NovelToon NovelToon
DAO YIN: KEABADIAN YIN–YANG ABSOLUT

DAO YIN: KEABADIAN YIN–YANG ABSOLUT

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Budidaya dan Peningkatan / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Mr.Mounyenk

Di Benua Dao Yin, Kekaisaran Yin berdiri di tengah empat kekuatan besar yang menyimpan ambisi pengkhianatan.
Saat perang pecah dan kekaisaran runtuh, Chen Long—pangeran Utara berdarah naga dan keturunan kesatria kuno—kehilangan segalanya.
Diburu manusia, iblis, dan akhirnya langit itu sendiri, Chen Long menapaki jalur kultivasi terlarang Yin–Yang, sebuah kekuatan yang tak diakui surga. Bersama Putri Yin Sunxin, pewaris darah murni Dewi Bulan, ia membangun kembali tatanan dunia dari reruntuhan, menantang iblis, menghancurkan para pengkhianat, dan menghadapi hukuman alam dewa.
Ketika Yin dan Yang bertabrakan dalam satu tubuh, lahirlah seorang anomali—
penguasa baru yang akan menentukan apakah dunia layak diselamatkan,
atau harus dihancurkan demi keseimbangan sejati.

(Update setiap hari)

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mr.Mounyenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17 DARI TEKANAN KE TUDUHAN

Pagi itu ibu kota Yin terasa lebih padat dari biasanya.

Bukan karena pasar ramai atau perayaan kecil. Melainkan karena penjaga ditempatkan dua kali lipat di setiap persimpangan. Warga berjalan lebih cepat. Suara percakapan ditahan setengah nada lebih rendah.

Insiden pertama terjadi di distrik luar.

Seorang pengangkut kayu yang biasa lewat gerbang barat terjatuh di tengah jalan. Tidak ada teriakan sebelumnya. Tidak ada perkelahian. Ia hanya berhenti berjalan lalu ambruk begitu saja.

Darah keluar dari hidungnya tipis namun gelap.

Tabib kota dipanggil. Pemeriksaan dilakukan di tempat. Tidak ditemukan racun. Tidak ada luka luar. Tidak ada tanda serangan langsung.

Orang-orang mulai mundur.

Dalam waktu singkat, jalan ditutup. Warga yang berada di sekitar lokasi ditahan untuk diperiksa satu per satu. Nama dicatat. Asal wilayah ditanya. Aktivitas pagi mereka ditelusuri ulang.

Satu jam kemudian, laporan kedua masuk.

Seorang perempuan tua di distrik selatan kehilangan kesadaran setelah mengambil air dari sumur umum. Ia pulih beberapa saat kemudian. Namun tubuhnya lemah dan tangannya gemetar.

Belum ada korban jiwa.

Namun cukup untuk membuat ketakutan menyebar.

Di aula administrasi, rapat darurat digelar.

Awalnya pembahasan berjalan datar. Penutupan wilayah sementara. Penambahan patroli. Pemeriksaan kesehatan massal. Semua dicatat sebagai langkah pencegahan.

Lalu seorang pejabat membaca laporan saksi terakhir.

“Korban tidak disentuh siapa pun sebelum jatuh.”

Ruangan menjadi sunyi.

Pejabat lain menimpali dengan suara lebih rendah.

“Tidak ada konflik. Tidak ada racun. Tidak ada jejak kasar.”

Seseorang menggeser kursinya.

“Berarti ini bukan kecelakaan biasa.”

Kata itu tidak tercatat. Namun semua orang memahaminya.

Diskusi berubah arah.

Pertanyaan tidak lagi berputar di sekitar kesehatan rakyat. Melainkan tentang siapa saja yang berada di ibu kota dalam beberapa hari terakhir. Siapa yang datang bersama rombongan besar. Siapa yang memiliki latar belakang sensitif.

Nama Pangeran Utara tidak disebut.

Namun sebuah dokumen baru muncul di meja rapat.

Isinya bukan perintah penahanan.

Bukan tuduhan resmi.

Hanya rekomendasi penyelidikan lanjutan.

Bahasanya rapi. Kalimatnya dingin.

Namun sasarannya jelas.

Pengawasan terhadap rombongan Utara diperketat.

Akses informasi mereka dibatasi.

Laporan pergerakan Chen Long diminta secara berkala.

Tekanan administratif mulai terasa.

Di luar aula, rakyat mulai mendengar desas-desus. Penjaga bertanya lebih banyak dari sebelumnya. Bukan hanya di distrik insiden. Melainkan di jalur yang dilewati rombongan Utara sejak tiba di ibu kota.

Beberapa warga mulai berbisik.

“Kenapa ini terjadi setelah mereka datang.”

Tidak ada yang berani berkata lebih keras.

Di penginapan istana, Chen Long menerima laporan singkat. Ia membaca tanpa perubahan ekspresi. Namun jemarinya berhenti di satu bagian.

“Korban adalah rakyat biasa.”

Ia menutup laporan itu perlahan.

Ini bukan lagi permainan dokumen.

Begitu rakyat sipil tersentuh, keseimbangan berubah.

Dan ketika ketakutan sudah menyebar, tekanan tidak lagi membutuhkan bukti lengkap.

Cukup satu arah yang disepakati bersama.

Tekanan administratif itu tidak berhenti di meja rapat.

Ia sedang bergerak menuju satu bentuk yang lebih tajam.

Tuduhan nyata.

Pagi kedua setelah insiden, ibu kota Yin berubah tanpa pengumuman resmi.

Tidak ada lonceng darurat. Tidak ada dekrit ditempel di gerbang kota. Namun semua orang merasakannya. Penjaga berdiri lebih rapat. Pemeriksaan dilakukan lebih lama. Setiap kereta yang masuk dicatat dengan rinci.

Di distrik barat, warga dipanggil kembali satu per satu.

Bukan hanya yang berada di lokasi insiden. Tetapi siapa pun yang melintas di area itu sehari sebelumnya. Pertanyaan yang diajukan tidak lagi berputar pada kondisi tubuh.

“Siapa yang kau lihat pagi itu.”

“Dari mana asal mereka.”

“Apakah kau melihat lambang tertentu.”

Beberapa warga mulai bingung.

Beberapa mulai takut.

Ada yang menjawab asal. Ada yang menambahkan detail yang tidak yakin benar. Ketika jawaban tidak konsisten, penjaga mencatatnya tanpa komentar.

Di aula administrasi, laporan-laporan itu disusun kembali.

Peta ibu kota dibentangkan. Titik-titik insiden ditandai. Jalur kedatangan rombongan Utara digaris tipis. Tidak berpotongan langsung. Namun cukup dekat untuk disatukan dalam satu narasi.

Seorang pejabat muda menyuarakan keberatan.

“Belum ada bukti.”

Seorang pejabat senior menjawab tenang.

“Kita tidak menunggu bukti saat rakyat sudah panik.”

Kalimat itu mengakhiri perdebatan.

Sidang tertutup dilanjutkan tanpa notulen terbuka. Keputusan tidak ditulis sebagai dakwaan. Hanya sebagai langkah pengamanan lanjutan. Namun semua yang hadir tahu arahnya.

Siang hari, perintah mulai dijalankan.

Pengawal tambahan ditempatkan di sekitar penginapan rombongan Utara. Setiap keluar masuk dicatat. Waktu dan tujuan ditanyakan. Nada bicara tetap sopan. Namun jarak jelas terasa.

Beberapa akses dibatasi.

Chen Long tidak lagi bebas bergerak di area luar tanpa pendamping resmi. Undangan kecil yang sebelumnya datang dari beberapa pejabat dihentikan tanpa alasan jelas.

Tekanan itu sunyi.

Namun konsisten.

Di pasar, desas-desus bergerak cepat.

“Katanya ada orang luar membawa malapetaka.”

“Katanya ini ada hubungannya dengan kekuatan besar.”

Tidak ada yang menyebut nama secara terbuka. Tetapi ketika rombongan Utara lewat, orang-orang mulai memberi jarak.

Sore itu, laporan baru masuk ke Dewan Administrasi.

Seorang saksi dari distrik selatan diminta memberi keterangan ulang. Kali ini di ruangan tertutup. Tidak ada ancaman. Tidak ada paksaan. Hanya pertanyaan yang diulang dengan urutan berbeda.

Pada pemeriksaan ketiga, saksi itu ragu.

Ia menambahkan satu detail kecil.

Ia mengaku melihat sosok berbusana gelap berdiri di kejauhan. Tidak jelas wajahnya. Tidak yakin lambangnya. Namun sosok itu berada di jalur yang sama dengan rombongan Utara sehari sebelumnya.

Detail itu dicatat.

Tidak dikonfirmasi.

Tidak disanggah.

Cukup untuk membuka tahap berikutnya.

Malam hari, sebuah dokumen resmi dikirim ke penginapan.

Bukan surat penahanan.

Bukan dakwaan.

Isinya pemberitahuan hukum.

Status rombongan Utara dinaikkan menjadi subjek pemeriksaan terbatas. Semua aktivitas luar dicatat sebagai bagian dari penyelidikan. Setiap pelanggaran prosedur akan dianggap sebagai penghalangan hukum kekaisaran.

Langkah hukum pertama.

Chen Long membaca dokumen itu perlahan.

Tidak ada satu kalimat pun yang menyebutnya bersalah. Namun setiap kalimat mengarah pada satu kemungkinan yang sama.

Ia menutup dokumen itu dan meletakkannya di meja.

Di luar, penjaga berganti sif. Jumlahnya lebih banyak dari kemarin.

Di istana, fraksi-fraksi mulai bergerak lebih terbuka. Beberapa pejabat menyebut nama Chen Long dalam diskusi internal. Bukan sebagai tersangka utama. Melainkan sebagai titik tekan.

Jika ia bereaksi keras, mereka mendapat alasan.

Jika ia diam, tekanan bisa diperluas.

Menjelang tengah malam, laporan terakhir masuk.

Satu warga lain mengaku melihat rombongan Utara melewati jalur yang sebenarnya tidak mereka lewati. Kesaksiannya lemah. Namun dicatat sebagai tambahan.

Chen Long memahami sepenuhnya.

Mulai titik ini, kebenaran bukan lagi soal apa yang terjadi.

Melainkan soal versi mana yang dibiarkan tumbuh.

Dan ketika hukum sudah bergerak, versi itu akan terus didorong…

sampai seseorang runtuh lebih dulu.

...BERSAMBUNG...

...****************...

1
🍾⃝ͩKᴜᷞᴢͧᴇᷠʏᷧᴇɴᴋ ᴠɪᴠɪᴀɴ🥑⃟ⰼ⃞☪
Ada kumpul-kumpul iblis dan anomali🤭
さくらゆい
keep up the good work
花より
I like kingdom-themed stories
🍾⃝ͩKᴜᷞᴢͧᴇᷠʏᷧᴇɴᴋ ᴠɪᴠɪᴀɴ🥑⃟ⰼ⃞☪
Kayu besi Utara dengan kayu Eboni beda kah? 🤔
ᴠͥɪͣᴘͫ ⛩️ ⃝𝕸𝖗.𝕸ཧཱོ࿐☯️: kayu besi atau di kenal dengan temusi atau temusu

berasal dari Eropa Selatan,asia barat daya dan timur, Amerika Tengah dan Utara
total 1 replies
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘѕ⍣⃝✰
jejak
🍾⃝ͩKᴜᷞᴢͧᴇᷠʏᷧᴇɴᴋ ᴠɪᴠɪᴀɴ🥑⃟ⰼ⃞☪
silakan dibaca😄
🍾⃝ͩֆᷞиͧσᷠωͣflower♕🆒
Semangat berkarya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!