NovelToon NovelToon
Sistem Penghancur - Kebangkitan Pecundang

Sistem Penghancur - Kebangkitan Pecundang

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / CEO / Sistem / Mafia / Balas Dendam / Roman-Angst Mafia
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Dri Andri

Kenzo Banyu Samudera adalah anak tiri dari keluarga konglomerat, hidup sebagai pecundang yang dihina, disiksa, dan dibuang. Lemah, cupu, dan tak pernah melawan—hingga suatu malam ia nyaris mati bersimbah darah. Namun kematian itu justru menjadi awal kebangkitan.
Kesadaran Bayu Samudra, petarung jalanan miskin yang tewas dalam pertarungan brutal, terbangun di tubuh Kenzo. Bersamaan dengan itu, sebuah Sistem Pemburu aktif di kepalanya. Kebangkitan ini bukan hadiah. Keluarga Kenzo memfitnah, menghapus identitasnya, dan mengusirnya dari rumah.
Dari jalanan kumuh, Bayu merangkak naik. Tinju jalanannya berpadu dengan kecerdasan Kenzo dan kekuatan sistem. Perlahan ia membangun kerajaan bayangan bisnis legal di permukaan, mafia di balik layar. Namun sisa memori Kenzo menghadirkan luka, kesepian, dan konflik batin.
Di antara dendam, cinta, dan kegelapan, Bayu harus memilih: menjadi monster penguasa, atau manusia yang masih mengingat rasa kalah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 16: LATIHAN NERAKA DIMULAI

#

BYURRR!

Air dingin mengguyur wajah Bayu. Dia terbangun dengan napas tersengal. Kaget. Bingung.

"BANGUN!"

Suara keras Tekong memenuhi kamar kecil.

Bayu membuka mata. Masih gelap. Jam dinding menunjukkan pukul empat pagi.

"Gila lu! Masih subuh!"

Tekong melempar handuk ke wajah Bayu. "Di dunia nyata, musuh nggak peduli lu tidur atau nggak. Bangun. Sekarang."

Bayu bangkit dengan malas. Tubuhnya masih ngantuk. "Emang mau ngapain jam segini?"

"Lari."

"Lari?"

"Sepuluh kilometer. Sekarang."

Bayu menatapnya nggak percaya. "Lu gila."

Tekong tersenyum dingin. "Gue belum gila. Tapi lu bakal bilang gue gila nanti. Ayo. Lima menit. Kalau lu belum siap, gue tinggal."

Dia keluar kamar. Langkah kakinya keras di tangga besi.

Bayu duduk di kasur. Napas panjang. Masih ngantuk berat.

Tapi... dia udah setuju. Dia yang minta dilatih.

"Sial..."

Dia bangkit. Ganti baju. Celana training. Kaos. Sepatu lari yang kemarin dia beli.

Turun tangga. Tekong udah nunggu di luar gudang. Udara pagi dingin. Angin laut bertiup kencang.

"Kita lari ke mana?" tanya Bayu sambil regangkan kaki.

"Ikut aja."

Tekong mulai lari. Pelan dulu. Jogging santai.

Bayu ngikutin. Awalnya santai. Napas masih stabil.

Tapi... lima menit kemudian, Tekong mulai nambah kecepatan.

Bayu ngikutin. Napasnya mulai berat.

Sepuluh menit. Tekong nambah lagi.

Bayu mulai ngos-ngosan. Kakinya mulai panas.

"Hei... pelan... pelan dikit..."

Tekong nggak dengerin. Malah tambah cepat.

Bayu terpaksa ngikutin. Napasnya kayak api. Dadanya sesak. Kaki terasa kayak timah.

Dua puluh menit. Bayu mulai tersandung. Napasnya nggak teratur.

"Gue... gue nggak kuat..."

"TERUS LARI!"

Suara Tekong keras. Nggak kasih ampun.

Bayu coba terus. Tapi tubuhnya protes keras. Lima menit kemudian... dia jatuh berlutut. Muntah. Cairan asam lambung keluar. Nggak ada isinya karena dia belum makan.

Tekong berhenti. Berbalik. Menatap Bayu yang tergeletak di jalan.

"Lu udah selesai?"

Bayu menatapnya dengan mata sayu. "Gue... nggak bisa..."

"Nggak bisa atau nggak mau?"

"Tubuh gue... nggak kuat..."

Tekong berjalan mendekat. Berjongkok di depan Bayu. "Lu tau kenapa tubuh Kenzo lemah?"

Bayu menggeleng pelan.

"Karena dia nggak pernah latihan. Dia selalu lari dari masalah. Dia selalu nyerah." Tekong menatap mata Bayu tajam. "Tapi lu bukan dia, kan?"

Bayu terdiam.

"Lu bilang mau balas dendam. Mau hancurin keluarga yang udah buang lu. Tapi dengan tubuh kayak gini?" Tekong menepuk dada Bayu keras. "Lu bakal mati sebelum nyentuh mereka."

Kata-kata itu menusuk.

Bayu menutup matanya. Napas dalam.

Memori Kenzo muncul lagi. Dipukuli Raka. Diinjak-injak. Nggak bisa lawan balik. Cuma bisa nangis.

"Aku lemah... aku nggak berguna..."

Suara Kenzo kecil bergema di kepala Bayu.

Bayu membuka matanya. Menatap Tekong.

"Gue... nggak akan jadi dia lagi."

Dia berdiri. Goyah. Tapi berdiri.

"Lanjut."

Tekong tersenyum tipis. "Bagus."

Mereka lanjut lari. Lebih lambat dari sebelumnya. Tapi tetap lari.

Bayu jatuh tiga kali lagi. Tapi tiap kali jatuh... dia bangun lagi.

Satu jam kemudian. Mereka sampai di titik awal. Sepuluh kilometer selesai.

Bayu langsung ambruk. Napasnya kayak habis tenggelam. Keringat bercucuran. Baju basah total.

"Istirahat sepuluh menit. Terus kita latihan tinju."

"APA?!" Bayu menatap Tekong nggak percaya.

Tekong cuma tersenyum. "Selamat datang di neraka."

***

Sepuluh menit kemudian. Arena.

Bayu berdiri di ring dengan napas masih belum stabil. Tubuhnya lemes. Kakinya gemetar.

Tekong berdiri di hadapannya. Tangan kiri terangkat. Posisi bertarung.

"Serang gue."

"Gue... gue capek..."

"Gue nggak peduli. Serang."

Bayu mengangkat tangan. Ayunkan tinju lemah ke arah Tekong.

Tekong menghindar gampang. Lalu tangan kirinya meluncur. Pukulan ke perut Bayu.

"Ugh!"

Bayu jatuh berlutut. Perutnya sakit. Pengen muntah lagi.

"Bangun. Lagi."

Bayu bangkit. Serang lagi. Lebih cepat.

Tekong hindar. Pukul lagi. Kali ini ke rusuk.

Bayu jatuh lagi.

"BANGUN!"

Bayu bangkit. Serang.

Jatuh.

Bangun.

Serang.

Jatuh.

Terus berulang. Puluhan kali. Sampai Bayu nggak bisa bangun lagi.

Dia terbaring di lantai ring. Napas tersengal. Mata hampir nutup.

Tekong menatap dari atas. "Cukup buat hari ini."

Bayu nggak jawab. Nggak bisa jawab.

Tekong turun dari ring. "Besok kita lanjut. Istirahat yang cukup."

Dia pergi. Meninggalkan Bayu sendirian di ring.

Bayu terbaring di sana. Menatap langit-langit gudang yang penuh sarang laba-laba.

Sakit.

Capek.

Pengen nyerah.

Tapi...

"Gue nggak boleh nyerah..."

Bisikan pelan keluar.

"Gue udah janji... gue bakal balikin semuanya..."

Dia menutup matanya.

Dan malam itu... dia tidur di ring. Terlalu lelah buat balik ke kamar.

***

Hari-hari berikutnya... lebih parah.

Tekong nggak kasih ampun. Setiap pagi jam empat, air dingin. Lari sepuluh kilometer. Latihan tinju sampai siang. Latihan tendangan sampai sore. Latihan senjata tajam sampai malam.

Bayu muntah hampir tiap hari. Pingsan beberapa kali. Tubuhnya penuh lebam.

Tapi... dia nggak pernah bilang berhenti.

Minggu pertama. Bayu masih jatuh berkali-kali.

Minggu kedua. Bayu mulai bisa bertahan lebih lama.

Minggu ketiga. Bayu mulai bisa serang balik.

Minggu keempat...

Bayu berdiri di ring. Napasnya stabil. Posisi bertarung sempurna. Matanya tajam.

Tekong maju. Tinju kiri meluncur.

Bayu hindar. Kepala miring sedikit. Tinju meleset sesenti.

Lalu Bayu serang balik. Tinju kanan ke perut Tekong.

Tekong blok dengan tangan kiri. Tapi tenaga Bayu kali ini... kuat. Tekong terdorong mundur sedikit.

Tekong tersenyum. "Bagus."

Bayu maju lagi. Kombinasi. Tinju kiri. Tinju kanan. Tendangan ke pinggang.

Tekong mundur. Hindar. Tapi mulai kesulitan.

Mereka bertukar pukulan. Cepat. Brutal.

Lima menit kemudian. Tekong angkat tangan. "Stop. Cukup."

Bayu berhenti. Napasnya agak tersengal. Tapi nggak separah dulu.

Tekong menatapnya dengan tatapan... bangga. "Lu... lu berubah."

Bayu menatap tangannya. Otot-ototnya mulai terbentuk. Nggak besar. Tapi padat. Kencang.

Tubuh Kenzo yang dulu kurus kayak lidi... sekarang mulai berisi.

"Gue... gue kerasa lebih kuat."

Tekong mengangguk. "Lu memang lebih kuat. Dan... lu bakal makin kuat."

Lalu... suara sistem muncul.

**[LATIHAN INTENSIF TERDETEKSI]**

**[STATISTIK NAIK]**

**[KEKUATAN: 25 menjadi 45]**

**[KECEPATAN: 30 menjadi 50]**

**[DAYA TAHAN: 35 menjadi 55]**

**[STATUS: PETARUNG MENENGAH]**

Bayu merasakan sesuatu di tubuhnya. Seperti ada energi baru yang mengalir.

Dia kepalkan tangan. Kuat. Lebih kuat dari sebulan lalu.

"Terima kasih," kata Bayu pelan ke Tekong.

Tekong tersenyum. "Jangan terima kasih dulu. Ini baru awal. Besok kita latihan lebih berat."

Bayu terkekeh. "Lu emang sadis."

"Gue cuma... pengen lu hidup." Tekong menatapnya serius. "Musuh lu nggak main-main. Kalau lu nggak siap... lu bakal mati."

Bayu mengangguk. "Gue tau."

Mereka turun dari ring.

Dan malam itu...

Bayu menatap cermin di kamarnya.

Tubuhnya berubah. Wajahnya lebih tegas. Matanya lebih tajam.

Bukan lagi Kenzo yang lemah.

Tapi... seseorang yang lain.

Seseorang yang siap... perang.

1
REY ASMODEUS
mantap
aa ge _ Andri Author Geje: terimakasih
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!