NovelToon NovelToon
Ketika Air Wudhu Dan Air Baptis Jadi Air Mata

Ketika Air Wudhu Dan Air Baptis Jadi Air Mata

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Spiritual
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Maya sabir

Novel ini mengisahkan hubungan antara seorang pria kristen bernama David Emmanuel Erlangga seorang pria yang terlahir dari keluarga yang begitu kental dalam menjalankan agama,anak dari seorang pendeta yang terkenal di negeri ini yang bertemu dan menjalin cinta dengan seorang muslimah yang taat serta merupakan anak salah seorang kyai terkemuka .

bagaimana kisah rumit mereka? dan akankah mereka mempertahankan hubungan yang penuh dengan penentangan dari kedua keluarga dan lingkungan?atau justru memilih berpisah demi bertahan dengan keyakinan masingmasing?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maya sabir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 29

Di dalam ruang perawatan yang hening, David duduk di tepi ranjang. Aisyah menggenggam tangannya dengan sangat erat, seolah David adalah satu-satunya jangkar di tengah badai kebingungannya.

"David, jangan tinggalkan aku lagi," bisik Aisyah dengan mata berkaca-kaca. "Pria tadi... dia menatapku dengan cara yang menakutkan. Dia bilang dia suamiku. Itu tidak mungkin, kan? Kita baru saja membicarakan masa depan kita sebelum... sebelum semuanya gelap."

David merasakan tenggorokannya tercekat. Ia tahu "masa depan" yang dimaksud Aisyah adalah kenangan tiga tahun lalu, sebelum ia pergi meninggalkan wanita itu ke Roma tanpa memberitahu kannya. Ia melihat ke arah jendela kaca. Di sana, Rain berdiri mematung. Rain tidak marah , ia hanya terlihat hancur, melihat istrinya sendiri memohon perlindungan pada pria yang pernah mematahkan hatinya.

Setiap kata cinta yang diucapkan Aisyah untuk David saat ini adalah racun yang manis bagi David, namun belati yang tajam bagi Rain.

Sementara itu, di koridor yang dingin, Naina tidak sanggup lagi berdiri di sana. Melihat David masuk ke kamar itu dan membiarkan Aisyah menggenggam tangannya adalah jawaban yang selama ini ia takuti.

Naina berbalik, langkahnya goyah. Michael mencoba mengejarnya. "Naina, tunggu! David hanya ingin menenangkan Aisyah.."

Tidak, Michael," potong Naina dengan suara yang bergetar hebat. "David tidak sedang menenangkan pasien. Dia sedang menghidupkan kembali cintanya yang mati. Dan aku... aku hanya figuran yang tidak sengaja lewat dalam hidupnya."

Naina melepas cincin pertunangan di jarinya ,cincin yang baru diberikan David dua bulan lalu saat mereka masih di Roma ,dan meletakkannya di atas meja perawat tanpa menoleh lagi. Ia berjalan keluar dari rumah sakit, membiarkan air matanya jatuh bebas, menyadari bahwa ia baru saja kehilangan pria yang ia cintai karena bayang-bayang masa lalu yang kembali nyata.

Suasana di lobi rumah sakit terasa sangat tegang. Aisyah duduk di kursi roda, wajahnya sudah jauh lebih segar namun matanya tetap memancarkan kebingungan setiap kali melihat Rain.

"Mobil sudah siap, Aisyah. Kita pulang ke rumah kita," ucap Rain lembut, mencoba meraih pegangan kursi roda.

Namun, David melangkah maju dan menghalangi jalan Rain. "Dia tidak akan pulang bersamamu, Rain. Dia tidak mengenalmu. Membawanya ke tempat asing hanya akan membuatnya semakin tertekan. Dia ikut bersamaku, ke rumah yang dia ingat."

Dia istriku secara hukum dan agama, David!" bentak Rain, suaranya naik satu oktaf. "Jangan manfaatkan kondisinya untuk mencurinya dariku!"

"Aku tidak mencurinya! Dia yang memilihku!" balas David tak kalah keras.

Aisyah mulai gemetar. Ia menatap Rain dengan tatapan asing dan penuh ketakutan. "Tolong... aku tidak mau ikut dengan dia. David, bawa aku pergi. Aku mau pulang ke rumah mama... atau ikut denganmu. Aku tidak kenal pria ini!"

Rain tertegun. Kata-kata itu lebih menyakitkan daripada kecelakaan apa pun. Saat ia hendak memprotes lagi, tiba-tiba Aisyah memegang kepalanya. Matanya tertuju pada cincin perak di jari manis Rain. Sesuatu seperti kilatan petir melintas di ingatannya ,bayangan mereka sedang tertawa di sebuah taman, Rain memberikan cincin itu...

Cincin itu..." Aisyah mengerang, napasnya memburu. "Kepalaku... sakit!"

Aisyah jatuh pingsan di kursi roda sebelum sempat menyelesaikan kalimatnya. Kepulangan yang seharusnya menjadi awal baru, justru berubah menjadi mimpi buruk yang kembali membawa mereka ke dalam kegelapan.

Ketegangan memuncak di lobi rumah sakit saat tubuh Aisyah terkulai lemas di kursi roda. Pingsannya Aisyah menjadi "tombol jeda" paksa bagi ego kedua pria tersebut. Dokter segera membawa Aisyah kembali ke ruang observasi, menyisakan keheningan mencekam di antara mereka.

Dokter melangkah keluar dari ruang observasi dengan guratan kelelahan yang nyata di wajahnya. Ia melepas kacamatanya, menatap Rain dan David dengan tatapan yang tajam, hampir seperti seorang ayah yang sedang menghukum anak-anaknya yang nakal.

"Dengar," suara Dokter rendah namun penuh penekanan. "Benturan di kepala Aisyah menciptakan luka fisik, tapi pertengkaran kalian menciptakan luka psikis yang jauh lebih berbahaya. Setiap kali kalian memaksa ingatannya bertabrakan dengan realita yang berbeda, tekanan darahnya naik dan saraf-sarafnya mengalami trauma berulang."

Dokter menghela napas panjang, menatap kedua pria itu bergantian. "Jika kalian terus egois seperti ini, pilihannya hanya dua ,dia akan kehilangan ingatannya secara permanen karena kerusakan saraf yang semakin parah, atau dia akan mengalami gangguan mental yang serius. Apakah itu yang kalian inginkan?"

Rain tertunduk, tangannya mengepal erat di sisi tubuhnya. Sementara David terdiam, wajahnya yang tadi keras kini tampak pucat.

Di tengah keheningan itu, David berjalan ke meja perawat untuk mengambil administrasi yang tertinggal. Matanya terpaku pada sebuah benda kecil yang berkilau di atas meja kayu tersebut. Sebuah cincin.

Jantungnya seolah berhenti berdetak. Itu adalah cincin pertunangannya dengan Naina.

" Seorang wanita bernama Naina menitipkan ini tadi, Pak," ujar perawat dengan nada prihatin. "

David terduduk lemas di kursi tunggu. Rasa bersalah menghujam nya telak. Di saat ia mengejar bayang-bayang masa lalu bersama Aisyah, ia telah menghancurkan masa depan yang nyata bersama Naina.

Sementara itu, Rain melihat celah. Saat David sedang terpukul oleh kepergian Naina, Rain memanfaatkan momen pingsannya Aisyah. Dengan bantuan perawat yang merasa iba, Rain meminta izin dokter untuk membawa Aisyah pulang ke rumah orang tua Aisyah , di Jakarta, namun dengan pengawasan penuh darinya. Rain sadar, membawa Aisyah ke apartemen mereka yang sekarang hanya akan memicu trauma, tapi membiarkannya bersama David adalah kekalahan mutlak.

Malam harinya di rumah orang tuanya, Aisyah terbangun. Kepalanya masih berdenyut, namun bayangan cincin di jari Rain terus menghantuinya.

"David..." gumamnya, namun kali ini nada suaranya berbeda. Ada keraguan.

Ia menatap langit-langit kamar masa kecilnya. Mengapa bayangan pria bernama Rain itu terasa begitu hangat meski ia tak mengenalnya? Kenapa saat David menggenggam tangannya, ada rasa bersalah yang menyelusup di dadanya, seolah ia sedang mengkhianati sesuatu?

Malam itu menjadi titik balik bagi semua orang. Di bawah atap rumah masa kecil Aisyah yang tenang, badai emosi justru baru saja dimulai dengan cara yang lebih sunyi namun mematikan.

Di dalam kamarnya, Aisyah duduk bersandar dengan napas yang masih terasa berat. Rasa penasarannya mengalahkan rasa sakit di kepalanya. Dengan tangan gemetar, ia meraih ponsel yang tergeletak di atas nakas ,sebuah benda yang selama dua minggu ini tidak di sentuhnya.

Ia membuka kunci layar. Tidak ada sandi, hanya pola sederhana yang jarinya seolah hafal secara otomatis. Hal pertama yang ia buka adalah galeri foto.

Jantung Aisyah seakan berhenti. Ribuan foto memenuhi folder "Kamera". Bukan foto David, melainkan foto pria asing itu ,Rain. Ada foto mereka sedang tertawa di bawah guyuran hujan, foto Rain yang tertidur di sofa dengan buku di wajahnya, dan foto pernikahan mereka yang mewah dimana semua keluarga berkumpul dan tampak bahagia.

1
maya
makasih sudah mampir kk😍
Isabela Devi
waduh ada mata mata yg melapor tiap gerak gerik mereka
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!