Yang Lily tahu selama ini Jeffrey sangat menyayanginya. Yang Lily tahu, Jeffrey akan selalu ada untuknya. Yang Lily tahu, Jeffrey akan mengutamakan dia diatas segalanya. Dan Lily menyukai Jeffrey karena itu semua.
Namun yang Lily tidak tahu, bahwa selama ini Jeffrey selalu menganggapnya sebagai adik kecil yang harus dia sayangi. Menganggapnya sebagi adik perempuan yang tidak akan bisa dia dapatkan dari ibunya. Menganggap Lily sebagai adik kecil yang harus dia jaga selamanya. Dan tidak pernah lebih dari itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nanawf_98, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 19
Beberapa hari berlalu tanpa arah yang jelas. Rama sibuk kesana kemari untuk mencari investor baru. Tempat demi tempat ia datangi. Gedung demi gedung ia singgahi. Beberapa kenalan coba ia temui. Namun semuanya tak membuahkan hasil. Mereka semua menolak untuk berinvestasi.
Lukanya belum sembuh total. Bahkan rasa sakit di kepala semakin lama semakin terasa. Tetapi demi mempertahankan ribuan karyawan yang bergantung padanya, ia mengabaikan itu semua. Ia memaksa pihak rumah sakit untuk membiarkannya pergi.
Mobil Rama terparkir di sebuah cafe, tepat di bawah pohon solobium. Bel berdentang ketika ia membuka pintu. Mengeluarkan bunyi nyaring yang menenangkan. Aroma biji kopi yang baru disangrai tercium sesekali, bercampur dengan aroma kue panggang.
Rama berjalan ke meja di dekat jendela. Menunggu seseorang yang telah membuat janji dengannya.
Cafe ini bergaya klasik, hangat dan homey. Setiap meja dibuat untuk kenyamanan maksimal, terbuat dari kayu mahoni gelap. Lampu gantung memancarkan cahaya yang lembut dan hangat untuk menciptakan suasana intim.
Tempat ini dipilih langsung oleh orang itu sebagai tempat mereka janjian bertemu. Rama tak menolak. Ia bersedia bertemu dimanapun asal tempatnya nyaman. Dari balik jendela, area outdoor terpampang. Dengan pemandangan hijau yang menyegarkan. Pengunjung lain terlihat tengah mengobrol ringan dan penuh tawa. Yang di dominasi anak muda dan pekerja.
Tempat ini lebih dari sekedar tempat minum kopi, tetapi ruang sosial tempat dimana cerita-cerita baru tercipta, pertemuan bisnis terjadi, atau sekadar melepaskan penat setelah seharian bekerja.
Tak terasa waktu terus berlalu, dua cangkir kopi telah habis tak bersisa. Ditempatnya, Rama semakin gelisah. Telunjuknya mengetuk pelan pada permukaan meja yang rata. Sementara dibawah sana, kakinya terus bergerak-gerak tak seirama.
Ia berkali-kali melirik kembali pada jam yang melingkar di pergelangan tangan, kemudian menghela nafas panjang. 3 jam telah berlalu, namun orang yang ia tunggu tak juga menampakkan batang hidungnya. Rama mencoba menghubungi orang itu, tetapi hanya suara operator yang terdengar.
Pelayan beberapa kali datang ke mejanya. Menawarkan sesuatu yang lain selain kopi. Dengan senyum ramah yang tidak terlihat tulus. Namun Rama tahu, bukan itu tujuan mereka datang. Tetapi kehadirannya disana yang terlalu lama yang membuat mereka menjadi tak sabar. Maka, kini ia putuskan untuk pergi. Map di meja ia ambil, lalu berjalan ke kasir. Rama membayar lebih untuk waktu yang telah ia habiskan di cafe itu. Si kasir merasa kebingungan, namun ia tak peduli. Kemudian langsung pergi.
Di dalam mobil, udara terasa penuh dan sesak. Rama melonggarkan ikatan dasi yang terasa mencekik leher, kemudian memukul setir dengan keras. Erangan keras keluar dari mulutnya sebagai bentuk rasa frustasi. Tidak ada arah, tidak ada cahaya, seolah seluruh dunia telah menelannya bulat-bulat.
"Sialan!! Sialan!!" Makinya.
Seseorang yang akan ia temui kali ini adalah seseorang yang tidak pernah ia duga sebelumnya. Sejak dulu, ia dan orang itu tidak pernah akur. Tidak pernah sejalan. Entah dari cara pandang, entah dari pemikiran yang selalu bertolak belakang.
Mereka tidak pernah benar-benar bertengkar secara serius, tidak pula bertikai secara fisik, namun persaingan ketat selalu terjadi.
Awalnya Rama ragu saat orang itu tiba-tiba mengulurkan tangan untuk memberi bantuan. Tetapi kini ia tahu bahwa hal itu hanya kebohongan yang sengaja orang itu ciptakan. Entah dengan maksud dan tujuan yang ia sendiri tak tahu.
Dan mungkin saat ini orang itu tengah menertawakannya. Menertawakan kebodohannya yang percaya begitu saja.
***
Lily duduk dalam diam. Matanya yang polos terus menatap dengan sedih pada sosok yang selama ini selalu menemani hari-harinya. Jemarinya saling bertaut di pangkuan. Meremas kuat. Sosok itu hanya diam, terbaring diatas ranjang, dengan bibir yang kering dan pucat.
Ada rasa rindu yang teramat sangat. Juga ada banyak cerita yang ingin ia bagi. Salah satunya tentang kupu-kupunya yang entah masih hidup atau telah mati, tentang neneknya yang tak sebaik neneknya Kenzy. Juga tentang rencana sekolahnya yang harus tertunda kini.
Jika dihitung hari setelah pendaftaran, harusnya Lily sudah mulai pergi ke sekolah kemarin. Tapi ayah dan ibu bilang mereka sedang sibuk, jadi belum ada waktu untuk mengurus kelanjutan prosedurnya. Sementara yang ia lihat mereka hanya bolak balik ke rumah sakit saja.
Pikiran Lily sama seperti anak-anak lain yang begitu lugu, yang tak mengerti apa itu kesibukan. Apa itu bahaya yang mengintai dan apa itu keselamatan. Yang gadis kecil itu tahu hanya, ia tak jadi sekolah. Dan itu membuatnya sedih.
Hari ini ia kembali datang ke rumah sakit bersama ibunya, pagi-pagi sekali. Bahkan disaat mata belum sepenuhnya terbuka. Tak hanya itu, ia juga membawa boneka beruang pemberian Jeffrey dua tahun lalu, kemudian meletakkannya disamping kepala.
Boneka beruang itu terlihat sangat lucu. Lengan dan kakinya pendek, serta perutnya buncit. Dengan bulu lembut dan empuk yang nyaman untuk dipeluk.
"Mas Jeffrey, ini Lily bawa Lilo buat nemenin mas disini. Biar Mas Jeffrey nggak takut kalau ditinggal Lily pulang. Cepet sembuh yah mas. Dan jangan sakit-sakit lagi. Lily sedih lihat mas Jeffrey sakit kaya gini." Isakan kecil keluar ketika ia mengatakan itu.
Lilo sempat tertinggal di dalam mobil sebelumnya, sehingga ia baru bisa menyerahkannya sekarang.
Tangan kecil Lily menggenggam tangan Jeffrey pelan, penuh kehati-hatian. Seolah tangan itu sesuatu yang rapuh yang bisa patah kapan saja. Kemudian menempelkannya dipipi. Rasa dingin dapat ia rasakan dari tangan itu.
Lily tidak tahu apa yang terjadi. Tapi saat ia sakit dulu, tak pernah selama ini. Ia bahkan masih sadar dan masih bisa merengek pada ibunya. Mengatakan bahwa tubuhnya terasa tidak nyaman dan ia sangat kesakitan.
Tatapnya kemudian beralih pada ranjang lain yang diisi oleh tubuh Mona. Keadaannya tak jauh lebih baik. Infus terpasang di tubuhnya, bergerak lambat, tetes demi tetes. Bibir Lily berkedut. Tangannya terjulur ingin menyentuhnya juga. Namun tak sampai. Mungkin bila ia sedikit lebih besar, keduanya bisa ia peluk erat.
'Orang-orang yang ia sayangi'
Dari belakang, terdengar suara pintu terbuka. Lily menoleh, menemukan ibunya telah datang dengan banyak makanan ditangan.
"Sayang..." Panggilnya.
"Mama sendiri? Papa mana?" Kedua alis Lily hampir menyatu. Menatap sang ibu penuh tanya.
Sarah berjalan mendekat, lalu berdiri tepat disampingnya. "Papa lagi anter temannya pulang. Ayo kita makan dulu." Ajaknya.
Lily mengangguk. Teman papa itu, yang beberapa hari ini selalu berjaga di depan. Yang wajahnya begitu menakutkan. Dan yang membuatnya ketakutan. Akhirnya pergi juga.
Bahu yang semula tegang, menjadi lebih rileks. Sudut-sudut bibirnya terangkat tanpa sadar. Tak bisa menyembunyikan kebahagiaan.
"Kenapa kamu senyum-senyum? Ayo makan, keburu dingin." Kata Sarah lagi.
Tatapan Lily kembali menatap Jeffrey dan Mona. Kemudian menatap ibunya. "Mas Jeffrey sama Tante Mona dari kemarin nggak makan ma, tidur terus. Nanti tambah sakit gimana?"
Anak kecil dan pikiran polosnya, membuat siapa saja merasa gemas.
"Sebentar lagi mereka pasti bangun. Lily jangan lupa doain mereka biar cepet sembuh, biar cepet sehat dan bisa kumpul lagi sama kita."
Gadis kecil itu mengangguk. Lalu mengangkat kedua tangannya tepat di bawah dagu. Matanya terpejam, sementara bibirnya bergerak-gerak lucu. Sesuatu keluar dari mulutnya, namun tidak jelas. Hanya terdengar seperti gumaman. Setelah selesai, ia melompat dari kursi. Kemudian menghampiri Sarah.
Harum aroma masakan tercium pekat. Membuat cacing-cacing di perut berdemo minta diisi. Satu porsi bubur ayam tersaji diatas meja. Masih panas, masih mengepulkan asap. Mata Lily berbinar melihat itu. Ia mengangkat tangannya untuk mengambil sendok, namun satu pukulan berhasil ia dapatkan dari sang ibu. Tidak keras, tetapi mampu membuatnya terkejut.
"Berdoa dulu."
Lily tak membantah. Ia kembali mengangkat tangannya.
***
Siang itu, angin berhembus lembut melewati jendela rumah sakit. Membawa kesejukan alami yang menjalar ke tubuh. Mona perlahan-lahan membuka mata. Cahaya dari lampu terasa menusuk. Membuat semuanya kabur. Ia mengerjap beberapa kali. Berusaha menyesuaikan. Bibirnya terbuka, mencoba berbicara. Namun tenggorokannya kering. Tubuhnya sangat lemah, seolah bukan miliknya lagi.
Saat kepalanya tertoleh ke samping, ia menemukan tubuh lain di sebelahnya. Disana, putranya tengah terbaring lemah. Ingatannya kembali pada malam kelam saat kejadian naas itu menimpa keluarganya. Malam yang tak ingin ia ingat selamanya.
'apa yang terjadi pada Jeffrey, anaknya?'
Ketika kecelakaan itu terjadi, Mona melihat sang suami tengah berjuang untuk keluar dari mobil. Hanya itu saja. Sebelum kesadaran berhasil merenggutnya dalam kegelapan. Selebihnya ia tak tahu lagi apa yang terjadi.
Air mata turun perlahan. Mengalir melalui sudut mata. Tangannya terangkat, mencoba menggapai tubuh kecil itu, tetapi tubuhnya masih terlalu lemah. Tak punya tenaga.
Pandangannya mengedar ke sekeliling. Mona menemukan Sarah dan Lily tengah berpelukan. Posisi mereka terlihat tidak nyaman.
"Sar..." Panggilnya lirih.
Sarah segera membuka mata, lalu melebar seketika. Tubuhnya menegak, hampir membangunkan Lily dalam pangkuan. Ia mengangkat, kemudian menidurkan tubuh kecilnya di sofa.
Kebahagiaan tak dapat disembunyikan. Perlahan kakinya mendekat. "Kamu sudah bangun? Tunggu sebentar, aku mau panggil dokter."
Mona meraih tangan Sarah, mencegahnya untuk pergi. Rasa sakit yang teramat sangat pada bagian perut, membuatnya urung untuk bangun.
"Kenapa?"
Karena suaranya tak mau keluar, Mona hanya menunjuk mulut dan lehernya. Baiknya Sarah segera mengerti. Ia mengambil gelas diatas meja. Kemudian menyerahkannya pada Mona.
"Ini minum dulu."
Mona segera menerimanya. Setiap tegukan air terasa seperti kehidupan yang mengalir. Dahaga yang ia rasakan perlahan menghilang, berganti menjadi rasa lega yang tak tertahankan.
Gelas yang telah kosong itu Mona simpan dalam pangkuan. Dengan cengkraman yang kuat. Kepalanya mendongak, menatap Sarah lekat.
"Sar, apa yang terjadi dengan Jeffrey? Dan dimana Mas Rama? Kenapa dia nggak ada? Dia baik-baik aja kan? Dia nggak kenapa-kenapa kan?"
Pertanyaan itu jatuh bertubi-tubi. Dengan kekalutan yang mengiringi.
***