinya.

"Jaga Lyanna," katanya. "Jaga dirimu. Aku akan kembali."

Ia tidak tahu, itu adalah kebohongan terbesar yang pernah ia ucapkan.

Koridor istana telah berubah menjadi neraka.

Api berkobar di mana-mana, melahap permadani mahal dan tirai beludru. Asap hitam memenuhi langit-langit, membuat udara sulit dihirup. Mayat-mayat bergelimpangan—para pelayan, para penjaga, beberapa bangsawan yang tinggal di istana. Darah mengalir di lantai marmer, membentuk sungai-sungai kecil merah pekat.

Dan di antara kobaran api, bayangan-bayangan hitam bergerak. Mereka berpakaian serba hitam, wajah tertutup, pedang terhunus. Mereka membantai siapa pun yang bergerak.

Aldric berlari secepat mungkin menuju sayap timur—tempat kamar Liana dan ibunya. Pedangnya terayun, membabat dua prajurit hitam yang mencoba menghadang. Tubuhnya bergerak di luar kesadarannya, dilatih oleh Sir Kaelan selama bertahun-tahun untuk saat seperti ini.

Ia tidak berhenti. Tidak bisa berhenti.

Liana. Ibu. Liana. Ibu.

Ia mengulang nama itu dalam hati seperti mantra.

Sampai ia tiba di kamar Liana.

Pintu kamar sudah hancur. Terbakar. Di dalam, sesosok tubuh kecil tergeletak di lantai, di samping tempat tidur yang runtuh.

Liana.

Darah menggenang di sekitarnya. Boneka kelincinya tergeletak beberapa langkah dari jari-jari kecil yang mulai pucat.

"LIANA!"

Aldric menjatuhkan diri di samping adiknya, mengangkat tubuh kecil itu. Liana masih hangat. Masih lembut. Tapi matanya—mata cokelat yang selalu berbinar itu—tertutup. Tidak akan pernah terbuka lagi.

Sebuah luka menganga di dadanya. Luka tebasan pedang. Terlalu besar untuk tubuh kecil enam tahun.

"Liana... Li... Bangun, Sayang... Kakak di sini... Kakak..." Suara Aldric tersendat. Air mata mengalir deras, jatuh di wajah pucat adiknya. "Kakak janji jagain Liana... Kakak janji..."

Tidak ada jawaban. Tidak akan pernah ada.

Dari balik pintu yang hancur, suara langkah kaki mendekat. Tapi Aldric tidak peduli. Ia hanya ingin memeluk adiknya. Menghangatkannya. Membawanya kembali.

"Aldric!"

Tangan kasar menariknya. Sir Kaelan Vorn berdiri di sana, tubuhnya penuh luka, darah mengalir dari pelipis. Pedangnya patah, tapi matanya masih tajam.

"Kau harus pergi!" hardik Sir Kaelan. "Sekarang!"

"Ibu..." Aldric terisak. "Ibu di mana?"

Sir Kaelan menggeleng. Wajahnya—wajah batu yang tak pernah menunjukkan emosi itu—hancur. Untuk pertama kalinya, Aldric melihat gurunya menangis.

"Maaf, Nak. Aku terlambat. Mereka... mereka sudah..." Ia tidak bisa melanjutkan.

Aldric meletakkan Liana perlahan. Tubuhnya bergerak seperti robot. Matanya kosong. Ia bangkit, melangkah menuju kamar ibunya—hanya beberapa pintu dari kamar Liana.

Sir Kaelan mencoba menahannya. "Jangan! Tidak ada yang bisa kau lakukan!"

Tapi Aldric sudah melihat.

Ratu Seraphina—ibunya—tergeletak di ambang pintu kamarnya. Gaun tidur putihnya kini merah oleh darah. Matanya terbuka, menatap langit-langit dengan ekspresi terkejut. Di dadanya, sebuah belati masih tertancap.

Di sampingnya, dua prajurit hitam sedang menjarah perhiasan.

Aldric berteriak.

Bukan teriakan manusia. Tapi teriakan hewan yang kehilangan segalanya. Teriakan yang lahir dari lubang paling gelap di hati.

Pedangnya berayun. Dua prajurit itu tidak sempat bereaksi. Kepala pertama terbang, tubuh kedua roboh dengan dada terbelah.

Tapi itu tidak cukup. Tidak akan pernah cukup.

"Aldric!" Sir Kaelan mencengkeram bahunya, memaksa Aldric menatapnya. "Dengar! Ini kudeta! Mereka sudah merencanakan ini! Pangeran Edric ada di balik semua ini! Dan ada orang lain—seseorang yang kau kenal—"

"Ayah," potong Aldric, matanya liar. "Ayah di mana?"

Sir Kaelan menghela napas. Tangan di bahu Aldric menguat. "Raja... di ruang kerjanya. Tapi Nak, kau tidak akan suka dengan apa yang kau lihat."

Aldric melepaskan diri dan berlari. Berlari melewati mayat-mayat, melewati api, melewati neraka yang dulu adalah rumahnya. Ia berlari menuju menara tertinggi, tempat ayahnya bekerja, tempat mereka berbicara beberapa jam yang lalu.

"Jika sesuatu terjadi padaku, kau harus melindungi ibumu. Melindungi adikmu."

Ayah sudah tahu. Ayah tahu ini akan terjadi.

Dan aku tidak bisa melindungi siapa pun.

Ruang kerja Raja sudah tidak memiliki pintu lagi. Hanya serpihan kayu berserakan.

Aldric melangkah masuk, pedangnya teracung, siap membunuh siapa pun yang masih ada di dalam.

Tapi tidak ada siapa pun.

Hanya Raja Aldous Veynheart, duduk di kursinya, di balik meja kerjanya. Posisinya tegap, matanya terbuka, menatap ke arah pintu. Seolah menunggu putranya datang.

Di sudut bibirnya, cairan merah mengalir. Anggur. Anggur terakhirnya.

"Ayah..." Aldric menjatuhkan pedang. Ia berlutut di samping ayahnya, meraih tangan dingin itu. "Ayah... bangun... Ayah..."

Tidak ada respons. Tidak akan pernah ada.

Raja Aldous Veynheart—raja baik hati yang terlalu baik untuk dunia ini—telah pergi. Diracun dari dalam. Dikhianati oleh orang terdekatnya.

Aldric menangis. Menangis seperti anak kecil yang kehilangan segalanya. Di pelukannya, mayat ayahnya mulai dingin. Di luar, api terus berkobar. Di lantai bawah, adiknya terbujur kaku. Di kamar lain, ibunya berlumuran darah.

Dan di suatu tempat di istana ini, Paman Edric mungkin sedang tersenyum. Puas.

"Pangeran Aldric."

Suara itu datang dari belakang. Suara yang dikenalnya. Yang sangat dikenalnya.

Aldric menoleh.

Darius Veynheart berdiri di ambang pintu. Kakak tirinya. Pangeran Mahkota. Pewaris takhta yang sah. Tapi bukan Darius yang ia kenal. Yang ini mengenakan jubah hitam. Wajahnya bersih, tanpa luka, tanpa darah. Di tangannya, sebuah topeng perak.

Dan di belakangnya, berdiri dua prajurit hitam.

"Darius..." Aldric bangkit perlahan. "Kau selamat? Syukurlah, kau—"

"Aku yang memerintahkan ini."

Dunia berhenti.

Aldric menatap kakak tirinya, tidak percaya. "Apa?"

Darius tersenyum. Senyum yang sama seperti yang ia lihat di koridor tadi malam. Senyum Paman Edric. Senyum pengkhianat.

"Ayah terlalu lemah," kata Darius dingin. "Dia menghancurkan kerajaan ini dengan kebaikan bodohnya. Seseorang harus menyelamatkannya. Dan orang itu adalah aku."

"A—apa kau gila? Dia ayahmu! Ayah kita!"

"Ayahmu." Darius menekankan kata itu. "Ibuku adalah selir. Aku tidak pernah dianggap putra sejati. Tapi lihat sekarang—" ia membentangkan tangan, "—aku yang memegang kendali. Paman Edric hanya wayang. Aku dalangnya."

Aldric meraih pedangnya. "Aku akan membunuhmu."

Darius tertawa. Tawa yang mengerikan—tawa tanpa kegembiraan, tanpa kemanusiaan.

"Kau? Membunuhku?" Ia menggeleng. "Kau tidak akan bisa, Adikku. Tapi sebelum kau mati, ada sesuatu yang harus kau lihat."

Ia menepuk. Dua prajurit hitam mundur, memberi jalan.

Sesosok wanita melangkah masuk.

Elara.

Aldric tersenyum lega. "Elara! Syukurlah kau selamat! Lyanna—"

Ia berhenti.

Elara tidak menatapnya. Ia menatap Darius. Dan matanya—mata hijau zamrud yang selalu ia cintai—bersinar dengan sesuatu yang tidak seharusnya.

Darius meraih pinggang Elara, menariknya ke dalam pelukan. Elara tidak melawan. Ia bersandar. Seperti itu sudah biasa.

"Aldric," kata Elara pelan. Masih tidak menatapnya. "Maafkan aku."

Dunia runtuh untuk kedua kalinya.

"Apa..." Suara Aldric serak, hampir tidak terdengar. "Apa maksudnya ini, Elara?"

Darius tertawa. "Belum paham, Adik? Istrimu—istri yang sangat kau cintai—sudah menjadi milikku sejak lama. Jauh sebelum pernikahan kalian."

"Bohong." Aldric menggeleng kuat-kuat. "Elara, katakan dia bohong."

Elara akhirnya menatapnya. Dan tatapan itu—tatapan dingin tanpa cinta—lebih mematikan dari seribu pedang.

"Aku tidak pernah mencintaimu, Aldric." Suaranya datar. "Ayahku memaksaku menikah dengan pangeran kedua yang tidak penting. Tapi aku memilih Darius. Aku selalu memilih Darius."

"A—tapi kau bilang kau mencintaiku. Semalam—"

"Semalam aku berbohong." Elara memalingkan wajah. "Aku muak berpura-pura. Muak tidur di sampingmu. Muak menyentuhmu."

Darius mengecup puncak kepala Elara dengan penuh kepemilikan. "Lihat, Adik? Semua yang kau miliki, akan kuambil. Takhta. Istri. Kehormatan. Kau tidak punya apa-apa."

Aldric berdiri terpaku. Pedang di tangannya terasa berat. Berat sekali.

Dari suatu tempat di dalam dirinya, sesuatu mati. Sesuatu yang hangat, yang lembut, yang manusiawi. Mati. Selamanya.

"Aku akan membunuh kalian berdua," bisiknya. "Aku akan—"

Darius mengangguk. Satu prajurit hitam bergerak cepat—terlalu cepat. Tendangan keras menghantam punggung Aldric. Tubuhnya melayang, melewati jendela yang hancur, jatuh ke dalam kegelapan malam.

"ALDRI—"

Jeritan Elara terputus oleh deru angin.

Aldric jatuh.

Jatuh.

Jatuh.

Ke dalam jurang tak berdasar di bawah istana. Jurang Maut. Tempat tak seorang pun kembali.

Di atas, di tepi jendela, Darius dan Elara berdiri berdampingan. Wajah Elara tidak terbaca. Tapi di matanya—hanya sesaat—ada sesuatu. Penyesalan? Kesedihan? Atau hanya ilusi cahaya api?

"Akhirnya," gumam Darius puas. "Selesai sudah."

Di dasar jurang, ribuan mil di bawah, mata-mata merah terbuka. Sesuatu di sana tersenyum. Sesuatu di sana lapar.

Selamat datang di nerakamu, Pangeran.

Di atas, api masih berkobar. Istana Veynheart—rumah yang hangat, tempat keluarga yang bahagia—telah berubah menjadi kuburan.

Di kamar Lyanna, gadis lima belas tahun itu terbaring di lantai, panah masih menancap di bahunya. Napasnya lemah, tapi masih hidup. Masih berdetak.

Di sampingnya, Sir Kaelan Vorn berlutut. Air mata mengalir di wajah kerasnya.

"Maaf, Yang Mulia," bisiknya pada tubuh kecil Liana. "Maaf, aku gagal melindungi kalian."

Ia menatap ke arah jendela. Ke arah jurang.

"Tapi mungkin... mungkin satu harapan masih tersisa."

Ia meraih tubuh Lyanna, menggendongnya. Dengan sisa kekuatan terakhir, ia melompat dari jendela yang lain—bukan ke jurang, tapi ke taman belakang, ke hutan, ke kegelapan yang mungkin menyelamatkan mereka.

Di belakangnya, istana terbakar.

Di bawahnya, pangeran yang jatuh mulai terbangun di dasar jurang, dikelilingi oleh mata-mata merah yang menari-nari di sekitarnya.

Dan di atas segalanya, suara bisikan angin membawa pesan:

Maaf itu mati. Mati bersama mereka yang pergi. Mati bersama cinta yang dikhianati. Mati bersama hati yang membeku.

Yang tersisa hanyalah dendam.

Yang tersisa hanyalah api.

Yang tersisa hanyalah... monster.

---

Dan di atas sana, di istana yang hangus, seorang wanita menatap ke arah jurang untuk pertama dan terakhir kalinya. Air mata jatuh di pipinya—air mata yang tidak akan pernah ia akui pada siapa pun.

"Maaf," bisiknya pada angin malam. "Maaf, Aldric."

Tapi maaf sudah mati.

Bersama mereka yang pergi.

Bersama kepergiannya.

Catatan Penulis Bab 2:

ElemenImplementasiCliffhanger Ganda1. Aldric jatuh ke jurang dan dikelilingi monster 2. Lyanna dan Sir Kaelan selamat (akan jadi sekutu penting di masa depan)Variasi Adegan (5 jenis)Teror malam (aksi-pertarungan), kematian Liana (tragis-hancur), penemuan mayat ibu (horor), konfrontasi dengan Darius (dramatis-intrik), pengkhianatan Elara (romantika hancur), kejatuhan ke jurang (transisi epik)Karakter Sa

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!